
Tok tok tok
"Nala sayang, aku tadi hanya bercanda. Jangan marah dong sayang. Biarkan aku masuk ya" Pinta Bimo mencoba membujuk Nala.
Nala membuka pintu rumahnya namun di tangnya ada satu ember yang berisi air.
"Kamu pergi sekarang atau aku siram kamu pakai air ini" Ancam Nala.
"Ok ok aku pergi sekarang" Ucap Bimo berlari masuk ke dalam mobilnya.
"Aku nanti malam datang lagi, tapi jangan siram aku" Teriak Bimo mulai menghidupkan mesin mobilnya.
"Jangan datang jika kamu tidak bekerja" Ucap Nala.
Karena takut dengan ancaman Nala, Bimo pun akhirnya memilih kembali ke kantor. Walaupun ia tau bahwa Ivan tidak ada di kantor. Tapi demi Nala dia akan berangkat kerja.
Malam harinya.
Ivan sudah berada di depan kafe Maya. Dia merapikan jasnya lalu berjalan masuk ke dalam kafe.
"Di mana bos kalian?" Tanya Ivan pada pegawai Maya.
"Ibu ada di rumah pak" Jawab pegawai Maya yang sudah tau siapa Ivan.
"Ya sudah, terima kasih. Aku akan memberikan kalian hadiah jika kerja kalian bagus" Ucap Ivan.
"Baik pak Ivan" Jawab pelayan Maya serentak.
Ivan berjalan ke arah lift untuk menuju ke rumah Maya.
"Papi" Teriak Raka ketika Ivan masuk ke dalam rumah mereka.
Raka berlari ke arah Ivan dan Ivan berlutut untuk menangkap Raka.
"Halo jagoan papi, bagaimana sekolah kamu hari ini?" Tanya Ivan yang menggendong Raka masuk ke dalam ruang tengah.
"Hari ini aku sudah bisa menggambar keluarga papi, bu guru juga tadi bertanya siapa yang aku gambar." Ucap Raka.
"Lalu kamu jawab apa?" Tanya Ivan lagi.
"Papi. Aku menggambar papi, Momi dan Raka. Raka hebat bukan papi" Ucap Raka bangga.
"Wah, jagoan papi hebat sekali. Papi sangat bangga sama kamu" Ucap Ivan bangga.
"Iya, sekarang tidak ada yang bisa mengejek Raka lagi. Raka sudah punya papi" Ucap Raka.
Seketika Ivan merasa sedih mendengar ucapan Raka. Dia tidak tau jika selama ini, anak sekecil Raka sudah menjadi target buliying teman temannya. Hancur hati Ivan mendengar semua cerita Raka. Dia sangat menyesal karena tidak pernah ada untuk Raka.
"Maafkan papi ya Raka. Papi selama ini tidak ada di samping kamu" Ucap Ivan.
__ADS_1
"Tidak apa apa papi, sekarang papi sudah sama Raka" Ucap Raka tersenyum.
Maya mendengar semua percakapan Ivan dengan Raka. Hatinya pun hancur mengingat perkataan sang guru waktu itu. Raka sering menyendiri karena dia merasa berbeda dengan teman teman lain. Raka sering di ejek teman temannya yang bilang kalau Raka tidak punya ayah. Maya yang mengingat hal itu pun menangis.
Ivan mendengar isak tangis Maya di balik tembok ruang makan. Dia mendudukkan Raka di sofa lalu ia berjalan menghampiri Maya.
"Maya" Panggil Ivan. Melihat Ivan yang menghampirinya, Maya segera menghapus air matanya.
Ivan menarik tangan Maya lalu membawa Maya ke dalam pelukannya.
"Menangis lah agar kamu lega. Luapkan semua keresahan kamu Maya" Ucap Ivan memeluk Maya. Maya kembali menangis dengan mencengkram erat kemeja Ivan.
"Maafkan aku Maya, ini semua salah ku. Sungguh maafkan aku" Ucap Ivan lirih.
Maya masih menangis dalam pelukan Ivan. Tak lama Maya mulai tenang. Ivan mengantarkan Maya ke kamarnya.
"Duduk lah" Ucap Ivan yang menyuruh Maya duduk di pinggiran kasur. Ivan berlutut di depan Maya.
"Maya, aku memang salah karena meninggalkan kamu dulu. Bahkan sampai sekarang aku sangat menyesalinya" Ucap Ivan.
"Tapi aku ingin memperbaiki semuanya Maya. Aku ingin menebus semua kesalahan ku" Ucap Ivan.
"Kembali lah pada ku Maya. Aku masih sangat sayang sama kamu. Aku masih mencintai kamu seperti dulu" Ucap Ivan.
"Tapi aku masih takut jika kamu menyakiti ku lagi Ivan. Aku takut jika aku terluka lagi, itu sangat menyakitkan untuk ku" Ucap Maya.
"Aku janji tidak akan pernah melakukan itu Maya. Aku akan selalu berada di samling kamu. Aku akan selalu mencintai kamu. Aku janji Maya" Ucap Ivan meyakinkan Maya bahwa dia benar benar serius dengan Maya.
Maya terdiam memikirkan ucapan Ivan. Dia melihat kedua mata Ivan yang terus menatapnya. Dia mencari kejujuran dari kedua matanya.
"Aku akan memberi kamu satu kesempatan lagi Ivan. Tapi ini kesempatan terakhir kamu" Ucap Maya. Ivan mengangguk dan tersenyum lebar ketika Maya mau menerimanya kembali. Ivan bangkit lalu memeluk erat tubuh Maya.
"Terima kasih sayang, aku janji akan selalu setia sama kamu. Aku tidak akan menyia nyiakan kesempatan yang kamu berikan padaku." Ucap Ivan bahagia.
"Jangan kecewakan aku lagi Van" Ucap Maya dalam pelukan Ivan.
"Tentu sayang, aku janji" Jawab Ivan.
Ivan melepas pelukannya, dia mengusap air mata lali mengecup kedua mata Maya.
"Aku akan berusaha membuat kamu dan Raka bahagia sayang. Akan aku lakukan apapun agar kalian beruda bahagia" Ucap Ivan. Maya tersenyum mendengar ucapan Ivan yang membuatnya tenang.
"Papi momi" Panggil Raka yang menghampiri mereka berdua di kamar Maya.
"Ada apa sayang? Papi membuat kamu menunggu ya" Ucap Ivan mengangkat tubuh Raka lalu memangkunya.
"Tidak" Jawab Raka menggelengkan kepalanya.
"Lalu kenapa? Apa kamu sudah lapar?" Tanya Ivan.
__ADS_1
"Malam ini Raka ingin tidur dengam papi dan momi" Ucap Raka polos. Mendengar permintaan Raka, Ivan melihat ke arah Maya untuk meminta persetujuan Maya. Maya mengangguk dengan memepelihatkan senyumannya yang sangat cantik.
"Baik lah, malam ini kita tidur bertiga ya" Ucap Ivan.
"Hore" Teriak Raka kegirangan. Ivan pun tersenyum melihat Raka yang mampu bahagia dengan hanya hal yang sepele.
Ke esokan harinya.
Bimo pagi pagi sekali sudah berada di depan rumah Nala. Dia memang sengaja datang pagi untuk mengejutkan Nala.
Tok tok tok
Bimo mengetuk pintu rumah Nala. Tak lama terdengar suara kunci terbuka. Nala membuka pintu rumahnya dan melihat Bimo yang berdiri di depan pintu rumahnya dengan senyuman anehnya.
"Pagi sayang" Ucap Bimo merentangkan tangannya untuk memeluk Nala. Namun saat Bimo akan menghampiri Nala....
Bruck
Nala menutup pintu rumahnya hingga membuat Bimo terbentur pintu.
"Sayang ada apa ini? Kenapa kamu menutup pintunya?" Tanya Bimo mengetuk pintu rumah Nala.
"Kerja sana, kamu tidak boleh ke sini selama jam kerja" Teriak Nala dari dalam rumah.
"Apa?" Teriak Bimo terkejut dengan ucapan Nala.
"Pergi kerja, aku tidak mau bersama orang yang menyombongkan uang orang lain" Ucap Nala.
Akhirnya Bimo pun kembali ke dalam mobilnya. Dia berangkat ke kantor dengan wajah cemberut.
Ke esokan harinya lagi.
Bimo hari ini datang ke rumah Nala dengan membawa seikat bunga yang cantik untuk Nala. Dia datang dengan setelan jas dan sepatu hitamnya.
Tok tok tok
"Sayang aku datang" Ucap Bimo.
Nala membuka pintu rumahnya.
"Ada apa?" Tanya Nala melipat tanganya ke depan dada dengan bersandar ke pintu.
"Nih buat kamu" Ucap Bimo menyerahkan bunga pada Nala. Nala menerima bunga dari Bimo dan mencium harum bunga itu.
"Ini buat aku?" Tanya Nala.
"Iya dong. Aku boleh masuk kan" Ucap Bimo tersenyum lalu berjalan masuk ke dalam rumah. Belum juga melewati pintu Nala sudah mencegah Bimo.
# Selamat membaca ya kak
__ADS_1
# Terima kasih banyak
🙏🙏🙏😊😊😊