One Night With My Teacher

One Night With My Teacher
26


__ADS_3

Ivan mengapalkan tanganya ketika mendengar Maya di jahili temannya hingga masuk rumh sakit. Ivan berjalan ke arah ruang kepala sekolah untuk mencari tau siapa anak yang mengerjai Maya.


Di kelas, Maya di kejutkan dengan teriakan temannya, Ayu. Ayu berlari menghampiri Maya dengan memanggil manggil nama Maya.


"Maya Maya" Teriak Ayu.


"Ayu, ada apa?" Tanya Maya.


"Ivan, Ivan membuat keributan di ruang kepala sekolah" Ucap Ayu menunjuk ke luar kelas.


"Hah, kenapa?" Tanya Maya.


"Enggak tau. Pokoknya dia marah marah di ruang kepala sekolah. Semua guru tidak mampu menghentikannya" Ucap Ayu.


"Ayo kita ke sana" Ucap Maya. Maya dan Ayu berlari ke arah ruang kepala sekolah.


Namun Maya berhenti ketika melihat Ivan yang sedang berjalan ke arahnya. Maya tau benar jika saat ini Ivan marah besar karena tatapan matanya yang tajam serta tangannya yang mengepal sangat kuat.


"Ivan ada apa ini?" Tanya Maya menghalangi Ivan.


"Bimo" Teriak Ivan memanggil Bimo. Bimo menghampiri Maya lalu memegangi Maya. Setelah Bimo memegangi Maya, Ivan kembali berjalan ke arah kelas orang yang berani melukai Maya.


"Bimo lepaskan, ada apa ini sebenarnya?" Tanya Maya.


"Ivan sudah tau soal kamu yang di kurung di kamar mandi kemarin. Dia sangat marah besar sekarang May, lebih baik elo jangan mendekati dia dulu" Ucap Bimo.


"Enggak Bim, lepasin aku Bimo. Aku tidak mau Ivan melukai mereka. Bimo tolong lepasin aku" Pinta Maya.


"Bim aku mohon. Aku tidak ingi Ivan kenapa kenapa, aku tidak ingin melihat Ivan di hukum Bim. Tolong lepasin aku Bim" Pinta Maya memohon.


Bimo akhirnya luluh juga, dia akhirnya melepaskan Maya.


"Pergi May, hanya elo yang bisa menghalangi Ivan" Ucap Bimo.


"Iya" Jawab Maya mengangguk. Maya berlari melewati kerumunan anak anak yang menonton kejadian itu. Semua anak anak lain melihat jelas pertengkaran antara Maya dan Ivan tadi.


Saat sampai di kelas Iren, Maya kesusahan untuk masuk. Nala menghampiri Maya lalu membuatkan jalan untuk Maya masuk ke dalam kelas Iren.


"Nala" Ucap Maya.


"Masuk May" Ucap Nala tersenyum.


"Terima kasih La" Ucap Maya lalu masuk ke dalam kelas Iren.


Maya terbelalak melihat Ivan yang memukul Iren dan kedua temannya membabi buta. Dia tidak peduli dengan orang orang di sekelilingnya saking marahnya.

__ADS_1


"Ivan hentikan" Teriak Maya namun Ivan sama sekali tidak mendengarkannya.


Maya berlari menghampiri Ivan lalu memeluk Ivan dari belakang. Ivan yang akan kembali memukul Iren seketika menghentikan tanganya ketika merasakan pelukan dari Maya.


"Hentikan Van, jangan lukai mereka lagi" Ucap Maya menangis.


"Tapi mereka sudah melukai kamu Maya, mereka tega melukai kamu sampai kamu sakit dan masuk rumah sakit. Aku tidak akan membiarkan mereka hidup dengan tenang" Ucap Ivan marah.


"Aku mohon hentikan Van. Aku baik baik saja tolong hentikan semua ini" Ucap Maya menangis.


Ivan melepaskan tanga Maya yang memeluknya. Dia berbalik lalu mengajak Maya keluar dari kelas. Para guru membantu Iren dan kedua temannya bangun untuk membawanya ke rumah sakit. Namun bukannya menyesal Iren menepis tangan guru yang membantunha lalu mengambil kursi untuk ia lemparkan ke Ivan dan Maya.


"Ivan awas" Teriak guru yang memperingatkan Ivan.


Ivan menoleh ke arah Iren yang sudah berlari ke arahnya. Dia meraih tubuh Maya dan memeluknya.


Brack


Kursi yang di lemparkan Iren terkena punggung Ivan.


"Arght" Ucap Ivan kesakitan. Keluar darah dari mulut Ivan yang mengenai baju Maya bagian bahu.


"Ivan" Panggil Maya.


Ivan terjatuh di punggung Maya. Maya terduduk di lantai dengan memangku kepala Ivan.


Semua murid di pulangkan saat itu juga. Bimo dan Nala tetap berada di sana untuk menemani Maya. Bimo sudah menghubungi ambulance dan saat ini sedang dalam perjalanan.


"Jangan menangis" Ucap Ivan lirih.


"Aku tidak apa apa" Ucap Ivan lagi. Ivan perlahan mengangkat tanganya, dia mengusap air mata Maya lembut.


Iren dan kedua temannya di bawa ke rumah sakit namun dengan pantauan ketat dati keluarga Dika. Dika yang berada di luar kota mengetahui kejadian saat Ivan mengamuk di ruang kepala sekolah. Karena tidak ada yang mampu menghentikan Ivan, pihak sekolah akhirnya menghubungi Dika. Dika saat ini sedang dalam perjalanan kembali ke Jakarta.


Di rumah sakit.


Maya Nala dan Bimo sedang duduk di ruang tunggu. Mereka menunggu Dokter yang sedang memeriksa Ivan.


Tak lama Jefri dan Naila datang ke rumah sakit dengan di temani Joy.


"Maya" Panggil Naila. Maya menoleh dan menangis. Dia berlari ke arah Naila lalu menangis dalam pelukan Naila.


"Ivan mam, dia....dia" Ucap Maya menangis sesegukan.


"Iya sayang mami tau, kamu yang tenang ya sayang" Ucap Naila.

__ADS_1


Namun tiba tiba Maya pingsan dalam pelukan Naila.


"Maya bangun nak" Ucap Naila menepuk pipi Maya pelan.


"Kita bawa ke bangsal saja tante" Ucap Joy.


"Iya" Jawab Jefri mengambil alih Maya, dia menggendong Maya dan membawa Maya ke ruang inap.


Di ruang inap Maya.


Saat ini sudah cukup malam. Kedua orang tua Maya sedang berada di rumah karena ada hal yang harus mereka urus mengenai Iren dan kedua temannya.


Sedangkan Maya berada di rumah sakit dengan di temani Joy.


"Joy, di mana aku sekarang?" Tanya Maya yang berusaha bangun.


"Kamu ada di kamar rumah sakit" Ucap Joy datar.


"Aku mau melihat keadaan Ivan" Ucap Maya yang mau turun dari ranjangnya.


"Apa anak yang bernama Ivan itu yang sudah menyisihkan aku dari hati kamu Maya?" Tanya Joy.


"Maafkan aku Joy, harusnya aku bicara lebih dulu dengan kamu. Maafkan aku" Ucap Maya tertunduk karena merasa bersalah dan menyesal.


"Apa dia juga ayah dari anak yang kamu kandung sekarang?" Tanya Joy.


Mendengar pertanyaan Joy membuat Maya terkehut.


"Apa? Maya hamil?" Tanya Naila yang baru saja datang dengan Jefri.


"Mami papi" Ucap Maya terkejut.


"Sejak kapan Maya hamil?" Tanya Naila menghampiri Maya.


"Usia kandungannya sudah 4 minggu" Jawab Joy kecewa.


"Siapa ayah dari anak itu Maya?" Tanya Jefri yang juga kecewa dengan Maya.


Jefri dan Naila memang mebebaskan Maya tapi Maya tidak boleh sampai hamil dulu karena Jefri dan Naila ingin Maya hidup normal seperti anak anak lain serta mencapai masa depannya yang cemerlang.


"Jawab Maya" Teriak Jefri marah.


"Papah kecewa sama kamu Maya. Kami merasa gagal mendidik kamu. Kamu yang bilang sendiri untuk tidak melakukan hal itu jika tidak bersama suami mu. Tapi kenapa kamu sampai hamil sekarang?" Tanya Jefri.


# Selamat membaca ya kak

__ADS_1


# Terima kasih banyak


🙏🙏🙏😊😊😊


__ADS_2