One Night With My Teacher

One Night With My Teacher
15


__ADS_3

"Damar jaga ucapan kamu" Ucap Maya marah.


"Kenapa kamu marah ke aku May? Apa kamu sudah mulai bosan dengan ku dan mulai menggoda dia dengan tubuh kamu itu" Ucap Damar.


Duack.


Ivan sudah tidak mampu menahan emosinya. Dia sangat marah karena Damar sudah menghina Maya.


"Ivan, apa yang kamu lakukan" Teriak Maya menghampiri Damar yang terjatuh ke lantai.


"Cukup Ivan" Teriak Dika, papah Ivan yang ternyata datang ke sekolah untuk melihat perkembangan pembangunan gedung baru.


"Om Dika" Ucap Maya terkejut. Maya melihat ke arah Ivan karen khawatir dengan Ivan.


"Ikut saya" Ucap Dika.


Ivan pun mengikuti Dika. Dika membawa Ivan ke ruangan kepala sekolah. Sedangkan Maya membawa Damar ke UKS karena luka di sudut bibir Damar yang menegluarkan darah.


Di ruang kepala sekolah.


Bimo dan Ivan berada di ruang kepala sekolah. Bimo ikut masuk ke ruang kepala sekolah karena tidak ingin jika Dika menghajar Ivan di sekolah.


"Jelaksan ke papah, ada apa?" Tanya Dika duduk memangku sebelah kakinya.


"Dia sudah menghina Maya pah. Aku tidak bisa terima itu" Jawab Ivan


"Memangnya hubungan kamu dengan Maya apa? Apa kamu kekasihnya? Tidak kan? Jaga sikap kamu Ivan. Tahan emosi kamu. Jika orang luar melihat dan membuat Maya sebagai kelemahan kamu lalu apa yang akan kamu lakukan? Apa kamu mau mengurung Maya di dalam rumah terus?" Ucap Dika.


Mendengar ucapan Dika membuat pikiran Ivan semakin terbuka.


"Duduk lah Ivan, bicara dengan papah dengan tenang" Ucap Dika.


"Kalau begitu saya permisi dulu om" Ucap Bimo pamit.


"Keluar lah dan bilang pada Wira kalau aku tidak akan melakukan kekerasan pada Ivan" Ucap Dika.


"Iya om" Jawab Bimo. Bimo keluar dari ruang kepala sekolah. Kepala sekolah yang menunggu di luar mencegah Bimo untuk melewatinya.


"Ada apa pak?" Tanya Bimo.


"Apa Ivan kena pukul pak Dika" Tanya kepala sekolah.


"Tidak akan terjadi pak, jadi bapak bisa tenang sekarang" Jawab Bimo.


"Syukur lah kalau begitu" Ucap kepala sekolah tenang.

__ADS_1


Di sisi lain Ivan sudah duduk berhadapan dengan Dika, papahnya.


"Sekarang cerita lah nak, papah akan dengar samua penjelasan kamu" Ucap Dika.


"Apa aku salah jika melindungi orang yang aku sayang?" Tanya Ivan tertunduk.


"Tidak nak, kamu tidak salah hanya saja cara kamu yang salah. Melindungi bukan hanya dengan kekerasan. Kamu memiliki otak yang cenerlang nak kamu harus memanfaatkan itu. Kamu juga punya papah yang memiliki segalanya. Pakai nama papah sepuas kamu untuk mindungi orang yang kamu cintai itu" Ucap Dika.


"Sekarang keluar lah cari Maya dan biacar baik baik dengannya. Minta maaflah pada anak itu" Ucap Dika.


"Kenapa aki harus minta maaf pada dia?" Tanya Ivan marah.


"Karena papah akan melakukan sesuatu padanya karena sudah menghina gadis yang anak papah sukai" Ucap Dika.


"Terima kasih pah" Ucap Ivan tersenyum. Ivan keluar dari ruang kepala sekolah lalu menuju ke UKS. Dika yang melihat Ivan berjalan keluar merasa senang karena sedikit demi sedikit Ivan sudah mau mencurahkan isi hatinya pada Dika.


"Papah tidak akan membiarkan orang yang mengusik mu hidup dengan tenang Ivan" Guman Dika dalam hati.


Di UKS.


Maya baru saja dari kantin. Dia membelikan minuman untuk Damar yang saat ini berada di UKS dengan di temani teman temannya.


"Dam, kapan elo mau putusin Maya?" Tanya teman Damar.


"Iya Dam, sesuai dengan taruhan kita. Elo harus putusin Maya dulu baru elo dapat uangnya" Ucap teman Damar yang lain.


Maya yang akan masuk ke dalam ruang UKS mendengar semua ucapan Damar. Hatinya hancur berkeping keping mendengar ucapan Damar yang ternyata selama ini hanya membuat dirinya sebagai taruhan.


Duack.


Maya melempar botol minuman yang ia beli tadi ke arah Damar.


"Sia***n kamu Damar. Jadi aku hanya bahan taruhan kamu? Jadi semua ucapan kamu hanya omong kosong belaka?" Ucap Maya menangis.


"May aku bisa jelasin ke kamu. Ini tidak seperti yang kamu dengar." Ucap Damar menghampiri Maya.


"Penjelasan apa yang akan kamu bilang? Semuanya sudah jelas Damar. Kamu jahat Damar, kamu jahat. Aku tulus mencintai kamu tapi apa yang aku dapat? Kamu hanya mempermainkan aku" Ucap Maya menangis.


"Maya tolong dengarkan aku dulu" Pinta Damar memohon dan mendekati Maya.


Maya yang marah berbalik arah lalu berlari pergi dari UKS. Karena kajadian tadi smeua murid di pulangkan. Saat ini hanya ada beberapa murid saja yang ada di sekolah.


Maya berlari menaiki tangga dan bermaksud untuk naik ke atap sekolah.


"Kenapa diam saja, kejar dia" Ucap Damar meminta pada kedua temannya.

__ADS_1


Kedua teman Damar dan Damar sendiri berlari mengejar Maya. Bimo melihat Maya yang menangis dengan di kejar Damar. Dia segera menghubungi Ivan agar menolong Maya.


"Van, Maya menangis dan naik ke lantai atas. Tapi anehnya Damar dan kedua temannya mengejar Maya" Ucap Bimo.


"Ok, aku akan mencari Maya" Jawab Ivan. Ivan mematikan ponselnya lalu berlari kw arah tangga.


Ivan berlari ke lantai atas untuk mencari keberadaan Maya. Namun dia seketika bersembunyi ketika melihat Damar dan Maya yang sedang berpelukan.


"Lepasin aku, aku jijik bersentuhan dengan kamu" Ucap Maya meronta melepaskan diri.


"Hei ngapain kalian diam saja. Bantu gue bawa dia masuk ke gudang" Ucap Damar pada kedua temannya.


Mendengar intruksi Damar, kedua temannya membantu Damar untuk membawa Maya masuk ke dalam gudang. Ivan semakin marah karena Damar bersikap kasar pada Maya.


"Tolong" Teriak Maya ketakutan.


"Lepasin" Berontak Maya.


"Hahahaha kamu nggak bisa lepas dari kami Maya" Ucap Damar. Damar merobek pakaian atas Maya dan terlihat da** Maya yang terbalut dalaman hitam yang membuat Damar semakin panas.


"Jangan lakukan itu Damar, aku mohon" Pinta Maya menangis.


Duack.


Damar tersungkur ke lantai karena di tendang dari belakang oleh Ivan.


"Habisi dua orang itu" Ucap Ivan pada Bimo.


"Ok" Jawab Bimo tersenyum menakutkan.


Ivan menghampiri Damar yang masih terduduk di lantai. Damar yang ketakutan memundurkan badannya namun langkah Ivan yang lebih lebar membuatnya terpojok.


"Tangan mana elo menyentuhnya? Tanya Ivan dengan menginjak jemari Damar.


"Arght" Teriak Damar kesakitan. Mendengar teriakan Damar membuat Ivan semakin menggila. Dia semakin menginjak keras jemari Damar dan membuat Damar menjerit kesakitan.


Puas dengan jemari Damar, Ivan menarik kerah baju Damar. Dia memukul habi habisan Damar hingga penuh darah di tangan Ivan.


"Hentikan Ivan, aku mohon" Ucap Maya lirih.


Mendengar suara Maya, Ivan baru tersadar. Dia menghempaskan Damar ke lantai lalu memebuka kemejanya untuk menutupi tubuh atas Maya.


"Maaf aku terlambat, kamu pasti sangat ketakutan tadi" Ucap Ivan lembut. Baju kemeja yang awalnya putih bersih kini sudah terkena bercak darah dari tangan Ivan.


# Selamat membaca ya kak

__ADS_1


# Terima kasih banyak


😊😊😊🙏🙏🙏


__ADS_2