Pak Dosen I Love You

Pak Dosen I Love You
episode 47


__ADS_3

Keesokan paginya Dokter yang memeriksa Bisma kembali ke rumah untuk mengecek kesehatan Bisma , sementara di dapur Yuri menyiapkan sarapan pagi dan juga teh hangat untuk sang Dokter. Tak ingin terlewatkan kedua Orang Tua Yuri mendampingi Dokter yang tengah memeriksa Bisma di kamar karena penasaran dan ingin mengetahui kondisi terkini Bisma.


Di sela pemeriksaan tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya Yuri mulai menyelinap masuk ke kamar dan ikut memperhatikan keadaan Bisma sembari membawakan makanan untuk Bisma.


"Bagaimana keadaanya sekarang Dok ?" Tanya Papa Yuri.


Dokter tersenyum setelah memeriksa Bisma "Alhamdulillah keadaanya sudah membaik, tinggal banyakin istirahat , makan teratur, dan jangan terlalu banyak pikiran"


Mendengar kata jangan terlalu banyak pikiran membuat kedua Orang Tua Yuri dan Yuri saling memandang dan hanya mengangguk tanda mengerti.


Setelah pemeriksaan selesai Dokter mencatat resep obat untuk Bisma dan memberikan arahan-arahan kecil agar Bisma bisa lebih menjaga kesehatan agar sakitnya tidak kambuh kembali , lalu mereka semua keluar dari kamar kecuali Yuri yang masih berdiri menatap Bisma sembari membawa tatakan berisi makanan untuk sarapan.


Bisma melihat ke arah Yuri "Apa kamu akan terus berdiri seperti itu ?".


"Ah itu...Ini aku bawakan makanan untuk mu" Tutur Yuri sedikit kaget.


"Iya terimakasih, kamu bisa simpan saja di meja" Ujar Bisma yang tengah melihat bekas infus di tangannya.


Yuri menyimpan makanan di atas meja dekat tempat tidur lalu duduk di dekat Bisma kemudian memperhatikan wajahnya yang masih sedikit terlihat pucat.


"Bagaimana keadaan Bapak sekarang ?" Yuri memberanikan diri untuk bertanya.


Bisma melihat ke arah Yuri lalu memalingkan wajahnya ke sembarang tempat "Itu...Tadi kamu sudah dengar kan penjelasan dari Dokter tentang keadaanku ?!".


"Aku ingin mendengar langsung darimu" Ucap Yuri sembari menghela nafas panjang.


Bisakah kau berhenti untuk membuatku berdebar ?!. Pikir Bisma.


"Aku...Aku sudah baikan kok" Sambung Bisma.


"Syukurlah kalau begitu" Yuri tersenyum lega setelah mendengar penjelasan dari Bisma.


"Kalau begitu aku keluar dulu ya , jangan lupa habiskan sarapannya dan jangan lupa minum obat" Sambung Yuri.


Bisma kembali melihat Yuri dan menganggukkan kepalanya tanda mengerti tanpa berkata apapun lagi.


Setelah melihat Yuri keluar Bisma tertawa kecil dan melihat ke arah ponselnya dengan tatapan penuh arti.


"Kuharap kita akan terus seperti ini....Gadis ceroboh" Gumam Bisma pelan.


***

__ADS_1


Sementara di ruang tamu terlihat sang Dokter dan Papa Yuri tengah asik berbincang di temani teh manis hangat dengan sesekali tawa ringan yang memperlihatkan betapa dekatnya mereka berdua.


Tentu saja dekat karena ternyata Dokter atau yang lebih tepatnya Dokter Rangga adalah teman sepermainan Papa Yuri saat dulu masih duduk di bangku SMA bahkan sampai saat ini.


"Sejak kau mulai membuka praktek sediri , kau jadi jarang sekali ya main ke rumah" Papa Yuri bicara dengan santai.


Dokter Rangga tersenyum "Iya maaf...Semenjak aku memutuskan untuk membuka praktek sendiri kesibukanku jadi semakin bertambah dan tak ada waktu untuk untuk kemanapun".


" Lalu kenapa kau sekarang masih ada disini ? pulang aja sana" Ceplos Papa Yuri dengan terkekeh.


"Ah gila...Orang satu ini dari dulu selalu saja tidak sopan seperti ini" Ucap Dokter Rangga menggelengkan kepalanya.


"Hahaha...Bercanda Pak Dokter jangan di ambil hati" Sambung Papa Yuri.


Dokter Rangga tersenyum dan mulai meminum teh hangat yang ada di depannya "Ngomong-ngomong kalau boleh tau siapa anak laki-laki itu ? saudaramu atau... ".


Papa Yuri menghela nafas "Ada apa memangnya ?".


"Aku hanya bertanya saja , soalnya aku belum pernah melihat anak laki-laki itu ada di lingkungan keluargamu" Gumam sang Dokter.


Papa Bisma meminum teh hangat kemudian menyandarkan dirinya di kursi "Dia itu teman sekaligus Dosen dari anak perempuanku".


"Teman dari anak keduaku Tomi , dan Dosen dari anak bungsuku Yuri"Jelas Papa Yuri.


" Oh begitu, aku kira dia itu pacar anak perempuanmu" Dokter Rangga kaget.


Papa Yuri tersenyum "Aku juga pengennya kaya gitu".


"Pengennya ? apa maksudmu ?" Lanjut Dokter Rangga.


Papa Yuri menghela nafas kemudian kembali meminum teh hangat yang sedari tadi di pegang nya.


"Iya aku pengennya dia itu bukan sebatas Dosen anakku , tetapi juga menjadi pasangan untuk anak perempuanku" Jelas Papa Yuri.


"Kalau itu kan gampang , tinggal jodohkan saja mereka berdua , lagian aku lihat mereka berdua cocok kok" Seru Dokter Rangga.


"Untukmu gampang , tapi tidak untukku !" Sambung Papa Yuri.


"Apakah ada masalah dengan mereka berdua ?" Tanya Dokter Bisma penasaran.


"Tidak..Aku hanya tidak ingin memaksakan kehendak ku saja , di tambah lagi anakku juga sudah mempunyai orang yang dia cintai" Jawab Papa Yuri dengan raut wajah terlihat sedikit murung.

__ADS_1


"Oh begitu , terus kenapa kamu terlihat tidak senang ketika membahas tentang orang yang di cintai anakmu ?" Dokter Rangga masih penasaran.


"Menurutmu bagaimana aku bisa senang ketika mendengar dan melihat anak perempuan satu-satunya yang sangat aku jaga dan sangat aku sayangi itu di campakkan oleh orang lain ?!" Ucap Papa Yuri dengan kesal.


Dokter Rangga mendadak diam melihat ekspresi tak biasa dari raut wajah Papa Yuri.


"Seumur hidup aku bahkan belum pernah menyakiti anak perempuanku bahkan sampai seujung rambutnya pun aku selalu menjaganya dengan sangat baik , tapi laki-laki ini dengan sangat berani telah mencampakkan anakku sampai-sampai aku selalu mendengarnya menangis setiap malam , bahkan aku melihatnya seperti tidak semangat untuk hidup !" Sambung Papa Yuri dengan panjang lebar.


Dokter Rangga memposisikan duduknya dengan raut wajah kesal dan serius "Ku*a*g *j*r , siapa laki-laki itu ? berani-beraninya dia melakukan tindakan pengecut seperti itu !".


Papa Yuri menghela nafas panjang " Sudahlah jangan bahas dia lagi , karena walaupun dia telah menyakiti anakku , aku tetap tidak bisa ikut campur lebih dalam dengan hubungan mereka berdua"


"Kenapa seperti itu ? apa kau tidak kesal melihat anakmu di perlakukan seperti itu ?!" Ucap Dokter Rangga kesal.


"Tidak munafik aku sangat kesal melihatnya , bahkan kalau bisa aku ingin membuat perhitungan dengan laki-laki itu. Hanya saja aku pikir untuk apa aku melakukannya pada laki-laki b**n*s*k itu ?!" Tutur Papa Yuri.


Papa Yuri menutup matanya dalam-dalam dan menenangkan pikirannya "Aku tidak ingin membuat anakku malu dengan sikap kekanakan yang aku lakukan karena dasar emosi , aku anggap ini adalah pembelajaran yang di buat oleh Tuhan untuk mendewasakan anak perempuanku agar lebih berhati-hati dalam memilih pasangan !".


Dokter Rangga mengangguk dan membuang nafas panjang karena terpancing emosi setelah mendengar cerita dari teman yang ada di depannya ini.


"Terus apa yang akan kau lakukan sekarang ?!" Sambung Dokter Rangga.


Papa Yuri melihat ke arah Dokter Rangga "Aku akan menunggu itikat baik dari laki-laki itu untuk meminta maaf pada anakku".


"Kalau dia tidak minta maaf gimana ?" Tambah Dokter Rangga.


"Aku yang akan memutuskan hubungan mereka !" Tegas Papa Yuri


Dokter Rangga menatap Papa Yuri kemudian menepuk pundaknya "Baiklah...Aku akan selalu mendukung apapun yang menurutmu baik untuk dilakukan".


Saat Dokter Rangga dan Papa Yuri membicarakan masalah serius yang terjadi dengan Yuri , tanpa sepengetahuan mereka ada seseorang yang tanpa sengaja mendengar pembicaraan mereka dan tanpa sadar tengah mengepalkan tangannya karena ikut kesal lalu berjalan meninggalkan ruang tamu.


.


.


.


\=\=\=> Hai teman teman... Jangan lupa untuk klik favorit , like , vote , dan komen di karya aku ya , biar karya ku bisa menjadi no 1 hehe🥰👋.


Terimakasih juga untuk semua teman teman pembaca yang sudah setia membaca karya ku dan memberikan supportnya🙏🙏 , dukungan kalian akan sangat berarti untuk perkembangan karya ku, jangan bosan untuk menunggu kelanjutan kisah Yuri ya☺☺see you🤗.

__ADS_1


__ADS_2