
Dalam perjalanan, Aca asik dengan buku yang ia beli sedangkan Reza senyum senyum kecil mencuri pandang pada Aca.
"Si cuek dan tomboy ini suka sama aku. Apa yang dia lihat dariku hingga dia bisa menyatakan perasaannya padaku seperti itu?" Guman Reza dalam hati.
"Sebenarnya dia cukup imut. Dia memiliki wajah yang kecil mata yang indah hidung yang mancung dan........" Gumanan Reza terhenti ketika mendengar teriakan Aca.
"Reza awas" Teriak Aca ketika sampai di lampu merah Reza tidak mengurai kecepatan mobilnya hingga hampir menabrak mobil di depannya yang sedang berhenti menunggu lampu berganti warna.
Reza seketika itu juga menginjak rem mobilnya hingga membuat kepala Aca terbentur bagian depan mobil.
Duack
Aca memegangi kepalanya yang terasa sangat sakit akibat benturan tersebut.
"Ca maaf. Kamu nggak papakan?" Tanya Reza khawatir mendengar benturan dari kepala Aca yang terdengar keras.
"Aku nggak papa kok" Jawab Aca memegangi kepalanya.
"Ca hidung kamu berdarah" Ucap Reza semakin khawatir. Reza menyalakan klakson mobilnya agar mobil di depannya memberikan jalan untuk Reza membawa Aca ke rumah sakit.
"Za apa yang kamu lakukan?" Ucap Aca lirih dengan pandangan Aca yang sudah sedikit buram.
"Aku akan bawa kamu ke rumah sakit Ca" Ucap Reza.
Lampu berganti warna hijau, Reza segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi untuk membawa Aca ke rumah sakit.
"Sabar ya Ca, sebentar lagi kita sampai di rumah sakit" Ucap Reza menggenggam tangan Aca.
"Za aku nggak papa kok" Ucap Aca lirih.
"Maaf kan aku Ca. Maafkan aku" Ucap Reza merasa menyesal.
Aca yang sudah mulai tidak sadarkan diri. Tidak menjawab ucapan Reza.
"Ca kamu jangan tidur Ca. Ca bangun Ca. Acaaaaa" Teriak Reza berulang kali. Reza terus memanggil nama Aca namun Aca sama sekali tidak menjawabnya. Di tambah pendarahan hidung Aca tidak kunjung berhenti.
"Kamu harus bertahan Ca. Kamu bilang kalau kamu akan membuatku jatuh cinta sama kamu. Ca bangun Ca" Teriak Reza khawatir.
Tak lama Reza sudah sampai di rumah sakit. Dia keluar dari mobil lalu berlari ke arah tempat duduk Aca. Reza segera menggendong Aca keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah sakit.
Tangan Reza gemetaran hebat akibat melihat darah yang terus keluar dari hidung Aca. Di tambah Aca sudah tidak sadarkan diri.
__ADS_1
Di rumah sakit.
Reza kini sudah berada di ruang inap Aca. Dia masih menunggui Aca yang belum juga sadarkan diri.
Ternyata benturan yang di alami Aca tadi bukan terkena kepalanya. Namun hidung Aca yang terkena benturan hingga membuat tulang hidung Aca retak.
Reza masih bisa sedikit lega karena tulang hidung Aca tidak sampai patah. Namun dia masih saja merasa bersalah karena keteledorannya sampai membuat Aca terluka dan masuk rumah sakit.
"Reza. Bagaimana keadaan Aca?" Tanya Naila yang baru sampai di rumah sakit.
Reza sempat menghubungi Naila saat Aca masih di ruang perawatan. Dia bingung harus bagaimana lagi karena dia sedang cemas. Dia hanya terpikir Naila.
"Aca masih belum sadarkan diri Nai" Ucap Reza tertunduk lemas.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Aca bisa sampai seperti ini?" Tanya Naila menghampiri Aca melihat keadaan Aca.
"Ini semua salah ku yang tidak fokus saat mengemudi. Aku menginjak rem mendadak dan membuat Aca terbentur bagian depan mobil" Jelas Reza.
"Harusnya kamu lebih hati hati dong Za. Untung saja hanya luka ringan" Ucap Naila.
"Iya, maafkan aku" Ucap Reza tertunduk.
Reza keluar dari rumah sakit. Saat berada di dalam mobil, dia melihat darah Aca yang masih membekas di jok mobilnya. Reza melajukan mobilnya meninggalkan area rumah sakit.
Saat melihat minimarket yang masih buka di tengah malam, dia menepikan mobilnya ke arah minimarket. Dia keluar dari mobil lalu masuk ke minimarket untuk membeli tisu basah.
Tak berselang lama, Reza kembali ke dalam mobilnya. Dia membuka tisu basah yang ia beli untuk membersihkan darah Aca. Namun saat akan membersihkan bercak darah itu, Reza kembali teringat akan Aca yang mengeluarkan banyak darah dari hidungnya.
"Maaf kan aku Ca. Aku harusnya menjaga kamu bukannya malah menyakiti kamu. Apa ini pertanda jika aku tidak baik untuk kamu Ca? Apa ini peetanda jika aku salah jika mulai membuka hati untuk kamu Ca?" Ucap Reza lirih.
Reza melempar tisu basah ke jok belakang. Dia menyandarkan kepalanya pada setir mobil.
"Maafkan aku Ca" Ucap Reza sedih.
Ke esokan harinya.
Naila menyiapkan makanan untuk Aca. Di saat bersamaan Aca baru bangun.
"Nai" Panggil Aca lirih. Naila menoleh ke arah Aca. Dia tersenyum lalu menghampiri Aca dengan membawa air hangat untuk di minum Aca.
"Kamu sudah bangun. Ini minum dulu" Ucap Naila membantu Aca minum.
__ADS_1
"Terima kasih Nai" Ucap Aca setelah minum.
"Hidung kamu masih terasa sakit?" Tanya Naila.
"Enggak terlalu sakit kok. Aku sudah baik baik saja" Jawab Aca tersenyum.
"Syukurlah kalau begitu" Ucap Naila.
Aca melihat Naila yang sedang menyiapkan makanan untuk dirinya.
"Em, Nai. Ada yang inginaku bicarakan sama kamu" Ucap Aca sungkan.
"Ada apa sih Ca? Kamu tidak seperti biasanya saja? Apa kepala kamu juga terbentur kemarin?" Goda Naila.
"Jangan menggodaku Nai" Ucap Aca tersenyum.
Naila pun tersenyum lalu duduk di kursi yang berada di sebelah ranjang Aca.
"Ada apa sih Ca?" Tanya Naila.
"Nai, seandainya aku pacaran dengan Reza bagaimana menurut kamu?" Tanya Aca malu malu.
Naila tersenyum mendengar pertanyaan Aca.
"Kamu tidak perlu bicara dengan ku soal itu. Kamu juga tidak usah mendengarkan pendapat orang lain. Ikuti saja bagaimana hati kamu. Lakukan yang terbaik yang menurut kamu itu yang terbaik. Raihlah kebahagian kamu sendiri Ca. Kebahagian tidak akan kamu dapatkan jika kamu mendengarkan pendapat orang lain" Ucap Naila menggenggam tangan Aca.
"Makasih ya Nai" Ucap Aca tersenyum lebar.
"Iya sama sama. Aku akan mendukung kamu 100%" Ucap Naila. Aca mengangguk mendengar ucapan Naila yang menyemangatinya.
Siang harinya Reza sudah sampai di rumah sakit. Dia baru bisa datang siang hari karena dia ada kuliah pagi.
Saat sampai di ruang inap Aca, Reza melihat Aca yang sedang istirahat.
"Hai Nai" Sapa Reza.
# Selamat membaca ya kak
# Terima kasih banyak ya
😊😊😊🙏🙏🙏
__ADS_1