One Night With My Teacher

One Night With My Teacher
14


__ADS_3

"Halo Ivan. Saya Jefri Agatha" Ucap Jefri menjabat tangan Ivan.


"Halo om" Ucap Ivan tersenyum sopan.


"Jadi kamu anak yang membuat Maya kami sampai pingsan?" Tanya Naila sinis.


"Itu kesalah pahaman yang harus saya luruskan. Saya tidak pernah sekalipun menyakiti Maya. Maya salit dan kelelahan setelah olah raga. Karena sikap saya yang masih belum mampu mengontrol emosi, membuat anak anak lain mengira bahwa saya yang melukai Maya" Jelas Ivan tenang.


"Hahahaha saya suka dengan sikap tenang kamu Ivan. Sebenarnya kami sudah tau karena kami sudah bicara dengan Maya." Ucap Jefri mengakat tangannya ke udara. Tak lama Maya masuk ke dalam ruangan pertemuan. Maya tersenyum ketika melihat Ivan yang duduk di antara Wira dan Dika.


"Maya" Ucap Ivan bangkit dari duduknya.


"Hai Ivan" Ucap Maya tersenyum.


"Ajak Ivan keluar sayang. Pembicaraan ini biar kami para orang tua saja yang lakukan" Ucap Jefri.


"Baik pi" Jawab Maya.


Ivan menoleh ke arah Dika. Dika mengangguk untuk menyetujui permintaan Ivan. Ivan keluar dari ruangan bersama Maya. Maya mengajak Ivam untuk ke kamarnya.


"Ini kamar ku" Ucap Maya membuka pintu kamarnya.


"Apa kamu tidak takut jika aku melakukan hal buruk pada mu di sini?" Tanya Ivan.


"Lakukan jika kamu ingin mengakhiri hidup mu di sini. Ingat kamu sedang di wilayah kami saat ini" Ucap Maya.


"Tapi kamu berada di genggaman kami saat ini" Ucap Ivan.


"Hahahaha. Aku senang bisa bertemu kamu di sini" Ucap Maya tersenyum.


"Aku kira mami dan papi berbohong tentang kamu yang akan datang" Imbuh Maya.


"Apa kamu tidak takut denganku?" Tanya Ivan.


"Kenapa aku harus takut?" Tanya Maya.


"Karena aku tidak sebaik yang kamu kira" Jawab Ivan.


"Aku juga tidak sepolos yang kamu kira." Ucap Maya memperlihatkan tato yang ada di paha mulusnya. Tato singa yang penuh warna merah hitam dan hijau menghiasi tato tersebut.


"Sejak kapan kamu memilikinya?" Tanya Ivan.


"Baru saja saat umurku 16 tahun. Aku melakukan ini karena banyak orang yang mencoba untuk melukaiku. Tapi jika tau aku memiliki tato ini mereka semua pergi ketakutan" Ucap Maya memperbaiki kembali stockingnya.


"Apa kamu tidak memiliki tato untuk identitasmu?" Tanya Maya.

__ADS_1


"Aku punya" Jawab Ivan melepas jas lalu kemejanya. Tergambar jelas tato naga yang melingkar di punggung dan perut kekar Ivan.


"Tato sebanyak ini pasti sangat sakit" Ucap Maya memegang tato yang berada di perut Ivan.


"Tidak sesakit saat melihat kamu jadian dengan Damar, Maya" Guman Ivan dalam hati.


Ivan kembali memakai kemejanya. Dia berjalan ke arah sofa yang ada di kamar Maya lalu duduk dengan santai di sana.


"Sejak kapan kamu ikut dalam pertemuan berbahaya seperti ini?" Tanya Ivan.


"Ini pertama kalinya dalam hidupku. Selama 17 tahun baru 1 tahun ini aku mengetahui pekerjaan asli papi. Bahkan mami pun ikut terjun dalam bidang ini" Ucap Maya.


"Apa kamu takut saat pertama kali mengetahuinya?" Tanya Ivan.


"Iya, awalnya aku sangat ketakutan. Aku juga merasakan ketakutan yang kamu alami saat berhadapan dengan papah kamh waktu itu" Ucap Maya.


"Aku tau jika kamu takut papah kamu menyakiti ku. Terima kasih Ivan. Kamu teman yang sangat baik untuk ku." Ucap Maya tulus.


"Teman" Ucap Ivan lirih mengejek diringa sendiri.


"Apa? Kamu bicara apa?" Tanya Maya.


"Tidak, tidak ada apa apa" Jawab Ivan tersenyum.


Pertemuan berlangsung lancar. Pihak orang tua Ivan menyetujui permintaan kerja sama yang di tawarkan pihak orang tua Maya. Saat hari sudah sore, pihak Ivan kembali ke Jakarta yang artinya kesepakatan mereka telah terjadi dengan damai.


"Dia sangat pintar menyembunyikan dirinya yang sebenarnya" Sahut Ivan.


"Siapa yang kalian maksud?" Tanya Wira.


"Maya" Jawab Dika dan Ivan bersamaan. Seketila Dika dan Ivan saling pandang karena mereka menjawab bersamaan.


"Oh" Jawab Wira singkat dan mentertawakan kecanggungan antara anak dan papah itu.


Ke esokan harinya.


Ivan dan Bimo kembali masuk sekolah. Ivan duduk di bangkunya dan langsung merebahkan kepalanya di atas meja.


"Hai masih pagi jangan tidur" Ucap Maya menghampiri Ivan.


"Tinggalkan aku sendiri. Aku sangat lelah" Ucap Ivan.


"Enggak mau. Ayo bangun" Ucap Maya membangunkan Ivan lalu duduk di atas meja Ivan.


"Minggir May, aku mau tidur" Ucap Ivan mendorong tubuh Maya.

__ADS_1


"Enggak mau" Jawab Maya menggelengkan kepalanya.


"Aku kamu nih?" Goda Bimo.


"Diam" Ucap Maya dan Ivan bersamaan.


"Galak banget" Ucap Bimo memilih pergi untuk mencari Nala.


"Pergi May, aku sangat lelah sekarang" Pinta Ivan memelas.


"Enggak mau Van. Aku mau tetap duduk di sini" Ucap Maya tersenyum cantik.


Ivan bangkit dari duduknya, dia menaruh tasnya di bangku Bimo lalu menggelitiki pinggang Maya hingga Maya tertawa lepas akibat kegelian.


"Hahahah Ivan ampun, hahaha Ivan hentikan" Ucap Maya tertawa lepas.


"Enggak akan siapa suruh kamu menggangguku" Ucap Ivan tersenyum dan terus menggelitiki Maya.


"Hahahaha iya iya maaf Van, tolong hentikan" Pinta Maya kegelian.


"Maya" Teriak Damar yang marah karena melihat Maya yang bergurau dengan Ivan. Mendengar teriakan Damar, Ivan menghentikan gelitikannya. Maya bangun dari atas meja Ivan dan merapikan tampilannya.


"Hai sayang" Ucap Maya tersenyum menghampiri Damar.


"Apa begini sikap kamu dengan pria lain saat aku tidak ada? Kamu anggap aku apa May? Kita baru saja jadian dan kamu sudah bersenang senang dengan pria lain di depanku" Ucap Damar marah.


"Damar aku bisa jelaskan ke kamau. Ini tidak seperti yang kamu bayangkan. Aku dan Ivan hanya....." Ucapan Maya terhenti.


"Hanya apa? Hanya teman. Itu kan yang akan kamu bilang. Tidak ada yang namanya teman antara pria dan wanita Maya. Dia punya perasaan sama kamu atau kamu yang malah memiliki perasaan terhadap dia" Ucap Damar marah.


"Jaga ya ucapan lo. Kita memang hanya berteman" Ucap Ivan marah.


"Nggak usah sok bela diri deh lo. Gue sudah tau kalau elo punya lerasaan lebih ke Maya" Ucap Damar.


"Kenapa lo diam? Atau elo tergoda sama Maya karena tubuhnya?" Ucap Damar.


"Jaga ya ucapan lo. Dia pacar lo, lo harusnya melindungi dia" Ucap Ivan marah.


"Iya dia pacar gue, jadi suka suka gue mau berbuat apa sama dia bahkan gue bisa bicara apa saja soal dia" Ucap Damar juga marah.


"Damar jaga ucapan kamu" Ucap Maya marah.


"Kenapa kamu marah ke aku May? Apa kamu sudah mulai bosan dengan ku dan mulai menggoda dia dengan tubuh kamu itu" Ucap Damar.


# Selamat membaca ya kak

__ADS_1


# Terima kasih banyak


🙏🙏🙏😊😊😊


__ADS_2