
Bisma beranjak dari duduknya lalu berdiri tak kala dia melihat Shiren setengah berlari ke arahnya dengan wajah yang terlihat khawatir.
"Bis...Bisma di toilet dia juga tidak ada!!" Tegas Shiren.
"Apa?!!" Balas Bisma setengah berteriak.
"Coba kamu hubungi lagi dia sekarang" Lanjut Shiren.
Bisma menggelengkan kepalanya "Tidak ada jawaban, aku sudah dari tadi menghubungi nya tapi tetap tidak di angkat.
"Coba kamu telepon keluarganya di rumah, barangkali saja dia sudah pulang duluan" Ucap Shiren sambil menepuk pundak Bisma.
Bisma menatap ke arah Shiren sekilas lalu menundukkan kepalanya dengan wajah yang sudah terlihat putus asa "Aku tidak punya no telepon Keluarga nya".
Melihat Bisma yang perlahan menjadi diam dengan tatapan penuh ke khawatiran, Shiren pun berinisiatif untuk mengajak Bisma pulang terlebih dahulu agar bisa menenangkan dirinya sebelum menunggu kabar kelanjutan dari Yuri.
Selama perjalanan pulang Bisma tak sedikit pun mengeluarkan suaranya dan terus saja fokus melihat ke depan sambil terus menyetir mobilnya dengan kecepatan sedang.
***
Setibanya di rumah Bisma langsung merebahkan dirinya di atas tempat tidur sambil memijit kepalanya perlahan "Kemana dia pergi? Kenapa juga dia tidak mengangkat teleponku?".
Tak lama kemudian saat Bisma tengah menenangkan dirinya, tiba-tiba HP nya berbunyi lalu saat melihat nama pemanggilnya dengan cepat Bisma terbangun kemudian langsung mengangkat teleponnya.
"Heh kau kenapa kau tak jawab teleponku? Dimana kau sekarang?" Ucap Bisma emosi.
"Maafkan aku tadi HP nya di silent, aku sekarang sudah ada di rumah kok" Balas Yuri polos.
Saat mengetahui Yuri sudah ada di rumah tanpa basa basi lagi dia langsung berlari pergi sambil menutup telepon dari Yuri tanpa aba-aba terlebih dahulu, sementara dari sebrang telepon Yuri hanya mengerutkan alisnya sambil melihat layar HP yang tiba-tiba panggilannya di tutup oleh Bisma.
"Ih ada apa dengan orang ini?!" Bisik Yuri yang kemudian berjalan masuk ke dalam kamarnya.
Sesaat setelah Yuri selesai mandi, dari arah luar kamarnya terdengar sebuah ketukan di susul suara Bi Asih yang terus memanggil namanya, karena Yuri penasaran dengan segera Yuri berjalan lalu membuka pintu.
__ADS_1
"Iya Bi ada apa?" Jawab Yuri.
"Maaf Non...Di bawah ada tuan Bisma katanya ingin bertemu dengan Non Yuri" Ucap Bi Asih.
"Oh iya Bi, suruh dia tunggu saja, sebentar lagi saya akan turun ke bawah" Jawab Yuri sembari menggosok rambutnya yang basah dengan handuk.
Ada apa dia ke sini? Gumam Yuri dengan wajah bingungnya.
Sekitar lima belas menit kemudian, Yuri datang dengan setelan rapih menghampiri Bisma yang sedari tadi tengah menunggu nya di ruang tamu dengan wajah dan sorot mata yang sulit di artikan.
Awalnya Yuri merasa canggung dan enggan mendatangi Bisma yang sudah sedari tadi memandangnya dari kejauhan dengan ekspresi yang terlihat tidak mengenakan itu, karena mengingatkan dirinya akan trauma dengan kejadian di kampus yang pernah Bisma lakukan padanya.
Namun demi mencegah adanya sesuatu yang tidak di inginkan, Yuri akhirnya berusaha menenangkan dirinya kemudian duduk sedikit berjauhan dari Bisma.
"A...Ada apa Bapak datang ke sini?" Tanya Yuri hati-hati.
Bisma tidak menjawab dan hanya menatap tajam ke arah Yuri.
"Ha...Halo Pak, Bapak mendengarkan saya tidak?" Kembali Yuri bertanya sambil melambaikan tangannya.
"Ma...Maaf Pak sebelumnya karena tadi saya pergi tanpa pamitan terlebih dahulu pada Bapak" Wajah Yuri merasa bersalah.
"Kenapa kau lakukan itu padaku?" Tanya Bisma dengan nada yang semakin meninggi.
Yuri menatap ke arah Bisma "Lakukan apa maksud Bapak?".
"Jangan pura-pura tidak tahu!!" Bentak Bisma sembari menggebrak meja di hadapannya.
Melihat Bisma baru saja menggebrak meja, mata Yuri seketika langsung terbelalak sambil sedikit memundurkan posisi duduknya.
"Apa kau tidak tahu betapa khawatirnya aku saat mengetahui kalau kau tidak ada begitu saja tanpa ada kabar sedikitpun padaku?" Sambung Bisma yang kemudian beranjak dari duduknya lalu berjalan ke arah Yuri.
"Aku kan sudah minta maaf, lagi pula kenapa juga kau harus marah seperti ini padaku?!" Tegas Yuri.
__ADS_1
Setelah mendekat ke arah Yuri Bisma langsung terduduk di hadapan Yuri kemudian dia memegang lengan Yuri dengan kuat "Kau benar-benar ingin tau kenapa aku bisa begini padamu?".
Yuri terus menatap Bisma dengan lekat sambil berusaha melepaskan pegangan tangan Bisma dari lengannya.
"Jawab pertanyaan ku!!" Bisma kembali membentak Yuri.
"Ah sakit...Lepaskan tangan ku!" Ucap Yuri dengan mata yang bergetar.
"Aku tidak ingin tau apapun alasanmu...Yang aku mau sekarang kau pergi dari sini sekarang juga!" Ucap Yuri dengan nada semakin meninggi.
Mendengar perkataan yang baru saja terucap dari mulut Yuri, membuat Bisma sejenak menundukkan kepalanya dengan senyum sinis seakan ingin melakukan sesuatu pada Yuri saat ini juga.
Setelah beberapa saat Bisma terdiam dan tak mengucapkan sepatah katapun, akhirnya Bisma mengangkat kepalanya dengan tatapan dan wajah yang dingin seperti tengah memendam sesuatu yang tak ingin siapa pun mengetahuinya.
"Hah...Benar juga katamu untuk apa aku memberikan alasan yang tak penting pada orang yang tidak penting sepertimu di kehidupanku" Bisma melepaskan lengan Yuri lalu kembali beranjak dari duduknya.
"Baiklah...Mulai saat ini dan seterusnya aku tidak akan pernah menemui mu lagi, hari ini dan detik ini anggaplah pertemuan kita ini adalah pertemuan terakhir, dan satu lagi jangan pernah kau menampakan wajahmu di hadapan ku lagi!" Sambung Bisma yang kemudian pergi meninggalkan Yuri yang masih terpaku melihat ke arah Bisma.
Saat Bisma pergi begitu saja dari hadapannya tanpa sempat melihatnya terlebih dahulu, membuatnya merasakan ada sesal dan sesak yang bergejolak di hatinya. Namun entah kenapa tubuhnya tidak bisa bereaksi dan hanya bisa menatap Bisma yang perlahan menghilang dari pandangannya.
Saat malam tiba Bisma hanya duduk terdiam di dekat jendela dengan tatapan kosong memandang ke arah langit yang gelap tanpa adanya taburan bintang-bintang seperti biasanya karena tengah mengetahui ada sosok orang yang tengah merasakan kehampaan dalam dirinya.
Begitupun dengan Yuri yang tengah berada di posisi persis seperti Bisma saat ini, dia pun memandang ke langit yang amat sangat gelap dengan buliran air mata yang mulai turun ke pipinya secara perlahan karena menyesali perbuatannya terhadap Bisma hari ini.
.
.
.
\=\=\=> Hai teman teman... Jangan lupa untuk klik favorit , like , vote, dan komen di karya aku ya , biar karya ku bisa menjadi no 1 hehe🥰👋.
Aku berdoa untuk kalian semua khususnya buat teman-teman pembaca setia "Pak Dosen I love You" agar terus di berikan kesehatan dan juga di berikan kemudahan dalam menggapai semua yang kalian inginkan aamiin🤲
__ADS_1
Terimakasih juga untuk semua teman teman pembaca yang sudah setia membaca karya ku sampai detik ini dan memberikan supportnya🙏🙏 , dukungan kalian akan sangat berarti untuk perkembangan karya ku, jangan bosan untuk menunggu kelanjutan kisah Yuri ya☺☺see you👋