
Ivan menghentikan mobilnya. Saat ini, Maya dan Ivan berada di pantai. Ivan turun dari mobilnya. Maya yang melihat Ivan keluar pun ikut keluar juga. Dia berdiri di samping Ivan yang menatap jauh ke arah pantai.
"Elo enggak tau apa apa soal gue May. Jangan ikut campur dalam hal apapun soal gue" Ucap Ivan.
"Aku tidak bermaksud untuk ikut campur Van. Aku hanya ingin berteman dengan kamu" Ucap Maya.
"Berteman lo bilang? Jangan harap elo bisa berteman dengan gue May. Dunia kita jauh berbeda dan elo bukan tipe orang yang bisa berteman dengan gue" Ucap Ivan. Ivan berjalan ke arah pinggir pantai meninggalkan Maya.
"Memangnya apa salah ku? Kenapa aku tidak bisa berteman dengan kamu?" Tanya Maya.
"Elo hanya akan melukai gue May. Gue takut jika gue tidak bisa menahan diri gue untuk selalu mengurung elo jika elo semakin dekat dengan gue" Guman Ivan dalam hati.
Cukup lama mereka di tepi pantai. Maya menunggu Ivan di dekat mobil, sedangkan Ivan masih di tepi pantai.
Tak lama Ivan memilih kembali ke mobilnya. Dia melihat Maya yang masih menunggu dirinya di samping mobil.
"Harusnya elo pulang naik taxi tadi" Ucap Ivan.
"Enggak, kamu yang mengajak aku ke sini jadi kamu yang harus antar aku pulang" Ucap Maya.
"Elo enggak takut kalau gue macam macam sama elo?" Tanya Ivan.
"Enggak akan, kamu tidak seperti itu" Ucap Maya.
Brack
Ivan mendorong tubuh Maya ke depan mobilnya. Dia menatap ke kedua mata Maya.
"Begini saja elo sudah genetaran" Ucap Ivan bangkit dari atas Maya.
"Enggak usah sok berani kamu May. Masuk lo ke dalam mobil" Ucap Ivan.
Maya langsung masuk ke dalam mobil. Sedangkan Ivan mulai menata perasaannya.
"Gila lo Van. Hampir saja lo cium Maya" Guman Ivan dalam hati.
Ivan berjalan ke arah pintu mobil. Dia mengusap rambutnya yang sedikit gondrong karena frustasi. Setelah itu dia baru masuk ke dalam mobil.
"Gue antar lo pulang sekarang" Ucap Ivan dan di angguki Maya.
Dalam perjalanan, Ivan mencuri pandang ke arah Maya. Dia masih tidak menyangka kalau tadi dia hampir saja mencium paksa Maya.
Di depan rumah Maya.
Maya keluar dari mobil Ivan, Ivan pun keluar dari mobilnya untuk mengantar Maya.
"Makaksih ya Van, kamu sudah mengantarku pulang" Ucap Maya.
"Iya, gue mau langsung balik" Pamit Ivan.
__ADS_1
"Iya hati hati" Jawab Maya.
Baru saja Ivan mau berjalan ke arah mobilnya, namun ia terhenti ketika mihat sebuah mobil berhenti juga di depan rumah Maya.
"Oma" Teriak Maya kegirangan dan berlari menghampiri Sinta.
"Cucu oma, oma kangen sekali sama kamu nak" Ucap Sinta memeluk erat Maya.
"Ini siapa Maya?" Tanya Angga.
"Halo pak, saya Ivan temannya Maya" Ucap Ivan sopan.
"Oh kamu temannya Maya. Ayo masuk dulu, oma mau kenal juga sama temannya Maya di Indonesia" Ucap Sinta.
"Maaf tapi ini sudah malam, saya tidak enak jika di lihat tetangga" Ucap Ivan menolak.
"Tidak ada yang peduli. Ayo Ivan masuk dulu. Maya ayo dong ajak Ivan masuk" Ucap Sinta yang sudah berjalan masuk ke dalam rumah lebih dulu.
"Ayo masuk dulu" Ucap Angga menepuk bahu Ivan lalu berjalan mengikuti Sinta.
"Ayo masuk dulu" Ucap Maya.
"Iya" Jawab Ivan singkat. Maya dan Ivan berjalan masuk ke dalam rumah. Ivan tampak tegang karena ini pertama kalinta dia masuk ke rumah seorang cewek dan bahkan sampai bertemu dengan kakek dan nenek Maya juga.
Sinta dan Angga sudah duduk di sofa ruang tamu. Ivan pun duduk di depan Angga dan Sinta.
"Iya oma" Jawab Maya berjalan ke arah dapur.
Setelah Maya masuk ke dalam dapur, Angga dan Sinta menatap tajam ke arah Ivan.
"Habis kamu bawa ke mana cucu saya?" Tanya Angga tegas.
Suasana yang awalnya hangat berubah menjadi tegang. Ivan semakin tegang karena nenek dan kakek Maya yang menatapnya tajam.
"Saya hanya mengajak Maya berkeliling kota" Jawab Ivan jujur.
"Apa yang sudah kamu lakukan pada cucu saya?" Tanya Angga lagi.
"Saya tidak melakukan apa apa, kami hanya berteman biasa" Jawab Ivan jujur.
"Ok kami percaya. Tapi jika Maya sampai terluk atau menangis gara gara kamu. Siap siap hidup kamu akan sengsara" Ancam Angga.
"Saya tidak akan pernah melupakan hal itu" Ucap Ivan tegas. Entah dari mana keberanian Ivan muncul. Tapi yang dia yakini adalah tidak akan melukai Maya atau membuat Maya menangis.
"Saya peduli dengan Maya dan saya tidak akan pernah melukai Maya" Imbuh Ivan tegas.
"Saya pegang kata kata kamu" Ucap Angga.
Sinta yang mihat Maya sudah kembali berubah tersenyum ramah.
__ADS_1
"Nah Maya sudah kembali. Ayo Ivan silahkan di minum" Ucap Sinta ramah penuh senyum.
"Minum dulu Van" Ucap Maya.
"Makasih" Ucap Ivan.
Angga dan Sinta terus menatap Ivan. Mungkin karena penampilan Ivan yang tidak seperti anak anak SMA pada umumnya yang membuat Sinta dan Angga curiga.
Saat ini Ivan menguncur rambutnya, dia memakai kaos lengan pendek dan celana jins yang sobek sobek di bagian lututnya serta sepatu hitam yang keren.
"Maaf karena sudah malam saya harus pamit pulang" Pamit Ivan.
"Iya, maaf ya kami sudah menyita waktu Ivan" Ucap Sinta.
"Tidak apa apa, kalau begitu saya permisi" Pamit Ivan.
"Aku antar sampai depan" Ucap Maya bangkit dari duduknya.
"Tidak usah, sudah malam. Aku pulang dulu" Tolak Ivan. Ivan menundukkan kepalanya untul berpamitan pada kakek dan nenek Maya lalu berjalan jeluar dari rumah Maya.
Ke esokan harinya.
Maya di jemput oleh Damar. Damar masuk ke dalam rumah Maya dan bertemu kakek dan nenek Maya.
"Selamat pagi, saya mau menjemput Maya" Ucap Damar sopan.
"Iya tunggu saja di luar" Ucap Sinta tegas. Damar mengangguk pelan lalu kembali keluar dari rumah Maya.
"Sia***n. Siapa sih nenek tua itu?" Guman Damar dalam hati.
Tak lama Maya keluar dari rumah, dia menghampiri Damar yang sudah menunggunya di luar rumah.
"Oma, Maya berangkat dulu ya" Pamit Maya.
"Iya hati hati ya nak" Jawab Sinta tersenyum hangat.
"Ayo Dam" Ucap Maya dan di angguki Damar. Damar sekilas menatap ke arah Sinta. Sinta pun menatap tajam ke arah Damar.
"Ada apa?" Tanya Angga.
"Aku tidak suka dengan anak itu. Dia penuh tipu muslihat" Ucap Sinta.
"Kita biarkan saja dulu. Kita lihat saja seperti apa dia" Ucap Angga.
# Selamat membaca ya kak
# Terima kasih banyak.
😊😊😊🙏🙏🙏
__ADS_1