
Kenapa mendadak perasaanku tidak enak ya?. Gumam Yuri gelisah.
Langkah kaki terdengar berhenti tepat di luar pintu. Pintu kelas mulai terbuka dan terlihat bayangan sosok seseorang yang membuat jantung Yuri semakin berdebar kencang.
Saat seseorang mulai memasuki ruang kelas kegelisahan Yuri seakan pecah di gantikan dengan senyuman kelegaan karena sosok orang yang masuk ke kelasnya ternyata bukanlah Bisma.
"Ah...Syukurlah" Bisik Yuri sambil mengusap dadanya yang sedari tadi sudah berdebar.
Yuri pun kembali melanjutkan mengerjakan soal ujiannya, hingga tak terasa waktu ujian selesai dan dengan segera Yuri mengumpulkan kembali soal ujian beserta lembar jawabannya.
Saat di ke luar ruangan Yuri di sambut oleh Hani dan kedua sahabat lainnya yang sudah jarang bertemu dengannya karena berbeda kelas dan jadwal perkuliahan.
"Ah Seni, Sela apa kabar kalian?!" Ucap Yuri sambil memeluk kedua sahabatnya itu.
Kedua sahabatnya itu membalas pelukan Yuri dengan perasaan senang karena bisa kembali bertemu dengan Yuri "Kita baik-baik aja, kamu gimana Ri?!".
"Aku juga baik-baik aja, ngomong-ngomong kalian kok bisa barengan sama Hani?" Tanya Yuri.
Hani tersenyum dan saling melihat ke arah dua sahabatnya itu "Kamu pasti iri deh dengernya".
Yuri mengerutkan alisnya " Iri? Iri kenapa emang?".
"Aku bisa ketemu sama mereka berdua karena kebetulan kami satu ruangan Ri" Balas Hani sambil tersenyum.
Yuri terperanjat kaget sambil menutup mulutnya "Benarkah? Ih senengnya kalian bisa satu ruangan".
"Hehe...Iya dong, sebenarnya kita gak nyangka juga bisa satu ruangan loh Ri" Sambung Sela.
"Iya aslinya deh, apalagi tadi yang jadi pengawas di ruangan kita adalah Pak Dosen tampan itu" Tambah Sena.
Yuri hanya nyengir puas karena bersyukur kalau Bisma ternyata menjadi pengawas di ruangan tempat Hani, Seni, dan Sela melaksanakan ujian.
"Eh btw si Intan kemana Ri?" Tanya Sela.
Yuri baru teringat dan langsung membalikan badannya kembali ke arah kelas untuk menyusul Intan yang masih berada di dalam kelas.
Saat Yuri hendak masuk ke kelas, betapa terkejutnya Yuri dan ketiga sahabat lainnya tak kala melihat Intan sedang tersungkur di atas meja dengan wajah yang sedikit pucat.
"Tan lo kenapa?!" Tanya Yuri khawatir.
Intan menatap Yuri dan ke tiga sahabat lainnya yang tampak khawatir "Hiks hiks...Gw gak sempet isi semua soal essai tadi gimana dong?".
Mereka semua yang mendengar keluhan Intan tadi saling menatap dan kembali bertanya kepada Intan.
__ADS_1
"Emang berapa yang lo gak sempet isi Tan?" Tanya Seli sambil duduk di sisi Intan.
"Dua sih Sel" Jawab Intan pelan.
Mereka semua dengan kompak menghela nafas lega lalu mencoba menghibur Intan dengan mengajaknya pergi untuk membeli minuman dingin agar bisa menyegarkan pikirannya.
"Kita beli minum ke cafe biasa ya?!" Ajak Intan yang mendadak sumringah.
"Ck...Belagu lo harus ke cafe segala, yang deket aja napa?!" Tegas Yuri.
"Ih kan katanya kalian mau hibur gw, kalau mau hibur gw kita minumnya di cafe tempat biasa kita nongkrong aja" Ucap Intan sambil berjalan menggandeng Yuri dan Sela.
"Aish...Gw lagi gak punya duit Tan, beli minum di pinggiran jalan aja napa sih?!" Gerutu Sela yang masih setengah di seret oleh Intan.
Intan menggelengkan kepalanya dengan cepat "Ah gak level gw, nanti gw bisa sakit perut kalau minum minuman pinggir jalan".
Yuri memicingkan matanya " Dih sejak kapan lo kaya gitu? biasanya juga kan lo minum beli di kantin".
"Tau tuh anak satu, ada-ada aja!!" Sambung Seni.
"Ah pokoknya gak mau, gw mau nya kita beli minum di cafe tempat biasa kita nongkrong titik" Tegas Intan penuh penekanan.
Hani yang mendengar kegaduhan di antara mereka hanya menggelengkan kepalanya dan mengikuti dari belakang sambil tersenyum tanpa berkomentar apa pun.
.
.
Sesampainya di sana, mereka langsung memesan minuman sambil sesekali melihat menu-menu makanan yang terlihat menarik untuk di makan.
Namun saat mereka semua masih melihat-lihat menu yang akan di pesan, tanpa sengaja Yuri melihat Intan yang sedari tadi celingukan melihat ke arah meja kasir dengan wajah yang harap-harap cemas.
"Eh Tan, lo gak pesan minum?" Ucap Yuri yang langsung membuyarkan pikiran Intan.
"Eh iya itu...Gw pesan minuman yang biasa aja deh" Jawab Intan singkat.
Seni dan Sela saling melihat dan sama-sama menggelengkan kepalanya.
"Ini anak kenapa sih? dari tadi tingkahnya aneh" Gerutu Sela.
"Udah jangan di pikirin, biarin aja nanti juga dia kaya biasa lagi" Seru Hani.
Setelah selesai memesan minuman, mereka semua berbincang layaknya seseorang yang sudah lama tak bertemu selama bertahun-tahun. Di tengah-tengah cerita seputar alasan jarangnya mereka bertemu mendadak wajah Intan berseri-seri tak kala melihat seorang laki-laki yang membawa nampan minuman berjalan ke arah meja mereka sambil tersenyum dengan sangat ramah.
__ADS_1
"Permisi...Ini pesanannya" Ucap pelayan laki-laki itu.
"Iya terimakasih" Balas Intan sembari terus menatap wajah pelayannya.
Saat dia telah selesai menyajikan semua minuman, dengan ramah dia mempersilahkan untuk menikmati semua minuman yang sudah tersaji di meja, lalu pergi kembali ke arah dapur.
Menyadari ada sesuatu pada Intan, Yuri memberanikan diri bertanya padanya sambil menikmati minuman yang Yuri pesan.
"Lo kenal sama dia?" Yuri menatap ke arah Intan.
Hani, Seni, dan Sela mendadak menghentikan aktifitas minumnya lalu beralih menatap Intan dengan wajah serius.
"Ih lo pada kenapa sih? Serius amat liat muka gw" Sahut Intan dengan wajah sedikit memerah.
"Jawab dulu pertanyaan si Yuri Tan!!" Tegas Seli dengan wajah penasarannya.
Intan terlihat malu-malu untuk mengakuinya, lalu tak lama akhirnya dia mengakui sesuatu yang sudah lama dia pendam tanpa sepengetahuan mereka.
"Cowok tadi...Dia adalah cowok yang gw sukai" Jelas Intan.
"Hah...Apa Tan?" Jawab mereka berempat dengan kompak.
"Ah s**l...Jangan keras-keras dong, bikin gw malu aja!!" Bisik Intan yang masih bisa di dengar oleh Yuri dan kawan-kawan.
***
Setelah hampir satu jam mereka di cafe untuk nongkrong-nongkrong sambil mendengarkan cerita Intan tentang kesukaannya pada pelayan laki-laki itu, mereka akhirnya pulang dan berpisah mengambil jalan berbeda karena memang arah rumah mereka tidak sama, termasuk Yuri.
Yuri berjalan kaki sendirian menuju jalan raya besar sambil menunggu angkutan umum yang melewati arah tempat tinggalnya.
"Ck...Hp pake mati segala lagi, jadi gak bisa pesan gojeg kan?! Mana ini udah sore lagi nyari angkot pasti bakal susah!!" Ucap Yuri sambil berdecak kesal.
Saat Yuri masih berjalan sambil menggerutu kesal karena sudah lama menunggu angkutan umum yang tak kunjung terlihat, sebuah mobil mewah yang sudah tidak asing lagi baginya tiba-tiba berhenti tepat di hadapannya.
Ini mobilnya Pak Bisma kan?! Gumam Yuri penasaran.
.
.
.
\=\=\=> Hai teman teman... Jangan lupa untuk klik favorit , like , vote, dan komen di karya aku ya , biar karya ku bisa menjadi no 1 hehe🥰👋.
__ADS_1
Terimakasih juga untuk semua teman teman pembaca yang sudah setia membaca karya ku dan memberikan supportnya🙏🙏 , dukungan kalian akan sangat berarti untuk perkembangan karya ku, jangan bosan untuk menunggu kelanjutan kisah Yuri ya☺☺see you🤗.