Pak Dosen I Love You

Pak Dosen I Love You
episode 42


__ADS_3

Langkah Yuri terhenti tak kala melihat Bisma memegang tangannya dan mencegahnya untuk pergi.


Karena tak tega Yuri menghentikan langkahnya kemudian duduk di samping Bisma , melihat Bisma yang masih tidak sadarkan diri membuat Yuri semakin khawatir dengan keadaannya , tetapi karena tangan Bisma yang sangat erat memegang tangan Yuri , membuat Yuri tidak bisa berkutik dan hanya bisa terduduk sambil mengompres kening Bisma.


Dia tidak sadar , tetapi kenapa tangannya sangat erat sekali memegang tanganku ya ? apa ini cuman karena efek demamnya ya ?!. Pikir Yuri.


Di sela-sela lamunan Yuri yang sedang memperhatikan Bisma , tiba-tiba Yuri melihat Bisma mengigau.


"Jangan... Jangan tinggalkan aku , apa kita tidak bisa tinggal bersama lagi ?!".


" Aku mohon jangan tinggalkan aku !!".


Melihat Bisma mengigau seperti itu membuat Yuri mengerutkan alisnya , entah kenapa saat Yuri melihatnya seperti itu ada sedikit rasa sedih yang Yuri rasakan , apalagi melihat Bisma yang masih tidak sadarkan diri dan sangat terlihat gurat kesedihan di wajahnya.


Siapa yang sudah meninggalkannya ? apa dia sedang mengigau tentang pacarnya ?!. Pikir Yuri.


Tak lama setelah Yuri melihat Bisma benar-benar tertidur pulas , dengan pelan Yuri melepaskan pegangan tangan Bisma dari tangannya , dengan segera Yuri pergi ke kamarnya untuk mengambil ponselnya dan menelepon kedua orangtuanya.


.


.


.


Selesai menelepon kedua orangtuanya , Yuri dengan cepat kembali ke kamar Tomi untuk mengecek keadaan Bisma saat ini.


Saat Yuri tiba di kamar , dia melihat Bisma yang mulai tertidur pulas dengan suhu badan yang sudah agak menurun hingga membuat Yuri sedikit lega.


Yuri masih menatap Bisma dengan dalam , memikirkan hal apa yang sudah terjadi di kehidupan Bisma hingga membuatnya mengigau seperti itu. Perhatiannya pun teralihkan oleh sudut mata Bisma yang mulai menyembulkan air mata.


Yuri menghapus air mata dari sudut mata Bisma , entah kenapa hatinya merasa ikut sakit melihat Bisma yang terlihat tidak berdaya seperti ini.


"Apa yang sebenarnya terjadi denganmu Pak ? hal apa yang bisa membuatmu menjadi seperti ini ?!" Gumam Yuri pelan.


Tak lama setelah Yuri menghubungi kedua orangtuanya , mereka pun akhirnya pulang ke rumah dengan membawa seorang Dokter kenalan Papah Yuri.


"Nak , gimana nak Bisma sekarang ?" Tanya Mamah Yuri khawatir.


"Tadi udah aku kompres sama di kasih obat penurun panas mah , Alhamdulillah demam nya udah agak turun meskipun belum normal" Jawab Yuri.


"Syukurlah , Dokter coba periksa dulu nak Bisma sekarang" Ujar Mamah Yuri sedikit lega.


"Baiklah , saya akan coba periksa" Sahut Dokter sambil berjalan masuk menghampiri Bisma yang masih belum sadarkan diri.


Setengah jam mereka menunggu di luar , akhirnya Dokter itu keluar dari kamar kemudian langsung di hampiri oleh Yuri dan kedua orangtuanya.


"Gimana keadaan dia sekarang Dok ?" Tanya Yuri tergesa-gesa.


"Dia sudah tidak apa-apa , dia hanya perlu banyak istirahat dan harus lebih memperhatikan pola makannya agar tubuhnya tidak gampang drop"Jelas sang Dokter.

__ADS_1


" Tapi apakah sakitnya serius dok ?" Balas Yuri khawatir.


"Tidak ada , saya tadi sudah memasangkan infus dan menyuntikan obat ke dalamnya untuk mempercepat kestabilan tubuhnya, jadi kamu tidak usah khawatir" Ucap Dokter sambil tersenyum.


"Syukurlah" Jawab mereka bersamaan.


"Oh iya saya hampir lupa , ini obat untuknya yang satu antibiotik sehari satu kali dan harus abis, kemudian yang ini obat penurun demam sehari tiga kali , keduanya di makan sesudah makan ya !" Tegas Dokter sambil memberikan obat kepada Yuri.


"Iya Dok terimakasih" Kata Yuri singkat.


"Satu lagi jangan lupa untuk mengecek infusan nya" Tambah Dokter.


"Siap" Lanjut Yuri.


Selesai pemeriksaan sang Dokter kemudian pamit untuk pergi lalu di antar oleh kedua orangtuanya Yuri menuju pintu keluar.


Yuri kembali melihat Bisma yang masih tertidur dengan infusan yang sudah terpasang di tangan kanan Bisma.


Melihat Bisma yang masih tertidur pulas , dengan segera Yuri keluar kamar dan menutup pintu kamar agar tidak ada suara yang bisa menganggu istirahatnya.


"Yuri , orangtuanya nak Bisma udah di hubungi belum ?" Tanya Papah Yuri sambil menghampiri Yuri.


"Gimana mau menghubungi orangtuanya Pah , Yuri kan gak tau apa-apa tentang Pak Bisma" Jawab Yuri.


"Loh kemarin kan kamu habis dari rumahnya , gimana cerita gak tau tentang nak Bisma ?" Sambung Mamah Yuri.


Yuri menghela nafas "Iya sih mah , cuman kemarin pas Yuri di ke rumah Pak Bisma , di ramahnya itu gak ada siapa-siapa, malah Pak Bisma bilang dia itu tinggalnya cuman sendiri Mah".


" Kasian sekali nak Bisma , masa tidak ada satupun keluarganya yang bisa kita hubungi ?" Sahut Papah Yuri berpikir keras.


"Iya aneh banget" Sambung Mamah Yuri.


"Jangankan Papah sama Mamah , Yuri aja bingung harus gimana" Tambah Yuri.


Mereka terdiam sejenak hingga akhirnya Papah Yuri mengeluarkan suaranya.


"Yasudah berhubung semua ini darurat, kita rawat aja nak Bisma disini !" Ucap Papah Yuri penuh dengan keyakinan.


"Hah... Papah serius ?" Balas Yuri.


"Ya serius dong nak , masa iya kamu tega anterin nak Bisma pulang sementara di rumahnya gak ada siapa-siapa ?!" Tegas Papah Yuri sambil menatap Yuri dan sesekali menatap istri tercintanya.


"Tapi kan..." Belum selesai Yuri berbicara , tiba-tiba omongannya di potong oleh Mamah nya sendiri.


"Mamah setuju Pah , Mamah gak tega tinggalin nak Bisma sendirian rumahnya !" Tegas Mamah Yuri.


Yuri yang mendengar kekompakan kedua orangtuanya hanya bisa menghela nafas dan menyetujui keinginan mereka yang memang ada benarnya.


"Yasudah Yuri juga setuju" Ujar Yuri sambil memandang ke arah kamar Tomi.

__ADS_1


Saat mereka sedang serius membicarakan tentang seputar perawatan Bisma , tanpa mereka sadari ternyata orang yang sedang mereka bicarakan sedang mendengarkan pembicaraannya di balik pintu kamar.


"Yasudah nak , kamu sekarang istirahat saja lagian kamu dari tadi udah jagain nak Bisma kan ? sekarang biar Papah aja yang jagain dia" Jelas Papah Yuri sambil menepuk pundak anaknya.


"Emang Papah gapapa jagain Pak Bisma sendirian ?" Tanya Yuri sambil menatap wajah Papahnya.


"Tenang saja , kalo ada apa-apa nanti Papah kasih tau" Sahut Papah Yuri.


"Yasudah kalo gitu Yuri ke kamar dulu ya Pah" Ucap Yuri sambil membalikan badan , dan di balas anggukan oleh Papahnya.


***


Waktu menunjukan pukul sembilan malam , mata Yuri masih saja belum terlelap untuk tidur.


Yuri merasa gelisah dan tidak tenang karena memikirkan keadaan Bisma yang saat ini belum dia ketahui , karena tidak tahan Yuri pun beranjak dari tempat tidurnya dan segera keluar kamar untuk melihat keadaan Bisma.


Saat Yuri hendak berjalan ke kamar Tomi , dia melihat Papahnya yang sedang tertidur di sofa beralaskan bantal kecil yang menopang kepalanya dan dengan tv yang masih menyala.


"Pah... Bangun, Papah jangan tidur disini nanti masuk angin loh" Yuri mencoba membangunkan Papahnya karena tak tega melihatnya tidur di kursi.


"Hem ?!" Papah Yuri sedang berusaha membuka matanya.


"Ayo Papah bangun , Tidurnya lanjutin di kamar aja ya ?!" Yuri membantu dan mengantarkan Papahnya untuk masuk ke kamar.


"Kalo Papah tidur disini yang jagain nak Bisma siapa nak ?" Ujar Papah Yuri khawatir.


"Papah gak usah khawatir , biar Yuri yang jagain pak Bisma" Jelas Yuri.


"Tapi nanti kamu kecapean loh, apalagi besok kamu kuliah" Papah Yuri khawatir.


"Papah jangan khawatir Yuri besok bisa ijin dulu ke kampus , lagian Papah juga kan dari pagi jagain warung pasti capek banget kan ?!" Jelas Yuri.


Papah Yuri tersenyum dan mengusap lembut kepala anaknya "Anak perempuan Papah udah besar ternyata , terimakasih ya atas perhatiannya".


" Iya sama-sama Pah . Udah sekarang Papah masuk aja ya" Yuri berbalik meninggalkan Papahnya.


Selepas Yuri mengantarkan Papahnya ke kamar , Yuri segera ke kamarnya mengambil selimut dan juga boneka kesayangannya untuk menemaninya tidur di ruang tv sambil menunggu Bisma yang masih tertidur di kamar Tomi.


Sebelum tidur , Yuri penasaran ingin melihat kondisi Bisma sambil mengecek infus takutnya sudah habis. Yuri berjalan perlahan kemudian membuka pintu dengan sangat hati-hati agar tidak mengganggu Bisma.


Namun saat Yuri masuk ke dalam kamar , dia terkejut karena tidak melihat Bisma di tempat tidur, karena khawatir Yuri akan bergegas pergi keluar untuk bertanya kepada Papahnya. Namun saat Yuri dengan perlahan akan membalikan badannya, tanpa dia sadari seseorang merangkulnya dari arah belakang dengan sangat erat.


.


.


.


\=\=\=> Hai teman teman... Jangan lupa untuk klik favorit , like , vote , dan komen di karya aku ya , biar karya ku bisa menjadi no 1 hehe🥰👋.

__ADS_1


Terimakasih juga untuk semua teman teman pembaca yang sudah setia membaca karya ku dan memberikan supportnya🙏🙏 , dukungan kalian akan sangat berarti untuk perkembangan karya ku, jangan bosan untuk menunggu kelanjutan kisah Yuri ya☺☺see you🤗.


__ADS_2