
Setelah cukup lama mereka berbelanja. Kini Sinta dan Naila pulang kembali ke rumah. Naila melihat ruang tamu rumah Jefri sudah di hiasi bunga dan dekorasi pernikahan.
"Apa kamu suka dekorasi nya Naila?" Tanya Sinta.
"Suka mah. Ini sangat bagus" Ucap Naila.
"Ya sudah, kamu istriahat dulugih. Kamu harus menyiapkan diri kamu untuk besuk" Ucap Sinta.
"Mamah mau ke mana?" Tanya Naila
"Mamah harus kembali ke kantor Nai. Maaf mamah tidak bisa menemani kamu lagi" Ucap Sinta.
"Tunggu sebentar mah" Ucap Naila. Naila berlari ke arah dapur. Dia membuka kulkas lalu mengambil kue yang ia buat tadi pagi.
"Apa ini Nai?" Tanya Sinta yang bingung dengan kotak makanan yang di berikan Naila pada nya.
"Tadi pagi Naila membuat kue. Sebagian sudah Naila buat bekal untuk kak Jefri. Maaf jika kue nya tidak seenak di toko mahal. Naila akan belajar lagi agar lebih enak" Ucap Naila tulus.
Sinta terharu dengan perlakuan Naila. Dia mengusap kepala Nailan lembut.
"Mamah pasti akan makan ini. Terima kasih ya Nai" Ucap Sinta.
"Sama sama mah" Jawab Naila tersenyum.
"Ya sudah mamah pergi dulu ya. Kamu istirhat saja" Ucap Sinta.
"Iya mah" Jawab Naila tersenyum.
Sinta berjalan keluar dari rumah Jefri. Dia terus memegang erat kotak makanan yang di berikan Naila pada nya.
"Apa itu nyonya?" Tanya Jaya ketika Sinta masuk ke dalam mobil.
"Kue buatan Naila. Dia juga membuatkan bekal untuk Jefri juga dari kue ini" Ucap Sinta.
"Anda pasti sangat bahagia memiliki nona Naila sebagai menantu anda" Ucap Jaya.
"Iya. Keluarga nya akan menyesal karena menyia nyiakan berlian yang begitu indah seperti Naila" Ucap Sinta.
"Saya rasa dengan sedikit sentuhan dari anda. Nona Naila akan menjadi wanita tangguh seperti anda nyonya" Ucap Jaya.
"Benar apa yang kamu katakan Jaya. Dia akan menjadi wanita hebat nanti nya" Ucap Sinta.
__ADS_1
"Kemana kita sekarang nyonya?" Tanya Jaya.
"Ke kantor papah nya Jefri saja" Ucap Sinta.
"Baik nyonya" Jawab Jaya.
Ke esokan hari nya.
Niko sudah sampai di rumah Jefri dengan membawa kedua orang tua Naila. Yuli terlihat jelas tidak suka melihat kebahagian Naila. Sedangkan Wirawan sudah melepaskan Naila untuk bersama Jefri.
"Selamat datang pak bu" Ucap Jefri sopan.
"Panggil papah saja. Sebentar lagi kamu akan menjadi suami anak saya" Ucap Wirawan.
"Terima kasih banyak atas restu yang anda berikan pada kami pah" Ucap Jefri.
Di saat bersamaan Naila keluar dari kamar nya dengan di dampingi perias yang membantu nya menata riasan wajah nya.
Wirawan melihat Naila yang begitu mirip dengan mendiang istri nya. Dia merasa bersalah pada Naila yang sudah ia telantarkan selama ini.
Karena kesedihan nya kehilangan sang istri membuat dia gila kerja hingga membiarkan Naila yang juga kehilangan mamah nya hidup sendiri.
Wirawan menangis melihat Naila. Dia berjalan perlahan ke arah Naila. Kini Naila dan papah nya, Wirawan susah berhadapan.
"Papah tidak perlu bicara seperti itu. Bunda sudah bahagia di sana jangan membuat nya sedih mendengar ucapan papah" Ucap Naila dingin.
Naila beralih ke arah Jefri. Dia menggandeng Jefri untuk mengalihkan Wirawan dari diri nya. Yuli mendengar ucapan Wirawan, dia sangat marah karena Wirawan masih mengingat istri nya yang sudah meninggal itu.
"Pah jangan menangis di sini. Malu di lihat orang orang" Ucap Yuli.
Wirawan segera menghapus air mata nya. Dia duduk di sebelah penghulu yang akan membantu Wirawan menikahkan Naila dengan Jefri.
Setelah Wirawan menikahkan Naila, Jefri mengucapkan ijab khabul dengan lancar hanya membutuhkan satu tarikan nafas saja untuk diri nya melakukan ijab khabul.
Penghulu membacakan doa untuk sepasang pengantin yang baru saja sah menjadi suami istri itu. Naila menahan air mata nya karena dia tidak mau memperlihatkan air mata nya pada Wirawan. Dia ingin Wirawan tau kalau diri nya gadis yang tangguh.
Jefri mencuri pandang ke arah Naila. Terlihat jelas kalau Naila sedang menahan tangis nya karena tangan nya gemetara dengan mata yang sudah memerah.
Setelah acara ijab khabul, Yuli mengajak Wirawan pulang. Dia sudah tidak tahan melihat Naila yang sudah bahagia. Dia ingin segera pulang dari rumah itu.
"Jefri, Naila sudah menjadi istri kamu sekarang. Tolong jaga dia dengan baik, jangan sakiti dia karena dia gadis yang sangat baik. Dia segala nya dalam hidup saya Jefri. Tolong jaga dia untuk saya, karena saya sudah menjadi papah yang gagal untuk Naila. Tolong beri dia kasih sayang yang melimpah. Dia awal nya gadis yang ceria. Sejak bunda nya meninggal, dia menjadi pendiam dan sering menyendiri" Ucap Wirawan.
__ADS_1
"Saya akan mejaga dia dengan nyawa saya pah. Anda tenang saja" Jawab Jefri.
"Iya, saya percaya dengan kamu" Ucap Wirawan.
"Sudah pah, ayo kita pulang" Ucap Yuli.
"Tunggu dulu, aku ingin berpamitan sama Naila" Ucap Wirawan.
Wirawan melepaskan tangan Yuli dari lengan nya. Dia berjalan ke arah Naila yang sedang duduk di sofa.
"Naila, papah mau minta maaf sama kamu. Maaf selama ini papah tidak memperhatikan kamu. Maaf karena selama ini kamu menjalani keadaan sulit sendirian. Papah yang egois ini merasa malu. Tolong maafkan Papah Naila " Ucap Wirawan.
"Aku sudah memafkan papah. Tapi aku tetap tidak akan pulang sebelumwanita itu keluardari rumah" Ucap Naila.
"Maaf Naila, tapi papah tidak bisa melepaskan mamah mu Yuli. Papah sangat mencintai dia" Ucap Wirawan.
"Ya sudah terserah anda " Ucap Naila dingin.
"Ya sudah papah pulang dulu. Papah berharap kamu bahagia dengan Jefri" Ucap Wirawan.
Naila tidak menjawab ucapan papah nya. Dia membuang muka agar Wirawan tidak melihat matanya yang sudah kembali memerah.
Di sisi lain Jefri menatap tajam ke arah Yuli. Dia teringat dengan luka di punggung Naila. Dia sangat yakin jika luka luka itu Naila dapat kan dari Yuli.
"Kenapa kamu menatap ku seperti itu?" Ucap Yuli marah.
"Saya hanya ingin memberitahu anda jika saya akan membalas semua luka yang ada di tubuh Naila pada anda. Saya tau jika luka luka itu dari anda. Anda tenang saja perlahan saya akan membalasnya ke anda" Ucap Jefri.
Yuli merasa takut dengan ancaman Jefri. Dia berjalan ke arah Wirawan lalu menarik tangan Wirawan keluara dari rumah Jefri.
"Hati hati di jalan pah. Tolong jaga mamah dengan baik" Ucap Jefri.
"Tentu saja Jef. Terima kasih banyak" Ucap Wirawan tersenyum.
"Sudah ayo pulang" Ucap Yuli.
Yuli menoleh sekilas ke arah Jefri. Jefri tersenyum licik ke arah Yuli. Yuli bergidik ngeri melihat senyuman Jefri.
# selamat membaca ya kak
# tarima kasih banyak
__ADS_1
😊😊😊🙏🙏🙏