
Nala duduk di bangkunya. Dia terdiam sejenak mendengar ucapan Maya barusan.
"Aku takut kamu bakal disakiti May. Karena hanya kamu orang yang mau bicara sama aku." Ucap Nala tertunduk sedih.
"La kamu kenapa?" Tanya Maya bingung.
"Enggak kok. Aku nggak papa" Jawab Nala kembali tersenyum.
Maya yang tidak ingin memaksa Nala untuk bercerita hanya mampu tersenyum. Dia menepuk tangan Nala pelan lalu mulai fokus dengan bukunya.
Jam pelaharan telah berakhir. Semua murid sekolah tersebut mulai keluar dari masing masing kelas, termasuk Maya dan Nala.
"May kamu pulang naik apa?" Tanya Nala.
"Aku di jemput sama papah La. Soalnya aku belum hafal jalan pulang" Jawab Maya.
"Oh begitu, ya sudah aku duluan ya. Aku mau ambil mobil di parkiran soalnya" Ucap Nala.
"Iya" Jawab Maya tersenyum. Maya berjalan sendiri ke arah pintu gerbang. Dia tersenyum dan sedikit berlari ketika melihat Jefri sang papi yang sudah menunggunya di depan gerbang sekolah barunya itu.
"Hai baby. Bagaimana hari pertama kamu sekolah?" Tanya Jefri merangkul bahu Maya.
"Seru kok pi, aku sudah punya teman sebangku malah. Dia sedikit tomboy tapi asik" Jawab Maya.
"Wah pasti sangat menyenangkan sekali. Mami kamu juga dulu punya teman yang tomboy juga" Ucap Jefri berjalan ke arah mobil dengan terus merangkul Maya.
"Pasti aunty Aca kan?" Tebak Maya.
"Hahaha kamu bisa pas sekali menebaknya. Ayo masuk, mami pasti sudah menunggu kita di rumah" Ucap Jefri.
"Iya pi" Jawab Maya tersenyum. Mereka masuk ke dalam mobil.
Dari kejauhan, Damar melihat Maya bersama papahnya. Dia semakin penasaran dengan Maya karena melihat sang papah yang berwajah orang luar.
"Seperti apa kamu sebenarnya Maya" Guman Damar.
Di rumah Maya.
Maya turun dari mobil papinya. Dia melambaikan tangannya ketika papinya kembali melajukan mobil untuk kembali ke kantor.
"Maya kamu sudah pulang?" Sapa Naila, mami Maya.
"Halo mam, iya aku sudah pulang" Jawab Maya.
Maya dan Naila masuk ke dalam rumah.
"Kamu segera mandi, ganti baju, lalu kita makan bersama ya" Ucap Naila.
"Iya mam" Jawab Maya mengangguk.
Makan malam.
Naila sedang menyiapkan makan malam untuk keluarga kecilnya. Tak lama Maya keluar dari kamarnya lalu turun ke ruang makan. Dia segera membantu maminya untuk menyiapkan makan malam.
__ADS_1
"Bagaimana sekolah pertama kamu? Apa kamu bisa beradaptasi dengan baik di sekolah baru kamu?" Tanya Naila.
"Menyenangkan kok mam. Aku juga punya teman sebangku yang asik. Dia memang sedikit tomboy, tapi Maya suka karena dia anak yang baik dan jujur" Ucap Maya.
"Hahaha kamu ternyata mengikuti jejak mami ya" Ucap Naila tersenyum.
"Iya, papi juga bicara seperti itu pada Maya tadi" Jawab Maya.
"Ada apa? Kenapa papi di sebut?" Tanya Jefri yang baru pulang. Jefri menghampiri Naila lalu Maya menciumi kening mereka bergantian.
"Maya cerita soal temannya." Jawab Naila.
"Oh, Maya tolong ambilkan air sayang" Pinta Jefri.
"Iya pi" Jawab Maya.
Ke esokan harinya.
Maya sudah sampai di kelasnya. Dia duduk di bangkunya sendiri dengan memainkan ponselnya.
Di sisi lain, Maya tidak mengetahui jika sedang di perhatikan oleh Damar. Damar berdiri di dekat pintu kelasnya dengan menatap ke arah Maya.
"Sedang apa lo di sini?" Tanya Nala yang baru datang.
"Eh Nala, baru datang Nal?" Tanya balik Damar.
"Pergi sebelum gue hajar lo" Ancam Nala tegas.
"Bodo" Ucap Nala masuk ke dalam kelasnya.
Baru beberapa langkah dia masuk ke kelas, Damar kembali memanggilnya.
"Nala, salamin ke Maya dari gue" Ucap Damar.
Brack
Nala melempar sepatunya ke arah pintu. Kalau saja Danar tidak segera menghindar mungkin jidat Damar yang kena sepatu Nala.
Mendengar suara benturan barang yang keras, Naila menoleh ke sumber suara. Dia melihat Nala yang sedang mengambil sesuatu di lantai.
"Ambil apa sih La?" Tanya Maya.
"Sepatu, tadi habis injak kecoa" Jawab Nala.
"Kamu berani sekali sih La" Ucap Maya.
"Iya dong, harus itu" Jawab Nala.
"Sudah makan belum?" Tanya Nala.
"Sudah tadi di rumah" Jawab Naila tersenyum.
"Oh, aku mau ke kantin beli makan. Kamu ikut tidak?" Tanya Nala.
__ADS_1
"Tidak usah, aku di sini saja" Jawab Maya tersenyum.
"Ya sudah, aku pergi dulu" Pamit Nala lalu bangkit dari duduknya. Setelah kepergian Nala, Maya kembali fokus pada ponselnya lagi.
Tidak berselang lama, Damar masuk ke dalam kelas Naila. Dia duduk di depan bangku Maya dan menghadap ke arah Maya.
"Hai Maya" Sapa Damar.
"Hai juga, ada apa?" Tanya Maya tersenyum.
"Enggak ada apa apa kok. Hanya ingin lebih dekat dengan kamu saja" Jawab Damar.
"Oh ya? Boleh saja jika kamu tidak takut dengan Nala" Ucap Maya.
"Aki tidak takut hanya saja tidak ingin berurusan dengan anak seperti dia" Ucap Damar.
"Oh iya, aku boleh minta nomer kamu tidak? Aku ingin chat dengan kamu" Imbuh Damar.
"Boleh saja, sini ponsel kamu" Ucap Maya. Dengan bersemangat dan senyuman yang lebar, Damar memberikan ponselnya ke Maya. Maya lalu menuliskan nomer ponselnya ke ponsel Damar.
"Nih" Ucap Maya mengembalikan ponsel Damar ke pemiliknya.
"Aku coba chat ya" Ucap Damar dan di angguki Maya.
Damar mulai mengirim pesan ke nomer ponsel Maya. Mendengar notifikasi pesan yang berdering di ponsel Maya, Damar tersenyum puas.
"Aku balik ke kelas dulu May. Aku chat kamu nanti" Ucap Damar.
"Iya" Jawab Maya tersenyum.
Sebenarnya Maya pun tertarik dengan Damar. Damar yang sebagai ketua osis tidak semenakutkan ketua osis pada umumnya yang terlihat berwibawa dan sulit di dekati. Berbeda karena Damar laki laki yang murah senyum lucu dan juga tampan tentunya.
Tapi Maya tidak ingin tergesa gesa untuk menjalin hubungan dengan Damar karena dia baru saja ketemu Damar kemarin.
"Aku akan lihat kamu seperti apa Damar. Jika kamu memang baik untuk aku, maka aku akan mencoba berhubungan dengan kamu" Guman Maya dalam hati dengan melihat isi pesan yang di kirimkan Damar tadi.
Satu minggu telah berlalu.
Maya dan Damar semakin dekat. Maya juga sering bertukar pesan lewat ponsel dengan Damar.
Maya juga sudah bicara dengan Nala soal Damar dan dirinya yang bertukarnomer ponsel. Nala membiarkan Maya dan Damar dekat. Tapi Nala terus mengawasi Damar karena dia tidak ingin Maya di sakiti oleh Damar.
Pagi ini Damar menjemput Maya untuk berangkat sekolah bersama. Xamar di sambut hangat oleh Naila dan Jefri karena Maya sudah berani memperbolehkan Damar untuk menjemputnya di rumah.
Di sekolah.
Maya dan Damar berjalan masuk ke gedung sekolah bersama. Dengan candaan Damar membuat Maya tertawa. Tapi tiba tiba Maya menabrak seseorang hingga membuat Maya dan orang tersebut jatuh ke lantai.
# Selamat membaca ya kak
# Terima kasih banyak
😊😊😊🙏🙏🙏
__ADS_1