
"Hey...Kau jangan coba-coba melakukan tindakan kurang a**r ya, kalau sampai kau berani melakukan itu aku akan....." Yuri menghentikan ucapannya ketika melihat tatapan sayu Bisma.
Saat melihat Yuri tengah menatap dirinya, Bisma menundukkan kepala lalu menghela nafas panjang kemudian mulai melangkah mundur untuk sedikit menjauhi Yuri.
"Tolong....Jangan seperti ini padaku" Ucap Bisma pelan.
Yuri melihat Bisma dengan posisi masih berjaga takutnya Bisma akan melakukan hal yang tidak-tidak padanya.
"Apa yang Bapak maksud?" Tanya Yuri.
Bisma yang mengetahui Yuri masih takut padanya hanya biss tersenyum satir di barengi perasaan bersalah karena sikapnya telah membuat Yuri semakin takut padanya.
"Aku...Tidak ingin terus seperti ini dengan mu" Jelas Bisma.
"Kamu tidak punya hak untuk mengatur apa yang aku lakukan" Yuri bicara dengan sinis.
Bisma membalikan badannya lalu berjalan ke arah jendela dekat meja kerjanya dan melihat pemandangan di luar jendela sambil melihat bayangan Yuri dari pantulan kaca.
"Memang aku tak punya hak atas semua hal yang berkaitan denganmu, hanya saja..." Bisma berbalik melihat Yuri dan terdiam sejenak.
"Aku tidak sanggup melihatmu seperti ini padaku" Sambung Bisma.
Yuri membelalakkan matanya tak kala mendengar seorang Bisma Putra Santoso mengatakan sesuatu yang sepertinya sangat mustahil untuk dikatakannya.
Bisma kembali berjalan mendekati Yuri lalu mengusap kepala Yuri dengan lembut "Bisakah kita baikan mulai sekarang?".
Yuri sedikit terkejut dengan perlakuan Bisma yang tidak seperti biasanya, jantung Yuri kembali berdebar kencang saat melihat senyum khas Bisma dan reflek menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan apa yang baru saja di katakan Bisma.
Ah...Kenapa aku langsung begitu saja setuju dengan apa yang dikatakannya? Terlebih ada perasaan senang apa ini?! Gumam Yuri.
Ah...Kenapa aku terkesan seperti mengemis-ngemis seperti ini? Ada apa denganmu Bisma?!! Gumam Bisma.
Saat mereka sama-sama sibuk dengan pikirannya, tiba-tiba pipi mereka berdua berubah sedikit memerah, untuk menghindari perhatian Yuri Bisma kembali memalingkan pandangannya ke luar jendela begitupun Yuri yang memalingkan wajahnya ke sembarang tempat.
Namun saat Yuri tak sengaja melihat dinding di salah satu sudut ruangan Bisma, matanya langsung terfokus pada salah satu noda merah yang terlihat sudah mengering.
"Itu...Noda merah bekas apa?" Tanya Yuri penasaran.
Bisma langsung melirik tembok dan melihat kikuk ke arah Yuri "Itu...Itu hanya bekas saus, aku tak sengaja menumpahkan saus kemarin".
Yuri memicingkan matanya " Benarkah?".
Bisma hanya mengangguk dan langsung berpikir untuk mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Tak terasa besok sudah ujian, apa kamu sudah siap dan belajar dengan cukup giat?" Kata Bisma sedikit gugup.
"Tentu saja , aku sudah sangat siap" Ucap Yuri sambil mengangguk.
Bisma tersenyum lega "Syukurlah kalau begitu".
"Em...Ngomong-ngomong kau menarik ku kesini hanya untuk membicarakan hal ini saja?" Sambung Yuri dengan wajah polosnya.
Bisma mengangkat satu alisnya "Kau pikir aku akan melakukan apa padamu?".
"Kau jangan salah paham ya, aku hanya bertanya saja karena tadi kau sempat menyeret ku, aku pikir kau akan...." Mendadak Yuri melotot dan langsung menutup mulutnya karena menyadari ucapannya sudah tidak terkontrol.
Bisma kembali mendekati Yuri "Aku akan apa?".
"Itu...Maksudku" Yuri mendadak gugup saat di tanyai oleh Bisma.
Bisma tersenyum sambil sedikit menyentil Yuri pelan "Kamu tenang saja aku tidak akan membuatmu terluka lagi, kejadian kemarin aku anggap sebagai teguran untukku".
"Ih...Gak usah sambil menyentil gitu bisa kan?!" Gerutu Yuri sambil memegang keningnya.
Bisma merasa gemas melihat tingkah Yuri hingga dia merasakan debaran jantungnya semakin berdegup kencang, untuk mengalihkan perasaanya yang sudah tak karuan Bisma mencoba berjalan ke arah pintu lalu membuka kuncinya dan kembali berjalan ke meja kerjanya.
Melihat Bisma telah membuka kunci pintu ruangannya, membuat Yuri bisa tersenyum lega karena akhirnya hal buruk yang tadi sempat terlintas dipikirkannya tidak terjadi.
Beberapa saat kemudian Yuri memberanikan diri untuk berjalan ke arah Bisma "Pak...Saya boleh pulang sekarang kan?".
Bisma terperanjat lalu melihat jam di tangannya yang sudah menunjukan pukul dua sore.
"Kamu pulang sendiri?" Ucap Bisma.
Yuri mengangguk "Iya Pak, kenapa emang?".
"Teman-teman mu sudah pulang semua?" Sambung Bisma.
"Kayanya sih sudah pulang" Tambah Yuri.
Mendengar perkataan Yuri, Bisma hanya mengangguk lalu tak berselang lama dia mulai membereskan meja kerjanya dan mengambil tasnya lalu menarik tangan Yuri untuk bergegas keluar dari ruangannya.
Melihat tangannya kembali di tarik oleh Bisma, Yuri kembali terperanjat dan langsung menghentikan langkahnya.
"Bapak tunggu, kita mau kemana?!" Tanya Yuri kaget.
"Ya pulang lah, emang mau kemana lagi?" Jelas Bisma.
__ADS_1
Yuri melihat ke kanan dan ke kiri untuk melihat situasi takutnya ada seseorang yang melihat mereka.
"Pak lepasin dulu tanganku ga enak di lihat orang" Tegas Yuri.
Bisma melihat ke arah Yuri "Memangnya kenapa kalau mereka melihat kita?".
Astaga...Dosen satu ini pikirannya di simpan dimana sih? Masa iya dia gak ngerti alasannya kenapa? Gumam Yuri kesal.
"Ya gak enak aja Pak, nanti mereka bisa berpikir aneh tentang kita" Jelas Yuri.
Mendengar alasan Yuri Bisma mulai mengerti dengan ucapannya lalu perlahan dia melepaskan tangan Yuri.
"Baiklah, tapi apapun alasannya aku akan tetap mengantarmu pulang!!" Seru Bisma sambil berjalan meninggalkan Yuri.
Yuri hanya bisa menggelengkan kepalanya karena merasa heran dengan sikap Bisma yang selalu mendadak berubah-ubah dan terkadang membuat Yuri pusing saat memikirkannya.
***
Saat di perjalanan pulang tak banyak yang di bicarakan oleh Bisma dan Yuri, obrolan mereka hanya terfokus pada persiapan ujian untuk besok dan tentu saja sedikit obrolan tentang misi pencarian Mahendra.
"Kapan kamu akan berangkat ke Surabaya?" Tanya Bisma sambil terus fokus menyetir mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Kayanya setelah ujian , besoknya aku akan langsung pergi ke Surabaya" Jawab Yuri singkat.
Bisma sesekali melihat ke arah Yuri "Apa kedua Orangtuamu tahu kalau kamu pergi ke Surabaya untuk mencari dia?".
Yuri terdiam sejenak lalu memalingkan pandangannya ke luar jendela " Mereka tidak tahu, dan sebaiknya mereka memang tidak perlu tahu!".
Bisma terdiam dan tak melanjutkan obrolannya meskipun sebenarnya ada banyak sekali hal yang ingin dia ungkapkan pada Yuri, namun karena Bisma takut akan kembali menyakiti perasaan Yuri, akhirnya dia memilih untuk berhenti membahas soal Mahendra.
Tak terasa akhirnya mereka sampai di depan rumah Yuri, akan tetapi saat Bisma hendak membuka sabuk pengaman dia melihat Yuri tengah tertidur pulas sambil memegang buku pelajarannya yang sempat dia lihat saat perjalanan pulang tadi. Senyumnya kembali tersimpul dari bibir tipisnya sambil sesekali Bisma membenarkan rambut Yuri yang menghalangi wajah cantiknya.
Dasar gadis ceroboh...Kenapa saat tertidur seperti ini pun dia masih saja terlihat cantik!!! Gumam Bisma sambil tersenyum.
.
.
.
\=\=\=> Hai teman teman... Jangan lupa untuk klik favorit , like , vote, dan komen di karya aku ya , biar karya ku bisa menjadi no 1 hehe🥰👋.
Terimakasih juga untuk semua teman teman pembaca yang sudah setia membaca karya ku dan memberikan supportnya🙏🙏 , dukungan kalian akan sangat berarti untuk perkembangan karya ku, jangan bosan untuk menunggu kelanjutan kisah Yuri ya☺☺see you🤗.
__ADS_1