
"Gue mohon Van, tolong cari tau soal Nala" Pinta Bimo memohon.
"Ok tunggu" Jawab Ivan.
Bimo mematikan ponselnya. Dia berjalan ke arah kamarnya untuk menghampiri Naka. Namun dia melihat Nala yang sedang menangis. Bimo menghampiri Nala lalu memeluknya.
"Kamu kenapa Nala? Kenapa kamu menangis?" Tanya Bimo lembut.
"Aku sudah menyakiti kamu. Aku lagi lagi melakukan hal yang sama lada teman ku sendiri" Ucap Nala menangis dalam pelukan Bimo.
"Tenang lah Nala. Kamu tidak melukaiku, aku yabg ceroboh" Ucap Bimo mencoba menenangkan Nala.
"Maafkan aku, maafkan aku" Ucap Nala terus menangis.
Wira yang mendengar kejadian itu pun langsung masuk ke dalam kamar Bimo. Namun Wira terhenti di depan pintu kamar Bimo yang terbuka karena melihat Bimo hang sedang berpelukan dengan seorang gadis.
"Siapa gadis itu?" Tanya Wira pada anak buahnya.
"Namanya Nala tuan. Tapi ada hubungan apa Nala dengan den Bimo, kami tidak tau" Jawab anak buah Wira.
"Ya sudah sana kembali bekerja" Ucap Wira. Wira meraih pegangan pintu lalu menutup pintu kamar Bimo pelan.
Ke esokan harinya.
Nala yang kelelahan karena menangis akhirnya menginap di rumah Bimo karena Nala ketiduran dalam pelukan Bimo.
"Nala apa sekarang kamu lebih baik?" Tanya Bimo yang semalaman menjaga Nala.
"Maaf merepotkan kamu" Ucap Nala tertunduk.
"Jangan sungkan" Ucap Bimo.
Bimo meraih kedua tangan Nala. Nala menatap sendu ke arah Bimo.
"Aku sudah tau semuanya. Aku juga sudah tau sakit yang kamu derita" Ucap Bimo lembut.
__ADS_1
"Kamu pasti mengasihani ku kan?" Ucap Nala sinis.
"Tidak. Kamu sungguh hebat Nala. Dengan kejadian itu kamu mampu bertahan dan kembali berdiri di kedua kaki mu" Ucap Bimo.
Ternyata saat SMP dulu Nala sering membuli temannya yang ia anggap mudah untuk di tindas. Tapi karena apa yang ia lakukan sudah keterlaluan membuat salah seorang yang Nala buly menjebak Nala ke atap sekolah. Anak itu mengajak Nala ke tepi gedung yang cukup tinggi, dia menarik tubuh Nala terjun dari atap gedung yang berlantai 8 itu.
Nala yang jatuh dari ketinggian sudah jeals di penuhi darah di seluruh tubuhnya. Tapi Nala masih sempat sadar dan melihat anak yang menariknya juga berada di sampingnya. Namun naas, anak itu meninggal di tempat karena kepalanya mengenai batu yang besar untuk mengganjal ban mobil.
Nala melihat jelas kepala anak itu yang pecah. Nala hanya bisa menangis karena seluruh tubuhnya tidak bisa ia gerakkan. Satu tahun lebih Nala berada di rumah sakit dengan trauma yang berat.
Nala bisa bangkit kembali karena dorongan semangat dari keluarganya. Namun saat baru masuk sekolah teman Nala satu satunya pun bunuh diri di depan Nala karena di buli teman lainnya. Nala kembali drop dan membuat Nala memilih menjauhi anak anak lain dan tidak ingin berteman dengan siapapun lagi. Sampai akhirnya Maya datang dan membuka hati Nala untuk memulai berteman lagi.
"Aku sudah bicara dengan orang tua kamu. Beliau setuju untuk membiarkan kamu tinggal sementara di sini. Kamu jangan khawatir karena aku akan membantu kamu untuk menyembuhkan sakit yang kamu derita" Ucap Bimo.
"Aku mau pulang saja" Jawab Nala.
"Kenapa? Apa kamu tidak percaya denganku?" Tanya Bimo.
"Tidak. Aku hanya....." Uacapan Nala terhenti.
Bimo menarik tangan Nala dan menidurkan Nala ke ranjang kembali. Namun kini tubuh Bimo menindih tubuh Nala.
"La dengarkan ucapanku, aku suka sama kamu Nala. Aku jatuh cinta sama kamu. Bukan karena kasihan dengan sakit yang kamu derita. Tapi aku sudah suka dengan kamu jauh sebelum aku mengetahui sakit yang kamu derita. Jujur saja aku memang baru menyadarinya tapi rasa suka ku ke kamu sudah lama" Ucap Bimo.
"Tapi aku takut jika aku bisa membawa siap untuk kamu. Aku tidak ingin mukai kamu seperti kemarin" Ucap Nala menangis.
"Sebanyak apapun kamu melukaiku, aku tidak peduli Nala. Yang terpenting aku selalu di dekat kamu dan selalu bersama kamu. Aku ingin selalu ada untuk kamu Nala" Ucap Bimo lirih.
"Biarkan aku pergi Bimo. Sudah cukup aku merasakan rasa bersalah karena selalu meluikai orang yang dekat denganku. Aku tidak ingin melihat kamu juga terluka karena aku" Ucap Nala mendorong tubuh Bimo dari atas tubuhnya.
"Kenapa harus aku Nala? Kenapa harus aku yang kamu tolak. Bukankah selama ini aku sudah dekat dengan mu? Bukan kah selama ini aku baik baik saja saat bersama kamu" Ucap Bimo yang duduk di linggiran kasur serta melihat Nala yang berjalan keluar dari kamarnya.
"Terima kasih karena sudah menyukai ku Bimo. Tapi maaf aku tidak bisa menerimanya" Ucap Nala lalu benar benar bergegas pergi dari rumah Bimo.
Bimo yang hancur karena penolakan Nala hanya bisa diam di tempat dengan menundukkan kepalanya. Wira yang melihat putranya sedih merasa kasihan. Dia menghampiri Bimo yang masih berada di dalam kamar.
__ADS_1
"Jangan menyerah Bimo. Gadis itu hanya butuh pembuktian dari kamu. Buktikan jika apa yang dia takutkan tidak terjadi." Ucap Wira.
"Tapi dia sudah menolak ku pah" Ucap Bimo.
"Ivan saja tetap mengejar Maya walaupun Maya berpacaran dengan anak laki laki itu. Apa kamu akan menyerah hanya karena kata penolakannya saja" Ucap Wira.
"Iya, papah benar. Aku akan terus mengejar Nala sampai dia mau menerima ku" Ucap Bimo semangat.
Wira mengangguk dengan tersenyum ketika melihat sang anak yang kembali bersemangat. Wira merasa senang karena Bimo tidak lagi menghindar dari gadis yang ia suka hanya karena papahnya yang seorang pembisnis dunia bawah. Dia tidak ingin menarik gadis yang ia suka terjebak ke dalam lubang hitam itu juga.
Ke esokan harinya.
Maya sudah kembali ke sekolah. Sejujurnya Maya masih merasa sedikit takut dengan kejadian waktu itu. Tapi karena ujian akhirnya sebentar lagi membuat Maya memberanikan diri untuk ke sekolah.
"Ada apa? Kenapa kamu diam saja seperti itu?" Tanya Ivan yang sudah berlutut di depan Maya yang sedang duduk di kursinya.
"Tidak ada apa apa" Jawab Maya tersenyum.
Ivan bangun lalu membawa tas Maya ke bangku Bimo.
"Kembalikan tas ku Ivan" Pinta Maya.
"Ke mari dan duduk di sebelahku" Ucap Ivan tegas.
"Tidak usah, aku ingin tetap duduk di bangku sendiri" Tolak Maya
"Duduk di sini atau aku akan menghancurkan bangku yang kamu duduki itu" Ancam Ivan.
Anak anak lain yang melihat Ivan memaksa Maya untuk duduk di sebelahnya merasa kasihan. Mereka tampak khawatir pada Maya. Namun Maya akhirnya mengikuti permintaan Ivan. Dia duduk di bangku sebelah Ivan.
# Selamat membaca ya kak
# Terima kasih banyak
😊😊😊🙏🙏🙏
__ADS_1