
"Ternyata benar kau di sini?!!" Ucap seorang Pria paruh baya yang langsung masuk tak kala pintu telah di bukakan oleh body guard nya.
Bisma dan juga Yuri menoleh ke arah dimana suara itu terdengar, lalu Bisma beranjak dari duduknya dengan wajah yang tidak bersahabat.
"Ayah?? Untuk apa datang ke sini?!" Tanya Bisma ketus.
"Untuk apa lagi?? Kalau bukan untuk menjenguk kekasihmu itu sekaligus menjemputmu pulang ke rumah" Tegas Ayah Bisma tak kalah ketusnya.
Yuri mendadak menegang saat melihat obrolan Bisma dengan sosok Pria paruh baya yang dia panggil Ayah di hadapannya itu.
"Aku tidak ingin pergi dari sini!!" Ujar Bisma pada Ayahnya.
"Kenapa? Apa karena Perempuan ini kau sampai tega mencampakan Shiren dan juga melawan Ayahmu?" Sahut Ayah Bisma kesal.
Yuri terhenyak ketika mendengar perkataan Ayah Bisma dan langsung tertunduk sembari mengepalkan tangannya.
"Jangan asal bicara, karena kau tidak tahu apa-apa tentang dia begitupun tentang aku!" Ucap Bisma yang mulai meninggikan nada bicaranya.
"Apa yang aku tidak tahu tentang kalian berdua?" Ayah Bisma berjalan mendekat ke arah anaknya.
"Kalian berdua ini hanya dua insan yang terjebak dengan percintaan semu saja, tidak lebih" Sambung Ayah Bisma.
Bisma dan Yuri saling bertatapan, kemudian tak lama Bisma mendekat ke Yuri lalu memegang tangannya dengan erat "Katamu cinta kami ini adalah cinta yang semu? Lihatlah akan ku buktikan bahwa cinta kami ini adalah cinta yang tulus tanpa dasar paksaan apapun!".
Yuri menatap ke arah Bisma dengan mata yang perlahan mulai berair.
"Hah...Baiklah coba kau buktikan apa yang kau sebut itu cinta tulus itu!" Tantang Ayah Bisma sambil melipatkan kedua tangannya di dada.
Bisma terdiam sejenak lalu menatap ke arah Yuri "Aku akan menikahinya hari ini juga!".
"Apa?!!" Ucap Ayah Bisma yang terkejut mendengar apa yang baru saja anaknya katakan.
"Apa yang baru saja kau bicarakan?!" Bisik Yuri yang juga kaget dengan apa yang Bisma katakan.
"Diamlah!" Balas Bisma yang semakin mengeratkan pegangannya pada tangan Yuri.
Ayah Bisma menekan ringan kepalanya karena merasa sangat tidak menyangka dengan apa yang Bisma katakan.
__ADS_1
"Jangan bercanda kamu Bisma!" Teriak Ayah Bisma yang sontak mengagetkan semua orang yang tengah berada di ruangan Yuri.
"Aku tidak bercanda!! Aku serius mengatakannya" Tegas Bisma.
Ayah Bisma terlihat geram dan mengepalkan tangannya seraya tak tahan mendengar perkataan Bisma "Ayah ke sini bukan untuk mendengar bualan mu, ayo pulang sekarang juga!!".
"Aku tidak akan kemana-mana, aku akan tetap di sini!" Balas Bisma.
"Hah...Sudahlah kalian bawa anak keras kepala itu dari sini sekarang juga!!" Teriak Ayah Bisma pada keempat body guard nya.
Mengerti dengan maksud dari Ayah Bisma, para body guard itu berjalan dengan cepat untuk membawa pulang Bisma dengan paksa.
"Tunggu dulu Tuan!" Suara Yuri perlahan memecahkan ketegangan di antara mereka semua.
Ayah Bisma langsung menatap ke arah Yuri dengan tatapan dinginnya.
"Pak Bisma bukanlah anak kecil lagi, dan perasaanku pada Pak Bisma bukanlah cinta semu Tuan! Aku benar-benar mencintainya, sangat mencintainya" Jelas Yuri.
"Dasar gadis ingusan, tahu apa kau soal cinta? Aku tahu kau mencintainya karena uang kan?!" Ceplos Ayah Yuri yang membuat Bisma sangat amat terlihat marah padanya.
Yuri segera menggelengkan kepalanya dan kembali menatap Ayah Bisma "Tidak Tuan anda salah besar, aku mencintainya tulus bukan karena uang atau bahkan karena dia anak anda. Aku mencintainya karena kepribadian baiknya yang bisa membuatku nyaman ketika berada bersamanya".
"Terserah dengan apa yang anda katakan Tuan, yang jelas apa yang baru saja aku katakan adalah sebuah kenyataan bukan tipuan apalagi rekayasa" Tegas Yuri kesal.
Bisa dan juga Ayah Bisma terdiam sejenak kemudian saling bertatapan seperti tengah memikirkan sesuatu.
"Cepat bawa dia pergi dari sini!" Suruh Ayah Bisma sambil berlalu pergi tanpa membalas perkataan Yuri dan juga memperdulikan Bisma yang sedari tadi berontak melawan body guard nya.
Melihat Bisma yang pergi di seret oleh body guard Ayahnya, Yuri hanya bisa tertunduk lesu sambil menangis sesenggukan berpikir apakah hubungannya dengan Bisma akan berakhir sampai di sini.
***
Pada malam harinya Helena datang ke rumah Ayahnya guna ingin tahu apa yang telah dia lakukan pada Bisma sampai dia harus di kurung dari tadi sore sampai malam hari ini di kamarnya.
"Ayah...Apa yang Ayah lakukan pada Bisma?" Tanya Helena kesal.
"Apa maksudmu? Ayah tak melakukan apa pun pada dia!" Tegasnya.
__ADS_1
Helena menggelengkan kepalanya kemudian mendekat ke arah Ayahnya "Ayah...Bisakah kali ini saja dengarkan dan turuti apa yang Bisma inginkan dalam hidupnya? Dia itu bukan anak kecil lagi Ayah, dia sudah dewasa Yah".
"Dewasa? Apakah menurutmu dengan menolak pertunangan yang tinggal beberapa jam lagi adalah sebuah tindakan orang dewasa?!" Selidik sang Ayah sambil menatap ke arah Helena.
"Tapi Ayah..."
"Diam...Jangan kau lanjutkan lagi perkataan mu itu, apapun yang terjadi aku akan tetap melangsungkan acaranya pertunangannya besok" Tegas Ayah Bisma sambil berlalu meninggalkan Helena
"Ah s*al" Gerutu Helena kesal
"Nona..." Sapa seseorang dari belakang Helena
Helena berbalik dan langsung menatap Asisten Ayahnya "Hah kau membuatku jantungan saja!".
"Maaf Nona kalau saya sudah mengagetkan anda, saya hanya ingin mengatakan sesuatu pada anda" Ucap sang Asisten pada Helena.
"Iya tidak apa-apa, memang apa yang ingin kau katakan?" Balas Helena.
"Ini...Masalah Tuan Bisma Nona, dari tadi sore sampai sekarang dia menolak untuk makan Nona" Jelas Asistennya.
Helena menghela nafas kesal sambil memijit pelipisnya "Baiklah...Dimana dia sekarang? Biar aku saja yang bawakan makanan untuknya".
"Baik Nona, kalau begitu saya ambilkan dulu makanannya" Ucap sang Asisten sambil menganggukkan kepalanya.
Saat Helena mendatangi Bisma di kamar, dia melihat Bisma sedang terduduk lesu sembari melihat ke luar jendela yang setengah terbuka.
"Bisma...Ini aku bawakan makanan untukmu, kau makan dulu ya?!" Sahut Helena pada Bisma.
"Tidak usah repot-repot kau bawakan makanan untukku Kak, aku tak ingin apapun!" Tegas Bisma.
Helena menatap Bisma dengan tatapan sendu lalu memberikan sebuah pelukan hangat untuk sang adik yang terlihat sangat lelah bahkan tak banyak merespon apa yang Helena katakan padanya.
"Bis...Kau harus kuat, aku yakin kau pasti bisa melalui semuanya" Helena mencoba menenangkan Bisma.
"Aku tidak bisa kuat kalau harus berpisah dari Yuri Kak, kenapa aku tak bisa memilih jalan hidupku sendiri Kak? Kenapa?!" Keluh Bisma meratapi hidupnya.
"Aku mengerti apa yang kau rasakan Bisma, hanya saja aku minta untuk saat ini saja kau jangan seperti ini, aku pun yakin kalau Yuri mengetahui mu seperti ini dia pasti tak akan senang melihatnya" Tegas Helena.
__ADS_1
Bisma menatap ke arah Helena lalu tak terasa ujung matanya sudah basah "Aku tak ingin berpisah darinya Kak, aku sangat mencintainya".