One Night With My Teacher

One Night With My Teacher
16


__ADS_3

"Maaf aku terlambat, kamu pasti sangat ketakutan tadi" Ucap Ivan lembut. Baju kemeja yang awalnya putih bersih kini sudah terkena bercak darah dari tangan Ivan.


"Bawa aku pergi Van" Pinta Maya.


"Iya, kita pulang sekarang. Tidur lah dan jangan pikirkan apapun" Ucap Ivan menggendong Maya dalam pelukannya.


"Bereskan mereka" Ucap Ivan.


"Panggila anak buahmu saja, tangan ku sudah kotor. Aku ingin segera pulang dan mandi" Ucap Bimo.


"Panggil elo" Jawab Ivan berjalan meninggalkan Bimo.


"Ok ok" Jawab Bimo menghela nafas.


"Kenapa selalu gue yang harus membereskan masalah yang dia buat sih" Guman Bimo.


Duack


Bimo menendang Damar yang sudah terkulai lemas di lantai yang penuh darah.


"Gara gara elo gue jadi kotor" Ucap Bimo.


Bimo menghubungi anak buah Ivan untuk membantunya membersihkan kekacauan yang di buat Ivan.


Brack.


Bimo menoleh ke sumber suara. Dia berjalan mendekati barang yang jatuh itu dan menemukan Nala yang sedang bersembunyi di pintu kelas lain.


"Nala" Ucap Bimo terkejut.


Nala terbelalak melihat darah yang berada di tangan Bimo. Nala berlari menjauh dari Bimo. Tapi langkah Bimo yang lebar mampu mengejar Nala.


"Berhenti Nala" Ucap Bimo.


"Lepaskan gue" Ucap Nala memberontak. Bimo merasakan tubuh Nala yang gemetar hebat. Bimo sedikit melonggarkan cengkramannya.


"Nala tolong dengarkan penjelasan gue" Pinta Bimo.


"Penjelasan apa? Gue sudah lihat semuanya. Kalian bukan manusia, kalian monster yang tidak punya hati" Teriak Nala marah dan menangis ketakutan.


"Kepasin gue" Ucap Nala kembali memberontak.


Melihat air mata Nala, Bimo seketika tidak tega. Dia melepaskan cengkramannya pada Nala dan membiarkan Nala pergi dari sekolah. Nala berlari menuruni tangga dengan air matanya yang masih membasahi wajahnya.


Tak lama anak buah Ivan tekah datang.

__ADS_1


"Bersihkan mereka" Ucap Bimo lalu berjalan menuruni tangga untuk keluar dari sekolah.


Beberapa hari telah berlalu.


Maya, Ivan dan Bimo tidak masuk sekolah. Maya ijin karena dia kembali ke Eropa tapi itu hanya alsana. Sedangkan Ivan dan Bimo memang sudah biasa jarang masuk sekolah.


Nala menjadi pendiam sejak kejadian itu. Dia bingung harus apa jika bertemu kembali dengan Maya, Ivan ataupun Bimo. Mengingat kejadian itu saja sudah membuat Nala gemetaran karena ketakutan.


Sepanjang hari Nala hanya melamun dan tidak mendengarkan pelajaran sama sekali. Bahkan Nala sering tidak fokus karena memikirkan kajadian waktu itu.


Saat ini Nala tidak membawa mobil. Dia berjalan ke arah halte bis untuk membantunya pulang ke rumah. Namun saat ia berjalan menuju ke halte bis. Dia di hadang oleh orang orang yang tidak ia kenal.


"Siapa kalian? Mau apa kalian?" Tanya Nala ketakutan. Nala ingin berbalik lalu melarikan diri tapi terlambat. Orang orang itu sudah menyekap Nala dan membawa Nala masuk ke dalam mobil.


Di rumah Bimo.


Nala di bawa orang orang yang menculiknya ke rumah Bimo. Nala di tempatkan di sebuah kamar yang mewah dan ranjang yang super jumbo.


"Di mana gue? Kenapa mereka bawa gue ke sini?" Guman Nala mencari jalan keluar.


"Kamu tidak akan bisa keluar dari tempat ini Nala" Ucap Bimo yang masuk ke dalam kamar tersebut.


Melihat Bimo yang berjalan menghampirinya, Nala semakin ketakutan. Dia terus berjalan mundur dengan mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk membela diri.


"Jangan mendekat" Ucap Nala memegang vas bunga dan bersiap melemparkannya ke arah Bimo.


"Jangan mendekat aku bilang" Teriak Nala dengan melempar vas tersebut ke arah Bimo.


"Argh " Teriak Bimo kesakitan karena vas yang di lempar Nala mengenai tanganya.


Nala terbelalak ketika melihat darah Bimo yang keluar dari lengannya. Nala yang merasa bersalah langsung menghampiri Bimo yang berlutut di lantai.


"Maafkan aku Bimo" Ucap Nala menyesal.


"Maafkan aku, sungguh aku tidak sengaja"


"Aku sungguh minta maaf Bimo" Ucap Nala terus menerus.


"Nala sadar lah, aku tidak apa apa Nala. Kaki kamu yang terluka" Ucap Bimo memegangi bahu Nala.


Tanpa sadar Nala menginjak pecahan vas yang ada tepat di bawah Nala. Nala menangis dengan memegangi tangan Bimo. Dia teringat kembali masa kelam yang ia lalui hingga membuatnya berubah.


"Nala aku gendong kamu ke ranjang ya" Ucap Bimo lembut. Nala mengangguk pelan dan masih menangis.


Bimo menggendong Nala dan membawa Nala ke pinggir ranjangnya.

__ADS_1


"Kamu tunggu di sini, aku akan panggilkan Dokter buat memeriksa luka kamu" Ucap Bimo.


Bimo berjalan keluar kamar. Dia memanggil pelayan rumahnya untuk membersihkan pecahan vas tadi.


Tak lama Dokter sampai di rumah Bimo. Bimo minta pada Dokter untuk memeriksa Nala lebih dulu karena lengannya tidak begitu sakit. Dokter mulai membersihkan luka Nala. Nala melihat pecahan vas yang di cabut dari lututnya dan itu sama sekali tidak membuatnya kesakitan.


"Saya sudah mengobati luka anda, anda sekarang lebih baik istirahat dulu dan untuk lukanya jangan terkena air untu beberapa hari ke depan" Ucap Dokter.


"Iya Dok" Jawab Nala lirih. Pandangan mata Nala terus melihat ke arah lantai tanpa berkedip dan membuat Dokter semakin curiga.


Dokter keluar dari kamar yang di pakai Nala. Dia menghampiri Bimo yang berada di ruang tamu. Luka Bimo sudah di rawat oleh perawat yang datang bersama dengan Dokter tadi.


"Maaf pak Bimo, ada yang ingin saya bicarakan dengan anda mengenai teman anda itu " Ucap Dokter.


"Ada apa Dok?" Tanya Bimo bingung.


"Sepertinya teman anda mengalami depresi berat. Saat saya mencabut pecahan vas yang di lututnya dia sama sekali tidak kesakitan. Di tambah tatapan matanya yang kosong" Jelas Dokter.


"Maksud Dokter?" Tanya Bimo bingung.


"Menurut saya teman anda itu mengalami depresi akut. Untuk lebih jelasnya anda bawa saja teman anda ke Dokter spesialis" Jelas Dokter.


"Iya Dok, terima kasih atas sarannya" Ucap Bimo.


"Baik lah kalau begitu saya pamit undur diri" Pamit Dokter.


"Iya silahkan Dok" Jawab Bimo.


Bimo mulai kepikiran dengan saran Dokter karena saat melihat darah, Nala memang bersikap aneh. Apa lagi saat Bimo memukul anak buah Damar. Terlihat jelas kalau Nala sangat ketakutan hingga seluruh tubuhya gemetaran.


"Depresi?" Guman Bimo.


Bimo mengambil ponselnya. Dia menghubungi Ivan untuk meminta bantuan pada Ivan.


"Halo Van, gue mau minta tolong ke elo. Tolong cari tau semua hal tentang Nala" Linta Bimo.


"Buat apa? Elo tertarik sama dia" Tanya Ivan.


"Gue mohon Van, tolong cari tau soal Nala" Pinta Bimo memohon.


"Ok tunggu" Jawab Ivan.


# Selamat membaca ya kak


# Terima kasih banyak

__ADS_1


🙏🙏🙏😊😊😊


__ADS_2