One Night With My Teacher

One Night With My Teacher
10


__ADS_3

Bukannya melakukan hukumannya, Ivan memilih pergi dari sekolah dan pulang ke rumahnya. Ivan sudah tidak peduli dengan ucapan para guru dan anak anak lain karena dia benar benar muak dengan ocehan mereka semua.


Di rumah.


Ivan pulang ke rumahnya. Dia masuk ke dalam rumah dan bertemu dengan Mahardika/ Dika papah Ivan sang pemilik perusahaan terbesar di negara ini dan juga sang pemilik sekolah.


Plack


Ivan mendapatkan satu tamparan meras dari Dika.


"Mau sampai kapan kamu mempermalukan papah? Apa kamu tidak bosan membuat papah marah?" Tanya Dika marah besar.


"Kenapa? Bukan kah selama ini papah tidak peduli dengan apa yang aku lakukan? Kenapa tiba tiba papah peduli sekarang?" Tanya Ivan balik dengan senyuman mengejeknya.


"Jaga ucapan kamu Ivan" Teriak Dika.


"Tidak usah teriak teriak, gue tidak tuli" Ucap Ivan yang juga marah.


Plack


Dika kembali menampar Ivan hingga Ivan terjatuh ke lantai.


"Jaga sikap dan perlakuan kamu Ivan" Ucap Dika marah.


"Papah akan hukum kamu, jangan keluar dari rumah atau papah akan membuat wanita itu celaka di dalam rumah sakit jiwa" Ancak Dika.


"Jangan pah, jangan sentuh mamah pah" Ucap Ivan memohon.


"Lepaskan" Ucap Dika tegas.


"Aku akan lepaskan tapi tolong jangan sentuh mamah" Pinta Ivan menangis.


Duack


Dika menendang Ivan sampai terpental. Dika berjalan keluar dari rumah dan tidak memperdulikan Ivan sama sekali.


"Maafkan papah Ivan. Papah harus keras dengan kamu karena papah tidak ingin kamu mekiliki kelemahan di duani yang kejam ini" Guman Dika dalam hati.


Dika masuk ke dalam mobilnya yang sudah di jaga oleh beberapa anak buahnya.

__ADS_1


"Jaga Ivan baik baik, jangan biarkan dia kaluar." Ucap Dika.


"Baik tuan" Jawab anak buah Dika.


Dika menutup jendela mobilnya lalu memibta supir untuk membawanya pergi ke rumah sakit jiwa.


Di rumah sakit jiwa.


Dika keluar dari mobilnya. Dia berjalan masuk ke rumah sakit jiwa. Dia langsung menuju ke kamar yang di tempati Lidya istrinya sekaligus mamah dari Ivan.


"Lidya, aku datang sayang" Ucap Dika masuk ke dalam kamar Lidya.


"Mas Dika, aku takut mas. Aku lihat mereka bawa senjata mas. Mereka mau bunuh Ivan mas. Bawa Ivan pergi mas" Ucap Lidya menangis ketakutan.


"Iya sayang. Jangan khawatir Lidya, Ivan baik baik saja. Mas sudah menjaga Ivan dengan baik. Kamu harus sembuh ya sayang. Kamu harus bersamaku menjaga Ivan dan membesarkan anak kita" Ucap Dika.


"Mereka datang mas, mereka mau bawa Ivan pergi mas. Mas cepat kejar mereka mas cepat mas" Ucap Lidya menangis histeris.


"Tidak ada yang membawa pergi Ivan sayang. Tenang lah mas mohon" Pinta Dika menangis.


"Pergi, kamu bukan mas Dika. Kamu bukan mas Dika. Kamu..... kamu yang mau bawa pergi anak ku. Kamu yang mau membunuh anak ku" Ucap Lidya menyerang Dika. Lidya mencekik leher Dika dengan sangat kuat. Dika hanya diam dan menangis melihat wanita yang begitu ia cintai sakit sampai seperti ini.


Dokter dan suster masuk ke dalam kamar Lidya. Mereka melepaskan tangan Lidya dari leher Dika. Dokter menyuntikkan obat penenang untul Lidya. Tak lama Lidya mulai terlelap.


"Saya tidak apa apa. Tolong jaga istri saya" Pinta Dika.


"Baik tuan" Jawab Dokter.


Dika keluar dari rumah sakit jiwa. Dika terus menyesali kepergiannya dulu saat dinas ke luar negri hingga membuat Lidya sakit jiwa akibat penyerangan yang di lakukan musuhnya.


Lidya yang barada di rumah bersama Ivan yang masih berusia 7 tahun mendapatkan serangan mendadak dari musuh Dika. Semua anak buah Dika di lumpuhkan. Lidya yang ingin menyelamatkan Ivan gagal karena rumahnya sudah terkepung.


Beberapa orang yang bersenjata lengkap menarik Ivan dari pelukan Lidya dan membawanya pergi.


Dika yang baru kembali dari dinas merasa dirinya hancur karena melihat Lidya yang sudah gila dan Ivan yang hilang. Dengan amarahnya yang mengegebu gebu, Dika meminta seluruh anak buahnya untuk mencari keberadaan Ivan.


Hanya cukup beberapa jam saja Ivan sudah di temukan dan musuh Dika sudah di habisi tanpa tersisa seorang pun. Dengan kembalinya Ivan membuat Dika sedikit lega. Namun trauma yang di alami Lidya membuatnya gila dan tidak bisa mengontrol dirinya sendiri.


"Sudah 11 tahun kejadian itu berlalu Lidya. Tapi kenapa kamu masih saja ketakutan? Apa yang harus aku lakukan Lidya? Apa yang harus aku lakukan agar kamu bisa kembali seperti dulu?" Guman Dika dalam hati.

__ADS_1


Dika bersikap keras pada Ivan karena ingin mengajarkan pada Ivan akan kerasnya hidup di lingkungan yang akan ia warisi. Dika membuat rencana seolah olah dia yang membuat Lidya jadi gila keran Ivan hilang ingatan saat di temukan karena trauma.


Ivan juga ketakutan jika di tempat yang banyak keramaian apa lagi di tempat yang banya teriakan teriakan. Sebab itu Ivan tidak nyaman jika harus pergi ke tempat yang ramai.


Satu minggu berlalu.


Ivan sudah tidak masuk sekolah selama satu minggu. Maya yang merasa bersalah berusaha mencari Ivan namun tidak bisa menemukan Ivan karena Maya tidak tau apa apa soal Ivan sama sekali


"Bimo tolong antar aku ke rumah Ivan. Aku hanya ingin tau kabar Ivan" Pinta Maya.


"Enggak bisa Maya. Gue nggak bisa antar elo ke rumah Ivan" Tolak Bimo.


"Aku mohon Bimo" Pinta Maya lagi.


"Maaf Maya gue enggak bisa" Jawab Bimo lalu pergi menghindari Maya.


Melihat Maya yang begitu khawatir dengan keadaan Ivan membuat Damar semakin marah.


"Kenapa kamu sekawatir itu Maya? Kenapa kamu harus khawatir dengan dia?" Guman Damar marah dalam hati.


Maya ingin mengejar Bimo. Tapi sekilas dia melihat wali kelasnya. Dia tersenyum lalu mengikuti wali kelasnya sampai di gudang penyimpanan.


"Pak, saya mau minta tolong pada bapak" Ucap Maya sopan.


"Ada apa Maya? Kamu mau minta tolong apa?" Tanya wali kelas Maya.


"Saya ingin minta alamat rumah Ivan" Jawab Maya.


"Ha? Rumah Ivan? Untuk apa kamu cari alamat rumah Ivan?" Tanya wali kelas terkejut.


"Saya mau minta maaf pada Ivan soal Ivan yang di tuduh menyakiti saya pada saat saya pingsan kemarin. Saya mohon pak, tolong kasih tau saya alamat rumah Ivan. Saya khawatir dengan keadaan Ivan pak" Ucap Maya memohon.


"Hah baik lah, kamu tunggu di sini dulu. Saya akan catatkan alamatnya" Jawab wali kelas.


"Iya pak" Jawab Maya tersenyum antusias.


Tak butuh waktu lama, Maya sudah mendapatkan alamat rumah Ivan. Dia segera berlari ke kelasnya setelah berterima kasih pada wali kelasnya yang sudah membantunya.


# Selamat membaca ya kak

__ADS_1


# terima kasih banyak


😊😊😊🙏🙏🙏


__ADS_2