
"Apa maksud kak Bimo? Memangnya Maya siapa sampai mampu memiliki anak buah seperti itu?" Tanya Surya.
"Ok, aku akan jujur dengan kalian. Aku Bimo dari keluarga Mahardika. Kami memiliki perkumpulan yang cukup luas bahkan kami hampir memiliki seluruh negara ini" Jelas Bimo.
"Maksud kamu seperti mafia?" Tanya Nala.
"Iya, dan pemimpin kami adalah Ivan. Dia lah pemimpin baru kami." Jawab Bimo.
"Apa Ivan tau tentang Raka?" Tanya Surya.
"Memangnya Ivan ada hubungan apa dengan Raka?" Tanya Nala bingung.
"Raka anak kandung Ivan kak" Jawab Surya.
"Apa? Tidak mungkin" Ucap Nala yang masih belum mampu percaya dengan semua informasi yang ia terima saat ini.
"Lalu, apa Maya juga termasuk dalam perkumpulan kalian?" Tanya Surya .
"Tidak, karena keluarganya memiliki perkumpulan sendiri di seluruh penjuru Eropa. Maya dan keluarganya pindah ke sini untuk menjalin kerja sama. Namun karena suatu hal kerja sama itu sampai sekarang belum terlaksana" Jawab Bimo.
"Apa karena Raka, kakak datang ke sini? Apa kakak ingin mengambil Raka?" Tanya Surya marah.
"Dengarkan aku Surya, Ivan juga ayah kandung Raka. Dia juga berhak atas hak asuh Raka" Ucap Bimo.
"Tidak kak, Raka anak Maya. Dia yang melahirkan Raka dengan perjuangannya sendiri. Di mana Ivan saat Maya membutuhkan pendamping. Di mana dia saat Maya sedang terpuruk. Apa dia tau betapa hancurnya hidup Maya ketika mengetahui anak yang ia lahirkan tidak memiliki orang tua yang utuh" Ucap Surya marah.
"Jika kamu ingin mengambil Raka, langkahi dulu mayat ku. Karena aku sudah berjanji pada Maya untuk menjaga Raka" Ucap Surya marah.
"Hentikan" Teriak Nala marah.
"Bimo, aku tau maksud kamu baik. Tapi dengan mengambil paksa Raka dari kami, kami tidak akan membiarkannya. Raka anak Maya jadi jika memang Ivan ingin bertemu dengan Raka, temui Maya dulu dan minta ijin padanya" Ucap Nala.
"Tapi Maya tidak mungkin mengijinkannya Nala" Ucap Bimo.
"Itu pun yang akan kami lakukan Bimo. Aku memang mencintai kamu Bimo, tapi aku tidak akan menghianati sahabatku sendiri. Lebih baik kamu pergi sekarang atau aku akan panggil mereka untuk membawa kamu pergi" Ancam Nala.
"Baik lah, aku akan pergi sekarang" Jawab Bimo menyerah. Bimo keluar dari rumah Nala lewat jalan yang ia lewati tadi.
Bruck.
Nala terduduk di lantai setelah melihat Bimo pergi. Dia menangis karena bertengkar dengan Bimo tadi.
__ADS_1
"Terima kasih kak, aku tau kakak pasti sangat sakit mengucapkan itu pada Bimo. Terima kasih kak" Ucap Surya.
"Aku memang sakit Surya. Tapi aku akan lebih sakit jika melihat Maya yang hancur karena kehilangan Raka. Kakak tidak sanggup melihatnya Surya. Raka bagaikan dunia dan nyawa bagi Maya." Ucap Nala menangis.
"Kami dari keluarga Jefri mengucapkan terima kasih karena anda sudah membantu kami melindungi tuan muda. Jika saja tidak ada anda tadi, mungkin saya sudah tidak bisa melindungi tuan muda. Dia bukan lawan bagi saya karena dia orang paling hebat nomer 2 dari keluarga Mahardika" Ucap Suster.
"Jadi maksud kamu, Bimo orang yang berpengaruh di kelompoknya?" Tanya Surya.
"Iya, jika para penjaga melawan dia pun belum tentu kami bisa menang" Jawab Suster.
"Ya sudah, kami ingin menenangkan diri dulu. Tolong jaga Raka, jangan sampai dia si bawa oleh Bimo" Ucap Surya.
"Baik " Jawab suster.
Surya membantu Nala untuk menuju ke kamarnya. Dia memapah Nala yang lemas karena terlalu lama menangis.
"Kakak sekarang istirahat saja, jangan pikirkan hal lain kak" Ucap Surya.
"Iya" Jawab Nala.
"Aku keluar dulu ya" Pamit Surya. Nala mengangguk pelan. Surya lalu berjalan keluar dari kamar Nala. Dia duduk di sofa memikirkan semua yang terjadi barusan.
Di sisi lain Maya sedang berada di ruang make up. Dia sedang berdandan sendiri di ruangan itu.
Brack.
"Mau apa kamu ke sini?" Tanya Maya mengarahkan senjatanya pada Ivan. Ivan perlahan berjalan maju mendekati Maya.
"Maafkan aku Maya" Ucap Ivan.
Brack.
Ivan menendang pistol yang ada di tangan Maya hingga Maya terpelanting. Ivan menghampiri Maya dan memeluk pinggang Maya.
"Lepaskan aku Ivan. Ini bukan area kekuasaan kamu" Ancam Maya.
"Aku tau tapi aku tidak peduli karena yang aku inginkan hanya kamu" Ucap Ivan. Ivan mengeluarkan sapu tangan yang sudah ia beri obat tidur lalu ia menyekap mulut dan hidung Maya dengan sapu tangan itu. Tak lama Maya pingsan dalam pelukan Ivan.
"Maafkan aku sayang, tapi ini satu satunya cara agar aku bisa bersama kamu" Ucap Ivan lirih. Ivan membawa kabur Maya tanpa sepengetahuan keluarga besar Maya.
Upacara pernikahan Joy sudah berlangsung namun Maya sama sekali tidak terlihat batang hidungnya.
__ADS_1
"Di mana Maya sayang?" Tanya Jefri
"Aku juga tidak tau By. Aku akan coba cari di ruang make upnya" Ucap Naila.
"Aku temani kamu" Ucap Jefri dan di angguki Naila. Mereka berjalan menuju ke ruang make up Maya dengan tergesa gesa.
"Maya" Panggil Naila yang membuka pintu ruang make up Maya. Namun mereka tidak menemukan Maya di sana. Jefri melihat senjata Maya yang terjatuh di lantai.
"Mereka membawa Maya pergi" Ucap Jefri marah.
"Lalu apa yang harus kita lakukan By?" Tanya Naila khawatir.
"Jangan khawatir sayang. Sekarang kita kembali ke Jakarta untuk mengambil Raka dulu. Kita bawa Raka ke tempat yang aman" Ucap Jefri.
"Iya By" Jawab Naila mengangguk.
Ke esokan harinya.
Maya mulai terbangun dari tidurnya yang cukup lama karena dosis obat tidur yang di berikan Ivan cukup banyak.
"Ah" Ucap Maya memegangi kepalanya yang terasa berat.
"Bagaimana tidur mu?" Tanya Ivan yang berdiri di dekat jendela dengan rokok di tanganya.
"Di mana aku sekarang? Aku harus pulang" Ucap Maya perlahan bangkit dari atas ranjang.
Brack
Maya terjatuh dari ranjang karena badanya yang masih lemas. Ivan mematikan rokoknya lalu menggendong Maya ke atas ranjang lagi.
"Jangan banyak bergerak, tubuh kamu masih lemas" Ucap Ivan lembut.
"Jangan mendekati ku. Minggir, aku ingin pergi dari sini" Ucap Maya mendorong tubuh Ivan.
"Aku akan melepaskan kamu jika kamu mengatakan semuanya pada ku" Ucap Ivan.
"Apa yang ingin kamu tau? Bukan kah kamu sudah menyelidiki aku? Butuh apa lagi kamu dari ku?" Ucap Maya marah.
"Maya, aku memang salah karena meninggalkan kamu. Tapi tolong beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya" Ucap Ivan yang berlutut di depan Maya.
# Selamat membaca ya kak
__ADS_1
# Terima kasih banyak
😊😊😊🙏🙏🙏🙏