One Night With My Teacher

One Night With My Teacher
Eps 48


__ADS_3

"Tidak sama sekali sayang. Aku sangat beruntung bisa memiliki dan mencintai kamu. Maaf kan ucapanku yang bodoh Naila. Maafkan aku" Ucap Jefri menempelkan kepalanya ke tangan Naila.


"Aku sangat menyesal Naila, maafkan aku" Ucap Jefri menyesal.


"Kembali lah padaku Naila. Hidup ku hampa tanpa kamu. Dunia ku hancur tanpa ada kamu di sisiku. Aku mohon kembali lah" Pinta Jefri lirih.


Naila mulai bimbang setelah mendengarkan penjelasan Jefri. Dia merasa apa yang selama ini dia dengar hanyalah sebuah kesalah pahaman saja.


"Aku akan mengantar kamu pulang sekarang. Aku harap kamu bisa memikirkan lagi tentang hubungan kita" Ucap Jefri.


Naila mengangguk pelan. Jefri mengusap air mata Naila lalu menggandeng Naila keluar dari restoran tersebut. Jefri membukakan pintu mobil untuk Naila masuk. Setelah Naila masuk Jefri sedikit berlari dan masuk ke mobil dibelakang setir.


Di depan gedung apartemen Naila.


Jefri dan Naila kwluar dari mobil. Jefri menghampiri Naila dan menggenggam tangan Naila.


"Jangan terlalu di fikirkan. Kita berjalan saja seperti yang kamu inginkan. Aku tidak akan memaksakan perasaan kamu. Aku hanya ingin kamu tau bahwa aku sungguh menyesal dan aku tidak inginkehilangan kamu lagi Naila" Ucap Jefri.


"Sedang apa kamu di sini?" Tanya Wirawan, papah Naila. Naila dan Jefri menoleh ke sumber suara. Jefri melihat ke arah Naila meminta penjelasan.


"Aku akan jelaskan nanti. Lebih baik kamu pulang sekarang" Ucap Naila.


"Baik lah, kamu segera istirahat" Ucap Jefri lembut dan mengusap kepala Naila. Naila mengangguk pelan.


Jefri membungkukkan badannya untuk memberi salam pada Wirawan. Setelah itu Jefri masuk ke dalam mobil. Wirawan menghampiri Naila lalu memeluk bahu Naila.


"Ayo masuk, diluar dingin" Ucap Wirawan mengajak Naila masuk ke dalam gedung apartemen.


"Tunggu pah, ada yang ingin Naila bicarakan dengan papah" Ucap Naila.


"Kita cari tempat duduk" Ucap Wirawan.


Wirawan mengajak Naila ke sebuah toko. Mereka membeli alkohol lalu duduk di kursi depan toko. Naila merasa kedinginan karena dia masih memakai gaun. Wirawan melepas jaketnya dan memakaikannya ke tubuh sang putri.


"Tidak usah pah" Tolak Naila.


"Pakai saja, pakaianmu terlalu tipis" Ucap Wirawan.


"Terima kasih pah" Ucap Naila.

__ADS_1


Mereka lagi-lagi terdiam. Naila mulai mencairkan susana kembali.


"Apa mamah di rumah sakit sendirian sekarang?" Tanya Naila untuk basa basi.


"Mamah kamu sudah pulang tadi siang. Papah tadi cari angin sebentar di luar dan melihatmu dengan Jefri" Ucap Wirawan.


"Kak Jefri mengajakku rujuk pah" Ucap Naila tertunduk.


"Kenapa tiba-tiba?" Tanya Wirawan.


"Bukan tiba-tiba juga sih pah. Kak Jefri sudah lama mendekatiku lagi. Aku hanya baru tau saja kenyataan yang selama ini mengusik hatiku" Ucap Naila.


"Soal kesalah pahaman itu?" Tanya Wirawan lagi.


"Dari mana papah tau?" Tanya Naila balik.


"Orang tua Jefri sudah bicara dengan papah tadi di telfon saat papah menyuapi mamahmu. Karena hal itu juga papah keluar cari angin untuk menjernihkan pikiran papah" Jawab Wirawan.


"Papah tidak akan ikut campur tentang hal ini, karena kamu yang akan menjalankan kehidupan kamu selanjutnya. Papah harap kamu pikirkan dulu dengan kepala dingin dan perasaan yang tenang. Papah tidak ingin melihat kamu menangis lagi" Jelas Wirawan.


"Iya pah" Jawab Naila tertunduk.


"Ya sudah, ayo kita pulang" Ajak Wirawan yang sudah bangkit dari duduknya.


"Terima kasih pah dan maafkan Naila yang tidak bisa membahagiakan papah selama ini. Maafkan Naila yang selalu egois dan mementingkan diri sendiri" Ucap Naila.


Wirawan melepaskan tangan anaknya. Dia berbalik lalu memeluk erat putrinya itu. Dia menangis dalam pelukan sang putri yang sudah sangat lama ia rindukan.


"Maafkan papah yang tidak mengertikan kamu nak. Maafkan papah" Ucap Wirawan menangis.


Beberapa gari telah berlalu. Jefri yang hampir setiap hari datang ke apartemen Naila, sedikit demi sedikit sudah mulai di terima kembali oleh Wirawan.


Seperti hari ini, Jefri sudah berada di dalam apartemen Naila. Dia duduk di sofa ruang tamu menunggu Naila yang sedang bersiap untuk datang ke acara pernikahan Yuri. Jefri duduk berhadapan dengan Wirawan di ruang tamu.


"Bagaimana keadaan mamah sekarang pah?" Tanya Jefri pada Wirawan.


"Sudah lebih baik. Sebentar lagi juga sudah bisa berjalan lagi" Jawah Wirawan.


"Syukurlah kalau begitu. Tapi jika papah mau, saya bisa bantu untuk mengobatkan mamah ke rumah sakit yang lebih bagus di luar negri" Ucap Jefri.

__ADS_1


"Terima kasih, tapi kami masih ingin di sini untuk menemani Naila" Ucap Wirawan dingin.


Jefri sadar jika Wirawan masih belum bisa percaya sepenuhnya dengan dirinya. Jefri terus bersabar dan membuktikan pada papah Naila, jika dia benar benar serius dengan Naila. Dia yakin perlahan papah Naila pasti akan kembali percaya padanya.


"Ayo kak, aku sudah siap" Ucap Naila yang menghampiri Jefri.


Jefri tersenyum melihat Naila yang semakin terlihat cantik di matanya. Dia merasa tidak ingin membawa Naila keluar dan menjadi pusat perhatian orang orang.


"Kalau begitu saya permisi dulu pah" Pamit Jefri. Wirawan hanya mengangguk pelan. Kini ganti Naila yang mencium pipi papahnya.


"Naila pergi dulu ya pah" Pamit Naila.


"Iya nak, hati hati di jalan" Jawab Wirawan.


"Iya pah" Sahut Naila tersenyum.


Naila dan Jefri keluar dari apartemen Naila. Wirawan ada perasaa lega dan juga khawatir. Dia lega karena Naila sudah kembali ceria dan bersemangat. Namun bersamaan pula Wirawan merasa khawatir karena dia takut Jefri akan menyakiti putri kesayangannya lagi.


"Semoga kamu selalu bahagia apapun yang terjadi nanti nak. Kamu sudah begitu lama menderita. Semoga kali ini kamu bisa bahagia menempuh hidup baru yang akan kamu jalani lagi" Ucap Wirawan.


Di tepi pantai.


Yuri melakukan upaca pernikahannya di tepi pantai. Karena ini termasuk pernikahan sejenis, banyak teman teman Yuri yang sama dengannya. Namun dia terlihat bahagia menikmati hidup barunya.


"Teo, di mana Naila? Kenapa dia tidak kunjung datang?" Tanya Yuri.


"Di akan datang sebentar lagi" Jawab Teo acuh tak acuh


"Suruh anak buah mu mencarinya" Ucap Yuri.


"Baik lah" Jawab Teo lagi.


Teo berjalan ke arah perkiran mobil untuk menelfon anak buahnya seperti permintaan Yuri barusan. Namun baru saja Teo mau bicara, dia melihat Naila dan Jefri yang berjalan ke arahnya.


"Pak Teo sedang apa di sini?" Tanya Naila.


"Mencari mu. Sana masuk dia dari tadi sibuk mencari mu" Ucap Teo.


# Selamat membaca ya kak

__ADS_1


#Terima kasih atas dukungannya


# Terima kasih banyak


__ADS_2