
Keesokan paginya seperti biasa Bisma berangkat ke kampus dengan gaya rapihnya yang membuat dirinya semakin di sukai oleh para Hawa. Disela-sela kegiatan sarapan paginya suara HP mendadak terdengar dan dengan cepat Bisma langsung mengangkatnya teleponnya karena meyakini kalau Yuri lah yang menghubunginya.
Namun sesaat kemudian senyum di wajah Bisma seketika hilang tak kala suara yang di dengarnya bukanlah Yuri melainkan suara sang Ayah.
"Ada apa kau meneleponku?" Tanya Bisma ketus.
"Ada sesuatu yang ingin Ayah sampaikan padamu, bisakah kau datang hari ini ke restoran langganan keluarga kita?!"
"Kalau ada urusan yang tidak terlalu penting kau bisa katakan saja sekarang!" Tegas Bisma.
"Tidak tepat kalau aku bicara seperti ini, sebaiknya nanti siang kau datang saja ke tempat yang sudah aku sebutkan tadi" Jelas Ayah Bisma yang kemudian langsung menutup teleponnya tanpa mendengar jawaban dari Bisma terlebih dahulu.
Saat tiba di kampus wajah Bisma terus saja di tekuk karena memikirkan apa yang ingin du sampaikan sang Ayah pada dirinya, langkah demi langkah dia berjalan pelan menuju ke ruangannya hingga tanpa di sadari nya dia menabrak Yuri yang tengah berdiri sambil ngobrol dengan kedua sahabatnya yang kebetulan berjarak tak jauh dari ruangan Bisma berada.
Bruk...
"Aduh!!" Teriak Yuri dan Bisma bersamaan.
Mata Yuri dan Bisma saling bertatapan dan memperhatikan satu sama lain.
"Kau tidak apa-apa?!" Ucap Yuri dan Bisma kembali bersamaan.
Hani dan Intan terhenyak sesaat sembari saling memandang karena merasakan ada sesuatu yang aneh di antara mereka berdua.
"Iya saya tidak apa-apa!" Tegas Bisma yang kemudian berjalan untuk segera masuk ke ruangannya.
Yuri yang hanya terpaku menatap Bisma langsung di kagetkan oleh suara Intan yang begitu mengganggu telinganya hingga membuyarkan pikiran Yuri.
"Woy...Liatin apaan lo?!" Ucap Intan sedikit berteriak.
"Ih dasar ya anak satu ini, demen banget lo bikin gw jantungan!" Tegas Yuri sambil sedikit menjitak kepala Intan.
Intan langsung meringis sambil memegang bagian kepalanya yang kesakitan "Duh...Habisnya lo dari tadi liatin Pak Bisma mulu entar kesambet loh".
"Ah berisik...Ayo kita ke kelas sekarang" Ajak Yuri sambil menggandeng Intan dan juga Hani.
Saat berada di dalam kelas yang kebetulan hari ini ada jadwal mata kuliah Bisma, Yuri sedari tadi terus memperhatikan dan merasakan ada yang aneh pada para murid di kelasnya yang mendadak ribut dan saling berbisik di kelas membicarakan Bisma.
"Hey lo tau gak? Barusan pas gw baru saja sampai di kampus, gw lihat pak Bisma di jemput sama beberapa cowok berbadan kekar pakai setelan jas sama kaca hitam".
__ADS_1
"Denger-denger bokap Pak Bisma yang berada di luar negeri datang ke sini jemput paksa Pak Bisma pake body guard segala, ada apaan ya?".
" Pak Bisma kaya di seret-seret gitu terus di suruh masuk gitu ke mobil mewah yang di parkir di depan ruangannya".
"Wah ada apa ya?".
"Katanya sih Pak Bisma mau di ajak pergi gitu ke luar negeri sama bokap nya".
Mendengar semua pembicaraan yang di lakukan oleh para teman-teman di kelasnya tentang Bisma, sontak membuat Yuri amat khawatir dan ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan dia lalu tak lama Yuri keluar dari kelasnya sambil berlari ke arah taman belakang untuk bisa menghubungi Bisma.
Tut...Tut...Tut...
Wajah Yuri nampak sangat khawatir karena Bisma belum juga merespon telepon darinya, tak hilang akal Yuri kemudian mencoba mengirimkan beberapa pesan pada Bisma agar Bisma bisa tahu kalau sedari tadi dia menghubunginya untuk memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi pada Bisma.
"Ah s*al pesan ku juga tidak di baca sama sekali. Apa yang sebenarnya terjadi dengan Pak Bisma? Apakah dia juga baik-baik saja?!" Ucap Yuri dengan wajah khawatirnya.
Sementara itu di lain tempat Bisma di paksa masuk ke salah satu restoran bintang lima yang cukup terkenal di kalangan pengusaha kelas atas di temani oleh empat orang body guard suruhan Ayahnya.
"Akhirnya kau datang juga Nak!" Sahut Ayahnya menyapa Bisma.
"Ada apa kau memanggilku ke sini?!" Ucap Bisma dengan wajah yang sudah merah padam.
"Tenanglah...Ayo sekarang kau duduk dulu kita bicarakan semuanya dengan baik-baik" Kata Ayah Bisma dengan santai.
"Kau masih saja memberikan jarak di antara kita berdua anak ku?!" Sambung Ayah Bisma sambil meminum secangkir kopi yang sedari tadi di pegang nya.
Bisma menatap wajah Ayahnya dengan tatapan dingin "Sudahlah jangan banyak basa basi, apa sebenarnya yang ingin kau katakan?!".
"Hah...Baiklah kita sekarang langsung ke intinya saja. Bisma dalam waktu dua minggu ke depan aku dan keluarga Pak Hanggono akan mempersiapkan acara pertunangan untuk kau dan Shiren!" Jelas Ayah Bisma.
"Apa? Yang benar saja?!!" Teriak Bisma sambil menggebrak meja dengan cukup keras.
Ayah Bisma menatap ke arah anaknya dengan tatapan tak kalah dingin darinya "Tak usah sampai berteriak seperti itu, cukup diam saja dan jangan membantah!".
"Kau tak bisa melakukan ini padaku!! Aku juga punya hak untuk menentukan pilihan hidupku sendiri!" Terang Bisma pada sang Ayah.
"Berbicara Hak...Aku juga punya untuk menentukan masa depan darah daging ku sendiri!" Ucap Ayah Bisma tak kalah tegas.
"Kau tidak punya hak apapun atas diriku sejak kau menelantarkan ku selama beberapa waktu yang lalu" Bisma menekankan pembicaraannya pada sang Ayah.
__ADS_1
Ayah Bisma perlahan beranjak dari duduknya lalu berjalan ke arah Bisma kemudian menamparnya dengan cukup keras hingga membuat para body guard yang sedari tadi tengah mengawasi mereka berdua tertunduk.
"Lancang sekali kau bicara seperti itu padaku setelah semua hal yang sudah aku berikan padamu selama ini..Hah?!" Teriak Ayah Bisma sambil mengepalkan tangannya.
"Kau tak akan pernah mengerti dengan perasaanku selama ini, bertahun-tahun aku tersiksa dengan kelakuan ibumu dan sekarang kau juga akan menyiksaku dengan sikap kurang ajar mu ini?!" Sambung Ayah Bisma.
Untuk sesaat Bisma hanya terdiam sambil tertunduk lemas tanpa membalas perkataan Ayahnya dengan pipi yang perlahan terlihat memerah dan juga darah yang sedikit terlihat dari ujung bibirnya.
***
Pada malam harinya Yuri masih terus mencoba menghubungi Bisma dan mengiriminya pesan untuk bisa mengetahui bagaimana dan dimana dia saat ini sambil berjalan mondar mandir di halaman depan rumahnya.
Melihat Yuri yang begitu nampak gelisah akhirnya Mamah Yuri menghampiri Yuri untuk mengetahui apa yang sebenarnya tengah di pikirkan oleh Yuri.
"Sayang...Kamu sedang apa malam-malam di sini?!" Tanya Mamah Yuri.
"Mamah...Aku tidak sedang apa-apa kok, cuman pengen ngadem aja Mah di dalam gerah" Jelas Yuri sambil tersenyum kecut.
"Kamu jangan bohong sama Mamah, Mamah tahu ada yang sedang kamu pikirkan coba ceritakan sekarang" Ucap Mamah Yuri sambil terduduk di samping Yuri.
Yuri menatap ke arah Mamahnya sekilas kemudian mulai memberanikan diri untuk mengatakan sesuatu padanya "Mah Yuri minta maaf sebelumnya karena baru bisa cerita sekarang sama Mamah, sebenarnya Yuri sama Pak Bisma sudah jadian Mah!".
"Apa? Serius kamu?!" Sahut Mamah Yuri kaget.
Yuri menganggukkan kepalanya "Iya Mah Yuri serius".
"Sejak kapan?" Tanya Mamah Yuri penasaran.
"Sejak Yuri di Surabaya Mah!" Tegas Yuri dengan sedikit malu-malu.
Cukup lama Yuri menjelaskan awal perjalanan cinta antara dirinya dan Bisma hingga tak terasa Mamah Yuri terlihat sangat nyaman mendengar detail cerita Yuri sampai-sampai senyum ringan terlihat dari bibirnya.
"Jadi begitu ya..Terus sekarang gimana udah dapat kabar dari Nak Bisma?" Kembali Mamah Yuri bertanya.
"Nah itu dia Mah yang bikin Yuri khawatir. Dari tadi aku telepon dia gak dia angkat terus, aku kirim pesan juga belum di respon sama sekali sama dia Mah, padahal gak biasanya dia kaya gini!" Ungkap Yuri dengan wajah yang mulai terlihat sedih.
"Sudah...Lebih baik sekarang kamu masuk saja ke dalam dan cepat tidur besok kan kamu ke kampus, nah siapa tahu saja besok kamu ketemu sama Nak Bisma" Seru Mamah Yuri mencoba menenangkan Yuri.
"Tapi Mah.." Yuri mulai merajuk.
__ADS_1
"Kamu percaya deh sama Mamah, Mamah yakin Nak Bisma pasti baik-baik saja. Besok saat kamu tiba di kampus, kamu coba hubungi dia lagi siapa tahu kan besok Nak Bisma bakalan angkat telepon kamu" Jelas Mamah Yuri sambil mengusap ujung kepala Yuri.
Setelah Yuri berpikir sejenak apa yang di katakan Mamahnya ada benarnya juga, dia berencana akan menghubungi kembali Bisma besok kemudian segera masuk ke dalam rumah untuk beristirahat berharap besok akan ada kabar baik-baik saja dari Bisma.