
Dalam perjalanan pulang Yuri terus saja terdiam tanpa menoleh ke arah Bisma, sesekali Bisma melihat raut wajah Yuri yang terlihat seperti sedang kesal tanpa berani mengeluarkan suaranya sedikitpun.
"Kenapa dari tadi kau diam saja? Apa aku melakukan kesalahan padamu?" Ucap Bisma yang masih terus menyetir mobilnya dengan kecepatan sedikit di turunkan.
Yuri melihat Bisma sekilas lalu kembali memalingkan wajah nya ke arah luar jendela "Aku merasa tidak enak saja pada Shiren, mengingat kau sangat ketus sekali tadi padanya".
"Kau seperti ini karena masih memikirkan hal tadi?" Bisma sedikit mengangkat satu halis nya.
"Apa aku salah karena masih memikirkan nya?" Yuri menatap tajam ke arah Bisma.
Bisma menghela nafas kemudian tak lama menghentikan mobil nya di pinggir jalan.
"Yuri...Apa yang aku lakukan tadi telah menyinggung perasaan mu?" Dengan sabar Bisma mencoba memendam amarahnya sambil memegang tangan Yuri.
Yuri kembali menatap ke arah Bisma dengan lekat "Entahlah...Hanya saja menurut ku tidak seharusnya kau seperti itu pada Shiren, mengingat bahwa kau secara tidak langsung telah menolak acara pertunangan beberapa hari yang lalu".
Bisma sedikit tertegun mendengar ucapan Yuri dan seketika menyesali apa yang telah dia perbuat pada Shiren.
"Yasudah...Kau jangan khawatir, besok atau lusa aku akan berusaha datang ke rumah nya untuk menemui Shiren dan meminta maaf padanya" Bisma kembali menyunggingkan senyumnya lalu mengusap kepala Yuri dengan lembut.
Mendengar penjelasan yang baru saja terlontar dari mulut Bisma, sontak membuat wajah Yuri perlahan terlihat sumringah lalu dengan reflek memegang tangan Bisma dengan erat "Benarkah? Kau tidak sedang membohongi ku kan?!".
Bisma menganggukkan kepalanya " Tentu saja sayang".
"Idih...Tumben bilang sayang "Yuri menutup mulut dengan kedua tangannya seraya menutupi tawa malu nya.
Bisma mengerucutkan bibirnya "memang tidak boleh kalau aku memanggil mu dengan sebutan sayang?".
"Hehe...Jangan marah dong pacarku, nanti ganteng nya hilang loh" Yuri mengelus tangan Bisma berharap dia tidak marah padanya.
"Yasudah kalau begitu mulai hari ini aku akan terus memanggilmu dengan panggilan sayang, kau tidak keberatan kan?" Bisma masih menatap Yuri.
Mendengar betapa inginnya Bisma memanggil dirinya dengan sebutan sayang dengan wajah penuh harap nya, Yuri pun akhirnya menyetujui apa yang Bisma inginkan dengan sebuah anggukan singkat dan sebuah senyuman khas yang dia perlihatkan pada Bisma.
__ADS_1
"Baiklah....Kalau begitu kita pulang sekarang ya?!" Ujar Bisma dengan senyuman yang terus terukir indah dari bibirnya.
"Eh...Tapi sebelum pulang kita pergi dulu ke tempat makan seafood langganan ku dulu ya? Perutku mulai keroncongan karena tadi belum sempat makan siang" Balas Yuri sambil mengusap lembut perut nya.
Bisma mengangguk sambil mulai menjalankan mobilnya kembali "Duh kenapa gak bilang dari tadi sih? Yasudah kita berangkat sekarang ya sayang".
Sementara itu di kediaman Shiren, kedua orang tua nya tengah berbincang santai dengan seorang sosok laki-laki tampan berbadan tegap dengan kulit putih dan memakai kaca mata, sukses membuat Shiren yang baru saja pulang dari kantor sangat penasaran.
Siapa laki-laki itu? Kenapa dia berada di sini? Pikir Shiren dalam hati.
"Selamat malam Mah , Pah" Sapa Shiren sambil berjalan ke arah mereka.
Kedua orang tua Shiren membalas dan menyambut anak semata wayang nya sambil tersenyum lebar "Malam sayang...Tumben baru pulang jam segini?".
"Iya...Maaf Mah, Pah tadi aku gak sempat ngabarin kalian soalnya tadi ada meeting dadakan sama klien, makannya aku baru pulang" Jelas Shiren dengan hati-hati.
"Yasudah...Kalau begitu kamu duduk dulu di sini, Mamah sama Papah mau ngenalin dulu kamu sama seseorang yang sangat kami kenal dan kebetulan perusahaannya akan bekerja sama dengan perusahaan kita" Sambung sang Mamah dengan raut wajah bahagianya.
Sepintas Shiren melihat ke arah sang lelaki tampan yang tengah duduk di seberangnya dengan tatapan kurang bersahabat, karena merasa tidak penting juga untuk dia mengetahui apalagi mengenal sosok lelaki asing di hadapannya ini.
Tak lama setelah adanya sedikit perdebatan antara dirinya dan juga Bisma, Yuri akhirnya sampai dan bisa menikmati kudapan makan malamnya dengan lahap sampai Bisma yang melihatnya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Pacarku ini betul-betul sangat kelaparan ya?" Celetuk Bisma menggoda Yuri.
"Kau meledek ku ya?!" Yuri menghentikan makannya dan menatap Bisma.
Bisma terkekeh melihat ekspresi Yuri yang menurutnya sangat menggemaskan "Aish...Sayang nya aku marah nih?".
"Tau ah...Makan aja makananmu sanah" Balas Yuri dengan nada sedikit kesal.
"Hehe...Iya maaf deh maaf, aku kan cuman bercanda saja sayang" Celoteh Bisma sambil tersenyum.
Yuri kembali menikmati makanannya tanpa memperdulikan Bisma yang sedari tadi menatapnya dengan tawa kecil yang terus terlihat dari bibir mungilnya.
__ADS_1
"Sayang...Aku boleh tanya sesuatu gak?" Tiba-tiba Bisma bertanya karena merasa penasaran.
"Boleh...Kamu mau nanya apa emang?" Sejenak Yuri menghentikan aktifitas makannya dan memperhatikan Bisma.
"Kalau boleh tahu nih, dari sekian banyaknya restoran, cafe, atau tempat makan lainnya yang lebih mewah dan bagus dari tempat ini, kenapa kamu selalu memilih untuk pergi makan ke sini?" Ujar Bisma sambil memegang dagunya.
Yuri tersenyum lalu kembali menatap Bisma "Aku tahu suatu saat kau pasti bakal nanya kaya gini ke aku".
"Maksudnya?" Bisma mengerutkan kedua alisnya.
Yuri menganggukkan kepalanya "Iya intinya aku tahu apa yang ingin kamu tanyakan, tapi asal kau tahu walaupun tempat ini sederhana dan cenderung kecil, tempat ini sangat berarti sekali untuk keluarga ku terutama aku dan juga Papah".
"Kalau boleh tahu kenapa tempat ini sangat berarti sekali untuk keluargamu?" Bisma semakin di buat penasaran.
"Karena tempat ini, adalah tempat pertama dimana Papah pertama kali berpijak di kota ini sampai bertemu dengan Mamah hingga akhirnya mereka berdua menikah dan mempunyai kami bertiga" Jelas Yuri.
Bisma terdiam sejenak tanpa menyela kelanjutan dari pembicaraan Yuri.
"Dulu mendiang pemilik tempat makan ini adalah sahabat Papah, dia yang mengajarkan Papah ilmu berdagang hingga akhirnya dengan memberanikan diri Papah bisa memulai usahanya sendiri dan memiliki toko kelontong yang sampai saat ini menjadi mata pencaharian untuk menghidupi keluarga ku. Waktu kecil aku juga sering sekali di ajak ke sini oleh Papah bahkan hampir setiap hari dengan memesan menu yang sama setiap harinya".Sambung Yuri dengan tatapan penuh arti.
"Benarkah? Apa kau tidak merasa bosan?!" Tanya Bisma.
Yuri menggelengkan kepalanya "Tidak...Aku sama sekali tidak Bosan, karena menurutku itulah cara yang di lakukan oleh Papah agar aku bisa terus mengingat hal-hal kecil dan tanpa aku sadari Papah justru mengajarkan aku satu hal penting yang aku pegang hingga saat ini bahkan bisa di bilang menjadi pegangan penting untuk kehidupan ku".
"Apa itu?" Bisma sedikit menyela.
Yuri tersenyum dan memegang tangan Bisma "Papah pernah bilang padaku, tempat ini adalah tempat awal dan juga akhir dia melabuhkan seluruh cinta dan perasaannya pada Mamah. Papah juga selalu mengatakan, kelak kalau aku sudah menemukan orang yang tepat untuk menjadi pendamping hidupku...Bawalah dia ke tempat ini dan berikanlah menu yang selalu aku pesan agar dia bisa mengerti apa yang aku sukai agar dia bisa lebih mengerti aku dan juga latar belakang keluarga ku".
" Aku tahu mungkin ini terdengar aneh, namun apa kau tahu? Apa yang Papah katakan itu tidak hanya dia katakan padaku, kedua kakak laki-laki aku juga sering mendengarnya bahkan pada saat mereka akan menjadikan pasangannya sebagai belahan jiwa terakhirnya, mereka juga membawa dan melamar istri mereka di sini" Lanjut Yuri.
"Benarkah?" Bisma sedikit terkaget-kaget.
"Iya...Bahkan hal yang mereka rasakan pun, aku rasakan saat ini padamu" Yuri tersenyum ke arah Bisma.
__ADS_1
Bisma sedikit terbelalak mendengar apa yang baru terucap dari mulut Yuri, dan sontak menatap wajah Yuri dengan mata sedikit berbinar "Maksudmu aku adalah... ".
Belum sempat Bisma menyelesaikan perkataannya, Yuri tiba-tiba menyela perkataan Bisma " Iya... Walaupun kau bukanlah yang pertama bagiku, aku berharap kau akan menjadi yang terakhir bagiku Pak Bisma!!!".