
Keesokan paginya Yuri bersiap untuk pergi ke kampus dan sarapan terlebih dahulu bersama kedua orangtuanya. Saat tiba di meja makan Yuri segera mengambil selembar roti tawar kemudian dia oleskan dengan selai coklat kesukaannya.
"Duh anak Mamah Pagi ini terlihat cantik sekali, kamu mau ketemu seseorang ya?" Sahut Mamah Yuri sambil tersenyum.
"Ih Mamah sok tau deh, aku gak akan ketemu siapa-siapa Mah cuman mau ke kampus saja!" Tegas Yuri.
"Oh begitu ya?!" Sambung Mamah Yuri sedikit menggoda Yuri.
"Iya emang begitu Mah" Jawab Yuri.
"Nak sebelum kamu berangkat apa Papah boleh tanya sesuatu padamu?" Sela Papah Yuri di sela-sela sarapan paginya.
'Boleh Pah, emang Papah mau tanya apa?!" Balas Yuri.
Papah Yuri terdiam sejenak sambil menghela nafas panjang "Bagaimana hubunganmu dengan Mahendra saat ini?".
"Itu...Maaf Pah hubungan kami sudah berakhir!" Jawab Yuri sambil sedikit menundukkan kepalanya.
"Apa berakhir?!!" Kata Kedua Orangtuanya Yuri bersamaan.
"Iya Mah, Pah maaf sebelumnya kalau Yuri belum ngasih tahu kalian berdua" Ungkap Yuri merasa bersalah.
Kedua Orangtuanya Yuri saling bertatapan sambil sesekali menatap sedih anak perempuan satu-satunya itu.
"Kalau boleh tahu, apa yang menyebabkan kalian berdua bisa berpisah?".
Yuri mengangkat kepalanya secara perlahan dan sesekali mengingat kembali tentang kejadian dirinya saat berusaha menemui Mahendra di Surabaya juga mengetahui kenyataan pahit kalau ternyata dia telah mengkhianatinya selama ini, apalagi terlebih saat Mahendra bilang kepada pacar barunya bahwa dia sama sekali tidak mengena dirinya.
"Yuri?" Mamah langsung memegang tangan Yuri yang sedari tadi sedang melamun.
"Ah iya maaf Mah" Yuri langsung tersadar dari lamunannya.
"Hah...Kalau kamu belum siap menceritakan semuanya tidak apa-apa, jangan memaksakan dirimu" Sahut Papah Yuri merasa bersalah karena begitu ingin tahu tentang kejadian sebenarnya.
__ADS_1
"Iya Pah..Kalau begitu Yuri sekarang berangkat dulu ke kampus ya Mah, Pah Assalamualaikum!" Ucap Yuri sambil mencium tangan kedua Orangtuanya.
"Iya...Hati-hati di jalan pa Nak?!" Seru Papah Yuri sambil mengusap kepala anaknya dengan penuh kasih sayang.
Yuri pun menganggukkan kepalanya lalu berlalu pergi sambil menggunakan helm dan mengambil kunci motornya yang tersimpan di atas meja.
Di sepanjang perjalanan Yuri selalu saja teringat dengan perkataan dan wajah khawatir kedua Orangtuanya yang membuatnya menjadi sangat tidak tega sehingga Yuri belum bisa memberitahukan alasan yang sebenarnya.
Tak terasa Yuri pun sampai di kampus dan memarkirkan motornya di parkiran khusus motor yang juga tak jauh dari area parkiran mobil. Saat Yuri selesai memarkirkan motornya dan hendak berjalan ke area kelas tiba-tiba dari arah belakang muncul sosok seseorang yang memegang tangannya.
"Selamat pagi kekasihku!" Ucap Bisma dengan senyum indahnya.
Yuri terperanjat dan langsung melepaskan pegangan Bisma dari tangannya "Se...Selamat pagi Pak Bisma!".
"Ada apa denganmu?!" Bisma mengerutkan kedua alisnya karena merasa ada rasa kecewa saat Yuri baru saja menghempaskan tangannya.
"Ah itu..Saya..." Yuri sejenak menghentikan perkataanya begitu melihat para Mahasiswa yang perlahan mulai ramai berlalu lalang mendatangi kampus sambil melihat ke arah dirinya dan juga Bisma.
"Pak...Maaf sebelumnya saya mau permisi pamit ke kelas terlebih dahulu" Sambung Yuri langsung meninggalkan Bisma yang masih terpaku menatap dirinya.
"Ah Yuri gw kangen..." Ujar Intan sambil memeluk Yuri.
"Iya Ri...Aku juga kangen sama kamu!" Lanjut Hani yang juga memeluk Yuri.
Seketika Yuri langsung mematikan teleponnya dan membalas pelukan kedua sahabatnya itu dengan erat "Iya...Aku juga kangen sama kalian berdua!".
"Duh Ri lo kemana aja sih? Selama liburan lo gak pernah hubungi gw ataupun Hani?!" Intan langsung mencerca Yuri dengan segudang pertanyaan yang sudah mulai dia tanyakan satu persatu.
"Gw kan ke Surabaya Tan, Han , kalian kan tahu aku ke sana karena apa?!"Jelas Yuri singkat.
"Tapi masa sih lo ga bisa nyempetin sedikit saja waktu buat kasih kabar ke kita walaupun satu kata saja?!" Intan masih saja ngedumel.
Melihat Yuri yang sedikit kurang nyaman dengan sikap Intan, Hani pun berusaha menengahi dengan mengalihkan pembicaraan ke topik lain "Sudah-sudah Tan, dari pada kita terus menanyakan hal yang tidak penting pada Yuri, lebih baik kita tanyakan pengalaman menyenangkan apa yang Yuri dapatkan selama di sana".
__ADS_1
Mendengar kata menyenangkan yang seketika keluar dari mulut Hani, pikiran Yuri langsung tertuju pada wajah Bisma yang sekarang sudah menjadi kekasihnya itu.
Ingin aku mengatakan pada mereka berdua kalau aku dan Pak Bisma ini sudah jadian, tetapi aku sama sekali belum punya keberanian untuk mengatakan semuanya pada mereka. Gumam Yuri sambil mengepalkan tangannya.
"Yuri kenapa kamu ngelamun?!" Tanya Hani heran.
"Iya?? Aku tidak apa-apa kok Han, kalau begitu ayo sekarang kita masuk saja ke kelas!" Balas Yuri sambil menarik tangan kedua sahabatnya itu.
Selama di kelas Yuri beserta kedua sahabatnya itu berbincang dan juga ngobrol-ngobrol ringan untuk melepas rindu dengan teman-teman lain yang ada di sekelasnya, akan tetapi pada saat mereka masih asik dengan kegiatan mereka masing-masing, ketua kelas langsung menyiapkan mereka semua karena Bisma sudah mulai berjalan mendekat ke arah kelasnya.
Yuri langsung berlari dan sambil memilih tempat duduk dari belakang agar tidak terlalu bertatapan dengan Bisma yang akan membuat semua teman-temannya mengetahui hubungan yang sebenarnya dengan Bisma.
"Halo...Selamat pagi semuanya!" Bisma sudah masuk kelas kemudian menyapa semua murid-muridnya dengan santai.
"Selamat pagi juga Pak" Semua murid membalas sapaan Bisma termasuk Hani dan Juga Intan.
Semua murid-murid terutama perempuan terlihat begitu senang saat bisa melihat Bisma kembali yang semakin tampan dari sebelumnya.
"Hey lihat deh Pak Bisma makin tampan yah, apalagi kalau dengan setelan kemeja putih begitu sangat terlihat rupawan sekali!".
"Iya...Aku sangat suka sekali dengan Pak Bisma".
"Ah iya aku juga , apakah dia sudah punya pacar?"
"Iya aku juga tidak akan menolak kalau dia mau menjadi pacarku"
"Ah gila...Itu tidak mungkin seleranya pasti sangat tinggi sekali"
Begitulah suara bisikan-bisikan para siswi perempuan yang begitu terdengar tajam ke telinga Yuri hingga mereka tidak menyadari kalau sedari tadi Yuri tengah mengumpat mereka karena saking kesalnya.
Apa katanya? Menjadikan Pak Bisma itu pacarnya?! Enak sekali mereka ngomong seperti itu!! Asal kalian tahu saja ya pacarnya itu adalah aku...Yuri!. Gumam Yuri sambil mengerucutkan bibirnya.
Sementara itu setelah Bisma sedikit memberikan obrolan ringan pada semua muridnya sebelum pembelajaran di mulai, perlahan Bisma kembali fokus membuka absensi kelas lalu memulai mengabsen semua muridnya satu persatu hingga akhirnya dia menatap sejenak saat melihat nama yang tertera di absen selanjutnya lalu mulai menyebutkan namanya dan langsung terfokus pada wajah Yuri yang tengah duduk di tempat paling belakang guna menghindarinya.
__ADS_1
"Yuri!!" Ucap Bisma sambil menatap fokus pada Yuri.