
"Shiren? Sedang apa kamu di sini?!" Tanya Helena yang baru saja memarkirkan mobilnya di garasi rumah Bisma.
Shiren sedikit terkejut kemudian tak lama setelahnya dia menyunggingkan senyumannya "Kak Helen...Apa kabar?!".
"Aku baik-baik saja, bagaimana denganmu?!" Balas Helena sambil berjalan mendekati Shiren.
"Iya aku juga baik-baik saja Kak, kalau begitu aku permisi dulu ya Kak...Aku lagi buru-buru soalnya!" Ujar Shiren sambil berjalan ke arah mobilnya.
"Eh tunggu dulu, kau mau kemana?" Tanya Helena penasaran.
"Itu...Aku masih ada urusan Kak" Sahut Shiren yang kemudian masuk ke dalam mobilnya lalu pergi dengan tergesa-gesa.
Ada apa dengan anak itu? Kenapa dia buru-buru sekali?! Gumam Helena dalam hati.
Ketika Helena masuk, dia tampak senang karena melihat Yuri dan juga Bisma sedang bercanda gurau sambil membalas senyum yang terus saja terlihat dari keduanya hingga mereka tidak menyadari kehadiran dirinya.
"Wah...Kalau lihat kaya gini harus cepat-cepat segera di halalin nih!!" Seru Helena sambil menggelengkan kepalanya.
"Oh Kak Helena?!" Yuri langsung beranjak dari duduknya.
Bisma melihat ke arah Helena dengan wajah dinginnya "Ada apa kau ke sini?!".
"Eh sopan dikit sama Kakak mu ini!" Ucap Helena yang kemudian duduk di samping Bisma sambil melipat kedua tangan di dadanya.
Melihat tingkah keduanya Yuri hanya menyunggingkan senyuman sambil kembali terduduk di tempatnya semula.
"Oh iya Yuri apa kau tidak apa-apa?" Sapa Helena pada Yuri.
"Tidak apa-apa? Memang aku kenapa?!" Tanya Yuri pada Helena.
"Kemarin kan kamu mabuk Yuri, masa gak ingat?!" Balas Helena sambil menatap Yuri.
"Oh itu...Aku gapapa kok Kak, hanya saja kepalaku masih sedikit pusing saja!" Tegasnya.
"Syukurlah kalau begitu, kamu gak udah khawatir nanti kalau sudah terbiasa kepala mu pasti gak bakalan sakit kok" Jelas Helena sedikit menggoda Bisma.
Bisma langsung melirik tajam ke arah Helena "Apa maksud mu?!!".
"Hehe...Tenang Bis aku cuman bercanda kok jangan di anggap serius" Helena sedikit menciut tak kala melihat wajah jutek Bisma.
Sementara itu di dalam mobil tampak terlihat wajah Shiren sedikit resah dan juga gelisah setelah melihat kedekatan Bisma dan Yuri tadi, entah kenapa ketika dia mengingatnya dadanya serasa sesak dan juga sakit hingga tak terasa sudut matanya basah dengan hidung yang perlahan mulai memerah.
"Bagaimana Bisa aku di kalahkan oleh orang yang hanya baru beberapa bulan di kenal olehnya? Apa dia benar-benar menutup hatinya untukku?" Ucap Shiren sambil menangis tersedu-sedu dan menghentikan mobilnya di bahu jalan.
***
Sore harinya Yuri tiba di rumah tanpa di antar oleh Bisma karena takut kedua orangtuanya curiga kalau dia semalam telah tidur di rumah Bisma, walaupun kedua orangtuanya telah mengetahui hubungan dirinya dengan Bisma bukan berarti dia ingin memanfaatkan semua keadaan ini agar bisa terus bersama dengan Bisma.
"Assalamualaikum..." Yuri masuk ke rumah sambil melepas helem.
__ADS_1
"Waalaikumsalam..." Sahut kedua Orangtuanya Yuri bersamaan.
"Gimana acara Kakaknya Nak Bisma lancar?!" Tanya Mamah Yuri sambil menyeruput secangkir teh hangat.
Yuri terdiam sejenak karena merasa tidak enak telah berbohong pada Orangtuanya " Iya...Lancar kok Mah. Yuri masuk dulu ke kamar ya Mah, Pah!".
Yuri berjalan ke arah kamarnya kemudian langsung merebahkan badannya di atas tempat tidur sambil memeluk boneka kesayangannya.
"Hah...Kepalaku masih pusing" Keluh Yuri sambil memijit pelan kepalanya.
Namun tak lama setelah Yuri ingin memejamkan matanya, tiba-tiba HP nya berbunyi dan langsung membuat Yuri terperanjat.
"Halo?" Jawab Yuri.
"Halo sayang!!" Ucap Bisma dari sebrang telepon.
"Ada apa kau meneleponku?" Tanya Yuri penasaran.
"Kenapa? Apa aku tidak boleh menelepon pacarku?" Sahut Bisma.
Yuri menggelengkan kepalanya "Tidak...Bukan begitu, hanya saja tumben kau meneleponku padahal dari tadi kan kita udah ketemu".
"Hem..Sepertinya aku masih merindukanmu!" Tegas Bisma.
"Dasar tukang gombal" Sambung Yuri sambil tersenyum.
"Benarkah?" Yuri ingin memastikan.
"Tentu saja, untuk apa aku bohong padamu".
" Baiklah...Aku percaya padamu" Ungkap Yuri yang kemudian kembali membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Jam berapa kau sampai di rumah?".
"Belum lama kok...Kau sedang apa sekarang?!" Lanjut Yuri sambil tersenyum.
"Aku sedang memikirkan mu".
Yuri mengerutkan alisnya " Memikirkan Ku? Memang apa yang kau pikirkan tentangku?".
"Aku takut kau meninggalkanku!" Jawab Bisma sambil menghela nafas panjang.
Mendengar ucapan Bisma barusan, membuat Yuri terdiam sejenak lalu menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong seperti tengah menerka-nerka apa yang akan Bisma katakan selanjutnya.
"Bisakah aku meminta satu permintaan saja padamu?" Sambung Bisma kemudian.
"Permintaan apa?" Yuri memiringkan tubuhnya kemudian memeluk boneka kesayangannya.
"Berjanjilah....Apapun yang terjadi jangan pernah kau meninggalkanku!" Ucap Bisma dengan dalam.
__ADS_1
"Kenapa kau bicara seperti itu?!" Yuri beranjak dari tidurnya.
"Aku mohon berjanjilah!!" Tegas Bisma.
Yuri terdiam lalu menghembuskan nafasnya "Iya...Aku berjanji tidak akan pernah meninggalkanmu!!".
Keesokan paginya setelah sampai di kampus, Yuri bergegas untuk segera masuk ke kelasnya sambil sesekali melihat-lihat buku yang tengah di pegang oleh tangannya, namun pada saat Yuri sudah masuk ke dalam kelas terlihat sebuah keributan kecil di antara beberapa temannya yang sama sekali tidak Yuri ketahui apa alasannya, hingga akhirnya sosok Intan dan Hani berjalan ke arah Yuri yang terpaku mematung melihat ke penjuru kelas.
"Yuri lo sudah tahu kabar yang lagi heboh pagi ini belum?!!" Tanya Intan sambil menunjukan sebuah kertas undangan yang terlihat sangat elegan dan juga mahal.
"Kabar apa? Dan itu undangan dari siapa?" Yuri kebingungan melihat situasi yang di lihatnya saat ini.
Intan dan Hani saling melihat kemudian memberikan undangannya pada Yuri.
"Ini..." Yuri langsung menatap ke arah Intan dan juga Hani.
Hani menganggukkan kepalanya "Iya Ri...Itu undangan pertunangannya Pak Bisma. Semua yang ada di kampus ini di undang oleh keluarga kedua mempelai untuk datang ke acaranya lusa nanti!".
"Tapi...Bagaimana bisa?" Wajah Yuri mendadak pucat dengan tangan yang perlahan mulai bergetar.
"Ya Bisalah...Mereka itu kan keluarga kaya raya!" Tegas Intan.
Kaki Yuri terasa lemas mendengar dan juga melihat kenyataan bahwa ternyata acara pertunangan Bisma dan Shiren telah di percepat oleh keluarga mereka. Hatinya terasa teramat sakit saat ini, namun dia tidak bisa menunjukan kesedihannya pada kedua sahabatnya karena pada dasarnya mereka tidak mengetahui hubungan yang sudah terjalin antara dirinya dan Bisma.
Sementara itu saat Bisma baru saja sampai di kampus dan memarkirkan mobil di tempat khusus parkiran mobil, Bisma di kejutkan dengan adanya beberapa dosen dan juga staf kampus yang tiba-tiba mengucapkan selamat sambil menyalami tangannya dan tersenyum lebar ke arahnya.
"Wah...Pak Bisma ini hebat tidak mengumbar-ngumbar pasangannya, tahu-tahu sudah mau tunangan aja. Selamat loh Pak!".
"Iya Pak...Selamat ya Pak, saya doakan semoga acaranya berjalan dengan lancar".
Bisma mengerutkan kedua alisnya sambil tersenyum bingung "Maaf Pak, Bu ini sebenarnya ada apa ya?!".
"Ah Pak Bisma jangan malu-malu begitu, kita semua sekarang sudah tahu kok" Ucap salah satu staf kampus.
"Tunggu...Tahu apa maksudnya? saya jadi bingung!!" Tanya Bisma.
Semua dosen dan juga staf kampus mendadak terdiam sambil memandang satu sama lain "Bapak serius gak tahu sama sekali dengan acara yang tertera di undangan ini?"
"Memang itu undangan apa?" Sahut Bisma.
"Ini kan acara pertunangan Bapak, lihatlah nama yang tertera di undangan ini sama persis dengan nama lengkap Bapak!" Jelas salah satu dosen sambil memperlihatkan undangannya pada Bisma.
Saat melihat undangan dengan nama dirinya yang tertera di dalamnya, sontak membuat Bisma terbelalak kaget bercampur kesal karena merasa tidak tahu apa-apa dengan semua ini.
"Ini... Kalian dapat undangan dari mana?" Wajah Bisma seketika berubah menjadi kesal.
"Undangan ini asisten Ayah anda yang memberikannya, bahkan semua siswa dan juga siswi di kampus ini sudah memilikinya".
"Apa?!!!!" Teriak Bisma dengan sorot mata yang terlihat penuh amarah.
__ADS_1