One Night With My Teacher

One Night With My Teacher
Eps 42


__ADS_3

"Naila" Panggil seseorang.


Naila mendongakkan kepala nya, dia melihat papah nya yang sudah lama tidak pernah bertemu dengan nya.


"Papah" Panggil Naila menangis. Naila bangkit lalu memeluk papah nya.


"Kamu kenapa menangis nak? Siapa yang menaykiti kamu?" Tanya Wirawan papah Naila.


"Aku ingin pulang pah, bawa aku pergi pah" Pinta Naila menangis.


"Tapi papah sudah tidak seperti dulu nak, papah sudah bangkrut sekarang" Ucap Wirawan tertunduk sedih.


"Aku tidak peduli pah, aku hanya ingin bersama papah" Jawab Naila menangis.


"Baik lah jika itu keinginan kamu. Ayo kita pulang nak" Ucap Wirawan tersenyum.


Wirawan merangkul putri nya dan mereka berjalan untuk ke rumah Wirawan.


Sejak pernikahan Naila dan Jefri. Wirawan dan istri nya pindah rumah atas permintaan Yuli mamah tiri Naila. Setelah menikah Naila sempat mencari keberadaan papah nya namun Yuli menghalangi Naila dan Jefri. Di tambah banyak masalah yang menghadang mereka untuk bertemu.


Ini kali pertama mereka bertemu dengan keadaan Wirawan yang kurus dan pakaian yang sederhana. Penampilan yang acak acakan membuat Naila sedih karena tidak sedari dulu dia mencari papah nya.


Tak lama mereka sudah sampai di sebuah rumah yang sangat sederhana. Wirawan mengajak Naila masuk ke dalam rumah nya.


"Yuli ada anak kita Naila datang" Ucap Wirawan. Naila di ajak ke sebuah kamar yang berukuran kecil. Dia melihat mamah tiri nya yaitu Yuli yang berbaring di kasur lantai tak berdaya.


"Mamah Yuli, mamah kenapa? Kenapa mamah sampai seperti ini?" Tanya Naila sedih melihat keadaan Yuli yang berbaring lemah di atas kasur.


"Mamah kamu terkena struk karena papah terkena penipuan yang membuat perusahaan papah bangkrut" Jawab Wirawan sedih.


"Aku akan panggil taxi ke sini, sekarang kita bawa mamah Yuli ke rumah sakit" Ucap Naila bangkit dari duduk nya.


"Tidak usah Naila. Papah tidak sanggup membayar biaya rumah sakit nya" Ucap Wirawan sedih dan malu.


"Pah, jangan pikirkan soal biaya. Naila sudah bekerja sekarang dan Naila sudah memiliki tempat tingga juga gaji yang cukup untuk biaya rumah sakit mamah. Papah jangan menolak nya ya pah." Ucap Naila lembut.


Walaupun hati Naila yang hancur karena 2 orang yang ia sayangi namun dia tidak tega melihat mamah tiri nya yang sakit seperti ini. Di tambah dengan keadaan papah nya yang serba kekurangan.

__ADS_1


"Aku akan panggil taxi dulu. Papah kemasi saja semua barang yang perlu di bawa. Papah juga mulai sekarang tinggal di rumah Naila" Ucap Naila.


"Bagaimana dengan Jefri? Apa kamu sudah ijin dengan nya?" Tanya Wirawan.


"Aku sudah lama berpisah dengan kak Jefri pah. Yah walaupun kami belum bercerai" Jawab Naila tersenyum kecut.


"Baik lah. Kita bawa mamah kamu ke rumah sakit dulu. Setelah itu ceritakan semua nya pada papah" Pinta Wirawan.


"Iya pah" Jawab Naila tersenyum.


Naila memesan taxi lewat online. Setelah memesan dia membantu papah nya untuk mengganti pakaian Yuli.


"Naila....ma....maafkan......mamah" Ucap Yuli terbata bata.


"Sudah mah. Mamah jangan bicara dulu ya. Kita ke rumah sakit sekarang" Ucap Naila.


Yuli menangis melihat ketulusan Naila. Anak tiri yang selama ini ia tidak sukai dan selalu melampiaskan amarah nya pada gadis di depannya ini. Kini di keadaan terpuruk nya, gadis kecil ini lah yang merawat nya tanpa rasa jijik sedikit pun.


Rasa bersalah dan malu yang besar sedang menggerogoti tubuh Yuli. Dia yang sekarang hanya bisa terbaring lemah hanya mampu bergantung pada anak tiri yang ia benci. Air mata Yuli terus membasahi wajah nya karena penyesalannya.


"Jangan menangis mah. Naila sudah memaafkan mamah. Kita mulai membangun keluarga kita mulai dari awal lagi ya mah" Ucap Naila tersenyum tulus.


Tak lama taxi yang Naila pesan sudah berada di depan rumah Wirawan. Naila membawa 2 tas besar milik Wirawan dan Yuli keluar dari rumah. Sedangkan Wirawan menggendong Yuli masuk ke dalam taxi.


Setelah semua nya masuk ke dalam taxi. Naila meminta supir taxi untuk melajukan mobil ke arah rumah sakit yang tidak jauh dari apartemen dan kantor nya.


Saat berada di perjalanan ponsel Naila berdering. Dia terkejut melihat sangat banyak panggilan tak terjawab dari Teo atasan nya.


"Halo pak Teo, maaf saya sedang berda dijalan sekarang" Ucap Naila.


"Kamu di mana sih sekarang. Sekarang juga datang ke kantor. SECEPAT nya" Ucap Teo tegas.


"Baik pak saya akan ke kantor setelah mengantar mamah saya ke rumah sakit" Jawab Naila.


"Oh maaf, mamah kamu sakit apa? Kenapa tidak ijin dulu ke saya" Ucap Teo.


"Maaf pak tapi ini mendadak jadi saya tidak sempat ijin pada bapak" Jawab Naila.

__ADS_1


"Ya sudah segera selesaikan urusan kamu, setelah itu cepat datang ke kantor. Yuri membuat keputusan gila karena kepergian nya yang mendadak ini" Ucap Teo.


"Baik pak saya akan langsung kenkantor setelah urusan saya selesai" Jawab Naila.


Naila memasukkan ponsel nya kembali ke dalam tas nya setelah Teo mematikan panggilan nya.


"Jika kamu sibuk, kamu pergi saja Naila" Ucap Wirawan.


"Nggak papa kok pah. Sebentar lagi kita juga sudah sampai. Setelah mendapat kamar perawatan Naila akan langsung ke kantor kok" Jawab Naila tersenyum.


"Ya sudah kalau begitu" Ucap Wirawan.


Tak lama mereka sudah sampai di rumah sakit. Naila mengurus semua data yang dibutuhkan untuk melakukan rawat inap rumah sakit. Yuli sudah mendapat kamar inap. Dia juga sudah memesankan makanan untuk papah nya. Setelah itu dia kembali ke kantor.


Di perusahaan.


Saat sampai di ruangan Yuri, Naila melihat keributan di ruangan tersebut. Dia melihat beberapa karyawan dan Teo yang berada di ruangan Yuri.


"Selamat siang pak" Sapa Naila.


Teo merasa lega ketika Naila sudah datang. Dia menghampiri Naila lalu menyerahkan berkas yang di tinggalkan Yuri untuk diri nya dan Naila.


"Baca seksama karena ini samua kegilaan Yuri" Ucap Teo.


Naila menerima berkas tersebut. Dia mulai membuka berkas tersebut lalu membaca nya. Dia terbelalak ketika melihat nama nya tertera sebagai Direktur utama di perusahaan Yuri.


"Apa dia segila ini. Apa dia tidak memikirkan bagaimana jadi nya jika saya yang sebagai anak baru memegang perusahaan sebesar ini" Ucap Naila bernada tinggi.


"Nah kan kamu juga merasa dia gila kan" Ucap Teo.


"Dan gila nya lagi aku yang jadi asisten kamu" Ucap Teo lagi.


"Enggak saya nggak mau" Jawab Naila menaruh berkas tersebut ke atas meja.


"Jangan langsung menolak dan baca kertas di balik nya" Ucap Teo lagi.


# Selamat membaca ya kak.

__ADS_1


# Terima kasih banyak


😊😊😊🙏🙏🙏


__ADS_2