One Night With My Teacher

One Night With My Teacher
18


__ADS_3

Anak anak lain yang melihat Ivan memaksa Maya untuk duduk di sebelahnya merasa kasihan. Mereka tampak khawatir pada Maya. Namun Maya akhirnya mengikuti permintaan Ivan. Dia duduk di bangku sebelah Ivan.


"Nih, aku punya sesuatu buat kamu" Ucap Ivan memberikan sebuah kotak pada Maya.


"Apa ini?" Tanya Maya menerima kotak dari Ivan.


"Buka saja" Ucap Ivan tersenyum. Maya mengangguk lalu mulai membuka kotak pemberian Ivan. Maya tersenyum senang ketika melihat sebuah gelang yang cantik dengan hiasan bunga berada di dalam kotak pemberian Ivan itu.


"Cantiknya. Ini buat aku?" Tanya Maya.


"Iya, sini aku pakaikan" Ucap Ivan. Ivan mengambil gelang dari kotak lalu memakaikannya ke tangan Maya.


"Bagus sekali" Ucap Maya tersenyum.


"Kamu suka?" Tanya Ivan.


"Suka lah, makasih ya Van" Ucap Maya tersenyum sangat cantik.


"Tidak usah takut dengan apapun, karena gelang itu akan selalu menjaga kamu" Ucap Ivan.


"Iya, aku janji tidak akan takut dengan apapun lagi sekarang. Karena kamu dan gelang ini yang akan menjagaku" Ucap Maya. Ivan tersenyum lalu mengusap kepala Maya lembut.


Saat Bimo datang, dia bingung harus duduk di manan karena kursinya di tempati Maya.


"Gue duduk di mana?" Tanya Bimo.


"Tuh" Tunjuk Ivan ke bangku Maya yang berada di samping Nala.


Bimo berjalan ke arah bangku barunya. Dia duduk tepat di sebelah Nala.


"Bagaimana keadaan elo?" Tanya Bimo pada Nala.


"Seperti yang elo lihat, gue baik baik saja" Jawab Nala singkat.


"Apa elo tidak bisa pikirkan lagi ucapan gue kemarin?" Tanya Bimo dengan melipat tangannya di atas meja serta kepalanya yang berada di atas tangan.


"Jangan bersikap konyol Bimo" Ucap Nala.


"Aku tidak peduli dengan pandangan kamu terhadapku Nala. Tapi aku lebih suka kamu yang sekarang. Kamu lebih lembut dan apa adanya. Bukan kamu yang tomboy karena ketomboyan mu hanya kedok belaka" Ucap Bimo.


Brack.


Nala menggebrak mejanya dengan sangat keras hingga membuat semua anak anak yabg berada di kelasnya manatap ke arah Nala.

__ADS_1


"Apapun aku dan bagaimanapun diri ku bukan urusan kamu Bimo. Cukup dan jangan pernah ikut campur urusanku taupun kepribadianku lagi" Ucap Nala marah. Nala langsung keluar dari kelas.


Maya yang melihat Nala keluar dari kelas mulai mengikuti Nala. Sedangkan Ivan tetap di kelas untuk memberikan waktu pada Nala dan Maya untuk berbicara berdua.


"Elo kenapa sih Bim?" Tanya Ivan.


"Entah lah Van, sepertinya gue segila elo sekarang" Jawab Bimo tersenyum kecut.


"Elo kemakan omongan lo sendiri Bim" Ucap Ivan tersenyum mengejek.


"Iya, elo benar Van" Jawab Bimo lirih.


Maya mencari keberadaan Nala, dia mencari ke tempat-tempat yang sering si datangi Nala. Namun tidak juga menemukan Nala.


"Apa Nala di kamar mandi ya?" Guman Maya. Maya berjalan ke arah kamar mandi. Dia masuk ke dalam kamar mandi dan bertemu sekelompok anak perempuan yang sedang meroko di sana.


"Wah ada yang lihat kita nih Ren" Ucap salah seorang gadis.


Gadis yang bernama Iren itu berjalan menghampiri Maya. Dia memegang dagu Maya dan mulai mengancam Maya.


"Kalau sampai elo berani bilang ke guru, habis riwayat lo" Ucap Iren.


Plack


"Tidak usah sok keren di sini. Kalian seharusnya belajar yang benar bukannya malah merokok di sini" Ucap Maya.


"Berani lo nantangin kita?" Ucap teman Iren.


"Memangnya saya takut dengan kalian. Kalian pergi dari sini sekarang atau saya akan lamporkan kalian ke guru" Ancam balik Maya.


Iren tersenyum mengejek ke arah Maya. Dia membuang rokok yang ia hisap lalu menginjaknya hingga hancur.


"Kita akan sering ketemu mulai sekarang" Ucap Iren lalu berjalan keluar dari kamar mandi dengan menyenggol bahu Maya.


Maya membersihkan bahu nya yang di senggol Iren tadi.


"Apa mereka pikir, mereka sudah keren dengan bersikap seperti itu" Ucap Maya mengejek.


Maya teringat tujuannya datang ke kamar mandi itu. Dia segera mencari Nala namun tidak juga menemukan Nala di kamar mandi.


"Haduh kamu di mana sih La?" Guman Maya dalam hati.


Bel istirahat berbunyi.

__ADS_1


Maya ke kantin dengan Bimo karena Ivan tidak mau ikut. Ivan masih duduk di bangkunya lalu di datangi anak anak wanita yang satu kelas dengannya.


"Van, kita mau bicara sama kamu" Ucap teman sekelas Ivan.


"Kenapa? Bicara saja" Jawab Ivan.


"Kamu jangan suka memaksa Maya. Dia gadis yang baik, dia bukan mainan kamu yang bisa kamu ancam sesuka hati kamu." Ucap teman sekelas Ivan.


"Iya, kamu harusnya sadar diri dong. Kami tau kamu anak pemilik sekolahan ini tapi kamu di sini tidak lebih dari benalu"


"Jauhi Maya karena kamu akan memberikan pengaruh buruk untuk Maya."


"Maya gadis yang baik jadi jangan merusaknya"


"Lagian kamu tidak cocok jika bersanding dengan Maya" Ucap teman sekelas Ivan yang sedari tadi merasa khawatir dengan keadaan Maya.


Maya di sekolah terkenal dengan kecantikanya. Dia juga gadis yang ramah lada semua orang yang bertemu atau hanya berpapasan dengannya. Banyak anak anak sekolahan itu yang suka dengan Maya. Sejak Ivan mendekati Maya, mereka merasa takut jika Ivan membawa dampak buruk bagi Maya.


Sedangkan Ivan yang mendengar ucapan teman teman sekelasnya merasa kecil hati. Dia sadar jika selama ini terkenal anak yang bandel dan suka membuat rusuh. Sebab itu teman temannya tidak suka dengan Ivan.


"Apa benar yang mereka ucapkan? Apa aku tidak pantas untuk Maya?" Guman Ivan dalam hati.


Ivan bangkit dari duduknya lalu keluar dari kelas. Dia berjalan keluar untuk menyegarkan pikirannya. Namun saat ia melihat tawa Maya yang begitu cantik dengan anak anak lain yang berbeda kelas. Membuat Ivan sadar dengan apa yang teman teman sekelasnya ucapkan tadi.


"Apa benar aku membawa pengaruh buruk bagi kamu May?" Guman Ivan dalam hati.


"Maafkan aku Maya, sepertinya memang benar yang mereka bilang. Aku tidak pantas berada di sisi kamu. Dunia kita sungguh jauh berbeda May" Guman Ivan dalam hati.


Ivan memilih pergi ke atap, dia tidak ingin melihat Maya lagi karena jika melihat Maya dia tidak akan mampu melepaskan Maya.


Jam pulang sekolah.


Maya mencari Ivan di atap karena sejak istirahat pertama, Ivan sudah menghilang. Namun saat Maya mencari di atap dia tidak menemukan Ivan di sana. Maya turun kembali untuk mencari mobil Ivan di parkiran.


"Mobilnya masih di sini kok. Dia kemana ya?" Guman Maya.


Maya memilih untuk menunggu Ivan di pos satpam. Namun sudah hampir sore Ivan tidak kunjung keluar. Maya mencoba menelfon ponsel Ivan.


"Loh ponselnya di tas ternyata" Ucap Maya yang mendengar dering ponsel Ivan berada di dalam tas Iva yang Maya bawa.


# Selamat membaca ya kak


# Terima kasih banyak

__ADS_1


🙏🙏🙏😊😊😊


__ADS_2