
"Dia..... dia sudah pergi. Dia pergi meninggalkan aku Joy" Ucap Maya menangis.
Ada perasaan senang dalam diri Joy. Tapi ada juga perasaan kasihan dan bersalah melihat Maya yang menangis. Joy memeluk erat tubuh Maya untuk menenangkan Maya.
"Jangan menangis Maya. Kita bisa coba mencarinya nanti. Om Jefri dan tante Naila pasti akan membantu kamu. Ayo kita pulang sekarang" Ucap Joy. Maya yang masih menangis pun mengangguk. Joy memapah Maya berdiri untuk kembali ke dalam mobil. Sebelum masuk ke dalam mobil, Maya menoleh ke arah rumah Ivan.
"Kenapa kamu pergi Ivan?" Guman Maya dalam hati. Maya melihat ke luar jendela. Dia bingung dengan apa yang harus ia lakukan mulai sekarang. Ivan telah meninggalkan dirinya. Dia bingung harus bagaimana dengan anak yang ada di dalam kandungannya saat ini.
Di rumah Maya.
Maya yang kelelahan menangis merasa badanya lemas tak bertenaga. Tatapan matanya juga sayu dan merah karena lama menangis.
Joy memapah Maya masuk ke dalam rumah. Jefri dan Naila terkejut dengan penampilan Maya yang seperti orang gila dengan rambut acak acakan.
"Maya kamu kenapa nak?" Tanya Naila mengusap rambut Maya yang menutupi wajah Maya.
Maya mendongak menatap ke Naila. Dia kembali menangis karena merasa bersalah pada kedua orang tuanya.
"Ada apa ini Joy? Apa yang terjadi?" Tanya Jefri.
"Ivan pergi om, kami tidak tau dia pergi ke mana" Jawab Joy.
"Lalu kenapa Maya sampai seperti ini? Mereka bukan sepasang kekasih" Ucap Jefri bingung.
"Mungkin saja mereka sepasang kekasih om, karena anak dalam kandungan Maya adalah anak Ivan" Jawab Joy.
Bruck.
Maya pingsan dan jatuh ke lantai.
"Maya" Teriak Naila menangis.
Jefri mengambil alih Maya. Dia menggendong Maya masuk ke dalam kamarnya. Joy mengambil alat kedokterannya yang ada di dalam kamarnya. Setelah itu dia kembali ke kamar Maya.
"Biar saya periksa dulu om" Ucap Ivan.
"Iya" Jawab Jefri memberi ruang untuk Joy.
__ADS_1
Naila memangis melihat keadaan Maya yang tidak sadarkan diri. Jefri memeluk erat Naila untuk menenangkan Naila.
"Tenang sayang. Anak kita pasti akan baik baik saja" Ucap Jefri.
"Kenapa anak kita seperti ini By? Apa salah dia sampai harus menderita seperti ini?" Ucap Naila menangis.
"Jangan bicara seperti itu sayang. Kamu harus tetap kuat agar Maya bisa kembali semangat menjalani hidupnya" Ucap Jefri.
Joy selesai memeriksa keadaan Maya. Dia beranjak dari ranjang Maya untuk menemui Jefri dan Naila.
"Kondisi Maya saat ini sangat berbahaya untuk janin yang ada di dalam kandungannya. Sebisa mungkin kita harus membantu Maya agar sedikit melupakan kesedihannya." Jelas Joy.
"Lalu kami harus bagaimana Joy. Apa solisi terbaik kamu saat ini?" Tanya Jefri.
"Apa tidak lebih baik kita bawa Maya pergi dulu dari sini? Maya akan mengingat hal hal yang pernah terjadi jika masih di sini" Jelas Joy.
"Kita bawa Maya ke Bandung saja By. Di rumah kita yang di sana lebih asri. Maya pasti akan lebih tenang jika tinggal di sana" Ucap Naila.
"Itu lebih bagus. Semoga saja Maya bisa lebih tenang jika di sana" Ucap Joy.
"Saya akan ikut ke Bandung. Tapi saya tidak bisa lama karena masa citu saya akan segera berakhir. Saya harus kembali pulang" Jelas Joy.
"Tidak apa apa Joy. Kamu sudah sangat banyak membantu keluarga saya. Maaf atas perlakuan Maya pada kamu. Dan terima kasih banyak" Ucap Jefri menepuk bahu Joy.
"Saya tulus mencintai Maya om. Saya tidak pernah berharap hal lain. Saya behagia bisa merasakan cinta Maya walaupun hanya sesaat. Tapi itu sangat indah bagi saya dan saya tidak akan pernah melupakannya" Ucap Joy.
"Kamu begitu tulus mencintai Maya, Joy. Tapi kalian di takdirkan tidak berjodoh jadi bersabarlah. Kami yakin, kamu akan mendapatkan wanita yang tulus mencintai kamu dan menerima semua kekurangan kamu" Ucap Naila tulus.
"Terima kasih tante" Ucap Joy.
"Ya sudah, ayo siap siap. Kita harus segera pergi" Ucap Jefri.
"Baik om" Jawab Joy.
Joy dan kedua orang tua Maya keluar dari kamar Maya. Sebelum menutup pintu kamar Maya, Joy sekilas menatap Maya yang masih terbaring di tempat tidur.
"Selamat istirahat honey. Walaupun aku tidak bisa memiliki hati dan diri mu. Aku tetap bahagia karena pernah mencintai kamu" Guman Joy dalam hati dan tersenyum.
__ADS_1
Di Bandung.
Maya dan keluarga sudah satu minggu pindah ke Bandung. Namun selama itu pula Maya masih diam melamun di dalam kamarnya. Apa lagi Joy sudah kembali ke negara asalnya. Maya semakin menyendiri.
Naila membuka pintu kamar Maya untuk mengantarkan sarapan. Dia menghela nafasnya ketika melihat Maya yang masih di atas ranjang kamarnya dengan tatapan sendu.
"Ayo makan dulu sayang, nanti dedek bayinya lapar kalau kamu telat makan" Ucap Naila ceria agar memberikan semangat pada Maya.
"Aku belum lapar mam" Jawab Maya lirih.
Naila menaruh makanan yang ia bawa ke atas meja. Dia duduk di samping Maya dan menggenggam sebelah tangan Maya.
"Keluar lah Maya, cari udara segar di luar. Mau sampai kapan kamu mengurung diri di sini? Apa kamu tidak bosan di kamar terus?" Ucap Naila.
"Apa kamu lupa pesan Joy sebelum dia pulang kemarin. Kamu tidak boleh terus terusan stress Maya. Kasilan bayi dalam kandungan kamu jika kamu seperti ini terus" Ucap Naila.
"Aku hanya ingin di sini mam" Jawab Maya.
"Jangan egois Maya" Bentak Naila.
"Kamu tidak hidup untuk diri kamu sendiri. Ada kehidupan yang sangat berarti di dalam perut kamu itu. Memangnya kamu mau anak dalam kandungan kamu itu tumbuh lambat akibat ulah kamu? Atau kamu sengaja ingin dia meninggal" Ucap Naila marah.
"Tidak mam, aku tidak ingin itu terjadi" Ucap Maya menangis.
"Jika memang kamu tidak ingin hal itu terjadi, semangat lah Maya. Jangan banyak pikiran, buat lah hidup mu sebahagia mungkin senyaman mungkin. Jika memang benar Ivan meninggalkan kamu hanya karena cemburu dengan Joy. Berarti dia bukan laki laki yang pantas untuk kamu" Ucap Naila.
"Sayang, jika Ivan tidak menginginkan anak ini. Kita rawat dan besar kan dia sendiri. Kami masih mampu untuk membesarkan anak kamu. Mami hanya ingin kalian berdua sehat sayang" Ucap Naila.
Maya menangis lalu memeluk Naila erat.
"Maaf kan Maya mam, Maya bodoh karena terus terpuruk seperti ini. Maya janji akan semangat lagi dan menikmati setiap tumbuh kembang anak dalam kandungan Maya. Maya janji mam, Maya akan bahagia mulai sekarang" Ucap Maya.
# Selamat membaca ya kak.
# Terima kasih banyak
😊😊😊🙏🙏🙏
__ADS_1