
"Apa-apaan ini? Apa yang sedang kalian lakukan?!!" Teriaknya dari kejauhan.
Astaga...Mati aku!!! Pikir Yuri dalam hati dengan mata melotot.
Mendengar teriakan yang terdengar dari arah pintu masuk, sontak saja membuat Yuri dan juga Bisma terperanjat, lalu bangun dengan cepat dari posisi tiduran tak karuan nya.
"Jadi inikah alasan yang membuatmu mencintai perempuan ini Bisma?!".
Bisma melihat dengan tatapan tak senang pada sosok lelaki tegap di hadapannya ini " Hentikan omong kosong yang keluar dari mulut Ayah itu, tak sepantasnya Ayah bicara seperti itu padanya!".
"Omong kosong katamu?" Ayah Bisma menjawab dengan nada kesal.
Melihat sebuah pembicaraan yang mulai terlihat panas di antara anak dan juga ayah di hadapannya sekarang ini, Yuri terlihat tampak canggung sekaligus kesal karena merasa tak nyaman dengan apa yang Ayah Bisma katakan padanya. Akan tetapi dia juga bingung entah harus bagaimana menghadapinya mengingat ini kali pertama Yuri bertemu secara langsung dengan Ayah Bisma.
"Lebih baik kau sekarang pergi saja ya, nanti malam aku akan datang ke rumah mu" Ucap Bisma sambil berbisik.
Yuri melihat ke arah Bisma "Tapi kau bagaimana?".
"Aku akan baik-baik saja, kau tenang saja" Balas Bisma sambil tersenyum masam.
Melihat Bisma berkata akan baik-baik saja, tentu menjadi sebuah beban pikiran yang amat berkecamuk di kepalanya antara meninggalkannya di sana bersama Ayahnya atau tetap menemaninya dengan catatan akan terus mendengarkan ocehan pedas dari Ayah Bisma yang begitu amat memekikan telinganya.
Bisma langsung menarik tangan Yuri agar dia segera pergi dari ruangan nya dan tak menghiraukan apa yang baru saja Ayahnya katakan. Namun baru saja Yuri hendak akan melangkahkan kakinya, tiba-tiba Ayah Bisma berbalik dan menatap Yuri dengan pandangan merendahkan "Aku harap ini terakhir kalinya kau menemui anakku dengan cara kotor seperti ini. Kau harus sadar diri karena kau adalah perempuan yang tidak pantas untuk anakku Bisma!".
"Ayah Hentikan!!!" Teriak Bisma.
"Kau yang harusnya menghentikan tindakanmu ini Bisma. Sadarlah dia bukan perempuan yang baik untukmu!" Sahut sang Ayah.
Yuri bergetar dan terdiam membeku seolah kakinya terpaku dan amat susah sekali untuk dia gerakan.
__ADS_1
"Sudah cukup Ayah!! Kau benar-benar sudah kelewatan kali ini" Bisma mengepalkan kedua tangannya dengan mata yang perlahan memerah menahan amarahnya yang sudah memuncak.
Tetapi di saat yang tepat Yuri langsung memegang tangan Bisma dan beralih menatapnya wajahnya "Sudah...Sudah...Tak baik kau berkata seperti itu pada Ayahmu, aku tidak apa-apa sungguh".
Bisma menatap Yuri dengan wajah nanar nya " Maafkan aku".
Yuri tersenyum satir "Tidak apa-apa, untuk sekarang lebih baik kau selesaikan semua kesalah pahaman ini dengan baik-baik tidak perlu lagi ada keributan. Ingatlah dia itu Ayahmu jangan sampai kau membuatnya terluka".
"Om saya permisi dulu" Ucap Yuri sambil sedikit menundukkan kepalanya seraya menghormati Ayah Bisma, kemudian pergi meninggalkan ruangan Bisma dengan air mata yang perlahan keluar dari kedua matanya karena sudah tidak bisa tertahankan lagi.
"Puas Ayah telah membuatnya menangis? Puas Ayah telah membuatku malu di hadapannya hari ini hah?" Bisma bicara dengan nada tinggi sambil berjalan mendekat ke arah Ayahnya.
"Apa yang telah perempuan itu berikan padamu hingga kau berani bicara kurang aj*r seperti ini pada Ayah kandungmu sendiri?!" Tanya Ayah Bisma kesal.
Mendengar perkataan sang Ayah yang semakin tidak pantas di tunjukan untuk Yuri, Bisma pun tak bisa menahan amarahnya hingga tangannya menggebrak meja di hadapannya dengan cukup keras "Cukup!!! Aku sudak muak dengan semua perkataan Ayah, lebih baik kau pergi saja dari sini sekarang juga".
" Berani sekali kau mengusir Ayahmu ini hanya karena untuk membela perempuan ja**ng itu?!".
Ayah Bisma sedikit terkejut mendengar teriakan anak laki-laki di hadapannya ini, mengingat tak seperti biasanya dia berani berkata keras padanya hingga membuat dirinya keheranan dan juga sedikit syok melihat tindakan Bisma kali ini.
Pada malam harinya Yuri tampak mondar mandir di teras rumah sembari memegangi hp nya dengan perasaan gelisah dan gundah gulana karena sedari tadi dia pulang kuliah Bisma sama sekali tidak menghubunginya, bahkan saat Yuri mencoba untuk menghubungi Bisma, dia tidak menjawab telepon Yuri satu kali pun.
Kenapa dia tidak menjawab telepon dariku ya?
Apakah terjadi sesuatu antara mereka berdua?!
Ah apa yang aku pikirkan! Sahut Yuri sambil mencoba kembali menghubungi Bisma.
Tak terasa waktu menunjukan pukul sepuluh malam, Yuri baru tersadar sudah dua jam dia menunggu kedatangan Bisma ke rumahnya. Tak di pungkiri ada rasa kecewa yang timbul di hati Yuri namun ada perasaan seolah dia mengerti dengan apa yang Bisma rasakan saat ini, sehingga membuat Yuri memaklumi dengan ketidak datangan Bisma ke rumahnya kali ini.
__ADS_1
Sebelum Yuri memasuki rumahnya dia melihat ke arah hp nya sejenak lalu mengetik sesuatu dengan sedikit senyuman hangat yang keluar dari mulutnya, dan tak lama dia masuk ke dalam rumahnya sambil mengelus sedikit pundaknya yang terasa berat hari ini.
Keesokan paginya, kampus terasa ramai dengan gosip hangat seputar keributan yang terjadi kemarin di ruangan Bisma. Bahkan ada salah satu siswa yang mengatakan kalau Bisma sedang bertengkar dengan sang kekasih yang mendapati dirinya tengah berselingkuh dengan perempuan lain di kantornya, ada pula yang mengatakan kalau Bisma ternyata orang kasar, ada pula yang bilang kalau Bisma ternyata bukanlah laki-laki baik seperti yang terlihat, dan masih banyak gosip aneh lainnya tersebar di sekitaran kampus yang sangat membuat Yuri tak nyaman dan memutuskan untuk berdiam diri sejenak menenangkan pikirannya yang penat di taman belakang kampus tempat dirinya biasa menyendiri.
"Hah...Apa yang sebenarnya terjadi padamu pak, kenapa pula hari ini kau tidak datang ke kampus?" Ucap Yuri pelan sambil terus menatap hp nya.
Tak berselang lama Hani berjalan mendekat ke arah Yuri kemudian duduk di sampingnya sambil membawa ice greentea kesukaan Yuri "Nih aku bawakan minuman kesukaanmu".
Yuri melihat ke arah Hani sambil menerima minuman pemberian darinya " Oh..Terimakasih Han".
"Kamu baik-baik saja kan Ri?" Hani bertanya merasa khawatir.
"Entahlah Han, aku tidak yakin" Jawab Yuri sambil mengaduk ringan minuman pemberian Hani.
"Pak Bisma sudah bisa di hubungi?" Sambung Hani.
Yuri menggelengkan kepalanya "Belum...Sekarang bahkan hp nya tidak aktif".
" Kamu yang sabar ya Ri, mungkin Pak Bisma butuh waktu untuk sendiri dulu" Hani menepuk pelan pundak Yuri untuk sedikit menenangkan pikirannya.
Yuri menyandarkan punggungnya di sandaran kursi "Iya aku ngerti kok Han, tapi kenapa harus pake gak aktifin hp segala sih Han? Aku kan khawatir jadinya!".
" Mungkin dia lagi benar-benar pengen sendiri aja Ri, aku gak tau seberapa besar masalah yang terjadi antara kalian dan Ayah Pak Bisma. Tapi seenggaknya untuk saat ini lebih baik kamu berfikir positif aja dan doakan supaya tidak terjadi apa-apa dengan Pak Bisma" Jelas Hani.
"Hah...Iya Han, makasih yah masukannya" Balas Yuri sambil menghela nafas panjang.
Sementara itu di rumah Bisma para pelayan tengah bersiap membereskan semua perlengkapan Bisma ke dalam koper tanpa terkecuali dengan sangat amat hati-hati tanpa ada yang terlewati satu pun. Dari dalam kamar Bisma muncul sosok sang Ayah dengan wajah tegas sambil melihat salah satu kotak perhiasan kecil, lalu tak lama dia berjalan ke arah tempat sampah yang tak jauh dari kamar Bisma, kemudian tanpa pikir panjang dia langsung membuang kotak perhiasan itu dan kembali berbalik dengan tatapan dinginnya.
"Persiapkan penerbangan untuk ke Singapura malam ini juga dan jangan lupa bawa semua barang-barang Bisma tanpa ada satupun yang terlewatkan!!" Tegas Ayah Bisma pada sang Asisten Pribadinya.
__ADS_1
"Baik Tuan, apa ada lagi yang lain?" Tanya nya dengan sopan.
Sejenak Ayah Bisma terdiam sambil menatap sekitaran rumah Bisma dengan raut wajah yang sulit di artikan sambil menyentuh sebagian buku-buku Bisma yang masih tersusun rapih di rak buku tak jauh dari hadapannya "Buatkan iklan kalau rumah ini akan di jual!!!".