Pak Dosen I Love You

Pak Dosen I Love You
episode 99


__ADS_3

Shiren terdiam sejenak lalu kembali memandang Bisma sambil memegang tangannya dengan erat.


"Cobalah untuk mencintaiku Bisma!"


Bisma memicingkan matanya menatap Shiren "Mencintaimu? Apa kau sedang bercanda?!".


"Aku serius dengan apa yang aku katakan Bisma!" Ucap Shiren sambil menggelengkan kepalanya.


"Tapi aku tidak mencintaimu!" Balas Bisma.


"Aku yakin kau bisa mencintaiku, asalkan kau mau mencoba" Sahut Shiren sambil berjalan mendekati Bisma dengan tatapan yang cukup intens hingga akhirnya dia memberanikan diri memegang tangan Bisma.


"Berikan aku kesempatan untuk membuatmu bisa mencintaiku!" Sambung Shiren.


Sementara itu Helena dan Yuri sudah sampai di salah satu mall untuk mencoba menetralkan perasaan Yuri yang sedang kalut dengan cara mengajaknya bermain berbagai macam game di salah satu tempat yang lumayan terkenal di mall itu.


"Yuri apakah kau suka bermain permainan yang menantang?" Tanya Helena sambil menggandeng Yuri.


"Menantang seperti apa?" Jawab Yuri.


"Bermain basket or semacamnya lah!" Sahut Helena.


Yuri menganggukkan kepalanya sambil menatap Helena "Iya aku menyukainya Kak".


"Bagus...Kalau begitu ayo kita main sepuasnya hari ini!" Teriak Helena sambil menarik tangan Yuri dan mulai memasuki salah satu area bermain game.


Senyum Yuri perlahan mulai terlihat dari bibir tipisnya seolah lupa dengan apa yang sedang ada di pikirannya lalu mulau bersenang-senang dan menikmati harinya bersama Helena sebagai hiburan dengan senyum merekah yang terlihat dari kedaunya seakan sedang meluapkan sesuatu yang ada dalam diri mereka.


Waktu menginjak hampir siang hari, dan Helena berniat menghentikan permainannya sejenak untuk mengajak Yuri beristirahat sejenak sambil mencari sesuatu untuk makan siang.


"Yuri kau mau makan apa?" Tanya Helena yang masih menggandeng lengan Yuri.


"Eum...Apa ya? Aku sepertinya ingin ceker Kak" Tegas Yuri.


"Ceker? Apa itu ceker?!" Ucap Helena sambil mengerutkan kedua alisnya.


Mendengar perkataan Helena barusan membuat Yuri sejenak menghentikan langkahnya lalu beralih menatapnya "Kakak benar-benar tidak apa itu ceker?!".


"Sungguh...Aku benar-benar tidak tahu apa itu ceker. Apa itu makanan khas dari luar negeri seperti Amerika atau negara mana gitu?!" Ceplos Helena dengan polosnya yang sontak membuat Yuri tersenyum kasihan melihatnya.


Hah benar-benar anak orang kaya satu ini, masa iya dia tidak tahu ceker? Emang semasa kecilnya dia di kasih makan apa sih?! Gumam Yuri sedikit keheranan.


"Ceker itu ada di negara kita Kak rasanya enak sekali, kalau Kakak belum tahu aku akan mengenalkannya pada Kaka hari ini. Tapi sebelumnya ayo kita cari tempat makan dulu yang menyediakan menu ceker pedas" Seru Yuri sambil setengah berlari menarik tangan Helena.


Sementara itu di lain tempat Bisma mulai memasuki kelas untuk memulai pelajaran seperti biasa yang kebetulan jam pertama nya mengajar ada di kelas Yuri. Namun saat Bisma masuki kelas ada sesuatu yang membuat wajahnya berubah menjadi penuh tanda tanya ketika mengetahui sang kekasih tidak berada di kelas bersama kedua sahabatnya yang sudah bersiap dengan buku catatannya masing-masing.


"Eum...Intan Kalau boleh saya tahu kemana Yuri?!" Bisma memberanikan diri bertanya pada Intan.


"Saya tidak tahu Pak, soalnya tadi pas saya menghubunginya HP nya tidak di angkat" Jawab Intan.


"Apa sebelumnya dia tidak bilang padamu kalau hari ini dia tidak akan masuk kuliah?" Bisma mulai penasaran.


"Biasanya kalau sakit ataupun sedang ada acara keluarga Yuri suka bilang dulu Pak, kalau bukan sama saya paling ke Hani Pak, tapi untuk hari ini Yuri tidak bilang apapun sama kita berdua Pak" Jelas Intan.


"Oh..Yasudah kalau begitu kita mulai saja ke materi pembelajaran selanjutnya saja ya? Kemarin pembahasan kita sudah sampai mana?!" Bisma mulai membuka buku sambil mengerutkan kedua alisnya karena memikirkan kemana dan ada apa dengan Yuri hari ini.

__ADS_1


Setelah pembelajaran selesai dan Bisma kembali ke ruangannya, dengan segera dia menghubungi Yuri untuk mengetahui alasan kenapa dia tidak kuliah hari ini. Akan tetapi setelah beberapa lama dia menghubungi Yuri, dia sama sekali tidak mengangkatnya teleponnya atau bahkan membalas pesan yang Bisma kirimkan.


"Kenapa dia tidak mengangkat teleponku ya? Apa dia sedang sakit?!" Ucap Bisma sambil merebahkan dirinya di sofa.


Lama Bisma menunggu Yuri untuk merespon panggilannya hingga akhirnya dia semakin gelisah, Bisma pun akhirnya memutuskan datang ke rumah Yuri untuk memastikan keadaanya hari ini sambil mengemasi beberapa barang yang akan di bawanya pulang terlebih dahulu ke rumah.


Sementara itu Yuri akhirnya bisa menemukan sebuah cafe yang mempunyai menu ceker pedas dan tempatnya tak jauh dari mall yang baru saja mereka datangi, kemudian yang sudah pasti memesan dua porsi ceker juga minuman yang di pilihkan oleh Helena.


Setelah hampir dua puluh menit mereka berdua menunggu, akhirnya menu yang mereka pesan pun datang dengan tampilan yang sudah sangat menggiurkan keduanya. Tetapi tak lama setelah menu makanan sampai, datanglah sebuah minuman yang tadi di pesan oleh Helena dan pastinya sama sekali tidak familiar di mata Yuri.


"Kak ini minuman apa ya?!" Tanya Yuri bingung sambil menunjuk dua botol berukuran sedang dan berwarna hijau.


Helena tersenyum sambil menatap Yuri "Sudah minum saja, aku yakin kalau kau meminumnya pikiranmu akan langsung jernih dan perasaanmu yang tadi galau juga akan langsung membaik".


"Benarkah? Tapi kok aku tidak yakin ya Kak?!" Wajah Yuri mendadak terlihat ragu.


"Jangan banyak bicara, sudah kau minum saja itu bukan racun kok!" Tegas Helena.


"Bukan begitu Kak Hanya saja..." Yuri menghentikan ucapannya sejenak.


"Hanya saja apa? Itu minuman biasa kok, kau coba saja dulu kalau penasaran" Sahut Helena.


Yuri terdiam sejenak sambil menatap botol minuman yang ada di sebelahnya "Yasudah nanti akan aku minum, tapi sebelumnya ayo kita makan dulu cekernya Kak!".


"Jadi ini yang namanya ceker?!" Helena menatap sebuah tumpukan ceker pedas di depan matanya.


"Iya Kak ini adalah makanan favoritku di kala aku sedang galau, aku jamin Kakak pasti suka" Seru Yuri sambil memasukan ceker ke dalam mulutnya.


"Apakah makanan ini aman untuk di konsumsi?" Wajah Helena sedikit tidak yakin.


"Hah? Benarkah?!" Lanjut Helena.


"Iya...Makannya Kakak coba dulu deh!" Yuri mencoba menyuapi satu ceker pada Helena.


"Gimana...Enak kan?" Sambung Yuri.


Helena terdiam sejenak sebelum kemudian membalas perkataan Yuri.


"Wah...Lumayan enak juga ternyata, dan tak di sangka makanan ini ternyata lumayan cocok sama minuman yang aku pesan!" Ujar Helena yang kemudian menuangkan minumannya ke dalam gelas kecil lalu memberikannya pada Yuri.


Yuri mengernyitkan keningnya karena merasa tidak yakin untuk meminumnya.


"Kok baunya agak kurang enak ya Kak?!" Sahut Yuri.


"Sama kayak ceker, walaupun penampilannya tidak meyakinkan tapi minuman itu enak kok serius deh!" Ucap Helena sambil terus memakan ceker yang ada di hadapannya.


"Apa hubungannya sama ceker coba?!" Tanya Yuri kebingungan.


"Sudah coba aja minum!" Ucap Helena.


Karena Helena terus saja memaksa agar Yuri meminum minuman yang dia pesan, dengan terpaksa akhirnya Yuri mencoba untuk meminumnya dan langsung mengedipkan satu matanya karena rasa minumannya yang tidak dia sukai dan sontak membuat Helena tertawa saat melihat ekspresi wajah Yuri.


"Gimana...Enak kan?" Tanya Helena sambil terus tertawa.


"Ah...Enak apanya? Rasanya sungguh membuatku ingin memuntahkannya" Jawab Yuri sambil menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Beuh calon Adik Ipar ku ini ternyata norak sekali ya?!" Sahut Helena sambil tertawa lepas.


Mendengar Helena mengucapkan kata "Adik Ipar ku" membuat Yuri langsung terdiam dan kembali menunjukan wajah murungnya pada Helena.


"Adik Ipar ya?!" Bisik Yuri sambil tersenyum satir.


Helena menatap wajah Yuri dengan lekat "Kenapa? Apa ada yang salah dengan ucapanku barusan?!".


"Tidak...Hanya saja terlalu berlebihan untuk Kakak mengucapkan itu padaku" Sambung Yuri sambil kembali memasukan beberapa ceker pedas ke dalam mulutnya.


"Menurutku itu tidak berlebihan sama sekali, toh pada dasarnya kau adalah satu-satunya perempuan yang di cintai Adikku kan?" Balas Helena seraya meyakinkan Yuri.


"Tapi aku bukanlah orang yang di harapkan hadir oleh keluargamu Kak terutama Ayah Kakak" Bibir Yuri mulai bergetar menahan air mata agar tidak kembali membasahi pipinya.


Helena memegang tangan Yuri dengan erat lalu mengusap ujung kepala Yuri untuk memberikannya semangat.


"Jangan khawatirkan itu...Aku yakin dengan kekuatan cinta yang kalian miliki suatu saat nanti pasti akan bisa meluluhkan hati Ayahku, percayalah!" Ungkap Helena memberikan semangat pada Yuri.


"Jangan berharap banyak Kak, mungkin itu saja tidak akan cukup Kak untuk meyakinkan Ayahmu, apalagi aku hanya orang dari kalangan biasa saja yang pasti akan membuat keluarga kalian malu" Tegas Yuri sambil meminum kembali gelas yang berisikan minuman pesanan Helena.


Helena terdiam sejenak sambil menyandarkan punggungnya di kursi dan menatap ke arah Yuri kembali "Maka dari itu seharusnya kau bisa meyakinkan Ayahku, walaupun kau adalah orang dari keluarga biasa saja, kau pasti mampu membahagiakan Bisma sehingga kau bisa setara dengannya dan menepis pandangan orang tentang yang kaya dan yang biasa saja bisa hidup bersama tanpa terus memandang materi. Ya walaupun aku tahu materi itu penting tapi bukankah dalam suatu hubungan bukan hanya materi saja yang jadi acuan kan? karena kenyamanan dan saling mencintai itu pun perlu agar kita menjalin suatu hubungan yang solid dan bisa mengerti dengan apa yang namanya sebuah kebersamaan yang sesungguhnya".


Yuri terkejut dengan perkataan Helena lalu menyandarkan dirinya di kursi sambil menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan mata nya yang sudah mulai berair dengan tangan yang sudah mengepal dengan erat.


"Aku tahu apa yang sedang kau rasakan saat ini, hanya saja satu permintaanku..Tetaplah bersama dengan Bisma walau apapun yang terjadi, karena aku tahu pasti Bisma sangatlah mencintaimu dengan tulus dan tak akan pernah meninggalkanmu walau apapun yang terjadi" Sambung Helena sambil meminum minuman yang dia tuang ke dalam gelas kecil.


"Hah...Bolehkan aku minta kembali minuman itu?" Tanya Yuri sambil menunjuk gelas kecil yang berada di pinggir makanan Helena.


Helena menatap ke arah gelas kecil yang berada di pinggirnya lalu tak lama beralih melihat Yuri "Kau yakin akan meminumnya lagi?".


"Iya...Walaupun aku tidak suka dan tidak tahu itu minuman apa, tapi itu tidak buruk juga" Balas Yuri sambil mengusap kedua matanya.


***


Setelah Bisma akhirnya sampai di rumah dan turun dari mobilnya, mata Bisma tiba-tiba di kejutkan dengan keberadaan motor Yuri yang sudah terparkir rapih di garasi rumahnya dan kemudian langsung berlari ke arah rumahnya berpikir Yuri sudah menunggunya di dalam sana.


Namun pada saat Bisma sudah memasuki rumahnya, dia langsung mengernyitkan kedua alisnya karena ternyata Yuri tidak berada di dalam sana. Merasa ada yang aneh Bisma kembali menghubungi Yuri selama beberapa kali sampai pada akhirnya telepon darinya di angkat namun suaranya terasa tak asing dan berbeda dari Yuri yang dia kenal.


"Halo..." Jawab seseorang dari sebrang.


Bisma melihat kembali nama yang tertera di HP nya "Ini benar nomor HP nya Yuri kan?".


" Oh kau Bisma ternyata?!" .


"Sebentar...Kau Kak Helena kan? Kau sedang bersama dengan Yuri?" Tanya Bisma yang semakin khawatir.


"Iya aku sedang bersama dengan pacarmu, ada apa memangnya?!".


"Berikan HP nya pada Yuri!" Tegas Bisma.


"Eum...Aku tidak yakin dia bisa menjawabnya kali ini".


Bisma terperanjat saat mendengar perkataan Helena " Kenapa? Apa yang terjadi dengannya?!".


"Itu...Lebih baik kau tunggu saja di rumah, aku akan membawanya pulang sekarang ke rumahmu!".

__ADS_1


"Hey Kak tunggu dulu..." Ucapan Bisma terhenti tak kala Helena langsung menutup teleponnya secara sepihak tanpa menunggu Bisma menyelesaikan pembicaraan nya terlebih dahulu.


__ADS_2