Pak Dosen I Love You

Pak Dosen I Love You
episode 105


__ADS_3

Keesokan harinya saat Yuri masih terbaring di atas ranjang pasien, Bisma dengan cekatan sudah datang untuk menemani Yuri menggantikan kedua Orangtuanya Yuri yang sudah dari semalam menunggu Yuri.


Di saat Orangtua Yuri pergi, tak lama kemudian Yuri tersadar dari tidurnya kemudian membelalakkan matanya tak kala melihat Bisma sudah berada di hadapannya.


"Kau???" Teriak Yuri dengan spontan.


"Kenapa kau kaget seperti itu?" Bisma sedikit terperanjat karena kaget.


"Aduh!!! Se...sejak kapan kau di sini?" Tanya Yuri sambil meringis kesakitan.


Melihat Yuri ingin bangun dari tidurnya dengan segera Bisma menggendong Yuri lalu menyandarkannya di bantal yang sudah Bisma tumpuk agar Bisa membuat Yuri terduduk nyaman.


"Aku sudah sedari tadi pagi di sini, memangnya kenapa ada yang salah kalau aku menemanimu?" Tanya Bisma sedikit ketus.


Yuri menggelengkan kepalanya "Tidak...Hanya saja...".


"Hanya saja apa?" Selidik Bisma sambil membawakan sarapan untuk Yuri.


"Bukankah...Seharusnya kau sibuk untuk mempersiapkan acara pertunangan mu besok?!" Lanjut Yuri sambil tertunduk lesu.


Mendengar apa yang baru saja Yuri katakan, tak urung membuat Bisma terdiam dan langsung memegang tangan Yuri dengan erat "Tolong dengarkan aku baik-baik!!".


Yuri melihat ke arah tangannya yang sudah di genggam oleh Bisma, kemudian menatap ke arah wajah Bisma dengan lekat.


"Aku tidak peduli dengan acara pertunangan itu karena pada dasarnya aku sama sekali tidak mencintai Shiren, kita memang dekat tetapi bukan dekat sebagai sepasang kekasih melainkan hanya sebagai sahabat tidak lebih. Dan satu hal yang perlu kamu tahu perihal undangan yang sudah tersebar di kampus, aku sama sekali tidak tahu menahu soal itu karena yang merencanakan itu semua adalah Ayahku!!" Jelas Bisma dengan panjang lebar.


"Lalu...Bagaimana dengan Shiren? Kau pasti tahu kan kalau dia memiliki perasaan padamu?!" Balas Yuri.


"Aku tahu...Tapi aku tidak bisa membalas perasaannya karena satu-satunya perempuan yang aku cintai di dunia ini adalah kau Yuri!!" Tegas Bisma yang semakin mengeratkan genggamannya pada tangan Yuri.


"Apa kau serius dengan semua ucapan mu itu?" Tanya Yuri seraya ingin memastikan.


Bisma menganggukkan kepalanya "Tentu saja serius, bahkan sangat serius!".


"Lalu bagaimana dengan acara pertunangannya besok dan juga Ayahmu?!" Wajah Yuri terlihat sangat khawatir.


"Kamu tidak usah khawatir...Aku akan bicara nanti pada Ayahku, sekarang lebih baik kau sarapan dulu agar bisa segera meminum obatmu yang tadi sudah di berikan oleh suster" Ucap Bisma sambil menyuapkan makanan pada Yuri.


***


Siang harinya Hani, Sela, Seli dan juga Intan sudah tiba di rumah sakit dengan membawakan beberapa bingkisan makanan untuk Yuri, dengan segera mereka datang ke resepsionis untuk menanyakan dimana ruangan Yuri berada.


Setelah tak lama mereka mendapatkan info tentang ruangan Yuri, dengan segera mereka pergi dengan setengah berlari karena ingin segera mengetahui bagaimana kondisi terkini dari Yuri.


"Wah ruangannya besar sekali ya?" Ucap Intan sambil celingukan melihat ke kanan dan kiri.


"Iya...Terus ngomong Tan tadi kamar Yuri no berapa ya?" Tanya Hani sambil menepuk pundak Intan.


"Oh iya gw hampir lupa, tadi susternya bilang kamar Yuri ada di no tujuh" Sambung Intan.


Sela dan Seli langsung melihat-lihat nomor yang tertera di pintu kamar kemudian langsung masuk begitu menemukan nomor kamar Yuri "Nah itu dia kamar nomor 7!!".


"Wah benar...Ternyata kau pintar sekali Seli" Goda Intan sambil tersenyum.


"Eh gw gak sebodoh itu kali Tan!" Tegas Seli sambil mengerucutkan bibirnya yang sontak membuat gelak tawa di antara mereka semua sampai-sampai terdengar samar oleh Yuri dari dalam kamarnya.


Begitu mendengar suara yang tak asing mendekat ke arah kamarnya, dengan segera Yuri menarik tangan Bisma untuk memberi tahu Bisma kalau ada seseorang yang akan masuk ke kamarnya dan segera menyuruh Bisma agar secepatnya mencari tempat untuk bersembunyi.


"Pak...Sepertinya aku mendengar suara yang akan semakin mendekat ke arah sini" Ucap Yuri mastikan.


"Suara apa? Aku sama sekali tidak dengar" Sahut Bisma sambil menyimpan piring bekas makan Yuri ke meja.

__ADS_1


"Aku serius Pak, dari suaranya aku yakin mereka adalah teman-temanku" Jelas Yuri gugup.


"Yasudah...Gapapa, lagian apa masalahnya coba?!" Lanjut Bisma dengan cueknya.


"Ih pake nanya lagi, mereka kan tidak tahu tentang hubungan kita Pak!!" Ucap Yuri dengan kesal.


Bisma tiba-tiba terdiam kemudian kembali mendekat ke arah Yuri "Terus aku harus sembunyi dimana?".


"Tunggu...Dimana ya? Nah di bawah ranjang aku saja Pak, cepat masuk sekarang juga keburu mereka ke sini!!" Ungkap Yuri sedikit merasa tidak enak pada Bisma.


"Apa?? Serius kau menyuruhku untuk sembunyi di sana?" Bisma langsung membelalakkan matanya.


"Ih...Banyak nanya lagi, cepetan masuk!!" Tegas Bisma sambil sedikit menarik tangan Bisma untuk segera masuk ke dalam.


Tak lama setelahnya pintu terbuka dan benar saja, ternyata semua sahabatnya datang untuk menjenguk Yuri dan langsung menghambur ke arah Yuri untuk segera memeluknya.


"Aiiih...Yuri lo kenapa bisa sampai kaya gini sih?!!" Ungkap Intan sambil memeluk Yuri.


"Aduh...Pelan-pelan Tan, badan gw masih pada sakit!!" Seru Yuri sambil meringis kesakitan karena ada beberapa tubuhnya yang sakit terpegang oleh Intan.


"Oh iya maaf Yuri gw gak sengaja" Sahut Intan dengan wajah kagetnya.


"Ah elu bikin Yuri tambah sakit aja kan tuh" Cela Seli sambil sedikit menjitak kepala Intan dengan pelan.


"Iya maaf deh...Gw lupa, abisnya gw khawatir banget sih sama keadaannya si Yuri!" Tegas Intan.


"Sudah...Sudah...Kita kan ke sini niatnya buat jengukin Yuri bukan bikin onar!" Tegas Hani merasa tak enak pada Yuri.


Yuri tersenyum lebar sambil membalas pelukan hangat dari para sahabatnya "Gapapa Han, btw makasih banget ya kalian udah pada nyempetin buat nengokin aku ke sini!".


"Sama-sama Yuri, oh iya gimana keadaanmu sekarang?" Tanya Hani mewakili teman-temannya.


"Yah gini aja Han, badanku pada sakit semua" Jelas Yuri dengan singkat.


Yuri menggelengkan kepalanya "Sepertinya tidak, luka di kaki dan juga di keningku ini terjadi karena gesekan aspal saja".


"Oh syukurlah kalau begitu...Iya hampir saja lupa, nih kita bawain makanan buat lo!" Intan menunjukan beberapa makanan yang kebetulan semuanya adalah kesukaan Yuri.


"Duh... Jadi gak enak nih udah bikin kalian repot-repot bawain makanan ke sini, padahal kalau mau kesini datang aja gak usah bawa-bawa beginian" Jelas Yuri merasa tidak enak.


"Santai aja kali Ri, kita gak merasa di repotkan kok justru kita merasa gak enak karena telat jenguk lo ke. rumah sakit!" Balas Seli.


"It's oke guys, di jenguk sama kalian aja gw udah sangat seneng banget" Seru Yuri merasa terharu.


"Bisa aja lo hehe.." Ceplos Intan sambil tersenyum senang karena melihat Yuri baik-baik saja.


Sementara itu dari bawah ranjang tempat tidur Yuri, Bisma sudah mulai merasa tidak nyaman dan ingin secepatnya keluar dari sana karena dari kejauhan melihat sosok kecoa yang perlahan berjalan ke arahnya hingga membuat Bisma khawatir sekaligus tidak nyaman di buatnya.


"S*al...Kenapa di saat seperti ini pake ada kecoa segala sih? Apakah rumah sakit ini tidak mempekerjakan petugas kebersihan di tempat ini?!!" Gerutu Bisma yang sudah tak tahan karena kecoa itu semakin mendekat ke arahnya.


"Ah...Hush..Hush..Sana pergi jauh-jauh dari hadapanku!!" Sambung Bisma sambil berbisik sedikit lebih keras karena ketakutan hingga semua orang yang tengah berada di ruangannya terbelalak kaget termasuk Yuri.


Ah ****...Aku sampai lupa kalau mereka masih ada di sini!! Gumam Bisma sambil menutup mulutnya.


"Suara apa itu?" Sahut Intan penasaran.


Yuri mulai gelagapan karena ulah Bisma "A..Apa? Gw gak dengar suara apa pun!".


"Masa sih lo gak denger? Orang jelas gitu suaranya bilang Ah gitu!" Ujar Intan sambil berjalan melihat ke sekeliling.


"Suara itu dari luar kali Tan" Yuri mencari alasan yang masuk akal.

__ADS_1


Dasar bodoh!!! Kenapa dia harus teriak seperti itu sih?! Gumam Yuri dengan jantung yang sudah berdebar kencang.


Merasa ada seseorang yang tengah berteriak tetapi pelan di dalam ruangan Yuri, Intan mulai sedikit berkeliling.


"Iya kali Tan, mungkin saja itu suara dari luar" Tambah Intan berusaha berfikir positif.


"Hem...Bisa jadi, yasudah kalau gitu Ri kita semua pulang dulu ya?! soalnya abis ini kita masih ada jadwal kuliah" Jelas Intan pada Yuri.


Bisma langsung menghela nafas sambil tersenyum lega begitu mendengar semua teman Yuri akan segera pergi dari rumah sakit.


"Loh...Kok kalian pada cepat pulang sih? Gw kan masih kangen sama kalian semua" Ucap Yuri sedikit sedih.


"Kita semua juga pengennya masih lama di sini nemenin kamu Ri, cuman gimana lagi dong kita masih ada jadwal kuliah, ini aja kita nyempetin datang ke sini di jam kosong karena kebetulan rumah sakitnya lumayan deket dari kampus" Jelas Hani sambil mengusap pundak Yuri.


"Oh gitu ya?! Duh maaf ya aku jadi merasa egois sama kalian udah nyuruh kalian tetep di sini di jam kuliah" Yuri murung karena merasa tidak enak pada semua sahabatnya.


"Gapapa Yuri santai saja" Jawab Sela.


"Yasudah kalau gitu kita semua pergi dulu ya Ri...Kamu semoga cepet sembuh ya?! Biar kita bisa kumpul lagi di kampus!" Ucap Hani menyemangati Yuri.


Yuri menganggukkan kepalanya "Iya...Makasih yah kalian udah nyempetin buat dateng ke sini!".


"Iya sama-sama Ri...kita permisi ya?!!" Ucap mereka bersamaan.


"Iya...Hati-hati di jalan ya!!" Balas Yuri sambil melambaikan tangannya.


Di rasa sudah aman, Bisma akhirnya keluar dengan wajah yang terlihat pucat dan menatap Yuri dengan wajah dinginnya.


Melihat tatapan Bisma yang sedikit mengerikan baginya, Yuri langsung tersenyum berharap Bisma bisa sedikit mencairkan wajah menakutkannya.


"Kau tidak apa-apa kan Pak?!" Tanya Yuri sedikit segan.


"Menurutmu apa aku kelihatan seperti baik-baik saja?!" Jawab Bisma ketus.


"Eum...Aku pikir tidak" Bisik Yuri sambil menundukkan kepalanya.


Melihat Yuri yang sedikit tak enak terhadapnya, Bisma langsung memalingkan wajahnya kemudian mengganti topik pembicaraan "Sudahlah...Kau sekarang istirahat saja, aku akan menunggu mu di sini sampai kedua Orangtuamu datang".


"Apa kau tidak lapar?" Yuri menatap Bisma.


"Lapar sih, tapi tenang saja aku masih bisa menahannya" Jawab Bisma sambil membuka sweater yang dia kenakan.


"Mau aku suapi tidak? Kebetulan tadi teman-temanku membawakan aku bento dan beberapa makanan" Jelas Yuri sambil memperlihatkan makanan pada Bisma.


Bisma menatap lekat dengan perut yang semakin keroncongan "Apa tidak apa-apa kalau aku memakannya?!".


"Tentu saja tidak Pak, kau kan pacarku jadi dengan senang hati aku akan membaginya denganmu!" Ungkap Yuri.


Mendengar kalimat yang baru saja keluar dari mulut Yuri, langsung membuat amarah Bisma yanga tadinya menggebu-gebu pada Yuri menjadi mencair di gantikan dengan perasaan malu namun Bisma tetap menjaga image nya agar tidak memalukan dirinya sendiri di hadapan Yuri.


"Baiklah kalau begitu...Sini biar aku makan sendiri saja gak enak kalau kau yang menyuapiku, kau kan sedang sakit" Bisma memalingkan pandangannya ke sembarang tempat dengan wajah yang sudah memerah.


Yuri menggelengkan kepalanya sambil bersiap untuk menyuapi makanan dengan sendok "Tidak apa, aku akan tetap menyuapi mu. Sini mendekat padaku".


"Sudah biar aku sendiri saja!" Bisma sedikit memaksa.


"Kalau kau tidak mendekat padaku, aku akan marah padamu!!" Tegas Yuri.


Karena tak ingin melihat Yuri marah padanya, Bisma pun akhirnya mengalah dan mendekat ke arah Yuri sambil membuka mulutnya untuk menerima suapan yang akan Yuri berikan padanya.


Sementara di luar rumah sakit tiba-tiba terlihat seseorang datang dengan seorang pria paruh baya di temani oleh beberapa lelaki yang terlihat seperti body guard dengan setelan jas lengkapnya berjalan ke arah tempat resepsionis guna ingin menanyakan dan mengetahui dimana tempat Yuri di rawat.

__ADS_1


"Kau sudah mengetahui ruangannya?" Tanya seorang Pria paruh baya pada Asistennya.


"Sudah Tuan besar... Mari kita ke sana sekarang" Jawab sang Asisten sambil menundukkan kepalanya.


__ADS_2