One Night With My Teacher

One Night With My Teacher
Eps 57


__ADS_3

Aca mendorong tubuh Reza agar lepas dari dirinya. Dia melangkah mundur mendengar ucapan Reza. Aca pikir Reza bilang cinta ke dirinya karena perubahan penampilannya.


"Kamu bilang begitu karena aku dandan? Apa karena aku cantik maka dari itu kamu bilang cinta ke aku?" Tanya Aca tersinggung.


"Bukan Ca. Bukan bagitu" Ucap Reza menghampiri Aca.


"Cukup Za. Diam di sana dan jangan mendekat" Ucap Aca.


"Ca dengarkan penjelasanku dulu" Pinta Reza.


Namun Aca tidak mau mendengarkan penjelasan Reza. Dia berbalik lalu berlari meninggalkan Reza. Reza pun ikut berlari mengikuti Aca.


Sedangkan Naila dan Jefri melihat Aca yang berlari di ikuti Reza. Mereka ingin mengikuti Aca dan Reza namun tertahan oleh pihak kampus yang menghampiri Jefri.


"Selamat siang pak Jefri. Ada yang bisa saya bantu? Kami dari pihak kampus tidak mengetahui kedatangan anda. Jadi kaki harap maafkan pihak kampus kami" Ucap pihak kampus.


"Maaf pak tapi kami harus pergi sekarang" Ucap Naila.


"Apa ada yang tidak membuat anda berkenan? Kenapa anda ingin pergi sekarang?" Tanya pihak kampus sopan.


"Kamu yang membuat kami tidak nyaman. Menyingkir sekarang juga, jangan menghalangi kami" Ucap Jefri marah.


"Ayo sayang" Ucap Jefri menggandeng tangan Naila dan membawa Naila pergi dari kerumunan.


Saat Jefri dan Naila sampai di gerbang kampus, mereka sudah kehilangan jejak Aca dan Jefri.


"Ke mana mereka By? Kenapa mereka sudah tidak terlihat?" Tanya Naila.


"Jangan khawatir sayang. Kamu tunggu di sini dulu, aku akan ambil mobil agar kamu tidak kelelahan" Ucap Jefri.


"Aku nggak lelah kok By" Ucap Naila.


"Dengarkan aku sayang. Ingat kamu sedang hamil sekarang jadi jangan membantah dan diam di tempat" Ucap Jefri tegas. Naila mengangguk mendengarkan ucapan Jefri.


Di sisi lain.


Aca menangis karena merasa di permainkan oleh Reza. Reza masih mengejar Aca dan terus memanggil manggil nama Aca.


"Ca dengarkan penjelasanku dulu" Pinta Reza.

__ADS_1


Karena memakai sepatu hak tinggi, Aca terjatuh dengan kaki yang sakit terkilir. Reza menghampiri Aca melihat keadaan Aca.


"Ca kamu nggak papa kan? Kaki kamu sakit?" Tanya Reza khawatir.


"Pergi" Ucap Aca menangis.


Melihat ari mata Aca membuat hati Reza sakit. Dia merasa terluka ketika melihat air mata Aca. Reza segera meraih tubuh Aca lalu memeluknya.


Aca memberontak sekuat tenaga agar lepas dari pelukan Reza. Namun karena kakuatan Reza lebih besar membuatnya kesusahan lepas dari pelukan Reza.


"Ca, tenang lah. Tolong dengarkan ucapanku" Pinta Reza lirih.


Perlahan Aca mulai luluh dia sedikit tenang namun masih menangis dalam pelukan Reza.


"Ca, aku sungguh mencintai kamu. Bukan karena perubahan kamu tapi aku memang sudah mencintai kamu sejak lama. Aku hanya ingin mencari waktu yang tepat untuk mengungunhkapkan perasaan ku ke kamu." Jelas Reza.


"Maaf kan aku yang telah membuat kamu salah paham Ca. Tapi perkataan ku sungguh sungguh. Aku sungguh mencintai kamu. Kamu telah berhasil membuka hati ku. Kamu telah berhasil masuk ke dalam hati ku Ca. Aku sudah kalah dengn keteguhan kamu Ca" Ucap Reza lembut.


Mendengar penjelasan Reza membuat Aca lebih tenang. Hatinya yang awalnya bergejolak kini sudah mulai tenang. Aca sedikit demi sedikit mulai membalas pelukan Reza. Air mata sakit kini sudah berganti menjadi air mata bahagia.


"Jangan lari lagi dari ku Ca. Aku sangat ketakutan saat kamu berlari dari ku tadi. Aku sungguh ketakutan Ca. Aku tidak ingin kehilangan kamu Ca." Ucap Reza.


"Iya Za, maafkan aku" Ucap Aca sesegukan.


"Kamu serius?" Tanya Aca.


"Iya Ca, aku janji" Jawab Reza. Aca semakin mempererat pelukannya pada Reza karena kini kesalah pahaman mereka telah usai.


Naila dan Jefri yang sedari tadi mengawasi dari dalam mobil ikut merasa senang. Mereka tau jika Aca dan Reza sudah menyelesaikan kesalah pahaman mereka.


"Sekarang kamu sudah bisa tenang sayang. Sahabat terbaik mu kini sudah menemukan tambatan hatinya" Ucap Jefri.


"Iya By. Aku pun sangat bahagia melihat kebahagian mereka" Jawab Naila.


"Kita pulang saja dulu sekarang. Berikan waktu untuk mereka mengutarakan perasaan mereka satu sama lain" Ucap Jefri.


"Iya By, kamu benar" Jawab Naila. Jefri melajukan mobilnya meninggalkan Aca dan Reza. Naila pun tersenyum ketika melihat senyum kebahagian Aca dan Reza dari pantulan kaca sepion mobil Jefri.


Beberapa bulan telah berlalu. Kandungan Naila juga sudah semakin besar. Dan perkiraan Dokter 3-4 minggu ke depan Naila akan segera melahirkan.

__ADS_1


Kedua orang tua Jefri semakin ketat mengawasi Naila. Jefri juga sering bekerja di rumah. Dia akan ke kantor jika ada rapat penting yang harus ia hadiri.


"Sayang hari ini aku ke kantor ya. Aku ada rapat penting yang tidak bisa aku lewatkan" Ucap Jefri dengan memakai kemeja putihnya.


"Iya By" Jawab Naila berjalan perlahan menghampiri Jefri.


"Sini aku pakaikan dasinya" Pinta Naila.


"Terima kasih sayang" Ucap Jefri tersenyum. Naila mulai mengikatkan dasi ke leher Jefri. Nyeri pada perut Naila mulai terasa namun itu hal biasa yang di alami ibu hamil yang akan melahirkan kata Dokter. Jadi Naila masih bisa menahannya.


"Kenapa sayang? Apa perut kamu nyeri lagi?" Tanya Jefri melihat wajah Naila yang menahan sakit.


"Enggak papa kok By. Sudah selesai, gih berangkat kerja. Semangat ya kerjanya Papi" Ucap Naila.


"Iya sayang terima kasih" Ucap Jefri. Jefri berlutut di depan Naila. Dia mengusap perut besar Naila.


"Sayang segera lah keluar jika sudah waktunya. Jangan menyusahkan mami kamu. Kasihan mami yang terus menahan sakit" Ucap Jefri.


"Iya papi" Jawab Naila.


"Ya sudah aku berangkat dulu ya sayang. Kamu jaga diri baik baik. Kalau ada apa apa bilang ke mamah Sinta ya" Ucap Jefri.


"Iya By kamu tidak usah khawatir, aku pasti akan baik baik saja kok" Jawab Naila tersenyum.


Jefri mengangguk lalu mencium kening Naila lembut. Dia mengusap kepala Naila lalu berjalan keluar dari kamar dengan membawa jas dan juga tas kerjanya.


Jefri sempat berbalik menatap ke arah Naila. Sungguh berat langkahnya keluar dari rumah di saat Naila sedang menunggu kelahiran anak pertama mereka.


"Pergi By, nanti kamu telat loh" Ucap Naila melambaikan tangannya.


"Iya aku pergi dulu sayang" Pamit Jefri dan di angguki Naila.


Jefri dengan berat hati pergi dari rumah. Dia masuk ke dalam mobil untuk menuju ke kantor.


Di kantor.


Saat ini Jefri sedang malakukan rapat penting yang membahas tentang proyek yang akan ia laksanakan. Aca yang sebagai penanggung jawab dalam proyek tersebut . Namun saat melihat ke arah Jefri, dia tau jika Jefri sedari tadi tidak fokus dengan rapat tersebut.


# Selamat membaca ya kak

__ADS_1


# Terima kasih banyak


😊😊😊🙏🙏🙏


__ADS_2