One Night With My Teacher

One Night With My Teacher
28


__ADS_3

"Maya, apa boleh aku mencium mu? Untuk yang terakhir kalinya" Ucap Joy.


Maya mengangguk dan tersenyum. Joy lebih mendekatkan dirinya lalu meraih tengkuk Maya dan mencium bibir Maya lembut.


Buk


Ivan menjatuhkan bunga yang ia bawa ketika melihat Maya dan Joy yang sedang berciuman di kamar Maya.


Ivan memang sengaja datang ke rumah Maya malam ini. Dia tidak memberi tahu Maya jika dia memaksa keluar dari rumah sakit untuk bertemu Maya. Dia ingin memberikan kejutan pada Maya. Namun betapa terkejutnya Ivan ketika mihat Maya dan Joy yang sedang berciuman.


Ivan pergi dari rumah Maya. Hancur sudah hati Ivan melihat kemesraan Maya dan Joy. Dia sudah tidak tahan berharap lagi pada Maya. Dia memilih untuk pergi dari kehidupan Maya.


"Aku akan menyerah Maya, aku tidak akan mengejar kamu lagi dan aku akan melepaskan kamu. Semoga kamu bahagia Maya" Ucap Ivan marah.


Jefri dan Naila yang melihat Ivan keluar dari rumahnya dengan wajah marahnya merasa heran.


"By, itu Ivan kenapa? Kok tumben dia tidak berpamitan ke kita" Tanya Naila.


"Entah lah. Aku susul dulu ya sayang" Ucap Jefri.


"Iya " Jawab Naila.


Jefri mengikuti Ivan keluar dari rumahnya.


"Ivan" Panggil Jefri namun Ivan tidak mendengarnya.


Ivan masuk ke dalam mobilnya. Dia meminta supir yang mengantarnya untuk kembali pulang ke rumahnya.


Di perjalanan Ivan menghubungi Dika, papahnya.


"Halo pah, aku ingin pergi dari sini. Aku tidak mau tinggal di sini lagi. Aku ingin oergi jauh dari sini sekarang juga" Pinta Ivan.


"Ada apa Ivan? Apa yang terjadi?" Tanya Dika.


"Tidak ada apa apa pah. Aku hanya ingin mengambil kekuasaan papah secepatnya. Aku ingin pergi untuk belajar lebih baik lagi" Ucap Ivan.


"Apa kamu yakin? Lalu bagaimana dengan Maya? Apa dia tau tentang kepergian kamu ini?" Tanya Dika.


"Maya?" Ucap Ivan memaksakan senyumnya.


"Dia sudah bahagia dengan kekasihnya. Jadi biarkan aku pergi pah. Aku sudah tidak bisa lagi di sini" Pinta Ivan.


Dika tau jika Ivan saat ini sedang patah hati.


"Baik lah, papah akan menyiapkan semuanya. Kamu pergi lah ke bandara sekarang" Ucap Dika.


"Baik pah, dan terima kasih" Ucap Ivan.

__ADS_1


"Pergi lah nak. Papah akan menyusul mu" Ucap Dika.


"Iya pah" Jawab Ivan. Ivan mematikan ponselnya.


"Ke bandara sekarang" Ucap Ivan.


"Baik tuan" Jawab supir.


Ivan menatap keluar jendela. Dia. Melihat lalu lalang kendaraan yang cukup padat namun tidak sampai membuat macet.


"Aku akan buktikan jika aku bisa hidup tanpa kamu Maya. Aku tidak akan mengemis cinta kamu lagi" Guman Ivan dalam hati.


Ivan sangat marah kali ini dengan Maya. Dia sudah berusaha bersabar dan melihat keputusan apa yang akan Maya pilih. Namun Ivan yang diam saja membuatnya berfikir bahwa Maya semakin mempermainkan. Hingga puncaknya, Ivan melihat jelas Maya dan Joy yang sedang berciuman tadi.


Di rumah Maya.


Joy keluar dari kamar Maya. Saat sampai di pintu tanpa sengaja dia menendang buket bunga yang tergeletak di lantai. Dia mengambil bunga itu.


"Ada apa Joy?" Tanya Maya yang menghampiri Joy.


"Bunga siapa?" Tanya Joy.


"Loh ini bukan bunga dari kamu?" Tanya Maya.


"Bukan lah. Kalau memang aku membawa bunga, aku tidak akan menaruhnya di lantai" Ucap Joy.


"Mam, papi, apa Ivan datang ke sini tadi?" Tanya Maya.


"Dia sudah pulang tadi. Apa dia tidak menemui kamu tadi?" Ucap Jefri. Maya menggelengkankepalanya.


"Mami kira kalian sudah bertemu tadi. Ivan sudah pulang dari tadi" Jawab Naila.


Maya berlari keluar dari rumahnya. Joy mengikuti Maya karena khawtair dengan Maya.


"Di mana kamu Ivan?" Guman Maya. Maya keluar dari gerbang rumahnya.


"Tunggu Maya kamu mau ke mana?" Tanya Joy mencekal tangan Maya.


"Aku mau cari Ivan, Joy. Dia pasti salah paham dengan kita saat kita di kamar berdua tadi. Aku harus jelaskan ke dia Joy. Aku harus bilang ke dia kalau anak ini anaknya" Ucap Maya menangis.


Joy melepaskan tangan Maya ketika Maya mengatakan bahwa anak dalam kandungan Maya adalah anak Ivan.


"Jadi benar anak dalam kandungan kamu adalah anaknya Ivan?" Tanya Joy lagi.


"Iya, anak ini anak Ivan, Joy. Aku harus bagaimana sekarang? Aku harus cepat cari dia Joy. Aku harus bilang dan jelaskan semuanya ke dia." Ucap Maya menangis.


Maya berlutut di pinggir jalan dengan memeluk bunga dari Ivan. Dia menangis karena harus mencari Ivan ke mana.

__ADS_1


Joy berlari masuk ke dalam rumah Maya. Dia mengambil kunci mobil lalu kembali keluar. Dia mengendarai mobilnya lalu keluar dari gerbang rumah Maya.


"May, ayo masuk" Ucap Joy.


Maya bangun lalu masuk ke dalam mobil. Joya melajukan mobilnya ke arah rumah Ivan. Maya memberikan arah jalan ke rumah Ivan.


"Aku harap kamu mau mendengarkan penjekasan ku Ivan. Kamu pasti akan sangat senang jika tau aku mengandung anak mu" Gukan Maya tersenyum dengan mengusap perutnya yang masih rata.


Joy melihat senyuman yang menghiasi wajah Maya. Dia meremas setir yang ia pegang karena merasa sakit hati.


"Apa sebegitu bahagianya kamu dengan kehamilan kamu Maya? Kenapa kamu selalu tersenyum ketika mengingat Ivan dan anak dalam kandungan kamu" Guman Joy dalam hati.


"Hati ku hancur melihat senyuman kamu Maya. Tapi aku juga tega melihat senyuman itu hilang dari wajah cantik kamu" Guman Joy dalam hati lagi.


Tak lama Maya dan Joy sudah sampai di depan gerbang rumah Ivan. Maya keluar dari mobil lalu ke arah pos satpam.


"Pak bukakan pintu gerbangnya" Pinta Maya.


"Maaf non Maya, tapi di rumah sedang tidak ada orang. Saya tidak bisa membukakan pintunya" Ucap Satpam.


"Tidak ada orang? Memangnya Ivan ke mana?" Tanya Maya tersenyum paksa.


"Tuan besar dan tuan muda pergi tadi" Jawab satpam.


"Pergi? Ke mana?" Tanya Maya yang mulai khawatir.


"Saya tidak tau, tapi yahg saya dengar mereka pergi naik pesawat" Jawab satpam.


Bruck.


Maya terduduk di lantai dengan tatapan matanya yang kosong. Joy yang melihat Maya lemas segera keluar dari mobil. Dia menghampiri Maya yang sedang di tolong satpam rumah Ivan.


"Ada apa Maya?" Tanya Joy


"Aku terlambat Joy" Jawab Maya lirih.


"Apa maksud kamu?" Tanya Joy lagi.


"Dia..... dia sudah pergi. Dia pergi meninggalkan aku Joy" Ucap Maya menangis.


Ada perasaan senang dalam diri Joy. Tapi ada juga perasaan kasihan dan bersalah melihat Maya yang menangis. Joy memeluk erat tubuh Maya untuk menenangkan Maya.


# Selamat membaca ya kak


# Terima kasih banyak


🙏🙏🙏😊😊😊

__ADS_1


__ADS_2