
Di kantor.
Saat ini Jefri sedang malakukan rapat penting yang membahas tentang proyek yang akan ia laksanakan. Aca yang sebagai penanggung jawab dalam proyek tersebut . Namun saat melihat ke arah Jefri, dia tau jika Jefri sedari tadi tidak fokus dengan rapat tersebut.
"Lebih baik anda pulang sekarang" Bisik Aca.
"Apa maksud kamu? Rapat ini sangat penting untuk perusahaan kita" Ucap Jefri.
"Jika memang penting fikiran anda harusnya fokus pada rapat bukanny malah melayang entah ke mana" Ucap Aca.
Mendengar ucapan Aca semua orang yang mengikuti raoat seketika terdiam dan menatap ke arah Aca. Para pegawai Jefri dh tidak terkejut dengan sikap Aca yang suka memerintah CEO dari perusahaan Jefri. Tapi bagi para kolega Jefri itu hal yang sangat luar biasa. Karena Jefri terkenal orang yang disiplin dan teguh pada pendirian.
"Rapat ini kita akhiri, kalian bisa kembali ke ruangan masing masing" Ucap Aca.
"Kenapa kamu yang putuskan. Di sini saya yang pemimpinnya" Ucap Jefri.
"Saya yang pemegang tanggung jawab dalam proyek ini" Ucap Aca.
"Tapi saya atasan kamu" Ucap Jefri.
"Tidak usah memaksakan diri. Anda lebih baik sekarang pulang dan temui istri tersayang anda. Saya tau jika pikiran anda saat ini sedang di tempat lain. Saya tau anda khwatir dengan istri anda yang akan segera melahirkan. Jadi dengarkan saya dan segera pulang sekarang" Ucap Aca tegas.
Semua orang yang mengikuti rapat terkejut dengan ucapan Aca yang berani beraninya memerintah bos yang sudah membayarnya mahal.
"Terserah, saya mau pulang sekarang" Ucap Jefri keluar dari ruang rapat.
"Dari tadi kan bisa langsung pulang, kenapa harus debat dulu sih" Gerutu Aca.
Setelah kepergian Jefri, Aca baru sadar kalau anggota lain yang mengikuti rapat masih berada di dalam ruang rapat. Aca menatap ke arah anggota rapat. Semua anggota rapat memberikan jempol pada Aca yang mampu menaklukan Jefri, bosnya sendiri.
"Hahaha jangan salah paham. Pak Jefri itu sebenarnya suami sahabat saya sejak SMA" Ucap Aca kikuk.
"Anda luar biasa bu Aca" Ucap anggota rapat.
"Sangat luar biasa bu" Imbuh anggota rapat lain.
"Hahaha iya, saya permisi dulu" Pamit Aca yang kabur dari para anggota rapat.
Di mobil, Jefri sedang uring uringan karena terjebak macet.
"Aduh kenapa macet segala sih" Guman Jefri.
Di saat bersamaan, Jefri mendapat tekfon dari mamah Sinta.
"Mamah, ada apa ya kok tekfon aku?" Ucap Jefri. Jefri segera mengangkat tekfon dari mamah Sinta.
"Halo mah, ada apa?" Tanya Jefri.
"Naila kotraksi Jef, sekarang kami sudah di rumah sakit. Kamu segera ke sini ya Jef. Dokter bilang Naila akan melahirkan sekarang" Ucap mamah Sinta yang terdengar khawatir.
__ADS_1
"Iya mah, aku akan ke sana sekarang" Ucap Jefri.
"Tolong jaga Naila Sebenatr ya mah. Jefri dalam perjalanan ke rumah sakit sekarang" Ucap Jefri lagi.
"Iya nak cepat ya Jef" Ucap mamah Sinta.
"Iya mah" Jawab Jefri. Jefri menepikan mobilnya ketika ada jarak yang cukup untuk dia menepi. Dia segera keluar dari mobilnya karena dia tidak akan cepat sampai di rumah sakit jika terjebak macet yang cukup ladat di jalan itu.
Jefri menghubungi orang suruhannya untuk mengambil mobil. Sedangkan dirinya berlari mencari kendaraan yang mampu membelah kemacetan agar segera sampai di rumah sakit.
"Pak Jefri, dia sedang apa berlari seperti orang gila begitu?" Ucap Reza yang melihat Jefri kebingungan.
Reza menghampiri Jefri, di saat itu dia memakai motor kesayangannya jadi dia bisa memecah kemacetan jalan raya itu.
"Pak Jefri sedang apa?" Tanya Reza.
Mendengar namanya di panggil, Jefri menoleh ke sumber suara.
"Terima kasih Tuhan" Ucap Jefri yang bersyukur melihat kedatangan Reza. Jefri segera menghampiri Reza dan naik ke atas motor Reza.
"Bapak ngapain?" Tanya Reza lagi saat Jefri naik ke atas motornya.
"Reza tolong antar saya ke rumah sakit sekarang juga. Naila akan melahirkan sekarang jadi tolong bantu saya. Saya mohon" Ucap Jefri tulus.
Dari suara Jefri yang gemetar dan tangan yang juga gemetar Reza tau jika Jefri saat ini sedang sangat khawatir dengan keadaan Naila.
"Semoga kamu dan bayi kita baik baik saja Naila" Guman Jefri dalam hati.
Tak lama Jefri sudah sampai di rumah sakit. Dia masuk begitu saja tanpa berterima kasih pada Reza karena dia sangat khawatir dengan keadaan Naila.
"Ok pak sama sama" Ucap Reza walau Jefri tidak mengucapkan terima kasih kepadanya.
Reza mengambil ponselnya di saku celananya. Dia menghubungi Aca untuk memberitahukan kedaaan Naila pada Aca.
"Halo sayang, aku sekarang lagi di rumah sakit" Ucap Raza
"Apa? Di rumh sakit? Memangnya kamu kenapa? Apa kamu terluka? Apa lukanya parah? Kamu di rumah sakit mana? Aku akan ke sana sekarang" Ucap Aca khawatir.
"Sayang...... Sayang tenang lah. Dengarkan aku, pertama aku baik baik saja. Aku juga tidak terluka. Kedua yang terluka bukan aku tapi Naila. Dia sedang melahirkan di rumah sakit S. Kamu bisa ke sini sendiri atau aku jemput?" Jelas Reza.
"Naila melahirkan? Ok aku akan ke sana sekarang, kamu tunggu saja di sana aku akan segera ke sana sendiri" Ucap Aca.
"Ok say......ang" Ucap Reza terhenti.
"Aca Aca, kamu bisa bikin aku semakin gila dengan sikap menggemaskannya kamu itu" Ucap Reza menggelengkan kepalanya ketika Aca sepihak mematikan panggilannya.
"Ya sudah lah aku parkir motor dulu" Ucap Reza. Reza kembali menyalakan motorny dan mengendarai motornya ke tempat parkir.
Di rumah sakit.
__ADS_1
Semua yang datang ke rumah sakit saat ini sedang berada di ruang inap Naila. Terpancar jelas kebahagian dari wajah wajah orang yang hadir di rumah sakit.
"Selamat ya Naila, kamu sekarang sudah menjadi ibu." Ucap mamah Sinta.
"Selamat ya Jefri, kamu juga sudah menjadi ayah sekarang" Ucap Angga.
"Terima kasih mah pah" Ucap Naila dan Jefri bersamaan.
"Selamat ya juga untuk mamah dan papah karena sudah menjadi oma dan opa" Ucap Jefri.
"Iya nak" Jawab mamah Sinta.
"Naila, selamat ya. Perjuangan kamu kini telah membuahkan hasil. Kamu sekarang sudah memiliki malaikat kecil yang sangat menggemaskan" Ucap Aca.
"Selamat ya pak Jefri, Naila" Ucap Reza.
"Terima kasih Aunty dan uncle" Ucap Naila.
"Terima kasih ya Za, berkat kamu saya bisa menyaksikan kelahiran putri saya dengan selamat" Ucap Jefri.
"Sama sama pak" Jawab Reza.
Setelah semua mengucapkan selamat pada Naila san Jefri, telfon Naila berdering. Jefri mengangkat telfon dari Wirawan, papah Naila.
"Naila selamat ya, mamah dengar kamu sudah melahirkan" Ucap Yuli tampak bahagia karena melakukan fidiocall.
"Iya mah terima kasih" Ucap Naila.
"Selamat ya nak, kami sangat bahagia mendengar cucu kami lahir dengan selamat, kamu juga dalam keadaan sehat" Ucap Wirawan.
"Terima kasih pah, ini semua juga berkat doa mamah dan papah" Ucap Jefri.
"Mamah dan papah akan secepatnya ke tempat kalaian. Kalian kabari saja saat Naila sudah keluar dari rumah sakit" Ucap Wirawan.
"Pasti pah" Jawab Jefri lagi.
"Siapa nama cucu mamah?" Tanya Yuli.
"Namanya MAYA YULIANA mah" Jawab Jefri.
"Nama yang cantik" Sahut Wirawan.
Semua orang tampak bahagia dengan kelahiran anak pertama Naila dan Jefri. Lengkap sudah kebahagian Naila dan Jefri. Saat ini keluarga mereka harmonis dan di tambah dengan kehadiran cucu pertama dalam keluarga besar yang semakin mempererat kekeluargaan mereka.
# Selamat membaca ya kak
# Terima kasih banyak
🙏🙏🙏😊😊😊
__ADS_1