
"Jangan pergi !!" Ucap Bisma dengan lembut.
"Tapi itu lidah Bapak... " Perkataan Yuri terhenti saat wajah Bisma tiba-tiba mulai mendekat ke arah wajah Yuri.
"Aku sudah tidak apa-apa" Bisik Bisma.
Yuri menatap Bisma dengan jantung berdebar , begitupun Bisma yang menatap Yuri dengan tatapan mendalam.
"Bisakah kamu menutup matamu sebentar ?" Ucap Bisma yang membuat Yuri terkejut.
"Menutup mata ?" Kata Yuri sembari mengangkat kedua alisnya.
Yuri tercengang mendengar ucapan Bisma tanpa mengetahui maksudnya , perlahan namun pasti Bisma semakin mendekatkan wajahnya yang membuat Yuri reflek menutup matanya dengan tangan sedikit bergetar.
Bisma yang mengetahui tangan Yuri bergetar langsung memegang tangannya dan langsung meniup mata Yuri.
Mata Yuri yang tertutup seketika terbuka karena merasa ada sesuatu yang menyentuh matanya.
"Kenapa ?" Tanya Bisma menyeringai.
"Barusan Bapak.... " Yuri mendadak linglung.
"Bapak apa ?" Sahut Bisma.
"Barusan... Apa yang Bapak lakukan ?" Yuri bertanya dengan pipi yang mulai memerah.
"Aku melihat ada sesuatu di matamu , makannya aku menyuruhmu untuk menutup mata" Jelas Bisma.
"Oh... Begitu" Jawan Yuri sedikit kecewa.
"Kenapa kamu terlihat kecewa ?" Tanya Bisma sedikit menggoda Yuri.
"Apa ? kecewa ? untuk apa aku kecewa ?!" Tegas Yuri memalingkan pandangannya.
"Kamu tidak bisa bohong loh , terlihat jelas kalau wajahmu itu sedang kecewa" Ujar Bisma sambil tersenyum.
"Aku tidak bohong kok , lagian Bapak juga apa-apaan coba ?!" Yuri sedikit kesal dengan mengerucutkan bibirnya.
"Memang aku melakukan apa ?" Kembali Bisma menggoda Yuri.
"Tau ah , lebih baik aku pergi saja" Yuri melepaskan tangannya dari pegangan Bisma.
"Kamu mau kemana ?!" Tanya Bisma yang tidak melepaskan tangan Yuri.
"Bapak gak perlu tau" Jawab Yuri ketus.
Bisma yang melihat Yuri mulai kesal langsung menarik tangan Yuri dan kembali mendekati Yuri.
"Maafkan aku" Ucap Bisma dengan pelan.
Yuri menatap ke arah Bisma "Kenapa Bapak minta maaf ?".
Bisma menghembuskan nafasnya " Karena hari ini aku terlalu berani".
"Terlalu berani ?"Tanya Yuri bingung.
__ADS_1
Bisma melepaskan tangan Yuri dan menggelengkan kepalanya , lalu bergumam pelan" Dasar gadis bodoh".
"Bapak ngomong apa barusan ?".
" Tidak...Aku mau ke kamar mandi dulu" Ucap Bisma yang langsung beranjak dari duduknya.
Apa yang sedang aku pikirkan ?.
Sadarlah Bisma dia itu bukan milikmu !. Pikir Bisma yang langsung mencuci mukanya karena merasa panas.
"Apa yang sebenarnya terjadi padaku ?, kenapa aku selalu berdebar ketika dekat dengan Pak Bisma ya ?!" Gumam Yuri sembari memperhatikan tangannya.
.
.
.
Setengah jam kemudian makan malam sudah tersaji di meja makan , Yuri dan Bisma datang bersamaan kemudian Bisma duduk di dekat Papahnya Yuri.
Mamah Yuri mulai dengan telaten mengambilkan makanan untuk Suaminya dan juga untuk Bisma. Melihat dirinya di perlakukan begitu baiknya oleh Mamah Yuri membuat perasaan Bisma sedikit tidak enak , tetapi di satu sisi lain Bisma merasa tersentuh karena dirinya belum pernah mendapatkan perlakuan seperti itu dari orang terdekatnya termasuk kedua Orangtuanya.
"Terimakasih Tante" Ucap Bisma sambil mengambil piring yang di berikan oleh Mamah Yuri.
"Sama-sama nak Bisma , silakan di makan jangan sungkan ya" Sambung Mamah Yuri.
Yuri yang melihatnya tersenyum manis dan merasa lega ketika melihat Bisma begitu lahap saat menyantap masakan Mamahnya.
***
Di sela kesibukan Yuri mencuci piring , Mamah Yuri mencoba untuk sedikit ngobrol dengan Yuri.
"Nak Bisma baik ya ?!" Ujar Mamah Yuri tiba-tiba.
"Hah ?".
"Iya itu nak Bisma baik , Mamah senang loh liat kamu sama dia dekat" Seru Mamah Yuri sambil tersenyum.
"Apaan sih mah ? Ingat loh Mah , Yuri udah punya Mahendra" Tegas Yuri
"Emang dia masih menganggap kamu nak ?,udah hampir 4 bulan loh dia gak ngabarin kamu" Jelas Mamah Yuri.
Yuri hanya terdiam tak menjawab perkataan Mamahnya. Melihat Yuri yang mendadak terdiam Mamah Yuri mencobanya untuk mendekat ke arah Yuri sambil menepuk pundaknya.
"Nak maafin Mamah ya ? Mamah gak ada maksud buat nyakitin perasaan kamu" Tambah Mamah Yuri.
"Iya tidak apa-apa kok mah , kalo gitu Yuri ke kamar dulu ya mah !!"
Melihat Yuri murung , Mamahnya hanya menghela nafas panjang.
Saat di kamar Yuri hanya terduduk dan merenungi nasib hubungannya yang tak tau akan di bawa kemana , sepintas Yuri berpikir untuk mencoba menunggu Mahendra kembali , tetapi di satu sisi lain perasaannya terhadap Mahendra sudah mulai memudar karena tindakannya yang sungguh sangat membuat Yuri dan keluarganya kecewa.
Saat Yuri sedang terduduk di dekat jendela , tanpa sengaja Bisma melihat Yuri dari jendela kamar Tomi yang kebetulan posisi kamarnya ada di sebrang kamar Yuri.
"Apa yang sedang dia lakukan malam-malam begini di dekat jendela ?" Gumam Bisma yang tak lama kemudian mengambil ponselnya.
__ADS_1
"Halo ?" Jawab Yuri mengerutkan alisnya.
"Kamu belum tidur ?" Tanya Bisma dari sebrang telepon.
"Belum Pak , ada apa Bapak meneleponku ?" Yuri balik bertanya.
"Tidurlah , ini sudah malam" Tegas Bisma.
"Saya belum ngantuk" Ujar Yuri.
"Coba kamu lihat ke luar jendela" Suruh Bisma kepada Yuri.
Yuri mendekat ke arah dekat jendela , kemudian saat Yuri melihat ke luar jendela, dia melihat Bisma yang menatapnya dari kejauhan dengan tangan kanan memegang ponselnya.
"Katakanlah, apa yang sedang kau pikirkan ?" Tanya Bisma dari sebrang telepon.
"Entahlah , aku hanya sedang bingung saja" Jelas Yuri menatap Bisma dari jendela kamarnya.
"Kalau ada yang ingin di bicarakan , aku bersedia mendengarkan semua ceritamu".
" Aku tidak ingin merepotkan orang lain hanya untuk sebatas mendengarkan keluh kesah ku" Jelas Yuri.
"Lalu ?" Sambung Bisma.
"Aku hanya butuh waktu untuk sendiri saja Pak" Ucap Yuri.
Bisma tidak merespon Yuri melainkan hanya fokus menatapnya saja jadi sebrang jendela , tangannya masih memegang telepon begitupun juga dengan Yuri yang melakukan hal sama seperti Bisma.
"Jangan khawatir , aku akan membantumu" Ucap Bisma tiba-tiba yang memecahkan kesunyian di antara mereka berdua.
"Memangnya apa yang bisa Bapa bantu ?" Tanya Yuri.
"Apapun !" Tegas Bisma.
"Kenapa Bapak mau membantuku ?" Kembali Yuri bertanya.
"Apakah aku harus membuat alasan untuk membantumu ?" Jelas Bisma.
"Tentu saja !" Jawab Yuri tegas.
"Bagiku tidak ada alasan yang harus aku jelaskan kepadamu" Seru Bisma.
"Kenapa ?" Yuri semakin di buat penasaran oleh sikap Bisma.
"Karena aku... " Bisma menghentikan ucapannya.
".... " Yuri masih menunggu jawaban dari Bisma.
"Karena aku... "
\=\=\=> Hai teman teman... jangan lupa untuk like , vote ,
komen di karya aku ya , biar karya ku bisa menjadi no 1 hehe🥰👋.
Terimakasih juga untuk semua teman teman pembaca yang sudah setia membaca karya ku dan memberikan supportnya🙏🙏 , dukungan kalian akan sangat berarti untuk perkembangan karya ku, jangan bosan untuk menunggu kelanjutan kisah Yuri ya☺☺see you🤗.
__ADS_1