Pak Dosen I Love You

Pak Dosen I Love You
episode 103


__ADS_3

Dengan segera Bisma bergegas pergi masuk kembali ke dalam mobilnya meninggalkan dosen dan juga staf begitu saja yang sedari tadi memperhatikan tingkah aneh Bisma, sementara itu dalam perjalanan Bisma mengemudikan mobil dengan cepat menuju kantor Ayahnya seraya menanyakan apa maksud dari semua tindakannya kali kini yang menurutnya sudah amat keterlaluan karena sudah berani mengambil keputusan tanpa sepengetahuan dirinya.


Sedangkan di dalam kelas saat teman-teman sekelasnya masih saja heboh membahas soal pertunangan Bisma, Yuri hanya bisa duduk terdiam sambil memperhatikan undangan pertunangan Bisma dan juga Shiren yang sedari tadi dia pegang dengan tangan yang masih saja bergetar karena masih terkejut dan tak percaya dengan apa yang di lihatnya saat ini. Dalam pikirannya ingin sekali Yuri berteriak ketika melihat dan mendengar mereka semua yang masih ramai membahas Bisma dan juga calon tunangannya, kalau sebenarnya dia lah yang yang saat ini sedang menjalin hubungan bersama Bisma bukan Shiren.


Melihat Yuri yang sedari tadi hanya terdiam dan tak bergeming dari duduknya, Hani kemudian datang menghampiri Yuri untuk mengetahui apa yang tengah di pikirkan nya saat ini.


"Yuri?" Sapa Hani sambil menepuk pundak Yuri dengan lembut.


Yuri menoleh ke arah Hani dengan raut wajah yang terlihat sangat sedih.


"Kamu kenapa Ri?" Tanya Hani khawatir.


"Aku...Aku tidak apa-apa Han" Jawab Yuri yang tak lama kemudian memalingkan wajahnya kembali menatap undangan di tangannya.


"Jangan bohong! Aku tahu kalau saat ini kamu sedang memikirkan sesuatu. Lihatlah aku, jangan pernah sungkan kalau ada apa-apa kamu bisa bicara padaku!" Tegas Hani.


"Han...Aku ingin bicara sesuatu padamu tapi tidak di sini" Ujar Yuri sambil menatap Hani.


Hani menganggukkan kepalanya seperti mengerti akan maksud dari omongan Yuri "Yasudah, nanti setelah perkuliahan hari ini selesai kita ke kosan aku saja ya?! Biar kita bisa bicara lebih leluasa".


"Iya Han" Jawab Yuri singkat sambil menganggukkan kepalanya.


***


Sesampainya Bisma di kantor Ayahnya, dengan cepat dia berlari menuju ruangan Ayahnya tanpa meminta izin terlebih dahulu pada Asisten dan juga sekertaris Ayahnya yang sedari tadi mengejar Bisma agar tidak mengganggu pekerjaan yang saat ini sedang di tangani oleh Ayah Bisma bersama beberapa rekan bisnisnya.


"Tuan...Tunggu dulu sebentar!" Lerai Asisten Ayah Bisma yang sudah setengah kelelahan karena mengejar Bisma.


Bisma tetap saja mengacuhkan Asisten Ayahnya dan masih berjalan menuju ke ruangan Ayahnya.


"Tu...Tuan tunggu!!" Tegas sang Asisten dengan penuh penekanan.


"Diam kau!!!" Teriak Bisma yang sontak membuat siapa saja mendengarnya akan langsung terdiam.


"Jangan pernah melarang ku untuk bertemu dengan Ayahku sendiri, kau mengerti?!!" Sambung Bisma dengan wajah yang sudah di penuhi amarah.


"Ta...Tapi tuan.." Tiba-tiba Asisten Ayahnya menghentikan ucapannya tak kala melihat Ayah Bisma keluar dari ruangannya.


"Ada apa ini? Kenapa berisik sekali?!!" Tanya Ayah Bisma


Bisma langsung menoleh ke arah Ayahnya begitu mendengar suara dengan sangat jelas dengan tatapan tajamnya.


"Baguslah...Akhirnya kau keluar juga!!!" Tegas Bisma.


"Hah...Ada apa kau ke sini Nak?!" Tanya Ayah Bisma sambil menghela nafas panjang.


"Apa aku harus mengatakannya disini? Di depan semua karyawan mu?!" Balas Bisma dengan senyuman dinginnya.


Ayah Bisma sejenak menutup matanya lalu melambaikan tangannya pada Bisma tanda agar dia mengikutinya ke dalam ruangan pribadinya, di ikuti oleh Bisma yang langsung mengerti dengan kode yang di berikan oleh Ayahnya.


"Duduklah" Ucap Ayahnya sambil merebahkan dirinya di atas sofa dan menatap Bisma.


"Tak perlu seramah itu padaku, aku tak ingin basa basi lagi karena alasanku ke sini ingin tahu apa alasanmu sebenarnya dengan mempercepat acara pertunangan yang bahkan aku sendiri tidak menginginkannya?!" Sahut Bisma dengan ketus.


Ayah Bisma tiba-tiba tersenyum tak kala mendengar perkataan Bisma "Jadi kau ke sini karena alasan itu? Bukankah bagus kalau acara pertunangan kalian bisa di percepat?".

__ADS_1


"Apa maksudmu?!" Tanya Bisma dengan penuh penekanan.


"Sudahlah...Jangan mempersulit suasana, lebih baik kau pulang saja dan persiapkanlah dirimu di acara pertunangan lusa nanti" Sahut Ayah Bisma sambil beranjak dari duduknya dan melangkah pergi hendak meninggalkan Bisma.


"Kaulah yang mempersulit suasana...Sudah kubilang kan aku tidak menginginkan perjodohan ini!!" Teriak Bisma sambil memukulkan tangannya ke dinding dengan sangat keras sampai tangannya mengeluarkan darah.


Melihat tindakan anaknya yang kesal hingga memukulkan tangannya ke dinding membuat Ayahnya seketika terdiam mematung menatap Bisma.


"Kau melakukan ini karena gadis itu?" Selidik Ayahnya sambil melangkah mendekati Bisma.


Bisma menatap ke arah Ayahnya "Bukan hanya itu, tapi juga untuk hidupku!".


"Hah...Apa yang sebenarnya gadis itu lakukan padamu sampai kau berani sekali bicara seperti ini pada Ayahmu sendiri?!!" Tegas Ayah Bisma sambil menahan emosinya.


"Jaga bicara Ayah, dia tidak pernah melakukan apapun padaku!!" Balas Bisma.


"Oh...Benarkah itu? Bukankah kalian sering sekali tinggal bersama akhir-akhir ini? tidak mungkin kalau dia....".


"Hentikan semua ucapan mu itu!!" Teriak Bisma sambil berjalan mendekati Ayahnya.


Bisma kembali menatap Ayahnya dengan tatapan yang sedikit berbeda "Aku tegaskan sekali lagi, dia bukanlah perempuan yang seperti kau bayangkan. Dan satu lagi yang perlu aku tegaskan aku tidak akan pernah bertunangan dengan Shiren, karena satu-satunya perempuan yang aku cintai adalah Yuri tidak ada yang lain!".


Mendengar pembicaraan yang terjadi antara Ayah dan Anaknya di dalam sana, seketika membuat perasaan Shiren yang sedari tadi mendengarkannya dari luar sakit dan tak karuan. Apalagi mendengar Bisma yang begitu tegas menolak perjodohan dengan dirinya seakan menegaskan betapa besar cintanya pada Yuri.


.


.


Setelah perkuliahan selesai Yuri beserta kedua sahabatnya pulang bersama dengan perasaan penasaran dimana dan bagaimana Bisma sekarang, karena di pelajaran pertama yang seharusnya di jadwalkan untuk mata pelajaran yang Bisma ajarkan tidak jadi dan gantikan oleh pelajaran lainnya di karenakan Bisma sedang berhalangan hadir karena ada urusan yang sangat mendesak yang membuat semua para siswa dan siswi di kelasnya menjadi ribut dan membicarakan Bisma tepat di hadapan Yuri.


"Wah...Hari ini Pak Bisma jadi tranding banget ya gara-gara acara pertunangannya, lagian undangan pake di sebar segala di kalangan murid lagi itukan gak penting juga padahal" Gerutu Intan sambil menggandeng Yuri dan juga Hani.


"Eh bukan begitu Han, Pak Bisma kan belum pernah terlihat pacaran ataupun membawa pasangannya ke kampus kita, jadi wajar saja kalau dia hari ini jadi buah bibir di kalangan para siswa orang kalau di deketin siswi cewek aja dia juteknya minta ampun, sekarang tiba-tiba saja ada undangan pertunangannya!" Ucap Intan penasaran.


"Hah...Sudahlah jangan bahas Pak Bisma terus, lebih baik sekarang kita main aja ke kosan ku yuk? Aku lagi dapat banyak kiriman makanan dari Orangtuaku loh" Ajak Hani pada Intan dan juga Yuri.


Intan berdecak kesal sambil memukul pundak Hani dengan pelan "Ck...Lo ngajaknya kenapa gak dari kemarin sih Han? Hari ini gw udah ada janji tau!".


"Hehe...Sorry Tan aku dapat kirimannya baru tadi pagi, jadi baru sempet kasih tau sekarang deh" Seru Hani sambil tertawa pelan.


"Yuri...Kamu jadi kan sekarang ke kosan ku?" Sambung Hani sambil menatap Yuri.


Yuri menatap lesu pada Hani sambil menganggukkan kepalanya pelan.


"Sela sama Seli ikut gak?" Intan kembali bertanya.


Hani menggelengkan kepalanya "Mereka gak ikut Tan, katanya lagi ada urusan gitu".


"Duh...Sayang banget, padahal kan mereka demen banget makan ya?!" Balas Intan.


"Iya...Padahal aku juga udah siapin lumayan banyak buat mereka berdua, tapi mau gimana lagi kan kalau mereka gak bisa datang!" Ujar Hani sambil mengangkat kedua bahunya.


"Yasudah deh kalau gitu gw pergi duluan ya? Gapapa kan?" Sahut Intan pada Hani dan Yuri.


"Iya gapapa, kamu hati-hati di jalan ya!" Sambung Hani sambil melambaikan tangannya.

__ADS_1


"Oke" Tambah Intan.


Yuri pun ikut melambaikan tangannya pada Intan begitu melihat Intan melambaikan tangannya kemudian pergi dengan setengah berlari meninggalkan Hani dan juga dirinya.


Begitu melihat Intan sudah hilang dari pandangan mereka, Hani akhirnya menatap ke arah Yuri kemudian mengajaknya untuk pergi ke kosannya "Yuri...Kamu jadi kosan aku?".


"Iya...Ayo kita ke kosan mu sekarang!" Ucap Yuri sambil menganggukkan kepalanya.


Setibanya di kosan Hani, mendadak Yuri di kejutkan dengan belasan panggilan tak terjawab dari Bisma tak kala dia akan memeriksa HP nya untuk meminta izin pada kedua Orangtuanya untuk pulang agak telat karena pergi terlebih dahulu ke kosan Hani. Ingin rasanya Yuri kembali menelepon Bisma untuk menanyakan alasan kenapa bisa pertunangannya dengan Shiren di percepat dengan sangat tiba-tiba tanpa sepengetahuan dirinya mengingat Bisma tak pernah menutupi apapun darinya, namun apa mau di kata rasa kecewa yang di rasakan nya kepada Bisma terlampau sangat besar sehingga dia hanya bisa mengabaikannya kemudian mematikan HPnya beberapa saat kemudian.


"Yuri...Kamu kenapa? Kok mukanya tegang begitu?!" Tanya Hani sambil memberikan minuman dingin pada Yuri.


"Aku tidak apa-apa kok Han, kamu tenang saja!" Jawab Yuri sambil memasukan HP nya ke dalam tas.


"Baiklah kalau begitu, oh iya tadi kamu bilang ada yang ingin di bicarakan denganku kan? Kalau boleh tahu apa itu?" Ujar Hani.


Yuri menatap ke arah Hani sekilas kemudian menundukkan kembali kepalanya "Itu...Aku bagaimana ceritanya ya?!".


"Yuri...Aku bilang jangan sungkan kan padaku? Coba kamu tenangkan dulu dirimu, tarik nafas, lalu tatap mataku dan ceritakan lah apa yang ingin kamu sampaikan padaku" Ucap Hani sambil sedikit menenangkan Yuri.


Yuri pun mengikuti apa yang Hani instruksikan sampai pada akhirnya dia mulai membuka obrolan dengan amat sangat detail pada Hani perihal hubungannya dengan Bisma yang sudah terjalin beberapa bulan ini, hingga membuat Hani syok dan juga terkejut di buatnya.


"Astaga Yuri kenapa kamu baru bilang padaku sekarang?!" Hani terbelalak kaget menatap Yuri.


"Aku takut Han, awalnya aku juga tidak menyangka kalau semuanya akan berlanjut sampai sejauh ini. Tapi apa mau di kata Han aku juga sudah terlanjur mencintainya Han" Sahut Yuri sambil menggenggam tangan Hani dengan erat.


"Iya Yuri aku bisa memaklumi apa yang kamu dan juga Pak Bisma rasakan saat ini, tetapi bagaimana sekarang kelanjutan hubunganmu dengan Pak Bisma setelah undangan pertunangannya tersebar?!" Cetus Hani kasihan melihat Yuri.


Yuri menggelengkan kepalanya "Aku juga tidak tahu Han bagaimana selanjutnya, yang jelas saat ini aku merasa sangat kecewa padanya karena dia tidak memberitahu apapun padaku perihal undangan ini!".


"Apa dia sudah menghubungi mu hari ini?" Hani kembali bertanya pada Yuri.


"Dia memang menghubungiku beberapa kali tadi, tetapi aku tak sempat menjawab teleponnya karena aku simpan HP nya di dalam tas" Jelas Yuri.


"Terus kamu telepon balik Pak Bisma tidak?" Lanjut Hani.


Yuri menatap ke arah Hani lalu menggelengkan kepalanya dengan perlahan.


"Hah...Kenapa kamu tidak menelepon balik sih Yuri? Bukankah kamu ingin tahu alasan kenapa semua ini bisa terjadi?!" Sambung Hani.


"Aku tak sanggup bicara padanya hari ini Han, aku perlu waktu untuk menenangkan diriku terlebih dahulu" Balas Yuri dengan hidung yang perlahan mulai memerah.


Mengerti dengan apa yang Yuri rasakan saat ini, Hani lebih memilih untuk tidak melanjutkan kembali pembicaraan nya perihal hubungan Yuri dengan Bisma karena merasa Yuri sudah sangat terguncang dan juga terluka dengan kejadian yang begitu membuatnya resah hari ini. Hani pun berinisiatif untuk memesankan ceker pedas kesukaan Yuri agar bisa lebih menenangkan Yuri lebih cepat.


Tak terasa waktu sudah hampir menginjak petang, dengan segera Yuri bersiap untuk pulang ke rumahnya setelah di rasa hatinya mulai terasa tenang karena sudah mengatakan semuanya termasuk tentang hubungannya dengan Bisma pada Hani.


"Han makasih banyak ya hari ini kamu sudah mau mendengarkan semua keluh kesah ku, aku tidak tahu apa yang terjadi kalau saja tidak ada kamu!" Ucap Yuri sambil merangkul tangan Hani.


"Iya sama-sama Yuri...Lain kali kalau ada apa-apa jangan lupa dan jangan sungkan untuk cerita sama aku, kita ini kan teman, teman harus bisa saling membantu" Sahut Hani sambil tersenyum lebar.


"Iya..Iya..Sekali lagi makasih ya sahabat baik ku?!" Tegas Yuri pada Hani.


"Iya...Yasudah kamu hati-hati di jalan ya? Kalau ada perlu apa-apa kamu bisa hubungin aku..Oke?!" Ujar Hani sambil melambaikan tangannya.


Yuri tersenyum dengan riang sambil menaiki motornya "Siap Bos!".

__ADS_1


Satu jam kemudian tak terasa Yuri sudah hampir sampai di rumahnya dengan perjalanan menggunakan motor berkecepatan sedang. Namun betapa terkejutnya Yuri saat hanya tinggal beberapa meter saja dari rumahnya melihat Bisma yang sudah standby menunggu Yuri di depan gerbang rumahnya tengah menatap ke arah Yuri dengan raut wajah yang sulit di artikan, lalu tak lama kemudian Bisma berjalan mendekat ke arahnya.


Aku mohon tetap seperti itu, jangan mencoba untuk menghindari ku lagi!! Gumam Bisma sembari terus menatap dan berjalan mendekati Yuri.


__ADS_2