One Night With My Teacher

One Night With My Teacher
39


__ADS_3

Citra adalah gadis yang Ivan sandra karena orang tuanya yang tidak mampu mengembalikan uang yang telah mereka gelapkan. Orang tua Citra memberikan Citra sebagai gantinya.


Dan Dika yang kasihan dengan Ivan saat terpuruk dengan perpisahannya dengan Maya, membuat keputusan sepihak. Dia menikahkan Ivan dengan Citra.


Namun yang tak pernah Dika duga, Ivan sama sekali tidak pernah menyentuh Citra sama sekali. Padahal pernikahan mereka sudah hampir 2 tahun lamanya. Ivan lebih memilih untuk tinggal terpisah. Ivan hanya memberikan uang yang cukup untuk Citra bahkan lebih.


"Ada apa dengan wanita yang baru saja keluar itu?" Tanya Bimo yang masuk ke dalam ruangan Ivan.


"Dia Citra, istri ku" Jawab Ivan.


"Elo sudah menikah?" Tanya Bimo terkejut.


"Jaga bicara kamu. Kita di kantor sekarang" Ucap Ivan bangkit dari duduknya. Dia mengambil gelas yang berisi anggur merah lalu membawanya ke arah jendela kaca yang super besar. Ivan mampu melihat jelas gedung gedung pencakar langit lewat kaca tersebut.


"Aku memang sudah menikah, tapi aku sama sekali tidak mencintainya" Ucap Ivan.


"Elo, eh maksud ku. Kamu masih mencintai Maya?" Tanya Bimo lirih.


"Iya Bim. Aku tidak pernah bisa melupakan Maya. Aku bahkan sudah mengikutinya pagi ini" Jawab Ivan.


"Apa dia tau kamu sudah kembali?" Tanya Bimo lagi.


"Entah lah, aku hanya melihatnya dari dalam mobil. Aku takut jika mengetahui kenyataan yang akan aku terima nantinya. Aku masih belum sanggup untuk mendengarnya" Jawab Ivan.


"Sabar ya Van. Aku tau ini tidak akan mudah untuk kamu lewati. Tapi aku yakin kamu pasti akan mampu mejalaninya dengan baik" Ucap Bimo menepuk bahu Ivan.


"Terima kasih Bim. Hanya kamu yang mempu mengerti apa yanga aku rasakan" Ucap Ivan.


Bimo tersenyum mendengar ucapan Ivan.


"Lalu apa rencana kamu selanjutnya? Apa kamu akan menetap di sini?" Tanya Bimo.


"Mungkin saja aku akan cukup lama menetap di sini" Jawab Ivan.


"Oh iya aku butuh asisten yang bisa ku percaya" Imbuh Ivan.


"Iya iya aku tau. Aku akan jadi anak buah yang cekapan" Ucap Bimo kembali duduk di sofa.


"Hahaha aku suka dengan ucapan kamu" Ucap Ivan tersenyum.

__ADS_1


Tak lama, Nala pun masuk ke dalam ruangan Ivan juga. Dia langsung duduk di sebelah Bimo tanpa di persilahkan lebih dulu oleh Ivan.


"Dari mana saja kamu?" Tanya Bimo.


"Dari kafe. Melihat perkembangan renovasi kafe" Jawab Nala.


"Sama Maya?" Tanya Bimo lagi.


Mendengar nama Maya di sebut, Ivan langsung berbalik dan duduk di sofa bersama Bimo dan Nala.


"Iya sama Maya juga. Kamu tau tidak ternyata Maya jago sekali masak. Aku saja sampai heran melihat Maya masak tadi. Padahal dia kan anak orang kaya" Ucap Nala kagum.


"Makanya kamu juga harus belajar masak dong dari Maya. Sebentar lagi kita kan menikah, masak iya kamu mau membelikan suami mu makanan dari luar terus" Ucap Bimo.


"Iya iya, aku akan belajar masak sama Maya" Jawab Nala.


"Memangnya Maya sehebat itu sampai membuat kamu kagum?" Tanya Ivan.


"Lebih dari yang kamu kira deh Van. Maya setiap pagi selalu masak untuk Raka. Karena dia tidak ingin anaknya itu makan sembarangan" Jawab Nala.


"Raka?" Tanya Ivan


Mendengar nama anak laki laki Maya membuat hati Ivan sedikit sejuk. Dia tersenyum membayangkan senyuman dan tawa Raka saat menyantap makanan yang di masak langsung oleh Maya.


"Kamu kenapa senyum senyum seperti orang gila begitu?" Tanya Bimo yang heran melihat tingkah aneh Ivan.


"Bukan urusan kamu. Lagian kalau kalian mau pacaran keluar dari ruangan ku. Aku akan sibuk hari ini" Ucap Ivan bangkit dan beralih duduk di kursi kerjanya.


"Ayo sayang kita pergi" Ucap Bimo menggandeng tangan Nala keluar dari ruangan Ivan.


Ivan membalikkan kursinya menatap keluar jendela kaca. Dia masih tersenyum mengingat apa yang ia bayangkan tadi mengenai anak Maya.


"Kenapa aku bisa sesenang ini mendengar cerita dari Nala? Apa aku sudah gila?" Guman Ivan yang masih tetap tersenyum.


Ke esokan harinya.


Maya dan Nala sedang berada di rumah baru Maya. Mereka menyiapkan kartu undangan untuk pembukaan kafe baru mereka yang di jadwalkan akan selesai lusa.


"May, aku minta 2 undangan ya" Ucap Nala.

__ADS_1


"Terserah kamu Nala. Ini juga kafe kamu, jadi kamu berhak mau mengundang siapa saja yang akan hadir di acara kita nantinya" Jawab Maya.


"Ok kalau begitu" Ucap Nala. Maya tersenyum karena dia fikir Nala akan mengajak adiknya dan Bimo yang akan hadir di acara pembukaan kafenya nanti.


Saat mereka sedang asik melipat undangan. Siara Tv memberitakan tentang kepulangan Ivan ke Jakarta.


"Di kabarkan seorang pembisnis muda yang bernama Ivan Mahardika telah kembali ke Jakarta.


"Seorang pembisnis muda yang mampu menduduki posisi CEO dalam perusahaan terbsar di negara ini.


"Di kabarkan dia memiliki kepribadian dan cara kerja yang cukup kejam hingga membuat para musuh berpikir ulang jika ingin mengusiknya.


"Di usianya yang masih sangat muda, ia mampu memimpin keluarga Mahardika di genggaman tanganya.


"Namun kini ia tidak kembali sendiri, di kabarkan ia telah menikah dengan seornag wanita cantik yang ia temui saat di luar negri.


"Wanita cantik dengan berbagai barang mahal dan mewah yang menempel pada tubuhhya yang elok. Membuat penampilannya semakin berkilau. Bahkan para wanita pun iri dengan keberuntungan yang ia miliki.


Maya terdiam mematung mendengar berita tentang Ivan. Dadanya terasa sesak serta nafasnya yang bagai tercekik ketika mendengar Ican sudah menikah.


Tanpa ia sadari air matanya pun membasahi wajah cantiknya dengan tatapan matanya yang tak henti menatap layar Tv.


"Maya, kamu menangis? Kamu kenapa Maya?" Tanya Nala khawatir dan mampu membuyarkan lamunan Maya.


Maya segera menghapus air matanya dengan cepat. Dia bangkit dari duduknya.


"Nala Maaf aku ke kamar dulu. Tolong rapikan undangannya ya" Ucap Maya lalu berlari masuk ke dalam kamarnya.


Maya menutup pintu kamarnya lalu menangis di dalam kamar. Dia kira setelah sekian lama tidak melihat wajah Ivan mampu menghapus perasaannya pada Ivan. Tapi saat melihat Ivan tadi membuat hati Maya sesak. Apa lagi dengan kabar bahwa Ivan sudah menikah mambuat Maya semakin hancur perasaanya.


"Kenapa aku bisa seperti ini? Kenapa harus aku yang menerima sakit ini? Apa salah ku hingga aku harus menerima hukuman ini?" Guman Maya menangis.


"Aku yang terlalu bodoh untuk berharap pada kamu Ivan. Aku yang sudah bodoh ingin bersama kamu. Tapi kenyataannya kamu sudah bahagia dengan wanita pilihan kamu." Ucap Maya.


Cukup lama Maya menangis di dalam kamarnya. Dia masih tidak menyangka bahwa Ivan mampu menikah dengan wanita lain.


# Selamat membaca ya kak


# Terima kasih banyak

__ADS_1


😊😊😊🙏🙏🙏


__ADS_2