
"Ini buat aku?" Tanya Nala.
"Iya dong. Aku boleh masuk kan" Ucap Bimo tersenyum lalu berjalan masuk ke dalam rumah. Belum juga melewati pintu Nala sudah mencegah Bimo.
"Kerja, pulang kerja baru ke sini" Ucap Nala.
"Tapi aku sangat merindukan kamu" Ucap Bimo merengek seperti anak kecil.
Cup.
Nala mencium pipi Bimo sekilas.
"Sudah sana kerja, cari uang yang banyak buat aku" Ucap Nala. Nala masuk ke dalam rumahnya lalu kembali menutup pintu rumahnya.
Bimo yang mendapatkan kecupan dari Nala memegangi pipinya dan tersenyum.
"Sayang aku kerja dulu, tunggu aku pulang kerja dan bawa uang yang sangat banyak untuk kamu" Teriak Bimo kegirangan.
Nala yang mendengar suara Bimo tersenyum di balik pintu rumahnya. Dia menciumi bunga pemberian Bimo dengan bahagia.
Sejujurnya Nala juga sangat merindukan Bimo. Dia ingin bersama Bimo namun jika Bimo terus membanggakan uang orang tuannya, Bimo tidak akan memiliki tanggung jawab. Nala sebisa mungkin menahan rindunya untuk masa depannya dan juga Bimo.
"Maafkan aku Bimo. Aku melakukan ini juga demi kamu. Aku ingin kamu tau betapa beratnya menanggung tanggung jawab. Aku akan menunggu kamu Bimo. Aku akan selalu menunggu kamu san mendukung kamu" Guman Nala.
Beberapa bulan telah berlalu.
Hubungan Maya dan Ivan pun semakin dekat. Mereka sudah menemui orang tua masing masing untuk meminta restu. Hanya tinggal beberapa minggu saja mereka akan melaksanakan pesta pernikahan.
Sedangkan Nala dan Bimo pun tetap harmonis dengan hubungan mereka. Walaupun sering bertengkar namun keduanya saling mencintai bahkan cinta mereka mampu lebih erat lagi.
Seperti hari ini. Karena hari ini Ivan libur kerja. Dia mengajak Maya untuk bertemu mamahnya untuk pertama kalinya. Maya tau jika mamah Ivan sedang sakit. Namun yang ia pikirkan sakit pada orang umumnya.
Maya dan Ivan telah sampai di depan rumah sakit jiwa. Maya heran karena Ivan mengajaknya ke rumah sakit jiwa itu.
"Kita kenapa ke sini? Katanya mau bertemu mamah kamu?" Tanya Maya bingung.
"Mamah memang di rawat di sini Maya. Sudah sangat lama beliau di rawat di sini" Jawab Ivan.
"Jadi mamah kamu......" Uacap Maya terhenti karena tidak enak dengan Ivan.
"Iya Maya. Mamah ku mengalami gangguan jiwa. Aku mengajak kamu ke sini untuk memperlihatkan begini lah keadaan keluargaku. Setelah kamu bertemu mamah, keputusan ada di tangan kamu Maya. Jika kamu malu dengan keadaan keluarga ku, maka aku rela melepaskan kamu. Tapi jika kamu masih tetap bersama ku, aku akan sangat berterima kasih pada kamu" Ucap Ivan.
"Ayo masuk" Ucap Ivan menggandeng tangan Maya untuk masuk ke dalam rumah sakit.
__ADS_1
Cukup jauh mereka berdua berjalan menuju ruangan yang di tempati mamah Bimo. Saat sampai di depan ruangan, mereka melihat beberapa anak buah Dika yang berjaga di depan pintu kamar mamah Ivan.
"Ada papah kamu ya" Ucap Maya.
"Sepertinya memang ada papah di dalam. Tapi setau ku, hubungan mereka sedang tidak baik" Ucap Ivan.
"Apa kita kembali saja nanti. Mungkin papah kamu sedang membujuk mamah kamu" Ucap Maya.
"Tidak apa apa, aku ingin melihat apa yang terjadi" Ucap Ivan.
Ivan dan Maya bergandengan masuk ke dalam rungan mamah Ivan. Saat anak buah Dika memhukakan pintu, Ivan tidak percaya mamah dan papahnya yang sedang berada di depan jendela melihat keluar jendela. Dika memeluk erat tubuh mamah Ivan.
"Pah" Panggil Ivan.
Papah dan mamah Ivan menoleh ke arah belakang.
"Ivan, anak mamah" Ucap mamah Ivan yang bangkit dari duduknya lalu menghampiri Ivan.
Mamah Ivan memeluk Ivan dengan erat. Dia memegangi wajah Ivan lalu kembali memeluknya.
"Mamah sangat merindukan kamu Ivan" Ucap mamah Ivan.
"Mamah sudah dengar semua tentang kamu dari papah. Mamah ikut bahagia karena kamu sudah menemukan kebahagiaan kamu" Ucap Mamah Ivan.
"Kamu Maya?" Tanya mamah Ivan.
"Iya tante, saya Maya" Jawab Maya tersenyum. Mamah Ivan meraih tubuh Maya lalu memeluk Maya erat.
"Terima kasih karena kamu sudah membawa kebahagian untuk putraku. Aku yang seorang ibu ini gagal memberikan kebahagian pada putra ku karena tekanan yabg aku terima. Terima kasih banya Maya" Ucap mamah Ivan.
"Sama sama tante. Ivan sudah menjadi pribadi yang baik. Tante tidak gagal karena lihat lah Ivan sekarang. Dia tumbuh menjadi pria yang mampu tante banggakan. Semua ini tidak luput dari doa doa tante" Ucap Maya.
"Kamu memang gadis yang baik Maya. Saya sangat setuju jika kamu menjadi bagiam dari keluarga kami" Ucap mamah Ivan.
Mamah Ivan sebenarnya sudah sangat baik. Tinggal menunggu beberapa hari lagi setelah hasil kesehatan keluar, jika kejiwaan mamah Ivan cukup setabil maka mamah Ivan sudah boleh keluar dari rumah sakit.
Kabar yang sangat membahagiakan untuk Ivan dan keluarga. Di tambah Ivan juga baru mengatahui ternyata selama ini papahnya lah yang selalu menemani mamah Ivan. Dia sengaja tidak membri tahukan apa yang ia lakukan karena ingin membuat Ivan menjadi pria yang tangguh. Dan benar saja, sekarang Ivan telah menjadi pemimpin yang sangat baik untuk kelanjutan bisnisnya.
Hari pernikahan.
Hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan untuk 2 pengantin sekaligus.
Ivan dan Bimo sengaja melakukan pesta pernikahan mereka bersamaan. Mereka ingin bahagia bersama di hari yang sama.
__ADS_1
Walaupun sempat mengalami kendala dalam rencana pernikahan itu, namun dengan teguh dan telaten akhirnya terjadi lah pernikahan hari ini.
Maya dan Nala berada di ruangan khusus untuk pengantin wanita. Mereka sudah memakai gaun pernikahan yang berwarna putih dengan seikat bunga yang mereka pegang masing masing.
Raka ikut duduk bersama keluarga Maya dan Ivan. Mereka tampak tersenyum bahagia dengan pernikahan Ivan dan Maya.
Sedangkan keluarga Nala pun datang juga. Walaupun hubungan mereka tidak sedekat dulu tapi Nala sudah memaafkan kedua orang tuanya. Kedua orang tua Nala duduk satu meja dengan Wira, papah Bimo.
"Kedua pengantin pria silahkan naik ke altar" Ucap pembawa acara.
Bimo dan Ivan bersamaan naik ke altar. Mereka tampak tersenyum bahagia menantikam kedatangan pengantin wanita mereka.
"Pengantin wanita silahkan masuk" Ucap pembawa acara.
Pintu besar terbuka lebar. Maya dan Nala tampak cantik dengan balutan gaun putih yang tersinari cahaya lampu. Ivan yang melihat Maya yang begitu cantik membuatnya terharu. Dia mampu menitihkan air matanya.
Dia mengingat kejadian di mana saat ia meninggalkan Maya, perjuangan Maya untuk melahirkan Raka seorang diri. Dan betapa sulitnya Maya untuk membesarkan Raka tanpa dampingan darinya.
Dia teringat semua kejadian itu dan dia sangat menyesalinya. Bimo yang tau kesedihan sahabatnya itu hanya mampu menepuk bahu Ivan untuk menguatkannya.
Maya dan Nala sampai di altar dan di sambut oleh pasangan masing masing. Maya menghapus air mata Ivan dan tersenyum cantik.
"Jangan pikirkan apa yang sudah terjadi. Sekarang jalani apa yang terjadi dan hidup lah dengan bahagia bersamaku" Ucap Maya. Ivan mengangguk.
Lalu kedua pasang pengantin mengikat janji suci mereka di depan pendeta. Setelah pendeta menyatakan mereka telah sah menikah, para pengantin pria membuka tudung pengantin wanita dan mencium bibir pasangan mereka.
"Aku sangat mencintai kamu" Ucap Ivan dan Bimo bersamaan.
"Aku juga sangat mencintai kamu" Jawab Maya dan Nala bersamaan.
TAMAT.
Terima kasih atas semua dukungan dari para semua pembaca
Saya sangat bersyukur karena dengan dukungan para pembaca semua, saya bisa menyelesaikan novel ini dengan semangat.
Semoga kedepannya saya masih di berikan kesehatan untuk memberikan karya karya terbaik saya.
Salam sayang dari Diyah Nur Arroyan
🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Terima kasih 🙏🙏🙏😊😊😊
__ADS_1