
"Apa aku boleh mengajak kamu makan malam?" Tanya Ivan. Mendengar ucapan Ivan, Maya sempat menghentikan aktifitasnya.
"Kalau mau pergi sama Raka juga" Ucap Maya.
"Apa kamu masih belum bisa memaafkan aku?" Tanya Ivan.
"Tidak, aku sudah memaafkan kamu. Hanya saja aku belum bisa dekat dengan kamu" Ucap Maya.
"Baik lah kalau begitu. Malam ini aku akan menjemput kalian berdua" Ucap Ivan dan Maya hanya mengangguk.
Walaupun Ivan sudah sering datang ke rumahnya, namun Maya masih menjaga jarak dengan Ivan. Dia masih belum yakin apa Ivan akan serius dengan dia jika dia membuka hatinya lagi untuk Ivan.
Ivan berjalan keluar dari kafe. Setelah melihat Ivan keluar, Maya berlutut di bawah meja bar. Dia merasa tubuhnya yang lemas karena menahan perasaanya pada Ivan.
"Ibu kenapa? Apa ibu sakit?" Tanya karyawan Maya.
"Tidak, tolong lanjutkan ya. Saya mau istirahat sebentar" Ucap Maya.
"Iya bu" Jawab karyawan Maya.
Maya berjalan ke arah lift rumahnya. Dia masuk ke dalam lift untuk menuju ke rumah. Saat sampai di rumah, dia segera masuk ke dalam kamar.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa aku akan seperti ini terus?" Guman Maya.
"Ivan, aku ingin sekali kembali dengan kamu. Aku juga ingin keluarga kita bersama. Tapi aku masih takut jika kamu kembali menyakitiku" Guman Maya bimbang.
Di sisi lain, Ivan bukannya datang ke kantor. Dia saat ini sudah berada di depan rumah Nala. Dia cukup lama berdiri di depan pintu rumah Nala tanpa mengetuk pintu karena ia masih bimbang.
"Kamu ngapain di sini?" Tanya Nala yang ternyata baru kembali dari membeli makanan di luar.
"Nala, aku...... aku ingin bicara dengan kamu" Ucap Ivan bingung.
"Ayo masuk" Ucap Nala singkat. Nala membukakan pintu rumahnya. Ivan ikut masuk ke dalam rumah Nala dan melihat Bimo yang ada di dalam rumah Nala.
"Lho kamu di sini Van?" Ucap Bimo.
"Iya Bim" Jawab Ivan.
"Silahkan duduk" Ucap Nala.
"Iya terima kasih" Ucap Ivan duduk di sofa. Bimo pun ikut duduk di sofa menemani Ivan.
__ADS_1
"Ada apa?" Tanya Nala yang baru kembali dari dapur. Dia duduk di sebelah Bimo.
"Sebelumnya aku ingin minta maaf ke kamu. Aku yang pengecut ini belum juga berani datang ke sini untuk minta maaf ke kamu secara langsung" Ucap Ivan.
"Aku sudah tidak memikirkannya lagi, lagian Surya juga sudah bahagia di sana" Ucap Nala.
"Iya terima kasih. Tapi kedatanganku ke sini untuk meminta ijin ke kamu. Aku ingin kembali bersama Maya. Aku tau jika aku egois tidak memikirkan perasaan Surya. Tapi aku sangat mencintai Maya. Kamu yang sebagai kakak Surya. Jadi aku meminta ijin ke kamu" Ucap Ivan.
"Ivan, aku tau perasaan kamu ke Maya sangat tulus. Aku tidak akan melarang kalian kembali. Tapi apa kamu sudah bertanya pada Maya? Apa dia mau kembali dengan kamu?" Tanya Nala.
"Aku tidak tau Nala. Aku akan mencoba perlahan mendekati dia lagi. Aku yakin, aku pasti bisa kembali dengan dia" Jawab Ivan yakin.
"Iya, aku akan mendukung kamu. Tapi ingat satu hal Ivan. Jangan pernah sekalipun kamu menyakiti Maya. Sudah cukup kamu membuat Maya sengsara selama ini. Bahagiakan dia, jangan pernah membuatnya menangis" Ucap Nala.
"Aku janji Nala, aku akan membahagiakan Maya" Ucap Ivan. Nala mengangguk dengan senyumannya yang tulus.
Ivan melihat guci yang berisi abu Surya di meja belakang Nala. Dia bangkit dari duduknya lalu menghampiri guci tersebut.
"Hai Surya, maaf aku baru sekarang datang. Aku ingin berterima kasih pada kamu yang sudah menjaga Maya dengan baik. Aku sangat berhutang banyak ke kamu. Terima kasih atas cinta yang kamu berikan pada Maya dan juga Raka" Ucap Ivan.
"Sekarang aku akan mengambil alih tanggung jawab kamu. Aku akan menjaga Maya dan Raka dengan baik bahkan bila perlu dengan nyawa ku sendiri" Ucap Ivan.
"Sekali lagi terima kasih Surya" Ucap Ivan.
Ivan berbalik ke arah Nala dan Bimo yang sudah berdiri di belakangnya.
"Terima kasih Nala" Ucap Ivan.
"Semoga apa yang kamu rencanakan segera tercapai Ivan." Ucap Nala.
"Terima kasih" Ucap Ivan tersenyum.
"Kalau begitu aku pamit dulu" Pamit Ivan. Nala dan Bimo mengantar Ivan keluar. Ivan masuk ke dalam mobilnya lalu melajukan mobilnya menibggalkan area rumah Nala.
"Kamu tidak kerja?" Tanya Nala.
"Kerja lah tapi nanti. Bosnya saja baru dari sini kan. Dia pasti akan ke tempat lain dulu sebelum ke kantor" Ucap Bimo kembali masuk ke dalam rumah Nala.
Bimo sudah resmi menjadi asisten Ivan. Namun karena Ivan yang suka bekerja sendiri dan tidak ingin ribet. Bimo jarang di butuhkannya. Hanya saat ada hal hal penting saja Ivan baru membutuhkan Bimo.
"Jika kamu masih seperti ini, aku lebih baik mikir mikir lagi deh soal pernikahan kita" Ucap Nala melipat tangnya ke depan dada.
__ADS_1
"Yah sayang kok gitu sih" Ucap Bimo lemas.
"Ya kamu pikir saja sendiri. Kalau cara kerja kamu seperti ini, aku dan anak kita mau kamu kasih makan apa?" Ucap Nala marah.
"Sayang kalau soal uang kamu tenang saja, keluarga ku cukup untuk membiayai kita sampai cucu kita" Ucap Bimo.
"Bimo" Teriak Nala marah.
"Mau sampai kapan kamu akan menjadi parasit bagi keluarga kamu" Ucap Nala marah.
Nala mendorong tubuh Bimo ke arah pintu rumahnya. Dia terus mendorong Bimo sampai keluar rumah.
"Jangan datang ke sini lagi jika kamu masih memiliki pemikiran yang sama. Aku tidak butuh suami pemalas yang tidak punya tanggung jawab" Ucap Nala tegas.
"Memangnya hanya keluarga kamu saja yang punya cukup uang untuk hidup ke depannya. Keluarga ku juga cukup untuk membiayai ku sampai aku mati. Jadi aku tidak butuh uang keluarga kamu" Ucap Nala.
"Pergi kamu dari sini" Teriak Nala.
Brack
Nala menutup pintu rumahnya dengan sangat kencang. Bimo yang kebingungannya hanya mampu terdiam melihat kemaraham Nala.
"Dia matah beneran" Ucap Bimo.
Tok tok tok
"Nala sayang, aku tadi hanya bercanda. Jangan marah dong sayang. Biarkan aku masuk ya" Pinta Bimo mencoba membujuk Nala.
Nala membuka pintu rumahnya namun di tangnya ada satu ember yang berisi air.
"Kamu pergi sekarang atau aku siram kamu pakai air ini" Ancam Nala.
"Ok ok aku pergi sekarang" Ucap Bimo berlari masuk ke dalam mobilnya.
"Aku nanti malam datang lagi, tapi jangan siram aku" Teriak Bimo mulai menghidupkan mesin mobilnya.
# Selamat membaca ya kak
# Terima kasih banyak
😊😊😊🙏🙏🙏
__ADS_1