
Pagi hari yang cerah Yuri terbangun sembari menggeliat di atas kasur dan masih berselimut hangat menutupi badannya yang mungil. Melihat jam menunjukan pukul 7 pagi, Yuri bergegas untuk ke luar dari kamarnya dan menghampiri kedua orangtuanya yang tengah sarapan nasi goreng.
"Selamat pagi Mah, Pah" Sapa Yuri sembari menuangkan susu dan duduk di sebelah Mamah nya.
"Pagi sayang....Tumben hari ini bangun siang, kamu gak ada jadwal kuliah?" Tanya Mamah Yuri.
Yuri menggelengkan kepalanya "Tidak Mah hari ini kan hari minggu".
" Oh iya ya kenapa Mamah bisa lupa?" Jawab Mamah Yuri sambil terperanjat.
"Maklum faktor U jadi gampang lupa" Sambung Papah Yuri sambil cengengesan.
Mamah Yuri langsung mendelik menatap tajam ke arah sang suami "Apa Papah bilang?".
Yuri tertawa ringan sembari mulai menyantap nasi goreng buatan Mamahnya " hehe udah udah sekarang kita sarapan dulu nanti ributnya di lanjut pas udah sarapan selesai".
"Ih nak jangan ngomong gitu dong, Papah jadi takut nih dengernya apalagi apalagi sekarang Mamah mu sedang menatap sinis gitu bisa abis Papah mu ini" Seru sang Papah yang membuat tawa kecil di antara semuanya khususnya sang Mamah.
Pada saat sarapan tengah berlangsung, mata Mamah Yuri seketika terpaku dengan sesuatu yang begitu asing ada di leher Yuri. Dengan hati-hati Mamah Yuri mencoba bertanya dengan nada santai namun teliti agar tidak mengganggu mood Yuri yang hari ini terlihat cukup ceria.
"Yuri...".
" Iya Mah?" Jawabnya.
"Itu kalung yang ada di lehermu, kamu baru beli? Kok Mamah baru lihat" Tanya nya penasaran.
"Kalung?" Yuri terperanjat dengan perkataan Mamah nya dan langsung memegang kalung yang saat ini tengah di pakainya.
Oh iya kenapa aku hampir lupa ya?
Semalam kan Pak Bisma.....
Flashback
"Ah...kenyang sekali, makasih ya kau telah mengajak ku makan ke restoran ini" Ucap Yuri dengan tersenyum.
Bisma membalas senyuman Yuri sambil mengangguk "Iya sama-sama, gimana kau suka dengan makanannya?".
" Tentu saja, semua makanan yang tadi kau pesan enak-enak apalagi steak nya baru kali aku makan steak seenak itu" Imbuhnya.
"Syukurlah kalau begitu aku senang mendengarnya, kalau begitu sekarang kita pergi ke tempat selanjutnya" Ujar Bisma.
Yuri menatap Bisma dengan wajah penasarannya "Kita mau pergi ke mana?".
Bisma membalas sambil tersenyum lebar " Kau akan tahu nanti".
Bisma menarik tangan Yuri secara perlahan agar bisa berjalan berdampingan dengannya.
Setelah hampir dua puluh menit berjalan, akhirnya Bisma dan Yuri sampai di salah satu tempat perhiasan yang di rasa tak asing di pikiran Yuri.
__ADS_1
Tempat ini...
Aku merasa pernah datang kesini, tapi kapan ya?
Pikir Yuri dalam hati
"Kenapa bengong saja? Ayo kita masuk!" Tegas Bisma yang merasa aneh melihat wajah linglung Yuri.
"Oh iya iya baiklah" Jawab Yuri sambil sedikit kaget.
Saat Yuri masuk ke dalam dia langsung di suguhi oleh perhiasan-perhiasan mewah yang terlihat rapih di simpan dalam beberapa lemari kaca hingga tampak terlihat elegan, mewah, dan pastinya mahal.
Yuri terus saja mengikuti Bisma hingga akhirnya langkahnya terhenti tak kala Bisma berhenti di salah satu etalase kaca yang memperlihatkan kalung cantik dengan sebuah berlian kecil sebagai liontin pemanisnya.
"Pak...".
Bisma menatap Yuri sinis tak kala dia keceplosan memanggilnya dengan sebutan Pak " Apa barusan kau bilang?".
Seketika Yuri langsung memukul bibirnya dan menggelengkan kepalanya "Eh maksudku sayang, kenapa kita datang ke sini?".
Senyum Bisma mulai terlihat kembali dan menarik tangan Yuri untuk menunjukan sebuah kalung dalam etalase kaca yang mewah " Apa kau suka kalung ini?".
"Kalung? Kalung yang ini maksudnya?" Yuri sedikit. gelagapan menjawab pertanyaan Bisma.
"Iya sayang yang ini" Tunjuk Bisma pada salah satu kalang yang di pajang.
Dengan polosnya Yuri menjawab "Eum iya aku suka".
"Baik Pak, ini pilihan yang sangat bagus sekali apakah nona ini istri Bapak?" Tanya sang pelayan dengan ramah.
Yuri terhenyat dan saling bertatapan dengan Bisma tak kala pelayan yang berada di hadapannya ini menyebutkan kalau dia adalah istri Bisma.
"Maaf mbak aku ini...."
Perkataan Yuri langsung di potong oleh Bisma "Iya mbak dia adalah istriku kami memang baru menikah makannya dia masih malu-malu seperti ini".
Hah istri katanya?
Apa dia salah makan tadi? Kenapa tiba-tiba berkata kalau aku adalah istrinya?
Celoteh Yuri dalam hati.
" Oh pantas saja, kalau begitu untuk pembayaran kalung ini silakan sekarang Bapak bisa ikuti saya" Lanjutnya.
Bisma mengangguk dan perlahan mulai mengikuti pelayan itu.
"Sayang tunggu dulu" Yuri menarik tangan Bisma.
Bisma berbalik menatap Yuri "Ada apa?".
__ADS_1
" Kau sebenarnya membeli kalung itu untuk siapa?" Tanya Yuri gugup.
"Ya untuk siapa lagi lah kalau bukan untukmu" Jawabnya singkat sambil perlahan berjalan meninggalkan Yuri dan mengeluarkan dompetnya.
"Apa katanya? Untukku dia bilang?" Gumam Yuri yang kemudian mengikuti Bisma dari belakang.
Akhirnya Bisma dan juga Yuri tiba di tempat pembayaran dengan pelayan yang kembali menunjukan kalung pesanan Bisma.
"Ini pesanannya ya Pak, totalnya tiga puluh delapan juta rupiah" Terang pelayan tersebut.
"Apa? Tiga puluh delapan juta!!!" Teriak Yuri sambil melotot mengagetkan Bisma dan juga pelayan yang ada di hadapannya.
Bisma mengerutkan keningnya "Bisakah kau tenang sedikit? Kau membuat kita jadi pusat perhatian tahu!".
"Oh itu... Maaf aku barusan terkejut Pak eh maksudku sayang!" Sahut Yuri dengan wajah yang masih syok.
Setelah semua pembayaran selesai, Bisma dan Yuri akhirnya pulang dengan selamat sampai di rumah Yuri. Setibanya di depan rumah Yuri dia tak bisa dan tak henti-henti nya menggerutu karena Bisma membelikan kalung berlian yang menurutnya terlalu berlebihan untuk di berikan padanya. Bahkan sepanjang perjalan pulang antara Bisma dan Yuri sempat terjadi keributan-keributan kecil karena kalung berlian yang enggan Yuri terima.
"Sayang kenapa kau memberikan barang mahal seperti ini sih? Ini terlalu berlebihan untukku" Tegas Yuri pada Bisma.
"Ck kita mau terus mempermasalahkan dan meributkan masalah kalung itu?" Bisma terlihat sedikit kesal dengan Yuri.
"Tidak bukan begitu, menurutku ini sedikit...."
"Sedikit apa? Gini saja deh kalau kau tidak suka lebih baik di buang saja!!" Tegas Bisma.
"Ih kok di buang? Ini barang mahal loh seenaknya main buang-buang" Yuri tak kalah tegas.
Melihat Yuri yang keras kepala Bisma menundukkan kepalanya lalu perlahan menghela nafas "Yasudah kalau begitu sekarang kau pakai kalung itu ya, please demi aku kita akhiri pertengkaran ini oke?!".
" Tapi sayang ini..."
"Sudah sini aku yang akan pakaikan untuk mu" Bisma langsung membuka kotak perhiasan yang sedari tadi Yuri pegang dan mengeluarkan kalung yang ada di dalamnya untuk di pakaikan pada Yuri.
"Tuh kan bagus. Kalung ini cocok sekali buatmu sayang" Setelah memasangkan kalung di leher Yuri, Bisma langsung kembali tersenyum.
"Benarkah ini cocok di pakai olehku?" Ungkap Yuri sambil memegangi kalung yang sudah terpasang di lehernya.
Bisma menganggukkan kepalanya "Iya sayang kau tampak terlihat sangat cantik saat mengenakannya".
" Apa?! Jadi itu berlian?" Teriak sang Mamah yang begitu terkejut setelah mendengar penjelasan dari Yuri perihal kalung yang sekarang tengah di pakainya.
Yuri terkejut sembari memegangi tangan sang Mamah "Duh Mah jangan teriak seperti itu, malu nanti kalau ada yang dengar".
" Iya tapi itu Mamah sangat terkejut Yuri kenapa bisa nak Bisma memberikanmu barang semahal dan semewah itu padamu?" Lanjut sang Mamah.
"Aku juga tidak tahu Mah, dia hanya bilang ingin memberikan ini padaku sebagai bukti kalau dia benar-benar mencintai Yuri dan ingin serius sama Yuri Mah" Jelas Yuri.
"Serius denganmu? Maksudmu nak Bisma ingin menikahi mu juga?" Tanya Papah Yuri.
__ADS_1
Yuri menganggukkan kepala sembari menatap kedua orangtuanya "Iya Mah , Pah . Pak Bisma dalam waktu dekat ini akan datang ke sini untuk melamar Yuri!".
" Apa? Melamar?!!" Ucap kedua orangtuanya Yuri secara bersamaan dengan wajah terkejutnya.