
Mendengar ucapan Ivan, Maya langsung bangkit dari duduknya dan berlari keluar dari ruangan tersebut.
Sedangkan Ivan merebahkan dirinya di atas sofa dengan menutupi matanya menggunakan lengannya.
"Kenapa jantung ku berdebar seperti ini? Kenapa aku merasa aneh saat melihatnya menangis tadi?" Guman Ivan dalam hati.
Di kelas.
Nala mencari keberadaan Maya yang di bawa pergi entah kemana oleh Ivan. Tapi baru saja dia duduk dia bangkit kembali ketika melihat Maya yang berlari ke arahnya dengan air mata yang membasahi wajahnya.
"Maya kamu dari mana saja? Apa yang anak itu lakukan padamu? Kenapa kamu menangis?" Tanya Nala khawatir.
"Aku..... aku tidak apa apa Nala. Aku hanya ketakukan, dia tidak melakukan apapun pada ku" Jawab Maya sesegukan akibat menangis terlalu lama.
"Maya" Panggil Damar yang baru dengar kejadian Maya yang di bawa pergi oleh Ivan.
"Maafkan aku yang tidak menjaga kamu dengan baik Maya" Ucap Damar memeluk Maya untuk menenangkan Maya.
Mata meremas baju belakang Damar dan kembali menangis. Dia merasa lega saat berada dalam pelukan Damar.
"Nala, aku akan ajak Maya ke UKS dulu. Nanti tolong ijinkan ke guru ya" Ucap Damar.
"Iya nanti aku minta ijin ke guru" Jawab Nala.
"Ayo Maya" Ucap Damar memapak Maya keluar dari kelas untuk menuju ke UKS.
Jam istirahat telah selesai.
Ivan kembali ke kelasnya. Dia mencari keberadaan Maya namun tidak menemukan Maya.
Duack
Ivan terkena pukulan tepat di wajahnya dari Nala. Nala menatap tajam ke arah Ivan, dia menghampiri Ivan dan mencengkram kerah baju Ivan.
"Breng****k lo Van. Gue sudah bilang jangan sakiti Maya. Apa salah dia sama elo. Kenapa elo tega menyakiti dia seperti itu?" Ucap Nala marah.
"Memangnya apa yang gue lakukan ke dia? Apa dia bilang kalau gue menyentuhnya? Jangan asal bicara lo" Ucap Ivan menghempaskan tangan Nala dari kerah bajunya.
"Kalau saja elo cowok, sudah habis lo di tangan gue" Ucap Ivan lalu keluar dari kelas.
"Arght" Teriak Nala frustasi.
Ivan berjalan ke arah UKS karena pukulan dari Nala membuat bibirjya sedikit lecet. Namun saat sampai di UKS, dia melihat Maya dan Damar yang berada di dalam ruang UKS.
__ADS_1
"Maya, kamu yakin kamu nggak apa apa? Atau kita minta ijin pulang saja? Kamu pasti sangat ketakutan sekarang" Ucap Damar lembut.
"Aku sudah lebih baik kok Dam, makasih ya mamu sudah membantu ku" Ucap Maya tersenyum cantik.
Melihat senyum Maya ke pada Damar yang begitu tulus membuat Ivan merasa aneh dalam hatinya. Entah kenapa Ivan merasa marah melihat senyuman Maya itu.
"Sia***n" Ucap Ivan berbalik laku kembali keluar dari UKS.
Ivan yang bingung dengan perasaannya itu pun memilih kembali ke atap. Dia baru pertama kali merasakan hal aneh itu. Perasaanya yang berdebar saat menatap Maya. Rasa menyesal saat melihat air mata Maya serta rasa marah ketika melihat senyuman Maya kepada orang lain.
"Kenapa aku aneh seperti ini? Sebenarnya apa yang terjadi denganku?" Guman Ivan dalam hati. Ivan memegangi dadanya, dia merasakan debaran jantung yang semakin kencang ketika mengingat Maya.
"Gila gila gila. Semua ini gila" Ucap Ivan frustasi.
Ke esokan harinya.
Maya sudah lebih segar dari pada kemarin. Dia juga sudah kembali tersenyum seperti biasanya. Namun saat kedatangan Ivan dan seorang orang asing yang berada di sampingnya, senyuman Maya seketika menghilang.
"Maya jika kamu tidak nyaman, kamu boleh kok pindah tempat" Bisik Nala.
"Aku nggak papa kok Nala. Tapi maaf ya aku mau pakai handset saja" Ucap Maya.
"Iya nggak papa" Jawab Nala mengangguk. Maya tersenyum karena Nala mengertikan dirinya.
Teman Ivan yang melihat Maya merasa tertarik karena Maya sangat beda dengan teman teman lain di kelas. Apa lagi dengan rambut pirangnya membuat teman Ivan itu lebih tertarik.
"Elo berani sentuh dia gue hajar lo. Dia mainan gue" Ancam Ivan.
"Oh jadi dia cewek yang bikin elo uring uringan" Ucap teman Ivan.
Teman Ivan itu bangkit dari duduknya, dia berjalan ke arah bangku Nala yang kosong karena Nala yang sedang ke kamar mandi. Dia duduk di sebelah Maya dengan santai dan menatap Maya dengan mata genitnya.
Ivan ingin marah namun dia urungkan karena dia tidak ingin malu di depan anak anak lain. Dia tidak ingin di bicarakan karena membela Maya.
"Hai cantik" Sapa teman Ivan.
Maya yang melihat anak yang bersama dengan Ivan itu kini sudah duduk di sampingnya merasa terkejut.
"Hai jangan takut, gue cuma mau kenalan" Ucap teman Ivan.
"Gue Bimo, sianap nama lo?" Tanya anak yang bernama Bimo itu.
"Saya Maya" Jawab Maya setelah melepaskan handsetnya.
__ADS_1
"Halo Maya, semoga kita bisa jadi teman yang akur ya" Ucap Bimo. Maya hanya tersenyum dengan ucapan Bimo.
"Ah jantungku" Ucap Bimo yabg kesakitan dan membuat Maya khawatir
"Kamu nggak papa? Apa yang sakit?" Tanya Maya khawatir.
"Senyuman lo menusuk ke jantung gue" Jawab Bimo tersenyum.
Plack.
Maya memukul bahu Bimo dan tersenyum karena malu. Ivan yang melihat dan mendengar semua ucapan Bima dan perlakuan Maya membuatnya semakin marah.
Brack.
Ivan mendorong kursinya lalu berjalan keluar dari kelas.
Maya melirik ke arah punggung Ivan yang semakin menghilang.
"Sudah jangan khawatirin dia. Dia sudah besar bisa jaga diri" Ucap Bimo.
"Aku enggak khawatir sama dia" Jawab Maya.
"Bukannya kamu berteman dengan dia?" Tanya Maya.
"Iya, dia sahabat gue dari kecil. Tapi ya memang begitu lah sikapnya yang sok cool" Ucap Bimo.
"Ya sudah, gue cabut dulu. Bay Maya" Ucap Bimo bangkit dari duduknya dan melambaikan tangannya pada Maya. Maya tersenyum dan mengangguk.
"Aduh Maya senyuman lo itu loh bikin mabuk" Ucap Bimo lagi.
Maya semakin tersenyum dan malu dengan ucapan Bimo yang di dengar anak anak sekelasnya. Nala yang mendengar pun merasa jijik apa lagi dia baru pertaman kali ini melihat anak itu.
"Dia siapa May?" Tanya Nala yang baru duduk ke bangkunya sendiri.
"Bimo temannya Ivan" Jawab Maya.
"Ngapain dia di sini? Kamu nggak di apa apain kan sama dia?" Tanya Nala khawatir.
"Aku nggak papa kok La. Dia anak yang hangat jauh berbeda dengan temannya itu yang seperti monster" Ucap Maya.
"Hahahaha aku suka sebutan kamu untuk Ivan" Ucap Nala tertawa. Maya ikut tersenyum mendengar Nala yang kegirangan.
# Terima kasih banyak
__ADS_1
# Selamat membaca ya kak
😊😊😊🙏🙏🙏