
"Cukup mam, Maya tidak akan melakukan itu. Maya akan selalu menjaga milik Maya. Maya akan meraih mimpi Maya lebih dulu baru memikirkan yang lain. Jadi mami dan papi tidak usah khawatir" Ucap Maya.
"Walaupun di sana sudah biasa melakukan hal semacam itu. Tapi bagi Maya itu bukan hal yang baik mam. Maya akan tetap memeprtahankannya untuk suami Maya nantinya" Ucap Maya tegas.
"Mami percaya dengan kamu Maya" Ucap Naila tersenyum.
"Papi bangga sama kamu Maya" Ucap Jefri mengusap kepala Maya lembut.
"Baik lah, nanti papi akan minta oma Sinta dan opa Angga untuk menemani kamu di sini" Ucap Jefri.
"Iya Pi" Jawab Maya mengangguk.
"Ya sudah kamu istirahatlah, besuk mami dan papi harus pergi setelah kamu pulang sekolah" Ucap Naila.
"Iya mam" Jawab Maya.
Hari berikutnya.
Setelah bel pelajaran selesai, Maya langsung buru buru keluar dari kelas. Ivan yang melihat Maya buru buru ingin tau kenapa. Tapi dia malu jika harus bertanya ke Nala.
Di saat bersamaan Damar datang ke kelas Maya. Dia celingukan mencari keberadaan Maya namun tidak menemukannya. Damar menghampiri Nala yang masih duduk di bangkunya.
Ivan yang melihat kedatangan Damar pura pura tidur untuk mendengarkan percakapan Damar dan Nala.
"Nala, Maya ke mana?" Tanya Damar.
"Maya pupang duluan, dia mau mengantar mami dan papinya ke bandara" Jawab Nala.
"Memangnya orang tua Maya mau ke mana?" Tanya Damar lagi.
"Mau balik ke Eropa katanya" Jawab Nala singkat.
"Ok kalau begitu makasih" Ucap Damar. Sebelum pergi Damar menatap ke arah Ivan yang masih tertidur di bangkunya.
"Anak orang kaya" Ucap Damar menyindir Ivan lalu pergi dari kelas Maya.
Ivan mendengar jelas ucapan Damar, tapi dia tetap menahan emosinya karena tidak ingin membuat masalah dengan Damar. Bukannya Ivan takut tapi dia lebih tidak ingin memiliki sangkut pautnya dengan Damar sama sekali.
"Lo nggak marah di ejek begitu?" Tanya Nala tanpa menatap ke arah Ivan.
"Enggak usah pura pura tidur" Ucap Nala lagi lalu bangkit dari duduknya.
"Tunggu. Apa maksud ucapan elo?" Tanya Ivan yang bangkit dari duduknya.
"Pikir saja sendiri" Ucap Nala.
"Ya Tuhan" Ucap Nala terkejut karena hampir bertabrakan dengan Bimo.
"Eh si manis" Ucap Bimo tersenyum aneh.
__ADS_1
"Minggir lo" Ucap Nala mendorong tubuh Bimo yang kekar.
"Makin manis saja tuh cewek" Ucap Bimo yang masuk ke dalam kelas menghampiri Ivan.
"Kenapa lo?" Tanya Bimo.
"Enggak" Jawab Ivan lalu meninggalkan Bimo. Bimo sedikit berlari menghampiri Ivan dan merangkul bahu Ivan. Mereka berjalan melewati lorong kelas lain untuk keluar dari gedung sekolah.
Malam harinya.
Bimo mengajak Ivan untuk ke mall. Dengan susah payah Bimo mengajak Ivan dan akhirnya berhasil. Bimo dan Ivan berjalan ke arah toko yang di tuju Bimo.
"Van lihat bagus yang ini atau yang ini?" Tanya Bimo yang meminta saran Ivan.
"Terserah elo" Jawab Ivan cuek.
"Bantu dong Van. Style elo kan keren Van. Gue nggak mau dong terlihat norak di samping elo apa lagi nanti kalau ketemu cewek cewek gue" Ucap Bimo.
"Bodo ah, gue mau cari makan" Ucap Ivan keluar dari toko. Bimo mengembalikan barang yang ia pegang tadi lalu berlari menyusul Ivan.
Namun Bimo berhenti ketika melihat Ivan yang berdiri mematung.
"Ada apa Van?" Tanya Bimo yang mengikuti arah pandangan Ivan.
"Oh, ayo ikut gue" Ucap Bimo lalu menarik Ivan.
"Mau ke mana? Gue mau balik" Ucap Ivan memberontak.
Maya dan Nala menoleh ke sumber suara.
"Dia sudah melihat kita, apa elo yakin mau pergi sekarang" Bisik Bimo pada Ivan. Ivan yang malu akhirnya menuruti ucapan Bimo. Akhirnya Ivan dan Bimo menghampiri Maya dan Nala.
"Halo manis" Sapa Bimo pada Nala.
"Mau gue tampol lo" Ucap Nala.
"Galak amat" Ucap Bimo. Bimo melihat Maya yang tersenyum melihat tingkahnya dan Nala. Lalu Bimo ganti melihat ke arah Ivan yang terus menatap Maya.
"Gue akan bantu elo Van" Guman Bimo dalam hati.
"Style elo keren banget La, elo mau bantu gue cari tas dan pakaian enggak?" Tanya Bimo.
"Ogah" Ucap Nala langsung menolak.
"Gue enggak terima penolakan La, ayo bantu gue" Ucap Bimo langsung menarik Nala meninggalkan Maya dan Ivan.
Maya dan Ivan yang di tinggal mulai kebingungan karena mereka masih sama sama canggung.
"Mau mengikuti mereka?" Tanya Maya.
__ADS_1
"Ikut gue" Ucap Ivan langsung menarik Maya ke arah pintu keluar mall.
"Tunggu, kamu mau bawa aku ke mana?" Tanya Maya memberontak.
"Gue nggak nyaman di sini. Plis ikut gue" Pinta Ivan memohon.
"Ya sudah ayo" Jawab Maya msnyerah.
Maya dan Ivan keluar dari mall. Ivan membawa Maya masuk ke dalam mobil Ivan ketika mereka sudah sampai di parkiran.
"Kenapa kamu tidak nyaman di sana?" Tanya Maya memberanikan diri bertanya pada Ivan.
"Bukan urusan elo" Jawab Ivan lalu melajukan mobilnya pergi dari area mall.
Sepanjang perjalanan, Maya melihat kelur jendela. Dia tersenyum ketika melihat suasana malam hari di ibu kota.
"Kenapa lo senyum senyum?" Tanya Ivan.
"Ini pertama kalinya aku jalan jalan saat malam sejak aku pindah ke Indonesia" Jawab Maya tersenyum senang.
"Kalau begitu, gue akan ajak elo jalan jalan malam ini sampai elo puas" Ucap Ivan.
"Serius? Kamu mau ajak aku jalan jalan?" Tanya Maya antusias.
"Iya tapi ada syaratnya" Ucap Ivan.
"Apa syaratnya?" Tanya Maya balik.
"Jangan berisik" Ucap Ivan singkat.
"Gue janji enggak akan berisik" Jawab Maya senang.
Ivan tersenyum melihat Maya yang tampak begitu bahagia.
"Gue mau minta elo jadi pacar gue May. Tapi itu tidak mungkin karena gue tau jika elo masih takut dan menjaga jarak dengan gue" Guman Ivan dalam hati.
"Em, Van. Kenapa sih kamu bersikap tidak baik di sekolah?" Tanya Maya. Seketika Ivan manatap tajam ke arah Maya.
"Maaf bukan maksud ku untuk menggurui kamu. Tapi aku rasa kamu tidak seburuk seperti yang anak anak lain kira" Ucap Maya.
"Bukan urusan elo. Lagian jangan sok tau tentang gue" Ucap Ivan tegas.
"Maaf" Ucap Maya menundukkan kepalanya.
Ivan menghentikan mobilnya. Saat ini, Maya dan Ivan berada di pantai. Ivan turun dari mobilnya. Maya yang melihat Ivan keluar pun ikut keluar juga. Dia berdiri di samping Ivan yang menatap jauh ke arah pantai.
"Elo enggak tau apa apa soal gue May. Jangan ikut campur dalam hal apapun soal gue" Ucap Ivan.
# Selamat membaca ya kak
__ADS_1
# Terima kasih banyak
🙏🙏🙏😊😊😊