
"Nah kan kamu juga merasa dia gila kan" Ucap Teo.
"Dan gila nya lagi aku yang jadi asisten kamu" Ucap Teo lagi.
"Harusnya kan aku yang jadi atasan kamu, bukannya kamu yang jadi atasan ku. Secara aku yang lebih dulu kenal dan mengikutinya. Apa dia tidak percaya dengan kesetiaanku?" Guman Teo
"Enggak saya nggak mau" Jawab Naila menaruh berkas tersebut ke atas meja.
"Jangan langsung menolak dan baca kertas di balik nya" Ucap Teo lagi.
Naila kembali mengambil berkas tersebut. Belum juga Naila membaca berkas tersebut, perasaan nya sudah mulai tidak enak.
Naila membalikkan kertas yang ia baca tadi. Dia sekali lagi terkejut dengan tawaran dan ancaman yang di berikan Yuri untuk Naila.
Tawaran yang di berikan Yuri adalah sebuah rumah mewah dan mobil mewah. Ancaman yang di berikan Yuri ialah meminta Naila membayar pinalti sebanyak 8 triliun.
"Yuri gilaaaaaa" Ucap Naila marah. Naila membuangberkas tersebut dengan keras ke atas meja.
"Tadi pagi dia begitu aneh bahkan membuat ku sedih. Tapi sekarang dia membuatku jagi gila gara gara dia" Ucap Naila.
"Pak Teo cari tau ke mana Yuri pergi. Aku akan menghampiri nya sekarang juga" Ucap Naila.
"Aku tidak bisa menemukan dia. Dia sangat pandai untuk menyembunyikan diri" Jawab Teo.
"Maaf bu Naila. Jalan yang baik untuk kita semua, lebih baik ibu Naila mau menerima tawaran dari bu Yuri. Jika tidak, kami terancam di pecat bu" Ucap salah seornag karyawan.
"Kalian keluar dulu deh" Ucap Naila memijat kening nya yang terasa berat.
Dalam sehari dia sudah sepeti naik roler koster. Perasaan nya naik turun hanya keran 2 orang yang membuat nya gila.
"Lalu apa keputusan kamu? Kita harus segera memberikan keputusan karena proyek yang kamu kerjalan besuk harus di serahkan ke perusahaan Jefri." Ucap Teo.
"Kita tidak memiliki cukup waktu lagi jika proyek tersebut mulai berjalan" Imbuh Teo.
"Aku tidak tau pak, aku takut jika aku tidak mampu menjalankan amanat ini. Aku takut jika aku membuat Yuri kecewa" Jawab Naila tertunduk sedih.
"Jangan takut Naila. Aku yakin kamu pasti mampu menemban amanat ini. Seperti yang di katakan Yuri pada ku. Dia sangat percaya dengan kemampuan kamu. Dan sekarang aku akan mencoba juga untuk mempercayai kemampuan kamu" Ucap Teo.
"Aku akan mendampingi kamu Naila. Jadi jangan tundukkan kepala mu dan bangkit lah. Buktikan pada Yuri kalau kamu mampu membuat nya bangga" Ucap Teo lagi.
"Baik lah pak, aku akan melakukan tugas itu. Mohon bantuan nya" Ucap Naila tersenyum.
__ADS_1
"Bagus Naila. Aku akan selalu mendampingi mu" Jawab Teo tersenyum.
"Ya sudah untuk sekarang kamu fokus lah pada proyek kita. Aku yang akan mengurus perusahaan sampai proyek itu mulai di jalankan" Ucap Teo.
"Iya pak, terima kasih sudah membantu saya" Jawab Naila.
Naila bangkit dri duduk nya. Dia berjalan ke arah pintu untuk keluar dari ruangan Yuri.
"Naila" Panggil Teo. Naila menoleh ke arah Teo.
"Mulai sekarang panggil aku kak Teo saja. Aku merasa kurang nyaman dengan panggilan pak" Pinta Teo.
Naila tersenyum mendengar permintaan Teo.
"Baik lah kak Teo" Jawab Naila. Naila keluar dari ruangan Yuri, dia kembali ke ruangan nya untuk melanjutkan pekerjaan nya.
Saat sampai di ruangan nya. Naila membuka komputer nya untuk mulai bekerja lagi. Namun dia teringat dengan pertengkaran nya tadi dengan Jefri.
"Besuk aku akan bertemu dengan kak Jefri lagi. Apa aku sanggup menatap nya" Guman Naila.
"Kenapa kamu tidak jujur dengan ku sih kak? Apa kamu belum puas menyakuti ku?" Guman Naila dalam hati.
Ke esokan hari nya.
"Selamat datang, mari saya antar anda ke ruang tapat" Ucap Niko sopan.
Naila mengangguk pelan. Naila dan Teo mengikuti Niko yang berjalan mengarahkan mereka ke ruang rapat. Saat sampai di ruang rapat, Naila melihat Jefri yang sudah duduk dengan leptop yang menyala di depan nya.
"Silahkan duduk" Ucap Niko.
"Terima kasih" Ucap Naila.
Mereka pun mulai melakukan rapatnya. Naila sering mencuri pandang pada Jefri ketika dia menjelaskan disain proyek nya.
2 jam berlalu, rapat pun berakhir dengan kesepakatan bersama. Jefri keluarlebih dulu meninggalkan mereka semua di dalam ruang rapat.
Ada perasaan sedih dan kecewa pada hati Naila. Sejujur nya dia ingin mengabaikan Jefri, namunhati dan perasaan nya menentang keras.
"Kak Teo tunggu di bawah saja. Aku ingin bicara dulu dengan pak Jefri " Ucap Naila.
"Baik lah kalau begitu" Jawab Teo.
__ADS_1
Teo dan Niko masuk ke dalam lift. Sedangkan Naila berbalik arah dan menuju ke ruangan Jefri.
"Maaf anda siapa? Anda tidak boleh masuk tanpa persetujuan pak Jefri" Ucap Dila ketika Naila telah memegang gagang pintu dan akan masuk ke dalam ruangan Jefri.
"Minggir" Ucap Naila tegas.
"Anda tidak bisa masuk sembarangan" Ucap Dila kekeh.
Naila melepas tangan nya dari gagang pintu lalu mencengkram keras tangan Dila.
"Jangan membuat ku bicara dua kali denfan kata kata yang sama" Ucap Naila penuh penekanan.
Dila takut dengan ucapan Naila. Dia teringat dengan kemarahan Jefri yang hampir sama dengan wanita didepan nya ini. Namun wanita yang ada di depan ini lebih mendominasi dari pada Jefri.
Naila menghempaskan tangan Dila sampai Dila terjatuh ke lantai. Naila akan membuka pintu ruangan Jefri namun di saat bersamaan Jefri membuka lintu ruangan nya karena mendengar keributan di depan ruangan nya.
"Naila, sedang apa kamu di sini?" Tanya Jefri bingung.
Plack.
Satu tamparan keras dari Naila mendarat keras ke pipi Jefri.
"Apa begini cara kamu menyelesaikan masalah?" Ucap Naila tegas.
Aca yang juga mendengar keributan keluar dari ruangan nya. Dia melihat Naila yang bediri tepat di depan Jefri dan Dila yang masih tersungkur di lantai.
"Ayo bangun Dila" Ucap Aca membantu Dila bangun.
"Ada apa ini?" Tanya Aca.
"Saya tidak tau mbak. Saya hanya menghalangi wanita itu masuk ke dalam ruangan pak Jefri" Jawab Dila lirih.
Aca menghampiri Naila dan Jefri. Dia berdiri tepat di samping Naila yang menggenggam erat tangan nya sendiri.
"Jangan seperti ini Nai, kamu akan melukai tangan mu sendiri nanti" Ucap Aca meraih tangan Naila.
"Jangan ikut campur" Ucap Naila menepis tangan Aca.
"Naila cukup. Jangan membuat masalah lagi di perusahaan ku" Ucap Jefri tegas.
# Selamat membaca ya kak
__ADS_1
# Terima kasih banyak
🙏🙏🙏😊😊😊