
Di perjalanan pulang Yuri dan Bisma saling berdiam diri tanpa berbicara sedikit pun, wajah Yuri terlihat merah padam karena merasa tidak enak dengan Bisma.
"Sampai kapan kau akan diam seperti itu?" Selidik Bisma dengan wajah dinginnya.
Yuri perlahan melihat ke arah Bisma "Sendirinya aja dari tadi diam saja".
"Kenapa harus aku yang bertanya padamu? Tidakkah kau ingin membicarakan sesuatu terkait kejadian semalam?!" Ujar Bisma dengan ketus.
"Ah...Itu semalam aku tidak sengaja Pak" Ucap Yuri ragu.
"Tidak sengaja apa?" Sindir Bisma dengan senyum sinis nya.
Yuri kembali membalikan kepalanya ke arah luar jendela sambil menutup matanya karena merasa malu.
Setelah terjadi beberapa percakapan yang singkat, akhirnya mereka tiba di rumah Yuri. Namun pada saat mereka berdua tiba di depan rumah Yuri, Bisma tidak langsung turun dan tetap berada di dalam mobil dengan wajah yang masih dingin tanpa sedikit pun melihat ke arah Yuri.
"Terimakasih sudah bersedia mengantarkan saya pulang" Ucap Yuri ragu.
Bisma masih tidak menatap ke arah Yuri dan hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban untuk ucapan Yuri.
Yuri kembali menatap ke arah Bisma "Ba...Bapak tidak mau mampir dulu ke rumah?!".
Dengan perasaan yang sedikit kesal Bisma akhirnya menatap ke arah Yuri kemudian menatapnya dengan tatapan tajam.
"Bukankah kau pernah bilang padaku jangan sekali-kali lagi datang ke rumahmu?" Sindir Bisma sedikit menusuk Yuri.
Yuri membelalakkan matanya karena merasa tidak percaya dengan Bisma yang masih mengingat semua perkataan kasar Yuri.
"Itu...Itu kan dulu Pak, kalau sekarang...." Mendadak Yuri menghentikan ucapannya.
"Kalau sekarang apa? Kenapa kau tidak meneruskan ucapan mu?".
Yuri menundukkan kepalanya sambil memainkan jari jemarinya karena merasa tidak enak dengan ucapannya dulu pada Bisma.
"Aku minta maaf karena sudah berkata kasar padamu, dulu aku tidak bermaksud untuk bicara kasar padamu, karena dulu mood ku sedang buruk jadi tanpa sengaja aku melampiaskannya padamu!" Jelas Yuri.
"Terus?" Lanjut Bisma.
Yuri melihat ke arah Bisma dengan wajah yang sudah berkeringat "Gak ada terusan nya Pak".
Bisma menggelengkan kepalanya sambil menghela nafas panjang "Sudahlah, kau bisa turun sekarang".
"Tapi Pak...." Yuri sedikit menyela pembicaraan Bisma.
"Tapi apa lagi?!" Tegas Bisma.
__ADS_1
Mendengar Bisma sedikit menekankan ucapannya, Yuri terperanjat kemudian sesaat setelah itu dengan tergesa-gesa Yuri pun turun dari mobil Bisma dan langsung masuk ke dalam rumah tanpa melihat kembali ke arah Bisma.
.
.
Saat tiba di rumah Yuri langsung pergi ke kamarnya dan merebahkan dirinya di atas kasur. Selama di dalam kamar Yuri hanya terdiam sambil tengah memikirkan sesuatu yang tengah terjadi antara dirinya dan Bisma.
Apa yang sedang aku pikirkan? Kenapa aku selalu saja memikirkan Pak Bisma?! Gumam Yuri dalam hatinya.
Sementara itu dari lain tempat Bisma masih fokus menyetir mobilnya sambil sesekali mengingat kejadian semalam yang terjadi antara dirinya dan Yuri.
\=\=> Flashback
"Bukankah kau tidak peduli padaku? Kenapa saat ini kau menolongku Hah?!" Gerutu Yuri sambil memukul dada Bisma.
"Kau selalu saja membuatku berdebar, dan kau selalu saja memberikan harapan palsu padaku sampai-sampai aku merasakan perasaan yang berbeda padamu" Sambung Yuri setengah sadar.
"Diamlah dan jangan banyak bicara, kita akan pulang sekarang" Tegas Bisma.
"Aku tidak ingin pulang, Aku masih ingin disini menemani Pak Bisma" Lanjut Yuri.
Bisma terdiam dan melihat ke arah Yuri "Kau sudah menemaniku saat ini, jadi ayo kita pulang sekarang!".
"Kumohon diamlah, kita masuk ke mobil sekarang" Ungkap Bisma.
Namun pada saat Bisma akan memasukan Yuri ke dalam mobil, tiba-tiba Yuri merangkul leher Bisma sambil menariknya hingga akhirnya dengan sangat mengejutkan Yuri m**c*m b***r Bisma hingga dia terperanjat dan membelalakkan matanya.
.
.
Setelah mengingat kejadian semalam Bisma masih menatap dingin sekitaran jalan raya yang terlihat lengang lalu tak lama kemudian Bisma menepikan mobilnya dan menyandarkan dirinya di kursi mobil sambil menutup mata untuk menenangkan pikirannya.
Sampai kapan aku harus menahan perasaan ini padanya? Sungguh sangat menyusahkan!! Gumam Bisma.
***
Keesokan harinya Yuri terbangun pagi-pagi sekali dan langsung pergi ke dapur setelah menyelesaikan sholat subuh nya.
Setibanya di dapur Yuri langsung menyiapkan sarapan pagi untuk kedua Orangtuanya sebelum dia bersiap pergi ke Surabaya.
"Selamat pagi Nak" Sambut Mama Yuri.
"Kemarin kamu pulang jam berapa Nak? Mama sama Papa kok gak tau kamu pulang?" Lanjut Mama Yuri.
__ADS_1
"Kemarin Yuri pulang siang kok Ma, cuman kemarin pas aku pulang Mama sama Papa udah berangkat ke toko" Balas Yuri.
"Tapi saat kami pulang, kenapa kamu masih tidak keliatan juga?" Tanya Papa Yuri.
"Hehe...Aku ketiduran abis sholat isya Pa, jadi sekarang aku bangun kepagian deh" Sahut Yuri sambil tersenyum malu.
Mendengar perkataan Yuri Papa nya hanya menggelengkan kepalanya sambil terlihat senyum kecil di wajahnya
"Hari ini kamu jadi pergi ke Surabaya?" Tanya Papa Yuri.
"Iya jadi Pa" Jawab Yuri sambil menganggukkan kepalanya.
"Kakak mu sudah di kasih tau kalau kamu mau ke sana sekarang?" Sela Mama Yuri.
"Sudah kok Ma, nanti kalau udah sampai di stasiun Kakak mau jemput katanya" Jelas Yuri sambil menyajikan roti bakar untuk kedua Orangtuanya.
Kedua Orangtua Yuri mengangguk tanda mengerti lalu mulai menyantap sarapan yang sudah di buatkan oleh Yuri.
Waktu sudah menunjukan pukul delapan pagi, Yuri segera bersiap pergi sambil membawa koper dan juga tas kecil di bahunya.
Mama Yuri sudah menyiapkan beberapa cemilan untuk menemani perjalanan Yuri selama di dalam kereta api agar perut anak gadisnya tidak kelaparan.
"Nak grab pesanan kamu udah ada di depan tuh" Seru Papa Yuri.
"Oh iya Pa, Yuri juga udah siap kok!" Teriak Yuri.
"Nak ingat pesan Mama ya, selama di sana jaga kesehatan kamu, jangan lupa makan, dan jangan bikin repot keluarga Kakak kamu" Jelas Mama Yuri.
Yuri menganggukkan kepala "Iya siap Bos".
Setelah berbincang sedikit dengan Mama nya, Yuri berjalan ke arah Papa nya lalu berpamitan lalu setelah itu dia segera bergegas pergi menuju grab yang sudah standby di depan rumahnya.
Saat di perjalan dari rumahnya menuju stasiun kereta api, Yuri terus saja memainkan ponsel sambil sesekali mendengarkan musik menggunakan headset yang sudah tersambung sedari tadi di ponselnya.
Namun pada saat Yuri tanpa sengaja menekan tanda panggilan masuk, mata Yuri sedikit terfokus pada layar ponselnya karena melihat kontak atas nama Dosen Killer di ponselnya yang membuat dirinya sedikit memalingkan pandangannya ke arah luar jendela dengan pikiran yang sudah memenuhi kepalanya.
.
.
.
\=\=\=> Hai teman teman... Jangan lupa untuk klik favorit , like , vote, dan komen di karya aku ya , biar karya ku bisa menjadi no 1 hehe🥰👋.
Terimakasih juga untuk semua teman teman pembaca yang sudah setia membaca karya ku dan memberikan supportnya🙏🙏 , dukungan kalian akan sangat berarti untuk perkembangan karya ku, jangan bosan untuk menunggu kelanjutan kisah Yuri ya☺☺see you🤗.
__ADS_1