One Night With My Teacher

One Night With My Teacher
06


__ADS_3

Baru saja Ivan mau memukul Bimo karena mentertawakan dirinya, namun ia urungkan saat Maya datang ke atap dan melihat mereka sedang merokok.


"Ngapain lo ke sini?" Tanya Ivan cuek.


"Nih kerjakan, kita satu kelompok. Jadi kamu harus mengerjakan tugas ini sekarang. Aku tidak mau mendapat nilai jelek gara gara kamu" Ucap Maya memberikan buku paket ke Ivan.


"Gue nggak mau kerjakan, soal nilai ulangan elo gue enggak perduli" Ucap Ivan yang kembali menghisap rokoknya.


Bimo bangkit dari duduknya, dia memilih pergi dari atap untuk memberikan waktu pada Maya bicara dengan Ivan.


"Di sekolah di larang merokok" Ucap Maya tegas.


"Ini sekolah gue, terserah gue mau ngapain saja" Ucap Ivan.


Maya menghampiri Ivan lalu merebut roko yang di pegang Ivan. Tapi karena kurang hati hati, tangan Maya terkena api pada rokok yang ia rebut dari Ivan barusan.


"Aaaah" Teriak Maya kesakitan.


Ivan langsung bangkit dari duduknya dan menarik tangan Maya.


"Elo gila ya, itu rokok masih menyala" Ucap Ivan marah.


"Lepas, aku tidak butuh bantuan kamu. Cepat kerjakan tugas kamu" Ucap Maya menarik tangannya dari genggaman tangan Ivan.


Maya segera keluar dari Atap. Dia kembali ke kelasnya untuk mengerjakan tugasnya sendiri.


"Aduh sakit" Guman Maya yang kesakitan.


Sedangkan Ivan yang melihat buku di kursinya, segera mengambil buku yang di bawakan Maya dan membawanya masuk ke dalam ruangannya.


Di kelas.


Jam pelajaran sudah berganti. Ivan masuk ke dalam kelas dengan buku yang ia bawa dan menaruhnya ke atas meja Maya.


"Nih, puaskan lo" Ucap Ivan langsung kembali ke bangkunya dan menidurkan kepalanya di atas meja.


Maya membuka buku yang biberikan Ivan padanya. Dia tersenyum ketika melihat hasil yang dikerjakan oleh Ivan. Dia menoleh ke arah Ivan.


"Makasih" Bisik Maya.


Ivan yang mendengar ucapan Maya tersenyum di balik lengannya yang menutupi wajahnya.


Maya tersenyum saat merapikan tugas yang di kerjakan oleh Ivan.

__ADS_1


"Dia cerdas jika mau. Tapi kenapa dia bertingkah seperti itu? Dia juga tidak seburuk yang seperti ku pikirkan jika bicara secara halus dengannya." Guman Maya dalam hati.


Bel pulang sudah berbunyi.


Maya merapikan buku bukunya dan memasukkannya ke dalam tas. Ketika melihat Ivan yang sudah bangkit dari duduknya, Maya memanggilnya.


"Ivan boleh aku bicara sebentar dengan kamu?" Tanya Maya.


"Cepat bicara" Ucap Ivan duduk di atas meja. Maya menghampiri Ivan dan berdiri di depannya.


"Aku mau minta maaf karena petama kali kita bertemu sudah membuatmu marah. Aku juga minta maaf karena membuat kamu jengkel" Ucap Maya.


"Sudah kan? Gue mau pulang" Ucap Ivan yang berjalan begitu saja meninggalkan Maya.


Ivan tersenyum senang karena di ajak bicara dengan Maya. Tanpa dia sadari, Damar melihat semuanya. Damar meremas jemarinya karena tau Maya bicara dengan Ivan.


"Aku tidak akan tinggal diam" Guman Damar dalam hati.


Damar berjalan masuk ke dalam kelas Maya. Dia menghampiri Maya dengan wajahnya yang penuh senyuman.


"Sudah siap? Ayo aku antar kamu pulang" Ucap Damar.


"Iya sudah kok" Jawab Maya menggendong tasnya.


"Maaf tapi aku tidak bisa leluasa bergerak" Ucap Maya.


Wajah Damar berubah marah namun dia mampu menyembunyikan kemarahannya sesegera mungkin sebelum Maya mengetahuinya.


"Maaf" Ucap Damar tersenyum.


Di rumah Maya.


Maya masuk ke dalam rumahnya setelah Damar pergi. Dia tersenyum ketika melihat Naila sang mami yang sedang membaca buku di teras.


"Mami" Panggil Maya.


"Halo sayang. Mana Damar? Kok tidak di ajak masuk dulu?" Tanya Naila.


"Katanya ada acara sama teman temannya jadi dia langsung pulang" Jawab Maya.


"Oh begitu. Ya sudah sana masuk langsung ganti baju" Ucap Naila.


"Iya mam" Jawab Maya. Maya mencium pipi Naila lalu berjalan masuk ke dalam rumahnya. Dia menuju ke lantai 2, ke arah kamarnya.

__ADS_1


Sore harinya. Maya bermain dengan ponselnya. Dia bertukar pesan dengan Damar.


Tok tok tok


"Boleh papi masuk?" Tanya Jefri yang mengetuk pintu kamar Maya.


"Masuk saja pi" Jawab Naila turun dari ranjangnya. Dia duduk di kursi belajarnya dan berhadapan dengan Jefri yang duduk di pinggiran kasur Maya.


"Gimana sekolah kamu? Apa kamu nyaman dengam susana baru di sekolah?" Tanya Jefri.


"Papi tidak usah khawatir, aku sudah nyaman kok dengan suasana baru di sekolah" Jawab Maya tersenyum.


"Bagus lah kalau begitu. Tapi sayang, ada hal yang harus papi katakan" Ucap Jefri.


"Ada apa pi?" Tanya Maya.


"Papi dan mami harus kembali ke Eropa untuk waktu yang cukup lama. Karena oma Yuli sakit lagi. Perusahaan papi yang di sana juga sedang ada sedikit masalah. Jadi papi dan mami harus pergi ke Eropa secepatnya" Jelas Jefri.


"Oh jadi papi khawatir dengan keadaan Maya yang di sini sendiri?" Tanya Maya.


"Iya sayang. Ini pertama kalinya papi dan mami jauh dari kamu. Papi sangat berat melakukan itu. Tapi papi tidak ingin kamu pindah sekolah lagi dan penyesuaian lagi. Papah tidak tega melihat kamu yang harus kehilangan teman teman lagi" Ucap Jefri.


"Papi, Maya akan baik baik saja di sini sendiri. Papi dan mami tidak usah khwatir. Maya bisa kok jaga diri Maya sendiri" Ucap Maya memegangi kedua tangan Jefri.


Di saat bersamaan, Naila pun masuk ke dalam kamar Maya. Dia duduk di sebelah Jefri menatap ke arah Maya.


"Maya sekarang kamu sudah dewasa, kamu sudah bisa melihat apa yang baik atau buruk untuk kamu. Papi dan mami tidak melarang kamu untuk berpacaran ataupun memadu kasih dengan lawan jenis. Tapi mami harap kamu harus hati hati sayang. Jika kamu melakukan hubungan mami harap kamu memakai pengaman" Ucap Naila.


"Papi tau jika sampai sekarang kamu belum pernah melakukannya. Papi malah bangga karena kamu bisa melindungi mahkota kamu. Tapi ingat pesan mami nak, papi tidak ingin kamu terluka" Ucap Jefri.


"Mami dan papi kok bicara begitu? Aku tidak akan melakukan itu" Ucap Maya terkejut.


"Mami dan papi hanya tidak ingin kamu salah jalan dan berhubungan bebas tanpa pengaman sayang" Ucap Naila.


"Cukup mam, Maya tidak akan melakukan itu. Maya akan selalu menjaga milik Maya. Jadi mami dan papi tidak usah khawatir" Ucap Maya.


"Wakaupun di sana suadah biasa melakuka hal itu. Tapi bagi Maya itu bukan hal yang baik mam. Maya akan tetap memeprtahankannya untuk suami Maya nantinya" Ucap Maya tegas.


# Selamat membaca ya kak


# Terima kasih banyak


😊😊😊🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2