One Night With My Teacher

One Night With My Teacher
51


__ADS_3

Setelah berbicara dengan Nala, Maya menaruh kembali ponselnya di meja. Dia melihat Surya yang sudah tertidur dengan perasaan khawatir.


"Kamu sakit apa sih Surya? Apa kamu benar tidak apa apa?" Guman Maya mengusap keringat Surya yang ada di dahinya.


Ke esokan harinya.


Surya terbangun dari tidurnya. Dia melihat Maya yang tidur di sampingnya dengan handuk kecil yang masih ia pegang.


"Sayang bangun" Ucap Surya mengusap lembut pipi Maya. Maya bangun ketika tangan Surya menyentuh pipinya


"Kamu sudah bangun? Bagaimana, apa masih sesak nafasnya?" Tanya Maya khawatir.


"Tidak kok, sudah lebih baik. Terima kasih ya kamu sudah merawatku semalaman" Ucap Surya memebelai wajah Maya.


"Syukurlah jika sudah membaik. Aku sangat takut semalam, keringat kamu sangat banyak di tambah nafas kamu yang sedikit susah" Ucap Maya.


"Aku tidak apa apa" Jawab Surya tersenyum. Surya menarik Maya ke dalam pelukannya.


"Jangan saki lagi seperti itu, aku sangat khawatir" Ucap Maya sendu.


"Iya sayang, maafkan aku. Dan terima kasih ya" Ucap Surya. Maya mengangguk dalam pelukan Surya.


"Jam berapa sekarang? Kamu harus ke bandara kan?" Ucap Surya.


"Tidak, aku mengubah jadwal terbangku menjadi sore. Aku tidak tega meninggalkan kamu di saat kamu sakit" Ucap Maya.


Surya meraih tengkuk Maya lalu mencium bibir Maya lembut.


"Aku sangat mencintai kamu sayang, sangat mencintai kamu" Ucap Surya.


"Walaupun aku belum sepenuhnya mencintai kamu, tapi aku akan terus berusaha untuk mencintai kamu" Jawab Maya tersenyum cantik.


"Iya, aku akan menunggu kamu sampai kamu kembali" Ucap Surya.


"Memangnya kamu mau ke mana?" Tanya Maya.


"Entah lah, tapi aku ingin melihat kamu saja sebelum aku pergi" Jawab Surya.


"Jangan bicara yang aneh aneh deh" Ucap Maya cemberut.


"Iya iya maaf." Ucap Surya. Surya kembali memeluk Maya dengan erat. Dia merasa berat untuk membiarkan Maya pergi kali ini. Bukan karena hubungan mereka yabg masih baru, tapi ada perasaan tidak nyaman dengan kepergian Maya kali ini.


"Andai saja aku bisa melarang kamu untuk pergi sayang, aku ingin kamu tetap di sini" Guman Surya dalam hati.


Di bandara.

__ADS_1


Surya yang sudah kembali segar mengantar Maya ke bandara bersama Raka dan Nala.


"Raka sayang, momi pergi hanya sebentar. Kamu ikut om Surya dan tante Nala dulu ya. Kamu tidak boleh nakal dan dengarkan selalu perkataan om Surya dan tante Nala" Ucap Maya pada putranya.


"Yes momi" Jawab Raka. Maya mencium kedua pipi Raka gemas.


"Aku titip Raka ya La, sama titip kekasih kecil ku juga. Jangan biarkan rumput liar mengganggunya" Ucap Maya pada Nala.


"Tenang saja, nanti biar aku semprot pakai pestisida" Jawab Nala tersenyum.


"Memangnya hama" Sahut Surya.


"Kamu hati hati ya, kalau sudah mendarat segera huhungi aku" Ucap Surya.


"Iya" Jawab Maya tersenyum. Maya merentan kedua tangannya. Surya menarik tangan Maya lalu membawa Nala ke dalam pelukannya.


"Jaga hati kamu selalu, ingan aku di sini menunggu kamu kembali" Ucap Surya.


"Iya, aku akan cepat pulang dan menemui kamu" Jawab Maya.


Surya melepaskan pelukannya, dia mencium kening Maya untuk terakhir kalinya.


"Selamat jalan sayang" Ucap Surya.


Di tempat menunggu. Maya duduk di tempat menunggu untuk masuk ke dalam pesawat. Dia mengeluarkan ponselnya untuk melihat jam keberangkatan.


"Maya" Panggil Dika yang kini berdiri di depan Mata.


"Om Dika" Ucap Maya terkejut. Maya celingukan mencari Ivan karena dia takut jika Ivan tau bahwa dirinya akan pergi.


"Jangan khawatir, aku tidak bersama Ivan sekarang. Bolehkah aku bicara dengan kamu?" Tanya Dika.


"Iya om silahkan duduk" Ucap Maya memberikan tempat duduk untuk Dika.


"Om mau bicara apa dengan saya?" Tanya Maya.


"Om sudah menyelidiki kamu Maya. Walaupun butuh banyak waktu karena data kamu yang di sembunyikan sangat rapi oleh kedua orang tua kamu. Tapi akhirnya om bisa mendapatkan apa yang om cari" Ucap Dika.


"Apa maksud om Dika?" Tanya Maya yang mulai khawatir.


"Om tau jika Raka anak kamu itu adalah darah daging Ivan yang artinya cucu kandung om" Jawab Dika.


Deg.


Maya merasa jantungnya berhenti berdetak. Apa yang di takutkannya kini telah terjadi.

__ADS_1


"Lalu apa yang om inginkan? Apa om ingin mengambil anak ku?" Tanya Maya emosi.


"Jangan takut Maya, om tidak akan pernah memisahkan kamu dan putra mu" Ucap Dika.


"Lalu apa yang om mau? Apa belum cukup semua yang saya alami selama ini om? Apa om mau melihat aku benar banar hancur?" Ucapa Maya menangis.


"Tidak Maya, om hanya ingin memberikan setatus yang jelas untuk Raka. Dia berhak tau siapa ayah kandungnya" Ucap Dika.


"Tidak om, saya menolak itu. Ivan yang meninggalkan saya, dia yang lebih dulu meninggalkan kami tanpa mau mendengarkan penjelasan saya" Ucap Maya menangis.


"Hentikan sampai di sini om. Jangan pernah ikut campur dalam keluarga saya. Raka anak saya dia milik saya dan hanya saya orang tuanya" Ucap Maya marah. Maya menghapus air matanya lalu menarik kopernya meninggalkan Dika yang masih duduk di kursi tunggu.


Maya menghubungi anak buah papinya.


"Jaga Raka dan keluarga Nala. Jangan sampai pihak Mahardika mendekati mereka. Terutama anak ku Raka. Kalau sampai mereka mendekati Raka, kalian akan tau akibatnya" Ucap Maya marah.


"Baik nona" Jawab anak buah Jefri. Maya mematikan ponselnya. Dia berjalan ke arah pesawat pribadinya yang sudah di siapkan oleh Jefri.


"Aku tidak akan membiarkan kalian merebut putra ku. Dia putra ku dan hanya akan menjadi putraku" Guman Maya dalam hati.


Maya masuk ke dalam pesawat. Dia sudah di tunggu oleh tangan kanan Jefri yang menyambut kedatangan Maya.


"Selamat datang nona" Ucap anak buah Jefri.


"Terus awasi pergerakan Mahardika, jangan sampai dia mendekati Raka" Ucap Maya.


"Baik nona, saya akan lakukan semarang juga" Jawab anak buah Jefri.


Maya duduk dengan tenang di kursinya. Pramugari pesawat pribadinya datang menyerahkan gaun yang harus di pakai Maya saat ini juga.


"Silahkan gaunnya nona" Ucap pramugari.


"Bantu saya ganti baju" Ucap Maya.


"Baik " Jawab pramugari.


Tak lama Maya sudah memakai gaun hitam dengan belahan paha yang membuat nya terlihat sexy. Anak buah Jefri memekaikan sepatu hitam hak tinggi pada kaki Maya.


"2 jam lagi kita akan sampai, anda bisa istirahat dulu" Ucap anak buah Jefri. Maya mengangguk lalu melihat ke luar jendela.


# Selamat membaca ya kak


# Terima kasih banyak


😊😊😊🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2