One Night With My Teacher

One Night With My Teacher
35


__ADS_3

"Memangnya kak Bimo bukan pacar kakak?" Tanya Surya.


"Entah lah, dia bilang kalau suka dengan kakak. Tapi dia tidak mengajak kakak untuk berpacaran" Ucap Nala yang menyindir Bimo.


Bimo tersenyum dengan sikap Nala. Dia tidak menyangka Nala akan seberani itu bicara dengannya dan juga Surya.


"Kak, kak Nala sudah memberi lampu hijau. Cepat tembak kak Nala kak. Kalau terlalu lama kakak yang akan menyesal nantinya" Bisik Surya.


"Sudah makan makanan mu" Ucap Bimo.


"Hai kak apa kau tau jika aku sudah mempunyai kekasih?" Ucap Surya.


"Sudah tau, Nala susah cerita dengan ku. Cepat makan makananmu" Ucap Bimo bangkit dari duduknya. Dia berjalan menghampiri Nala yang masih barada di dapur.


"Sedang apa?" Tanya Bimo menghampiri Nala.


"Membuat minuman, tunggu di sana saja" Ucap Nala.


"Tidak, aku ingin selalu bersama kamu" Ucap Bimo memeluk Nala dari belakang.


"Oh iya ada satu hal yang harus kamu tau, aku tidak peduli dengan setatus karena yang aku tau bahwa aku mencintai kamu dan aku akan selalu bersama kamu" Ucap Bimo.


"Tapi seorang wanita butuh kepastian Bimo. Bukan hanya ucapan cinta karena itu tidak bisa mengikat satu sama lain." Ucap Nala.


"Jika kamu berfikir begitu maka aku bisa saja dekat dengan pria lain karena aku tidak memiliki setatus yang jelas dengan kamu" Ucap Nala.


"Tidak, jangan bicara seperti itu. Aku akan membuat pria itu lebih baik mati dari pada hidup jika kamu betani dekat dengan pria lain" Ucap Bimo marah.


"Sekarang kamu ingin bagaimana?" Tanya Nala melipat tangnnya ke depan dada.


"Aku tidak tau, aku belum pernah pacaran sebelumnya" Jawab Bimo menundukkan kepalanya.


"Kamu yang pandai menggoda wanita belum pernah pacaran? Jangan bohong" Ucap Nala tersenyum mengejek.


"Aku memang belum pernah pacaran, hanya kamu satu satunya gadis yang aki sukai bahkan tadi malam adalah pertama kalinya untuk ku" Jawab Bimo malu.


"Bohong, jika memang pertama kali untuk mu tapi kenapa seperti sudah profesional. Jangan bohong Bimo atau aku akan marah dengan kamu" Ancam Nala.


"Benar itu pertama kalinya untuk ku. Aku hanya pernah melihatnya saja tanpa pernah melakukannya" Jawab Bimo.


"Kalian sedang membicarakan apa? Apa yang pertama kali?" Tanya Surya yang menghampiri mereka ke dapur dengan membawa piring kosongnya.

__ADS_1


"Bukan apa apa, cepat cuci piringnya" Ucap Nala lalu menarik tangan Bimo. Nala mengajak Bimo ke kamarnya karena tidak ingin Surya mengetahui apa yang terjadi semalam.


Di kamar Nala mendudukkan Bimo ke pinggiran kasurnya. Dia menatap mata Bimo tajam.


"Sekarang aku tanya sama kamu, apa benar itu pertama kalinya buat kamu?" Tanya Nala tegas.


"Iya" Jawab Bimo menunduk.


"Apa benar aku wanita yang pertama kali kamu sukai?" Tanya Nala lagi.


"Iya" Jawab Bimo.


"Apa kamu mau jadi kekasihku?" Tanya Nala tersenyum.


"Iya" Jawab Bimo datar. Setelah sadar dengan apa yang di ucapkan Nala, Bimo menatap Nala dengan tatapan tidak percaya. Nala hanya tersenyum melihat Bimo yang kebingungan.


"Sekarang kamu sudah milik ku jadi jika kamu berani mendekati wanita lain, aku akan sangat marah bahkan aku bisa saja memukul mu" Ucap Nala.


"Apa kamu serius dengan apa yang kamu ucapakan tadi?" Tanya Bimo yang masih belum percaya.


"Iya" Jawab Nala mengangguk dan tersenyum lebar.


Bimo menari tangan Nala hingga Nala duduk di pangkuannya. Dia meraih tengkuk Nala lalu mencium bibir Nala lembut.


"Ops maaf" Ucap Surya kembali menutup pintu kamar Nala.


"Surya" Teriak Nala.


"Awas ya kamu" Ucap Nala marah lalu mengejar Surya yang sudah berlari kekuar dari rumah.


Bimo hanya tersenyum melihat tingkah kakak adik yang membuay suasana rumah menjadi lebih hidup.


"Kelak aku juga ingin keluarga kecil kita penuh canda dan tawa seperti kamu dan Surya, Nala" Guman Bimo tersenyum.


Kehidupan Nala dan Bimo berjalan dengan baik. Nala juga sudah di setujui oleh Wira sebagai kekasih Bimo. Namun Nala masih belum mengetahui identitas Bimo yang sebagai anak Wira. Tangan kanan bos besar mafia dunia bawah yang kelam dan kejam. Yang Nala tau keluarga Bimo hanyalah pembisnis biasa yang cukup sukses.


6 tahun berlalu.


Maya sudah melahirkan dan usia anaknya saat ini sudah menginjak umur 5 tahun. Anak Maya terlahir sangat tampan bahkan sangat mirip dengan Ivan. Hanya rambutnya saja yang mengikuti Maya berwarna pirang.


"Raka, ayo kita sarapan dulu" Ucap Maya yang sedang menata makanan yang ia masak di atas meja makan.

__ADS_1


"Yes momi" Jawab Raka.


Raka Varendra adalah anak yang telah lahir dari kandungan Maya. Dia adalah anak laki laki yang tampan dan juga cerdas. Kecerdasannya mengikuti Ivan yang sejak kecil memang sudah cerdas.


"Sini momi gendong naik ke kursimu" Ucap Maya. Maya menggendong Raka untuk duduk di kursinya.


"Momi, aku tidak selera makan" Ucap Raka.


"Kamu harus makan sayang. Hari ini kita akan pergi naik pesawat untuk menemui oma dan opa.


"Apa kita akan pergi hari ini?" Tanya Raka.


"Iya kita akan pergi hari ini, jadi kamu harus makan dulu agar tidak kehabisan tenaga" Ucap Maya.


"Ok momi, Raka mau makan" Jawab Raka bersemangat. Maya mengusap kepala lembut kepala Raka. Dia mulai menyuapi Raka makan dan Raka makan dengan lahap.


Kembali ke Jakarta.


Maya dan Raka sudah sampai di Jakarta. Mereka baru saja keluar dari bandara lalu mencari keberadaan supir yang di kirim Jefri dan Naila.


"Nona Maya" Ucap seorang pria yang menghampiri Maya.


"Iya" Jawab Maya.


"Saya supir yang di kirim tuan Jefri untuk menjemput anda" Ucap pria yang menghampiri Maya dan ternyata pria itu adalah supir yang di perintahkan Jefri untuk menjemput Maya.


"Baik lah" Jawab Maya. Supir itu mengambil alih koper bawaan Maya. Sedangkan Maya masih menggendong Raka yang masih terlelap tidur.


Maya masuk ke dalam mobil. Saat supir mulai melajukan mobilnya, Maya melihat keluar jendela. Banyak hal yang berubah sejak 6 tahun yang lalu.


"Aku sudah kembali ke sini lagi, apa yang akan aku lakukan jika bertemu dengan kamu lagi nantinya Ivan?" Guman Maya dalam hati.


Maya melihat Raka yang kini tidur di pangkuannya.


"Apa yang harus momi lakukan Raka? Momi takut jika bertemu dengan papi kamu." Guman Maya dalam hati dan mengusap lembut kepala Raka.


Tak lama mobil yang di tumpangi Maya sudah sampai di rumah lama Maya. Maya kembali menggendong Raka keluar dari mobil.


# Selamat membaca ya kak


# Terima kasih banyak

__ADS_1


😊😊😊🙏🙏🙏


__ADS_2