One Night With My Teacher

One Night With My Teacher
Eps 24


__ADS_3

"Kamu akan semakin dewasa dengan ujian ujian yang akan kamu lewati Jefri" Guman Jaya tersenyum.


Jefri yang sudah keluar dari kantor, segera masuk ke dalam mobil nya. Dia segera melajukan mobil nya untuk kembali ke rumah nya. Dia ingin segera bertemu dengan Naila dan memeluk nya.


Maafkan aku By. Aku yang egois membuat kamu sedih" Guman Jefri dalam hati.


Tak lama Jefri sudah sampai di rumah. Saat dia sampai di rumah, langit sudah mulai gelap. Cahaya matahari sudah berganti bulan. Dia melihat mobil orang tua nya yang sudah tidak ada di pekarangan rumah nya.


Jefri masuk ke dalam rumah dan semua lampu dir rumah itu gelap gulita. Jefri teringat dengan Naila yang takut akan kegelapan.


"Naila" Ucap Jefri khawatir. Jefri menyalakan senter di ponsel nya. Dia segera berjalan ke arah kamar untuk mencari keberadaan Naila.


"Naila, sayang " Panggil Jefri.


"By itu kamu?" Ucap Naila. Jefri mendengar suara Naila yang gemetaran.


Jefri segera mencari keberadaan Naila. Saat menyenter bagian sudut ranjang nya dia melihat Naila yang meringkuk memeluk lutut nya. Jefri dengan sigap menghampiri Naila. Dia meraih tubuh Naila lalu memeluk nya.


"Kamu sudah pulang By" Ucap Naila tersenyum.


"Iya aku sudah pulang. Sudah jangan takut aku ada di sini bersama kamu" Ucap Jefri. Naila hanya tersenyum lalu tiba tiba tubuh Naila lemas, Naila pingsan dalam pelukan Jefri.


"Nai, Naila" Ucap Jefri.


"Nail kamu kenapa sayang. Naila bangun sayang" Ucap Jefri menepuk pipi Naila pelan.


Lampu kembali nyala. Jefri sudah bisa melihay jelas wajah Naila. Air mata Naila dan tubuh Naila yang gemetaran terlihat jelas di mata Jefri.


"Sayang bertahan lah. Aku panggil dokter sekarang" Ucap Jefri menggendong Naila ke atas ranjang.


Jefri menidurkan Naila pelan. Lalu dia mengambil ponsel nya untuk menelfon dokter pribadi keluarga nya.


"Tolong datang ke rumah saya sekarang dok, istri saya pingsan" Ucap Jefri khawatir.


"Tolong tenang sedikit Jefri. Saya akan ke sana sekarang. Kamu jangan panik" Ucap Dokter.


"Iya dok tapi tolong cepat ke sini" Pinta Jefri.


"Baik saya akan ke sana sekarang juga" Ucap Dokter.


Jefri mematikan ponsel nya. Dia duduk di sebelah Naila yang tidak sadarkan diri si ranjang. Jefri menggenggam tangan Naila erat. Sesekali dia menciumi punggung tangan Naila.

__ADS_1


"Maaf kan aku sayang. Lagi lagi aku tidak menjaga kamu dengan baik. Maafkan aku Naila" Ucap Jefri menyesal.


Tak lama Dokter telah sampai di rumah Jefri. Dokter segera memeriksa keadaan Naila yang masih belum sadarkan diri.


"Apa yang terjadi Jefri. Kenapa istri kamu begitu ketakutan sampai di pingsan seperti ini?" Tanya Dokter.


"Saya tadi keluar Dok. Dan dia sendirian di rumah. Di saat itu mati lampu, dia paling takut dengan gelap" Jelas Jefri menyesal.


"Apa kamu tidak punya asisten rumah tangga? Kenapa dia bisa sampai sendirian di rumah?" Tanya Dokter.


"Kami tidak punya sisten rumah tangga Dok. Naila selalu menolak jika saya memperkerjakan asisten rumah tangg" Ucap Jefri.


"Ya sudah, itu semua keputusan kalian. Tapi di masa mendatang jangan sampai terulang seperti ini lagi. Ini sangat berbahaya untuk istri kamu bahkan nyawa nya juga sangat bahaya di saat dia ketakutan seperti ini" Jelas Dokter


"Bail Dok. Kedepan nya saya akan lebih menjaga dia dengan baik" Ucap Jefri.


"Ya sudah. Nanti biar aku kirim obat nya ke rumah kamu. Kamu siapkan air hangat saja. Nanti saat istri kamu bangun, suruh dia untuk minum air hangat agar dia sedikit tenang" Ucap Dokter.


"Bail Dok. Terima kasih banyak Dok" Ucap Jefri.


"Ya sudah, saya pamit pulang. Kamu jangan terlalu cemas, istri kmu sudah baik baik saja sekarang" Ucap Dokter.


"Iya Dok" Jawab Jefri. Dokter menepuk bahu Jefri lalu kelur dari rumah Jefri.


"Cepat bangun sayang. Aku akan terima kamarahan kamu nanti. Tapi tolong segera bangun" Ucap Jefri lembut.


Jefri keluar dari kamar nya. Dia mengambil air hangat untuk Naila nanti saat dia sudah sadarkan diri. Setelah mengambil air hangat dia kembali ke dalam kamar. Dia segera berjalan ke arah Naila yang sudah sadarkan diri.


"Sayang kamu sudah sadar? Ini minum dulu" Ucap Jefri memberikan air hangat pada Naila.


Naila meminuma air yang Jefri bawa.


"Hati hati panas" Ucap Jefri lembut.


"Sudah" Ucap Naila. Jefri mengambil gelas dari tangan Naila. Dia duduk di sebelah Naila lagi.


"Apa ada yang tidak nyaman?" Tanya Jefri.


"Tidak ada kok" Jawab Naila menggelengkan kepala nya.


"Maaf Naila. Karena aku yang egois kamu sampai seperti ini." Ucap Jefri tertunduk.

__ADS_1


"By, ini semua bukan salah kamu. Aku yang salah karena tidak jujur ke kamu. Maafkan aku ya By membuat kamu marah" Ucap Naila tersenyum.


Jefri meraih tubuh Naila lalu memeluk nya erat. Dia sangat beruntung memiliki Naila yang bagitu baik dan pengertian lada diri nya.


"Aku janji tidak akan pergi lagi. Kamu boleh marah jika aku melakukan nya lagi" Ucap Jefri.


"Iya" Jawab Naila tersenyum.


Satu bulan berlalu.


Naila satu bulan kemarin sangat sibuk mempersiap kan ujian nya. Dia juga di buat pusing dengan sikap Jefri yang semakin manja pada nya.


Tapi kali ini Naila sudah mulai tenang. Dia sudah selesai melakukan ujian akhir nya. Hari terakhir ini dia lewati dengan sukses.


Naila dan Aca memilih duduk di taman. Mereka duduk di bawah pohon yang rindang dan teduh.


"Kamu merasa ada yang aneh nggak sih Nai?" Tanya Aca.


"Aneh? Memang nya apa yang aneh?" Tanya Naila balik.


"Sudah hampir 3 bulan lebih aku tidak melihat guru baru itu" Ucap Aca.


"Guru baru? Bu Bela maksud kamu?" Tanya Naila memastikan.


"Iya. Guru yang dulu membantu Vera itu" Jawab Aca.


"Sudah lah jangan memperdulikan orang lain." Ucap Naila.


"Iya deh. Tapi sejak Vera di hukum waktu itu, dia sudah tidak pernah mencari masalah lagi dengan kamu kan?" Tanya Aca.


"Enggak. Dia malah sering menghindar jika berpapasan dengan ku" Ucap Naila.


"Bagus lah. Tapi jika dia berani mengganggu kamu lagi. Aku tidak akan tinggal diam. Aku akan membuat dia menyesal sudah mengusik kamu" Ucap Aca penuh kebencian.


"Sudah jangan pikirkan lagi. Aku sudah tidak peduli dengan orang orang seperti dia" Ucap Naila.


Di saat bersamaan, sebuah kerumunan terlihat di tengah tengah lapangan. Aca yang menasaran mencari tempat untuk bisa melihat apa yang terjadi di lapangan sekolah.


# selamat membaca ya kak


# Terima kasih banyak

__ADS_1


🙏🙏🙏😊😊😊


__ADS_2