
Siang harinya Reza sudah sampai di rumah sakit. Dia baru bisa datang siang hari karena dia ada kuliah pagi.
Saat sampai di ruang inap Aca, Reza melihat Aca yang sedang istirahat.
"Hai Nai" Sapa Reza.
"Kamu sudah datang. Aku ada kerjaan di kantor. Aku harus pergi sekarang" Ucap Naila.
"Iya pergi saja biar aku yang menemani Aca" Jawab Reza.
"Ok. Makasih ya Za. Nanti malam aku akan membawakan kamu makanan yang enak" Ucap Naila menepuk bahu Reza lalu berjalan keluar dari ruang inap Aca.
Reza duduk di sofa yang ada di ruang inap Aca. Dia membuka leptop yang ia bawa untuk mengerjakan tugasnya dari kampus.
"Za aku haus" Ucap Aca yang sudah bangun. Reza yang asik mengerjakan tugasnya sampai lupa dengan Aca.
"Ca kamu sudah bangun. Maaf aku tidak sadar kalau kamu sudah bangun" Ucap Reza bangkit dari duduknya untuk mengambilkan air minum untuk Aca.
"Nih minum dulu" Ucap Reza lembut.
"Makasih Za" Ucap Aca ketika ia sudah meminum air dari Reza.
"Bagaimana hidung kamu? Apa masih sakit?" Tanya Reza mengusap hidung Aca yang di balut kain kasa.
"Sudah lebih baik kok" Jawab Aca tersenyum.
"Maaf ya Ca, gara gara aku kamu sampai celaka seperti ini" Ucap Reza mengenggam tangan Aca.
"Apaan sih Za. Aku nggak papa kok, santai saja" Ucap Aca memukul bahu Reza.
Reza tersenyum dengan tingkah Aca yang selalu apa adanya dan juga sedikit tomboy. Walaupun penampilan Aca masih seperti anak lelaki. Tapi Reza tau benar kalau hati Aca sangat lembut.
"Sepertinya kamu yang akan menang Ca" Ucap Reza.
"Apa maksudnya?" Tanya Aca bingung.
"Bukan apa apa. Aku mau mengerjakan tugas lagi. Kamu mau sesuatu?" Tanya Reza.
"Mengerjakannya di sini saja. Siapa tau aku bisa membantumu" Ucap Aca.
"Kamu mengejek ku Ca?" Ucap Reza menyelidik.
"Hahaha, ya siapa tau saja. Mungkin kamu butuh bantuan saat otak kecilmu itu tersumbat" Goda Aca.
"Jangan membuatku melakukan hal yang ingin aku lakukan Ca" Ancam Reza.
"Memangnya apa yang ingin kamu lakukan?" Tanya Aca tersenyum.
__ADS_1
Reza meraih tengkuk Aca lalu mencium bibir Aca lembut. Aca yang mendapat ciuman mendadak dari Reza hanya mampu membeku dan terbelalak karena terkejut.
"Kenapa diam? Terpesona ya?" Goda Reza.
Aca menarik lengan Reza lalu kembali mencium bibir Reza. Aca memasukkan lidahnya ke dalam mulut Reza. Reza memeluk pinggang Aca dan membalas ciuman Aca.
"Aku mencintai kamu Reza" Ucap Aca.
"Aku juga sudah mulai tertarik dengan kamu Ca" Jawab Reza tersenyum. Reza mengusap kepala Aca dan mengacak acak rambut Aca.
"Reza, jangan berantakin rambutku. Naila sudah susah payah menatanya tadi" Ucap Aca merapikan rambutnya.
"Cepat sembuh biar aku bisa lagi cubit hidung kamu itu" Ucap Reza tersenyum.
"Iya" Jawab Aca tersenyum malu.
"Yah malu" Goda Reza. Aca memukul tangan Reza karena menggodanya.
Reza meraih tubuh Aca dan membawanya ke dakam pelukannya.
"Bersabar lah Ca. Aku akan berusaha melupakan Naila dan aku akan berusaha mencintai kamu seperti kamu mencintaiku" Ucap Reza.
"Jangan di paksakan. Kita jalani saja dulu, jika kamu tidak nyaman dengan apa yang kita jalani. Aku akan menerima semua keputusan kamu" Ucap Aca.
"Terima kasih Ca. Terima kasih karena kamu sudah mencintaiku dan bahkan menerimaku yang tidak sempurna ini" Ucap Reza.
"Aku juga tidak sempurna Za. Aku inginkita bisa saling melengkapi satu sama lain" Imbuh Aca.
"Baik lah" Jawab Reza tersenyum puas.
"Aku tidak akan mengecewakan kamu Ca. Aku akan selalu berusaha membuat kamu bahagia dan selalu tersenyum" Guman Reza dalam hati.
Di tempat lain.
Naila sedang berada di kantor. Dia baru saja selelsai rapat bersama Teo. Kali ini dia dan Teo kembali ke ruangan Teo.
"Naila, hari ini akan ada tamu penting. Saya harap kamu bisa menyambut tamu penting kita karena dia akan memulai kerja sama dengan perusahaan kita nantinya" Ucap Teo.
"Baik pak" Jawab Naila.
"Oh iya Naila. Saya maaf saya sudah meminta anak buah saya untuk mencari tau informasi kamu dan keluarga kamu. Saya tertarik dengan kegigihan papah kamu Wirawan. Kalau bisa saya ingin bertemu dengan beliau. Apa kamu bisa mengatur pertemuan kita?" Tanya Teo.
"Baik pak saya akan mengaturnya" Jawab Naila.
"Bagus kalau begitu. Jika sudah mendapat waktu yang tepat kamu hubungi sekertaris saya saja" Ucap Teo.
"Baik pak" Jawab Naila.
__ADS_1
"Ya sudah, kamu boleh bersiap untuk menyambut tamu yang akan datang hari ini" Ucap Teo.
"Baik pak, kalau begitu saya permisi" Pamit Naila. Teo mengangguk pelan. Naila keluar dari ruangan Teo untuk melakukan tugas yang di berikan Teo padanya.
Sore harinya.
Naila sedang berada di ruang kerjanya. Di saat bersamaan ponselnya berdering dan tertera nama Jefri yang ada di layar ponselnya.
"Kak Jefri, ada apa ya? Tumben dia telfon jam segini" Ucap Naila. Naila mengangat panggilan telfon dari Jefri.
"Halo kak ada apa?" Tanya Naila dengan terus fokus ke layar komputernya.
"Aku ada di dekat kantor kamu sekarang. Apa kamu bisa keluar sebentar? Aku ingin mengajak kamu minum kopi di kafe" Ucap Jefri.
"Haduh maaf kak, aku tidak bisa sekarang. Kerjaan ku sangat banyak hari ini. Di tambah lagi nanti akan ada tamu penting yang harus aku sendiri yang menemuinya" Tolak Naila.
"Hah, baik lah kalau begitu" Ucap Jefri menghela nafasnya.
"Maaf ya kak. Setelah pekerjaan ku selesai aku janji akan teraktir kakak makan malam" Ucap Naila tersenyum.
"Ok aku akan tunggu kabar dari kamu. Selamat bekerja sayang" Ucap Jefri lembut.
"Terima kasih" Ucap Naila. Naila menutup telfon dari Jefri dan meletakkannya ke atas meja lagi.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu ruangan Naila. Naila tersenyum ketika melihat pegawai setimnya yang sedang mengetuk pintu.
"Masuk" Ucap Naila.
"Maaf bu Naila, tamu yang anda tunggu sudah datang sekarang" Uca0 pegawainya.
"Oh iya. Aku akan turun sekarang" Jawab Naila.
Naila mematikan komputernya lalu bangkit dari duduknya dan sedikit merapikan rambut dan juga pakaiannya.
Setelah semua ia rasa cukup, Naila berjalan keluar dari ruangannya. Dia memasuki lift dan turun ke lobi kantor.
Saat sampai di lobi kantor, Naila segera menghampiri tamu penting yang sudah ia tunggu sejak siang tadi.
"Selamat sore, saya Direktur Desain di perusahaan ini. Nama saya Naila" Ucap Naila memperkenalkan diri. Saat tamu pria itu berbalik betapa terkejutnya Naila ketika melihat Niko teman Jefri yang ternyata orang yang ia tunggu.
# Selamat membaca ya kak
# Terima kasih banyak
🙏🙏🙏😊😊😊
__ADS_1