
Saat tiba di kampus Yuri dengan segera pergi mendatangi ruangan Bisma untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi padanya hingga Bisma tidak bisa sama sekali di hubungi seharian kemarin.
Namun pada saat Yuri mencoba mengetuk ruangannya dan membuka pegangan pintu, ruangan Bisma masih terkunci rapat dan tak terlihat ada aktifitas apapun di dalamnya.
Tumben jam segini dia belum datang ke kampus? Apa hari ini dia tidak akan masuk ya?! Gumam Yuri dengan wajah khawatirnya.
Akan tetapi karena Yuri merasa masih penasaran dengan bagaimana kondisi Bisma saat ini, dia pun mencoba kembali menelepon Bisma berharap akan mendapat jawaban dari Bisma.
"Hah masih tidak di jawab juga, ada apa sebenarnya dengan Pak Bisma? Sampai-sampai dia tidak bisa aku hubungi!" Bisik Yuri yang kemudian berjalan pergi dengan raut wajah yang mulai terlihat sedih.
Saat Yuri tengah mengikuti pelajaran, dia sama sekali tidak bisa berkonsentrasi karena pikirannya terus di penuhi oleh kenapa dan bagaimana Bisma sekarang ini. Sesekali dia mencoba kembali untuk mengirimkan pesan pada Bisma bahkan mencoba beberapa kali meneleponnya meskipun ujung-ujungnya sama sekali tidak mendapatkan jawaban dari Bisma.
Hani yang menyadari ada sesuatu pada Yuri langsung bertanya dengan suara sedikit pelan "Yuri kamu kenapa?".
"Tidak kenapa-napa Han, aku hanya sedang memikirkan sesuatu saja" Jawab Yuri pelan.
"Kalau boleh tau kau sedang memikirkan apa Ri? Sampai kamu gelisah seperti itu?!" Bisik Hani.
Yuri menatap Hani kemudian tersenyum "Nanti kalau waktunya sudah tepat akan aku ceritakan semuanya padamu!".
Maaf ya Han, aku belum bisa mengatakannya padamu sekarang. Gumam Yuri dalam hati.
Hani mengangguk sebagai jawaban, dan kembali memperhatikan Dosen yang sedang menerangkan materi.
Di saat pembelajaran telah selesai, Yuri bergegas membereskan semua peralatan tulis dan juga buku ke dalam tas nya dengan sangat terburu-buru hingga Intan dan juga Hani merasa bingung di buatnya.
"Ri...Lo sebenarnya mau kemana sih? Dari tadi gw lihat lo buru-buru banget!" Tanya Intan penasaran.
"Nanti gw jelasin Tan, untuk sekarang gw lagi terburu-buru banget dan jangan lupa di pelajaran selanjutnya lo absenin gw ya?!" Sahut Yuri yang kemudian pergi meninggalkan kedua sahabatnya yang masih terpana memperhatikan Yuri.
Yuri berlari dengan kencang ke arah parkiran motor kemudian tak lama langsung menghidupkan motornya dan pergi meninggalkan kampus dengan wajah penuh harap akan bertemu dengan Bisma di rumahnya yang memang berjarak tidak terlalu jauh dari kampus.
Setelah bergulat dengan jalanan yang panas dan juga kemacetan ibu kota, Yuri akhirnya sampai di depan gerbang rumah Bisma dengan senyum yang perlahan terlihat dari sudut bibirnya karena melihat mobil Bisma terparkir rapih di depan rumahnya.
"Akhirnya Aku bisa bertemu dengan Pak Bisma" Seru Yuri yang kemudian mencoba masuk ke dalam pekarangan rumah Bisma untuk mencoba bertemu dengan Bisma.
Tok...Tok...Tok...
__ADS_1
Yuri mengetuk pintu rumah Bisma selama beberapa kali dengan perasaan sedikit tegang dan khawatir akan kondisi Bisma. Namun setelah lumayan lama Yuri mengetuk pintunya perlahan suara langkah kaki terdengar dari dalam rumah Bisma dan betapa senangnya Yuri saat mengetahui bahwa Bisma sendiri yang ternyata membukakan pintu Yuri.
Wajah Yuri sontak berubah dari gelisah menjadi sangat senang saat melihat Bisma berdiri tegap di hadapannya hingga dengan reflek Yuri memeluk Bisma dengan sangat erat "Kau kemana saja sih? Aku sangat menghawatirkan mu!".
Bisma yang juga merasakan perasaan sama seperti Yuri langsung membalas pelukan Yuri dengan sama eratnya sambil sesekali memberikan kecupan hangat pada kening Yuri.
"Apa kau sakit? Kenapa seharian kemarin kau susah sekali untuk di hubungi? Bahkan semua pesan yang aku kirimkan tak satupun kau balas!" Sambung Yuri sambil memegang pipi Bisma.
Bisma tersenyum dan menatap Yuri "Maafkan aku karena sudah membuatku khawatir, kemarin HP ku ketinggalan di sebuah restoran dan aku lupa mengabari mu".
"Oh begitu...Aku pikir kau sakit atau kenapa, soalnya kemarin aku dengar dari teman-teman kelas katanya kau di jemput oleh empat pria lalu membawamu ke dalam sebuah mobil, apa itu benar?!" Tanya Yuri.
Mendadak Bisma terdiam ketika mendengar apa yang tengah Yuri bicarakan padanya lalu menatap Yuri dengan serius dan menarik tangannya ke dalam rumah. Yuri terhenyak karena kaget melihat wajah Bisma yang mendadak serius dan menyandarkan Yuri di tembok dengan kedua tangannya.
"Ke..Kenapa Pak?" Sambung Yuri dengan jantung yang mulai berdebar kencang.
"Yuri kau benar-benar mencintaiku kan?" Tanya Bisma dengan sangat tiba-tiba.
Yuri menatap Bisma kemudian menganggukkan kepalanya "Te..Tentu saja, memangnya ada apa kau menanyakan itu padaku?".
"Kau serius mencintaiku kan?" Wajah Bisma perlahan membuat Yuri menegang.
Bisma kembali menatap Yuri dengan dalam lalu perlahan mendekatkan dirinya pada Yuri "Kalau begitu...Maukah kau menikah denganku?!".
"Apa?!! Menikah?" Yuri membelalakkan matanya seolah tak percaya.
"Aku serius Yuri, menikahlah denganku saat ini!" Tegas Bisma.
"Tu...Tunggu dulu Pak, apa kau saat ini sedang bercanda?" Yuri sedikit mendorong tubuh Bisma agar dirinya bisa berpikir dengan tenang.
Namun belum sempat Yuri menghindar dari jangkauan Bisma, mendadak tangan Bisma menarik kembali tangan Yuri kemudian dengan cepat Yuri di kembalikan ke posisinya semula lalu dengan cepat dan tanpa di duga dia mengec*p bibir mungil Yuri dengan perasaan Bisma yang sedang kalut.
Flashback
"Hah...Baiklah kita sekarang langsung ke intinya saja. Bisma dalam waktu dua minggu ke depan aku dan keluarga Pak Hanggono akan mempersiapkan acara pertunangan untuk kau dan Shiren!" Jelas Ayah Bisma.
"Apa? Yang benar saja?!!" Teriak Bisma sambil menggebrak meja dengan cukup keras.
__ADS_1
Ayah Bisma menatap ke arah anaknya dengan tatapan tak kalah dingin darinya "Tak usah sampai berteriak seperti itu, cukup diam saja dan jangan membantah!".
"Kau tak bisa melakukan ini padaku!! Aku juga punya hak untuk menentukan pilihan hidupku sendiri!" Terang Bisma pada sang Ayah.
"Berbicara Hak...Aku juga punya untuk menentukan masa depan darah daging ku sendiri!" Ucap Ayah Bisma tak kalah tegas.
Sejenak Yuri terdiam dan tak menolak dengan apa yang tengah Bisma lakukan padanya saat ini sambil memegang erat tangan Bisma. Bisma yang langsung tersadar dari apa yang baru saja dia lakukan pada Yuri, perlahan mulai melonggarkan pegangannya pada Yuri lalu menatap ke arah Yuri dengan perasaan bersalahnya tanpa bisa berkata sepatah katapun.
Namun di saat kedekatan Yuri dan juga Bisma mulai terlihat intens, dari dalam rumah Bisma perlahan terdengar suara seorang perempuan yang tidak asing di telinga Yuri memanggil-manggil nama sang pemilik rumah, dan membuat Yuri juga Bisma beralih menatap ke arah suara itu terdengar.
"Bis...Kamu dimana sih? Ini Ayah mu nelepon dari tadi!" Ucap sang perempuan dengan setelan baju tidurnya yang perlahan menampakan sosoknya di hadapan Yuri.
"Shiren??" Ucap Yuri kaget.
Melihat wajah Yuri yang nampak kaget karena Shiren tengah berada di rumahnya, Bisma hanya terdiam dan menundukkan kepalanya dengan mata terpejam berharap Yuri dapat mengerti dengan semua penjelasan dan juga kondisi yang akan dia katakan pada Yuri saat ini.
Yuri menatap tajam ke arah Bisma sambil menghela nafas panjang "Adakah yang ingin kau jelaskan padaku?!".
"Yuri...Sorry sebelumnya, aku bisa jelasin semuanya kok alasan kenapa aku bisa berada di sini?!" Sahut Shiren mendekat ke arah Yuri dan juga Bisma.
"Yah tentu saja, aku berharap kalian bisa menjelaskan semuanya padaku saat ini juga!" Tegas Yuri dengan raut wajah yang mulai terlihat kesal.
Bisma memegang tangan Yuri kemudian mengajaknya untuk duduk terlebih dahulu agar dirinya bisa tenang. Dan setelah semuanya di rasa tenang dan juga kondusif akhirnya Bisma juga Shiren mulai menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada Yuri tanpa ada yang terlewatkan sedikitpun.
Setelah mendengar permasalahan yang begitu pelik menimpa Bisma dan juga Shiren, seketika perasaan kesalnya memudar berubah menjadi sedih dan juga bingung dengan kelanjutan hubungannya bersama Bisma yang ternyata mendapat pertentangan dari Ayah Bisma sendiri.
Untuk sesaat Yuri hanya terdiam dan tak bisa merespon apapun setelah Shiren dan juga Bisma selesai menjelaskan semuanya dari mulai pertunangan sampai dengan ikatan keluarga yang terjalin erat dari sejak mereka berdua kecil.
"Yuri...Itulah alasan yang membuatku ingin menikahi mu saat ini juga. Aku benar-benar bingung saat ini karena aku tidak ingin kehilangan dirimu!" Ucap Bisma sambil memegang erat tangan Yuri.
"Tapi bukan dengan cara seperti itu Pak, aku tahu kau sangat mencinta ku begitupun juga aku. Namun tak bisakah kita bicarakan semua ini dengan Ayahmu secara baik-baik?!" Balas Yuri mencoba menenangkan Bisma.
Bisma menatap Yuri dengan raut wajah yang penuh keputus asaan "Harus dengan cara apalagi? Aku sudah bingung sekali apalagi dengan jarak pertunangan kami yang hanya tinggal dua minggu lagi!!".
Shiren dan Yuri terdiam namun dengan saling memandang seakan sedang ada pergolakan batin di antara mereka apalagi dengan posisi Yuri yang mengetahui perasaan Shiren yang sebenarnya pada Bisma, sehingga membuat Yuri semakin lebih berhati-hati untuk mengambil setiap keputusan agar Shiren tidak memanfaatkan keadaan yang sebenarnya bisa sangat menguntungkan untuk dirinya sendiri.
"Apakah Ayahmu masih berada Jakarta?!" Tanya Yuri tiba-tiba yang membuat Bisma dan juga Shiren terkejut.
__ADS_1
"Memangnya untuk apa kau menanyakan Ayahku?" Sahut Bisma.
Yuri menatap Bisma sejenak lalu memegang Pipi Bisma yang sedikit lebam karena tamparan yang di dapatkan dari ayahnya "Aku akan membalaskan ini pada Ayahmu!!".