One Night With My Teacher

One Night With My Teacher
13


__ADS_3

Tok tok tok


"Ivan, papah ingin bicara dengan kamu" Ucap Dika.


"Ada apa?" Tanya Ivan yang sudah membuka pintu kamarnya.


"Besuk kita ke bandung. Ada pertemuan penting yang harus kamu temui" Ucap Dika.


"Tidak, aku ingin di rumah saja" Jawab Ivan ingin menutup pintu kamarnya.


"Pertemuan dengan orang tua Maya" Ucap Dika.


Mendengar ucapan Dika membuat Ivan tidak jadi menutup pintu kamarnya.


"Asisten orang tua Maya menghubungi kita. Mereka meminta kita untuk bertemu di Bandung besuk. Jika kamu benar tidak ingin bertemu mereka itu hak kamu. Tapi papah sarankan untuk kamu ikut karena pihak mereka sudah menyelidiki kamu dan Damar kekasih Maya yang kamu maksud tadi" Ucap Dika.


Ivan kembali menghela napas panjangnya karena lagi lagi papahnya tau lebih cepat tentang Maya dan Damar.


"Aku akan ikut besuk" Ucap Ivan lalu kenutup pintu kamarnya.


Ivan duduk di pinggiran kasurnya. Dia menyalakan rokok untuk menemani malamnya yang sepi. Ivan tersenyum ketika teringat Maya yang merampas rokok dari tangannya dalam keadaan roko masih menyala.


"Itu hal bodoh yang pernah kamu lakukan Maya" Ucap Ivan tersenyum.


Ivan mengambil ponselnya, dia menghubungi salah satu anak buah papahnya untuk mengirimkan minuman ke kamarnya.


Tak berselang lama suara ketukam pintu kamar Ivan membuyarkan lamunannya tentang Maya.


"Masuk" Ucap Ivan. Ivan melihat Wira tangan kanan papahnya dan sekaligus papah dari sahabatnya, Bimo.


"Kenapa om Wira yang ke sini?" Tanya Ivan.


"Om mau menemanimu minum. Akan semakin sepi jika kamu minum sendirian" Ucap Wira.


"Om pasti sudah tau kan kenapa aku minta minuman ini?" Tanya Ivan.


"Tentu saja" Jawab Wira memberikan gelas yang berisi minuman kerang yang ia tuangkan.

__ADS_1


"Makasih om" Ucap Ivan. Wira hanya mengangguk dan bersandar pada meja yang ada di kamar Ivan.


"Kamu memiliki kekuasan Ivan. Kamu memiliki segalanya. Kamu bisa saja merebut gadis kamu itu dengan mudah jika kamu mau" Ucap Wira.


"Tapi hal itu akan menyakiti dia om. Bahkan lebih parahnya lagi, mungkin dia akan membenciku dan aku tidak sanggup menerima itu. Bahkan untuk membayangkannya saja aku begitu takut" Ucap Ivan tertunduk.


"Om suka dengan ucapan dan sikap kamu Ivan. Di umur kamu yang masih begitu muda, kamu mamapu berpikir jernih dan lebih dewasa" Ucap Wira.


"Aku tidak tau apa itu mampu di sebut dewasa atau tidak, tapi yang jelas otu yang ingin aku lakukan om. Lebih baik aku melindunginya dari jauh dengan terus melihat kebahagiannya dari pada aku harus memaksanya dan membuatnya menangis" Ucap Ivan.


"Apa kamu sangat mencintainya?" Tanya Wira.


"Aku tidak tau ini di sebut cinta atau apa. Aku belum pernah merasakannya sebelumnya." Jawab Ivan.


"Bahkan awlanya aku sampai memperiksakan jantung ku ke Dokter karena bingung kenapa jantung ku selalu berdetak lebih cepat ketika mengingatnya" Ucap Ivan.


"Kamu memeriksakannya? Lalu apa yang Doker bilang?" Tanya Wira tertawa.


"Iya, aku memeriksakannya dan itu saran dari Bimo. Setelah aku periksa ke Dokter dan mengetahui jawabannya Bimo selalu mengejekku sampai sekarang" Jawab Ivan tertawa mengingat hal konyol yang ia lakukan.


"Itu lah yang di namakan cinta Ivan. Cinta mambuat kita jadi gila. Bahkan kamu saja yang cerdas mampu jadi bodoh karena cinta bukan" Ucap Wira.


"Ya sudah, istirahatlah. Besuk kita harus pergi pagi hari" Ucap Wira menepuk bahu Ivan.


"Iya om" Jawab Ivan mengangguk.


Wira keluar dari kamar Ivan. Dia berjalan menuju ke ruang kerja Dika yang berada di ujung lorong.


"Dari mana saja kamu?" Tanya Dika.


"Dari kamar Ivan" Jawab Wira duduk di sofa. Dika berjalan menghampiri Wira dan duduk di depan Wira.


"Dia sebenarnya anak mu atau anak ku? Kenapa dia bisa senyaman itu bicara dengan kamu di bandingkan denganku papahnya sendiri" Ucap Dika.


"Kamu hanya terlalu keras dengan Ivan Dika. Kasihan dia selama ini kamu bohongi" Ucap Wira


"Hentikan Wira, jangan bahas itu lagi. Aku lebih memilih di benci anak ku sendiri dari pada harus melihat dia menderita" Ucap Dika.

__ADS_1


"Baik lah aku tidak akan membicarakan hal itu lagi. Lalu bagaimana persiapan untuk besuk? Apa kamu sudah menyiapkan segalanya?" Tanya Wira.


"Sudah, tapi aku tidak membawa banyak pengawal besuk karena pihak sana membawa istrinya dan itu artinya mereka tidak akan menyerang kita demi keselamatan istrinya" Ucap Dika.


"Bagus lah kalau begitu. Aku lelah jika harus berperang terus setiap kita melakukan pertemuan." Ucap Wira.


"Tapi semenjak Ivan ikut dalam pertemuan, kita selalu menang tanpa harus baku hantam" Ucap Wira lagi.


"Iya, aku juga bangga dengan Ivan bahkan kecerdasannya pun jauh lebih sempurna" Ucap Dika. Wira mengangguk menyetujui ucapan Dika.


Wira dan Dika sudah sejak remaja berteman. Bahkan susah sedih dan terluka mereka pernah lalui bersama. Ivan pun sejak kecil lebih dekat dengan Wira hingga membuat Bimo cemburu. Tapi dengan kasih sayang yang di miliki Wira mampu membuat Ivan dan Bimo saling melindungi satu sama lain.


Hari berikutnya.


Ivan, Dika dan Wira sudah berada di helikopter. Mereka sudah barada di perjalanan menuju tempat pertemuan yang sudah di sepakati bersama.


"Ivan, jika pihak sana tidak menyetujui syarat kita, om harap kamu mampu menanganinya. Om percaya kamu mampu menanganinya seperti sebelum sebelumnya" Ucap Wira.


"Baik om" Jawab Ivan. Dika tersenyum puas karena Ivan semakin mudah untuk di ajak melakukan pertemuan.


Tak lama mereka sudah sampai di tempat pertemuan. Ivan turun lebih dulu dari helikopter lalu Wira dan Dika bergantian. Saat akan memasuki tempat pertemuan, pemeriksaan ketat di lakukan. Ivan yang saat ini memakai jas biru gelap dan mengikat rambutnya semakin membuat Ivan berwibawa dan tampan tentunya.


"Selamat datang di tempat kami" Ucap Jefri.


"Terima kasih atas sambutan yang anda berikan pak Jefri." Ucap Dika membalas jabatan tangan Jefri.


Naila melihat ke arah Ivan. Ivan sedikit menundukkan kepalanya untuk memberi salam pada Naila. Naila tersenyum melihat perlakuan sopan Ivan. Padahal di negara ini keluarga Ivan lah yang sebagai pemegang tertinggi dalam dunia gelap ini. Tapi Ivan masih sopan pada orang yang lebih tua darinya. Tapi jika orang tersebut tidak layak untul di hormati maka jangan harap bisa lolos dari genggaman Ivan.


"Halo Ivan. Saya Jefri Agatha" Ucap Jefri menjabat tangan Ivan.


"Halo om" Ucap Ivan tersenyum sopan.


"Jadi kamu anak yang membuat Maya kami sampai pingsan?" Tanya Naila sinis.


# Selamat membaca ya kak


# Terima kasih banyak

__ADS_1


🙏🙏🙏😊😊😊


__ADS_2