
Dia kecewa dengan Jefri yang sama sekali tidak mengertikan diri nya. Jefri lebih mementingkan diri nya sendiri.
Cukup lama Naila menangis di punggir jalan. Sampai rambut nya tertutup salju cukup tebal. Di tambah rambut nya yang basah tadi karena ulah Vera.
Di saat bersamaan Sinta yang tadi berniat menjemput Naila akhir nya gagal karena sekolah sudah tampak sepi.
Sinta meminta Jaya untuk ke rumah Jefri saja. Dia ingin berbincang bincang dengan Naila du rumah Jefri. Namun Jaya menghentikan mobil nya ketika melihat seorang gadis yang berjongkok di bawah hujan salju.
"Ada apa Jaya?" Tanya Sinta.
"Maaf nyonya, di depan ada gadis yang berjongkok di pinggir jalan. Saya ingin menolong nya dulu jika dia butuh bantuan" Jawab Jaya.
"Oh begitu. Ya sudah cepat bantu dia. Kasihan dia di luar sedang turun salju lebat" Ucap Sinta.
"Iya nyonya" Jawab Jaya.
Jaya turun dari mobil nya. Dia berjalan ke arah gadis yang berjongkok tadi dan menepuk bahu gadis itu.
"Maaf nona apa nona baik baik saja?" Tanya Jaya.
Naila mendingakkan kepala nya. Jaya terkejut melihat Naila yang wajah nya sudah pucat.
"Non Naila. Nan sedang apa di sini " Tanya Jaya khawatir.
Belum sempat Naila menjawab pertanyaan Jaya, Naila sudah jatuh pingsan. Jaya segera menggendong Naila lalu membawa nya masuk ke dalam mobil.
"Haduh Jaya dia kenapa?" Tanya Sinta khawatir.
"Nyonya, ini......non Naila" Ucap Jaya terbata bata. Dia takut jika Sinta terkejut dan marah.
"Naila?" Ucap Sinta terkejut.
"Bawa kesini, Cepat kamu masuk ke mobil. Kita ke rumah sakit sekarang " Ucap Sinta khawatir.
"Baik nyonya" Jawab Jaya.
Jaya mendudukkan Naila di samping Sinta. Sinta memeluk bahu Naila dan membersihkan salju yang menempel di rambut Naila.
"Kenapa rambut Naila bau susu basi? Apa yang sebenar nya terjadi?" Ucap Sinta.
__ADS_1
"Saya akan segera cari tau nyonya. Anda mohon tenang lah" Ucap Jaya.
"Gimana bisa tenang. Naila tidak sadarkan diri, badan nya dingin sekali dan bibir nya sudah pucat" Ucap Sinta khawatir.
"Mohon anda tenang nyonya. Sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit." Ucap Jaya.
Namu Sinta masih gelisah melihat Naila yang tidak sadarkan diri. Sinta mengambil selimut yang ada di mobil nya lalu memakaikan nya ke tubuh Naila.
"Sadar lah sayang. Apa yang sebenar nya terjadi sama kamu? Kenapa kamu sampai seperti ini?" Ucap Sinta khawatir.
"Lagian Jefri di mana sih? Kenapa dia tidak ada di saat Naila seperti ini? Apa dia tidak tau apa yang terjadi sama istri nya sendiri?" Ucap Sinta marah.
"Maaf saya tidak tau nyonya" Jawab Jaya.
Tak lama mereka sampai di rumah sakit. Jaya keluar dari mobil nya lalu di hampiri oleh dua petugas rumah sakit membawa ranjang dorong nya.
Perlahan Naila di pindahkan ke ranjang dorong lalu dibawa masuk ke dalam rumah sakit.
"Jaya kamu cari tau apa yang sedang terjadi. Secepat nya kabari saya" Ucap Sinta.
"Baik nyonya, akan saya kerjakan " Jawab Jaya.
"Apa yang sebenar nya tejadi sama kamu Nai? Kenapa kamu sampai seperti itu?" Guman Sinta khawatir.
Malam hari nya.
Salju semakin lebat, namun belum ada tanda tanda Naila sampai di rumah. Jefri fikir Naila akan segera pulang. Namun sampai malam Naila belum juga sampai di rumah. Jefri mulai khawatir dengan Naila, dia segera mengambil kunci mobil nya dan juga ponsel nya.
Dia keluar dari rumah menuju ke mobil nya. Saat di dalam mobil, Jefri baru saja menyalakan mobil nya. Namun ponsel nya bedering, dia melihat nama mamah nya yang berada di layar ponsel nya.
"Iya mah ada apa?" Tanya Jefri
"Ke rumah sakit sekarang" Jawab Sinta lalu mematikan ponsel nya.
Jefri bungung dengan ucapan Sinta. Namun dia segera melajukan mobil nya ke arah rumah sakit seperti yang di minta mamah nya tadi.
Tak lama Jefri sampai di rumah sakit. Dia masuk ke dalam rumah sakit menuju ke ruang inap yang sudah Sinta kasih tau melalui pesan.
Jefri masuk ke dalam ruang inap tersebut dan melihat Naila yang tebaring di atas ranjang rumah sakit. Jefri perlahan menghampiri Naila namun Sinta menghadang nya.
__ADS_1
Plack.
Satu tamparan keras mendarat di pipi Jefri. Jefri tetap diam karena dia tau jika saat ini mamah nya sedang marah besar.
"Jika kamu tidak mampu melindungi Naila, biar mamah yang melindungi dia" Ucap Sinta tegas.
Jefri masih tetap diam saja. Saat ini yang ada di fikiran nya hanya ingin segera msnghampiri Naila lalu memeluk nya erat. Dia ingin minta maaf pada Naila karena keegoisan nya membuat Naila terluka.
"Kamu suami macam apa membiarkan istri kamu menangis di bawah hujan salju yang lebat ini. Di mana sih pikiran kamu Jefri?" Ucap Sinta marah.
"Sudah malam begini kamu tidak juga mencari keberadaan Naila. Jika saja mamah tidak menelfon kamu, apa kamu akan tenang tenang saja di rumah?" Ucap Sinta.
Jefri menggelengkan kepala nya. Mata nya mulai memerah dengan bibir nya yang mulai gemetaran.
"Tidak mah" Ucap Jefri.
"Kalau sampai terjadi sesuatu yang fatal pada Naila, mamah pastikan ini terakhir kali nya kamu melihat Naila" Ancam Sinta
Sinta pergi meninggalkan Jefri yang masih sedih melihat Naila yang belum sadarkan diri di ranjang rumah sakit. Sinta memilih keluar dari ruang inap Naila karena dia ingin menenangkan diri.
Sedangkan Jefri berjalan perlahan menghampiri Naila. Dia meraih tangan mungil Naila lalu menggenggam nya erat. Dia menciumi lunggung tangan Naila dan menangis menyesali perbuatan nya tadi meninggalkan Naila di jalan.
"Maaf kan aku Naila, Maafkan aku. Aku harus nya menemani kamu bukan nya malah meninggalkan kamu. Maafkan aku Naila" Ucap Jefri menyesal.
Jefri menangis dengan terus menggenggam tangan Naila erat. Dia sangat menyesali apa yang telah ia perbuat pada Naila. Hanya karena keegoisan nya, Naila terluka.
Ke esokan hari nya. Naila terbangun dari tidur nya. Dia merasakan berat pada bagian lengan nya.
"Kak Jefri" Ucap Naila lirih. Namun Jefri tidak kunjung bangun. Naila mengusap kepala Jefri untuk membangunkan nya.
Dan benar saja, Jefri yang merasakan sentuhan pada kepala nya. Jefri bangun dan dia melihat Naila yang sudah bangun juga.
"Kamu sudah bangun? Gimana ada yang tidak nyaman?" Tanya Jefri.
# Jangan lupa like vote komen dan klik tombol favorit ya kak
# selamat membaca ya kak
# terima kasih banyak
__ADS_1
😊😊😊🙏🙏🙏